NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Unfinished Business

Dengan ditemani Axel, Mama Axel kemudian menuju ke kursi Dokter Bram, dan berkata, “Saya istrinya, Dok.”

“Oh baik, kondisi Pak Raymond sekarang sudah stabil,” kata Dokter Bram lalu berhenti sejenak. “Untuk sementara Pak Raymond kami masukkan ke ruang ICU agar kami bisa pantau kondisinya agar semakin stabil.”

“Kondisinya gawat ya, Dok?” tanya Mama Axel dengan cemas. “Apa yang harus kami lakukan?”

“Dibilang gawat tidak juga, karena kondisinya sudah stabil,” kata Dokter Bram. “Tapi pemasangan ring jantung harus dilakukan segera, jika tidak kondisinya akan drop lagi.”

Axel dan mamanya saling berpandangan.

“Lebih jauh, jika dibiarkan, otot jantungnya akan melemah. Dan itu semakin gawat,” ujar Dokter Bram.

“Baik, Dok, terima kasih,” kata Mama Axel, kemudian segera berdiri meninggalkan meja dokter itu.

“Bagaimana, Bu, kondisi Pak Raymond?” tanya Papa Mauren.

“Kata dokter sudah stabil, dan dimasukkan ke ICU,” kata Mama Axel. “Tapi harus pasang ring jantung sesegera mungkin.”

Axel, mamanya, Rommy, Tony, Mauren, dan papanya menuju ruang ICU tempat Papa Axel dirawat. Kebetulan jam itu jam bezoek, tapi sesuai aturan ICU masuknya harus satu per satu, tidak boleh berombongan.

Papa Mauren dulu yang masuk. Di dalam ICU dia harus mengenakan pakaian rumah sakit dan melepas sandal. Terlihat Papa Axel sadar, namun kondisinya lemah.

“Perkenalkan, saya Logan, ayahnya teman Axel, Pak,” Papa Mauren lalu menjabat tangan Papa Axel yang tampak lemah dan selang infus tertancap di tangannya.

“Terima kasih, Pak,” jawab Papa Axel lemah. “Maaf jadi ngerepotin semua.”

Satu per satu mereka masuk ke dalam ruang ICU dan memberi salam kepada Papa Axel.

“Suami saya perokok berat, Pak,” kata Mama Axel. “Saya sudah memperingatkannya agar mengurangi rokoknya, tapi dia malah marah dan akhirnya kami bertengkar hebat.”

“Axel kira itu nggak usah diomongin ke luar, Ma,” tegur Axel yang tidak suka masalah internal keluarganya tersebar keluar.

Papa Mauren berkata, “Axel, Om tahu Axel anak yang keras. Tapi jaga emosimu, karena papamu membutuhkan kamu saat ini.”

Axel hanya mengangguk pelan.

“Xel, kamu belum makan, Mama beliin nasi goreng di kantin rumah sakit, ya?” kata Mama Axel.

“Biar Rommy beliin di kantin rumah sakit, Tante,” kata Rommy. “Tunggu di sini, sebentar.”

“Tidak usah,” kata Axel dan nampak tatapan penuh kebencian masih terpancar.

Rommy tidak menjawab dan segera menuju ke kantin rumah sakit.

“Semoga peristiwa ini bisa melunakkan hati Axel, dan perdamaian saya, Tony, dan Axel bisa tercipta,” kata Rommy dalam hati saat berjalan menuju ke kantin rumah sakit.

“Jangan kamu kira dengan berpura-pura baik kepadamu kamu akan lolos dari pukulan KO-ku, Rom,” kata Axel dalam hati. Matanya masih nyalang dan menatap jam dinding di depan ruang ICU yang bergerak perlahan.

“Mauren, terima kasih atas perhatian kamu dan papamu,” kata Axel yang tetap berkeras tidak mau berterima kasih kepada Rommy dan Tony.

“Yang berinisiatif ke rumah kamu dan menemukan kartu nama rumah sakit adalah si Rommy, Xel,” kata Mauren. “Aku dan Papa cuma kebetulan lewat saja.”

“Kalau gitu sampaikan terima kasihku pada dia,” kata Axel.

“Sampaikan sendiri napa? Sebentar lagi dia kembali setelah dari kantin,” jawab Mauren dengan ketus karena saking kesalnya.

Tony yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kekerasan hati Axel.

“Axel, Om dulu sewaktu masih aktif sebagai petinju Om juga sangat emosional,” kata Papa Mauren kepada Axel. “Tapi Om mencoba berdamai dengan hati Om sendiri.”

“Sedari kecil Axel sangat keras hatinya, Pak,” ujar Mama Axel. “Kami sampai tak tahu lagi mau apa.”

“Anak saya juga keras, Bu, anak cewek kok sukanya tinju, karate, dan sebagainya,” kata Papa Mauren menggoda Mauren. “Nanti suaminya pasti harus macho benar.”

“Ih, Papa,” kata Mauren sambil mencubit tangan papanya.

Mama Axel tertawa, juga Tony.

