Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Pengasuh Dadakan
Di atas tempat tidur kayu di penginapan The Rusty Fang, terdengar suara derit yang menyayat hati di tengah kesunyian malam Oakhaven yang mencekam. Asher kini terbaring begitu rapuh.
Dengan napas yang berat dan tersenggal, Asher memaksakan lengannya yang masih terbalut perban d4rah untuk membangkitkan tubuhnya. Otot-otot lengannya yang kokoh tampak bergetar hebat, keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membasahi bantal yang keras.
"Putri... lupakan lukaku. Kita perlu segera mendapatkan informasi tentang Viper’s Fang di sektor ini..." bisik Asher serak. Suaranya terdengar seperti tergesek aspal, namun matanya yang biru tajam terus bergerak gelisah mengawasi setiap sudut ruangan, mencari perlengkapan sihir atau peta musuh.
Aruna, yang sedang meremas kain kompres di dalam baskom air kayu, seketika menoleh. Matanya berkilat dengan tatapan yang membara.
"Humph! Berhenti di sana!!" Dengan satu gerakan cepat yang tidak terduga, ia mendekat dan menekan bahu Asher kembali ke atas tempat tidur. "Jangan bergerak! Urus dirimu sendiri dulu sebelum sok kuat ingin jadi pahlawan strategis!! Kau pikir menyeret pria berbaju besi sepertimu itu ringan?! Tanganku hampir lepas, tahu!!"
Asher tertegun. Tubuhnya yang biasanya tak tergoyahkan kini tak sanggup melawan tekanan tangan Aruna yang kecil. Ia menatap Aruna dengan tatapan bingung. Di ingatannya yang masih kabur, ia samar-samar mendengar gadis ini memanggilnya 'suami' dengan nada manja di lembah tadi. Bahkan saat ia baru membuka mata, ia melihat jejak air mata yang belum kering di pipi Aruna.
Tapi sekarang? Gadis di depannya ini kembali menjadi garang dan tidak punya sopan santun sama sekali.
"Putri... Kita perlu memberi sinyal Fenrir dan Ellish agar bisa menentukan titik temu yang aman sebelum mereka terjepit—"
"Diamlah! Atau aku pukul kepalamu pakai Black-Void Obliterator biar pingsan sekalian!!" ancam Aruna sambil mengacungkan kepalan tangannya yang kecil. "Kau itu pasien sekarang, bukan komandan perang. Biarkan si Naga Sombong yang mencari informasi di pasar gelap. Tugasmu sekarang cuma satu: Urus lukamu, jangan menambah beban pikiranku!"
Asher terdiam sejenak, menatap langit-langit kamar yang kusam sebelum akhirnya ia menyerah. Ada kilat tipis di matanya—bukan amarah karena diperintah secara kasar, melainkan rasa geli yang sangat jarang ia rasakan.
"Kamu... sangat berisik saat sedang khawatir, Putri.... Dan nada bicaramu... sangat tidak anggun," ujar Asher dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat.
Blush... Wajah Aruna mendadak panas membara hingga ke telinga.
"Si... Siapa yang khawatir?! Aku... Aku cuma peduli pada keselamatanku sendiri! Kalau kamu tewas, aku tidak punya tameng manusia lagi untuk melindungiku! Jadi jangan kegeeran!"
Ding!
[Terdeteksi host sedang dalam mode 'Tsundere' tingkat lanjut. Menganalisa kebutuhan nutrisi target untuk mempercepat pemulihan...
Mengakses skill utama Memory Materialization. Mengaktifkan sub-skill Magi Catering.
Memanggil item: Bubur Ayam Hainan Hangat dengan Jahe Medis.]
Wush! Mangkuk keramik putih yang elegan muncul di atas meja kayu yang rapuh. Aromanya yang luar biasa gurih seketika meledak—kaldu ayam yang kental, berpadu dengan wangi minyak wijen dan irisan jahe segar.
Dranco, yang sejak tadi bersandar di pintu, mendadak menegakkan tubuhnya. Hidung naganya kembang kempis. "Bau apa ini? Gadis kecil, sihir hitam apa yang kau taruh di dalam mangkuk itu? Baunya... benar-benar bisa membuat naga paling buas sekalipun jinak."
"Ini makanan, Naga Sombong! Bukan sihir!" bentak Aruna. Ia mengambil mangkuk itu, mengaduknya perlahan, lalu duduk di pinggir tempat tidur tepat di samping Asher.
