NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 Belajar Menyerang

Ruangan itu tidak memiliki jendela.

Tidak ada celah bagi cahaya matahari untuk masuk, tidak ada tanda pagi atau malam. Dindingnya dicat hitam legam, menyerap bayangan, seolah ruang itu sengaja diciptakan untuk menghilangkan arah dan waktu. Lantainya dingin, keras, dan kasar, membuat telapak kaki telanjang Bella Shofie langsung terasa kaku saat menyentuhnya.

Lampu-lampu di langit-langit menyala redup, menggantung rendah seperti mata yang mengawasi tanpa berkedip. Tidak ada cermin. Tidak ada musik. Tidak ada irama. Tidak ada suara selain napas manusia dan gesekan tubuh dengan lantai.

Bella berdiri di tengah ruangan itu sendirian.

Ini bukan aula pertarungan.

Ini bukan ruang balet.

Ini adalah ruang latihan tertutup—tempat mereka yang gagal tidak ditonton siapa pun, dan mereka yang bertahan dibentuk ulang dari dalam.

Pintu besi di belakangnya tertutup rapat dengan suara berat yang menggema.

“Di sini,” suara Madam Doss terdengar dari balik pintu, datar dan dingin seperti baja,

“kau tidak berlatih untuk menang.

Kau berlatih untuk tidak mati.”

Tidak ada jawaban.

Tidak ada penjelasan.

Pintu terkunci.

Bella menarik napas dalam-dalam. Udara di ruangan itu terasa berat, seolah menekan paru-parunya. Ia menurunkan tubuhnya perlahan, lalu menjatuhkan diri ke lantai.

Push-up.

Telapak tangannya menekan lantai dingin. Bahunya bergetar saat ia mulai menurunkan tubuh.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Otot lengannya sudah terasa panas, namun ia tidak berhenti. Kain putih masih melilit pergelangan tangannya—kain yang sama dari aula pertarungan—kini basah oleh keringat dan bercak darah kering dari latihan sebelumnya.

Dua puluh.

Tiga puluh.

Napasnya mulai berat. Bahunya terasa seperti terbakar dari dalam. Namun Bella terus menekan tubuhnya naik dan turun dengan ritme yang stabil. Ia tidak menghitung dengan suara. Ia menghitung dengan rasa sakit.

Saat lengannya mulai mati rasa dan gemetar tak terkendali, ia berhenti.

Tanpa berbaring.

Tanpa istirahat.

Ia langsung beralih.

Plank.

Tubuhnya lurus, dari kepala hingga tumit. Otot perut menegang keras, punggungnya tetap lurus seperti saat latihan balet—hanya saja kini tidak ada keindahan, tidak ada penonton, tidak ada koreografi.

Hanya ketahanan.

Waktu terasa memanjang.

Bella tidak menghitung detik. Ia menghitung napas. Tarik. Tahan. Hembuskan. Setiap napas terasa seperti keputusan untuk tetap hidup.

Keringat menetes dari dahinya, jatuh ke lantai dan membentuk titik-titik gelap di permukaan dingin.

Akhirnya ia bangkit.

Kakinya melangkah ringan, otomatis, mengikuti ingatan tubuhnya sendiri. Ia berputar, bahunya mengikuti gerakan, pinggulnya mengalir.

Gerakan balet.

Namun bukan untuk ditonton.

Ia melakukan pirouette pendek, putaran yang lebih cepat dan lebih rendah dari yang biasa ia lakukan di panggung. Begitu putaran selesai, ia berhenti mendadak dan menghantam udara dengan jab cepat.

Tinju lurus ke depan.

Tidak ragu.

Tidak indah.

Putaran tubuhnya memberi tenaga pada pukulan. Kakinya tidak melayang. Ia menancap kuat ke lantai.

Madam Doss benar.

Menari terlalu tinggi membuatmu mudah jatuh.

Bella mengulang gerakan itu.

Putar.

Hentak.

Pukul.

Berulang kali. Gerakannya semakin tajam. Tidak ada gerakan sia-sia. Tidak ada lengkungan berlebihan.

