Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Makam Mama
Saat keluar dari Mercedes, mataku langsung tertuju ke buket bunga Lili, lalu ke area pemakaman.
Sambil menunggu Papa memutar mobil, sebuah Bentley dengan kaca gelap melaju pelan di dekat kami.
Sambil tersenyum ke Papa, aku merangkul lengannya waktu kami berjalan menuju ke makam Mama. Aku melihat rumput yang dipangkas rapi, makam-makam yang terawat, hamparan bunga, dan pepohonan tua. Alam dan batu nisan menyatu dengan tenang.
"Tempat ini indah dan damai."
“Aku enggak bakal bilang kuburan itu indah,” sahut Papa.
Aku menengok ke kanan dan melihat seorang cowok sedang berjongkok di depan sebuah batu nisan, kepalanya sedikit tertunduk. Sebelum aku sempat melirik lebih lama, dia menengok ke arahku.
Karena jarak kami, aku enggak bisa melihat wajahnya dengan jelas, dan aku langsung buang muka biar dia enggak berpikir kalau aku lagi memperhatikan dia.
Saat kami sampai di makam Mama, aku mengambil bunga-bunga layu dari vas batu nisan dan taruh buket bunga segar di sana.
“Kami bawain bunga Lili buat Mama,” kataku sambil baca tulisan yang terukir di batu granit.
“Hai, Rinjani,” bisik Papa sambil merangkul batu nisan itu.
“Aku bawa Quinn, biar kamu lihat betapa baiknya dia.” Suaranya bergetar saat dia menambahkan,“Tapi dia sama keras kepalanya kayak kamu, pingin ngelakuin banyak hal.”
Aku tertawa kecil. “Enggak, Papa aja yang terlalu lebay ... Kayak biasa.”
Keheningan menyelimuti kami saat berdiri di sana. Beberapa detik kemudian, aku merasa sensasi aneh di belakang leherku.
Saat aku menengok ke kanan, cowok itu masih berdiri di dekat makam yang dia kunjungi, tapi kepalanya mengarah ke kami.
Dia cuma memandang, tapi tubuhku langsung tegang.
Ada rasa bahaya.
“Ayo pulang, Papa,” kataku sambil mulai menjauh dari makam Mama.
Saat kami kembali ke mobil, Papa bertanya, “Ada tempat lain yang mau disinggahin, atau langsung pulang?”
“Pulang. Aku pingin makan malam.”
Kami masuk ke Mercedes, aku pasang sabuk pengaman. Waktu Papa menyetir keluar dari gerbang pemakaman, aku bilang, “Sejak transplantasi, aku sering ngerasa kayak lagi diawasin.”
Mata Papa langsung ke aku. “Tapi kamu hampir enggak pernah keluar rumah.”
“Aku tahu ... Aneh ... Entah lagi masak atau nonton TV, perasaan itu muncul di waktu yang enggak ketebak.”
“Kamu bukan tipe orang yang paranoid, Sayang. Mungkin kamu perlu konsultasi sama terapis. Kamu udah lewatin banyak hal tiga tahun terakhir. Mungkin ide bagus buat kamu.”
Aku tertawa kecil. “Enggak, makasih. Aku enggak mau ceritain semuanya ke orang asing. Ngobrol sama Papa aja sudah cukup buat jadi terapi aku.”
“Mungkin kamu harus ngundang Sannie dan Awin. Udah lama banget sejak ...” Papa berhenti sebentar, “... kamu enggak ketemu mereka.”
Ada alasan kenapa aku enggak bertemu mereka. Mereka berhenti datang ke rumah sakit saat tahu keadaanku menjadi lebih parah.
Aku belum siap memikirkan bagaimana teman-temanku bisa meninggalkanku di masa-masa tergelap dalam hidupku.
“Kayaknya enggak,” gumamku.
Mata Papa kembali ke aku.
“Ada apa antara kamu sama mereka?”
Aku geleng-geleng kepala dan memandang ke luar jendela.
“Enggak apa-apa, Pa.”
Dia diam sebentar sebelum bilang, “Maafin Papa, Sayang.”
Aku condong ke depan, menyalakan radio, dan mengatur volumenya biar enggak terlalu kencang.
Begitu Papa jalan dari lampu merah, aku bersandar di kursi dan memandang ke luar jendela.
Ada mobil hitam di sebelah kanan kami, kacanya terbuka. Aku melihat seorang cowok di kursi belakang.
Perasaan itu menyerangku, tapi sedetik kemudian mobil, itu belok ke jalan samping dan aku enggak bisa lihat cowok itu lagi.
Aku yakin, itu cowok yang sama yang muncul di mimpi aku, di malam setelah transplantasi. Karena aku akan mengenali mata cokelat itu di mana pun.
Saat mobil itu menjauh, aku sadar itu Bentley.
Apa itu orang yang sama yang aku lihat di pemakaman tadi?
Bahkan belum semenit berlalu, aku mulai meragukan diri sendiri.
Atau ini cuma deja vu?