Aruna menyendok sedikit bubur, meniupnya dengan hati-hati fuhh... fuhh... fuhh,.. lalu menyodorkannya ke mulut Asher. "Aaa... Ayo, buka mulutmu. Kau butuh tenaga untuk melawan sisa racun itu."
Deg... Deg... Deg... Jantung Asher berdenyut aneh. Ia menatap sendok itu dengan canggung, lalu menatap wajah Aruna yang sangat serius meskipun pipinya masih merona merah. Tangannya yang gemetar mencoba meraih sendok tersebut. "Aku bisa... makan sendiri. Ini sangat memalukan..."
"Tanganmu sudah seperti daun kering tertiup angin masih mau sok mandiri?" Aruna memutar bola matanya. "Cepat makan sebelum aku berikan bubur lezat ini pada naga kelaparan yang sedang mengiler di depan pintu itu!"
Asher akhirnya menyerah. Ia membuka mulutnya sedikit dan menerima suapan pertama. Seketika, matanya membelalak. Rasa hangat yang lembut dan gurih mengalir di tenggorokannya, memberikan sensasi hangat yang menyebar ke seluruh aliran mana-nya yang tersumbat.
Ding!
[Terdeteksi peningkatan kedekatan dengan Asher de Volland: 55%.]
[Bonus/Catatan: Target merasa ini adalah perlakuan paling tulus yang pernah ia terima sejak menjadi Ksatria Agung.]
[Kesan ML: "Ini... terasa lebih hangat dari sihir penyembuh mana pun. Kenapa dia menyembunyikan sisi lembutnya di balik mulutnya yang tajam?"]
Aruna berusaha sekuat tenaga mengabaikan jendela sistem itu. Ia terus menyuapi Asher dengan telaten. Namun, ia tidak bisa mengabaikan tatapan tajam Dranco yang sudah berdiri di samping meja.
"Oi, Gadis kecil," Dranco mendengus. "Kenapa 'mangsa' lemah itu yang kau beri makan lebih dulu? Di mana bagian untuk tuanmu?"
Aruna melirik Dranco dengan senyum miring. "Sabar sedikit, Tuan Naga Sombong. Bubur ini untuk orang sakit. Untuk selera brutalmu, aku punya sesuatu yang jauh lebih menantang."
Ding!
[Memproses permintaan 'suap' untuk sub-bos.
Mengakses skill utama Memory Materialization. Mengaktifkan sub-skill Magi Catering.
Memanggil item: Ayam Bakar Taliwang Super Pedas Level Naga.]
Blapp! Nampan kayu besar berisi tumpukan ayam bakar berwarna merah membara muncul. Dranco langsung menyambar satu ekor ayam dan menggigitnya hingga tulang-tulangnya berderak keras.
"S-SIA—! PANAS! PEDASNYA SEPERTI TERBAKAR API NERAKA! TAPI... NIKMAT SEKALI!" Dranco berteriak kegirangan sambil terus mengunyah rakus. "Gadis kecil, kau benar-benar punya bakat! Aku bersumpah, tidak akan ada satu pun Half-Beast yang boleh menyentuhmu selama kau menyajikan makanan gila ini!"
Huff... Aruna menghela napas panjang, menatap Asher yang mulai segar dan Dranco yang sibuk dengan ayam bakarnya.
'Benar-benar nasib pengasuh dadakan. Yang satu es batu yang mulai baper, yang satu naga merah yang rakus. Kenapa hidupku jadi seperti ini?' batin Aruna lelah.
Namun, suasana santai itu pecah. Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! Ketukan keras di pintu—tiga kali cepat, dua kali lambat—membuat Dranco seketika siaga. Tangannya langsung meraih kapak raksasanya.
"Informasi datang lebih cepat dari dugaan," bisik Dranco dingin. "Teman-temanmu, si Serigala dan Rubah itu... mereka menerobos gerbang selatan dengan luka-luka. Tapi mereka tidak sendiri. Unit pembantai elite Viper’s Fang mengekor di belakang mereka, dan mereka membawa penyihir pelacak tingkat tinggi."
Syut! Asher langsung mencoba turun dari tempat tidur. "Kita harus bergerak sekarang. Penginapan ini akan menjadi jebakan maut."
Aruna mengepalkan tinjunya, menatap mangkuk buburnya yang baru setengah habis dengan tatapan miris. "S!alan, aku bahkan belum sempat makan satu suap pun!!"