Axel diam saja dan berkata dalam hati, “Mauren, aku akan jadi cowok machomu, bukan yang lain.”

Tiba-tiba suster keluar dari ruangan ICU dan berseru, “Keluarga Bapak Raymond…”

Mama Axel dengan tergopoh-gopoh mendatangi suster tersebut, “Saya istrinya, Sus? Ada apa?” Tampak raut muka dan gerak-gerik Mama Axel mencerminkan kekhawatiran.

“Saat ini Pak Raymond sedang dilakukan angiografi dan dokter akan segera meng-update perkembangannya setelah angiografi selesai, sekitar 1–2 jam lagi,” jelas suster tadi. Tampak Mama Axel lega. “Harap bersabar sebentar, ya, Bu.”

“Terima kasih, Sus,” jawab Mama Axel.

“Ada teman saya yang juga harus di-ring jantung, sekarang sudah seperti biasa, Bu,” kata Papa Mauren. “Kuncinya jangan terlambat dan patuhi petunjuk dokter.”

Di rumah Sonny, dia sedang duduk di ruang tengah sambil menonton TV ketika HP-nya bergetar. Ada pesan WhatsApp dari Aryo.

“Bagaimana, bro, sudah ada kabar dari Axel? Ada di mana dia?” tanya Aryo.

“Belum ada, bro. Gua juga buntu ke mana lagi harus mencari Axel,” jawab Sonny.

Sonny kemudian mencoba menelepon Axel lagi, dan tetap tidak ada jawaban. Lalu dia mengirim pesan ke grup The Executioners:

“Yang rumahnya dekat rumah Axel, mohon info keadaan rumah Axel saat ini.”

Tak lama datang jawaban dari Agus:

“Gua barusan lewat rumah Axel, rumahnya kondisi gelap, kayaknya nggak dinyalain dari tadi sore.” Foto rumah Axel yang gelap seolah tak berpenghuni itu dilampirkan.

Sekitar 30 menit kemudian masuk pesan dari Mauren ke grup WhatsApp sekolah:

“Ayah teman kita, Axel, terkena serangan jantung, dan sekarang dirawat di Rumah Sakit Medika Kencana. Kondisinya sudah stabil, dan sekarang ada di ICU.”

Langsung ramai jawaban, “Get well soon”, “Semoga cepat sembuh”, dan lain-lain.

Ada satu jawaban dari Sonny:

“Kok bisa tahu, Ren?”

Mauren menjawab,

“Aku, Papa, Rommy, dan Tony sekarang ada di Rumah Sakit Medika Kencana.”

Jawaban itu makin membuat ramai grup sekolah:

“Rommy dan Sonny damai dengan Axel?” atau “Korsel dan Korut bisa bersatu nih kalau Rommy dan Axel damai.” Ada juga yang mengirim link YouTube lagu qasidah zaman dulu “Perdamaian.”

Sonny tersenyum kecut membaca pesan di grup sekolah itu. Rommy yang sedang berjalan kembali dari kantin rumah sakit juga ikut tersenyum membaca kehebohan itu.

“Nggak semudah itu, Rudolfo.”

Tidak berapa lama Rommy sudah sampai di depan ruang ICU dan menyerahkan dua bungkus nasi goreng itu ke Axel dan mamanya.

“Taruh saja di situ, aku tidak lapar,” jawab Axel dengan dingin. Rommy hanya menggelengkan kepala dan menaruh bungkusan nasi goreng itu di atas meja ruang tunggu.

“Tante juga makan, nanti sakit,” kata Rommy kepada Mama Axel.

“Iya, nanti Tante makan, sekarang belum terasa lapar,” jawab Mama Axel. “Biasa saya makan jam 8-an kok. Kalian sendiri bagaimana?”

“Gak apa-apa, Bu, nanti anak-anak bisa saya ajak makan sekembalinya dari sini,” ujar Papa Mauren. “Yang penting Ibu dan Axel dulu. Dan kalau semua sudah terkendali, kami izin pamit, besok pagi anak-anak sekolah.”

“Terima kasih, Om dan Mauren,” kata Axel.

“Rommy dan Sonny nggak mau terima kasihin, Xel?” tanya Papa Mauren.

“Terima kasih juga, Rom, Son,” kata Axel dengan kaku.

“Terima kasih, Pak, Mauren, Rommy, dan Axel,” kata Mama Axel sambil menyalami mereka satu per satu. Lalu mereka beriringan jalan pulang, meninggalkan tempat itu.

Rommy berjalan paling belakang, tapi tiba-tiba Axel mencolek bahunya dan berkata, “Rom,” kata Axel setengah berbisik dengan suara serak dan dingin tapi tajam.

Rommy menoleh, sedang Axel menatapnya dengan tajam, lalu berkata pelan, “Jangan pikir karena bokap gua sakit, lu bisa menjilat gua dengan berlagak baik. Yang penting tetap siapin diri lu buat turnamen nanti, dan yang paling penting, siapin mental lu.”

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!