Balet mengajarinya keseimbangan.

Tinju mengajarinya niat.

Ia bergerak menyamping, melakukan slip—menghindari pukulan yang hanya ada di pikirannya—lalu membalas dengan cross lurus. Pinggulnya berputar, bahunya mengikuti, tinjunya meluncur cepat dan keras.

Gerakan itu mengingatkannya pada lompatan di panggung. Namun kini, setiap putaran bukan untuk mengudara, melainkan untuk menjatuhkan.

Ia melatih footwork.

Langkah kecil dan cepat.

Maju.

Mundur.

Ke kanan.

Ke kiri.

Tidak ada langkah yang sia-sia. Setiap pergerakan selalu membawanya ke posisi aman atau posisi menyerang. Kakinya terasa panas, betisnya menegang, paha baletnya menjerit menahan beban.

Ia kembali ke lantai.

Squat.

Kaki dibuka selebar bahu. Punggung tegak. Ia turun perlahan, menahan beban tubuhnya, lalu naik dengan tenaga penuh. Otot kakinya terasa seperti terbakar, sendi-sendinya menegang.

Ia menahan rasa sakit itu.

Bella tahu, rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan pukulan manusia. Tidak seberapa dibandingkan darah di aula pertarungan. Tidak seberapa dibandingkan hari di mana seseorang mencoba membunuhnya.

Setelah itu, ia berdiri dan mulai shadow boxing.

Tidak ada lawan.

Tidak ada suara.

Hanya bayangan di lantai.

Bella membayangkan wajah lelaki yang memukulnya hari itu. Bahu lebar. Rahang keras. Tinju berat. Ia membayangkan serangan datang, dan ia membalas.

Jab.

Cross.

Hook.

Ia menghindar. Menyerang rusuk. Mengincar dagu. Tubuhnya bergerak semakin menyatu, tidak kaku seperti petinju murni, tidak ringan seperti penari panggung.

Ia adalah sesuatu di antaranya.

Napasnya terengah. Bajunya basah menempel di tubuhnya. Keringat mengalir di punggung dan lehernya. Namun matanya tetap fokus, tajam, tidak goyah.

Terakhir, ia berdiri diam.

Kaki sejajar.

Tangan terangkat.

Posisi bertahan.

Bella menutup mata.

Ia membayangkan ring pertarungan. Lampu terang menyilaukan. Penonton yang tidak peduli apakah ia hidup atau mati. Musuh berdiri di hadapannya.

Ia tidak membayangkan kemenangan.

Ia membayangkan bertahan cukup lama untuk membalas.

Saat pintu besi akhirnya terbuka, Bella masih berdiri.

Madam Doss masuk perlahan. Sepatunya berdentang pelan di lantai dingin.

“Kau berubah,” katanya singkat.

Bella tidak menjawab. Napasnya masih berat, namun tubuhnya tetap tegak.

“Balet tidak kau tinggalkan,” lanjut Madam Doss.

“Kau menajamkannya.”

Bella menatap tangannya sendiri. Luka kecil, kapalan, bekas memar. Tangan yang dulu hanya mengenal pita dan sepatu kini mengenal rasa sakit.

“Aku ingin mengalahkan mereka,” ucap Bella pelan.

“Semua yang berdiri di hadapanku.”

Madam Doss menatapnya lama, seolah menimbang apakah kalimat itu lahir dari ambisi atau keteguhan.

“Kau akan,” katanya akhirnya.

“Bukan karena kuat.

Tapi karena kau tidak berhenti.”

Pintu ditutup kembali.

Bella menjatuhkan tubuhnya ke lantai sekali lagi.

Push-up.

Ia belum selesai.

Karena ia tahu, di ring nanti, musuh-musuhnya tidak akan memberinya waktu untuk bernapas.

Dan Bella Shofie berniat memastikan bahwa saat hari itu datang, tubuhnya sudah tahu apa yang harus dilakukan bahkan sebelum pikirannya sempat ragu.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!