Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado Ulang Tahun
"Ca, kau pulang saja lebih dulu." Caca berkerut ketika Pie ingin pulang sendiri.
"Ada apa, Pie?"
"Aku ingin bertemu seseorang."
"Siapa? Apa aku mengenalnya?"
"Tidak. Kami baru berkenalan tadi malam."
"Astaga. Kau tidak takut?"
"Entahlah. Sepertinya aku gila, Ca." Pie tertawa hambar.
"Ya. Kau memang gila, Pie."
"Mau kutemani?"
"Apa kau bisa melihat dari jarak jauh?"
"Tentu. Berhati-hatilah, Pie."
"Oke."
"Apa dia sudah di perjalanan menuju kemari?"
"Ya, sudah lebih lima menit sejak dia mengirim pesan terakhir."
"Baiklah, aku akan mengawasimu dari jauh."
"Ya, ya." Caca beranjak pergi menuju tempat bersembunyi namun tetap bisa melihat Pie dengan leluasa.
Tyo, laki-laki kelas satu SMK Kecamatan, berperawakan tinggi besar. Berkulit sawo matang tampak manis dengan mata hitamnya. Ia berhenti di halte yang dijanjikan oleh Pie, beberapa murid SMA terlihat keluar dari gerbang karena jam pulang sekolah, tanpa Tyo sadari, Pie dan Caca berada pada jarak dekat.
"Kau sudah keluar? Aku sudah di halte."
"Ya, tunggu di sana."
"Baiklah."
Pie menghampiri Tyo yang sedang memainkan sebuah game di ponselnya, duduk di antara beberapa murid laki-laki SMA yang menunggu angkutan umum.
Tyo menyadari kedatangan Pie dengan beberapa siswi SMA.
"Hai, Kau yang bernama Pie?" Tyo berdiri di depan Pie.
"Ya. Kau Tyo?"
Tyo mengangguk.
Mereka mengobrol ringan di halte yang hanya tersisa mereka berdua. Keberadaan Caca yang ada di warung pecel tak jauh dari halte tetap mengawasi sembari mulutnya mengunyah.
"Bagaimana?" Caca menghampiri Pie ketika Tyo sudah pergi.
"Apanya?"
"Hasil pertemuan kalian."
Pie mendesah pelan.
"Ada apa, Pie?"
"Dia pemabuk."
"Bagaimana kau tahu? Astaga, bagaimana bisa? Dia masih pelajar."
"Dia memiliki ciri-cirinya."
"Lalu, kau masih ingin berteman dengannya?"
Pie menggeleng pelan.
"Dari awal aku tidak berteman dengannya."
"Ayo pulang." Pie menggandeng tangan Caca menaiki angkutan umum yang entah kapan berhenti di depan mereka.
"Terima kasih sudah memberi contekan padaku, aku akan membalasnya saat pelajaran Matematika." Yan tersenyum senang, mereka baru saja mengerjakan ulangan harian Biologi.
"Ya, tepati janjimu. Ok?"
Yan mengangguk, mereka beranjak pergi bersama menuju kantin.
"Aku tak pernah melihat anak kelas satu ke kantin itu." Pie menatap kantin di deret tiga yang dipenuhi oleh murid laki-laki kelas tiga.
"Kudengar, karena di sana tongkrongan anak kelas tiga."
Ezti menjawab sembari menyuapkan nasi ke mulutnya. Caca sedang memesan minuman.
Pie mengangguk paham.
"Kenapa kau tersenyum sendiri, Ez?" Pie menatap heran Ezti yang senyum-senyum menatap layar ponsel.
"Huh? Hehe, aku punya gebetan baru, Pie."
"Lalu yang kemarin itu sudah putus?"
"Ya."
"Kenapa? Padahal kalian baru saja berpacaran."
Ezti mengangkat bahu asal
"Bosan."
"Yang ini bagaimana?" Pie penasaran dengan siapa lagi Ezti menjalin hubungan. Yan hanya diam mendengarkan sembari makan, dirinya tak begitu akrab dengan teman-teman Pie.
"Huh? Coba lihat ini, Pie." Ezti sedikit mendekat pada Pie dan memperlihatkan sebuah foto laki-laki yang lebih tua dari mereka beberapa tahun.
"Dia sudah bekerja?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku hanya menebaknya."
"Wah, keren."
"Bagaimana kalian saling kenal?"
"Hanya dikenalkan oleh sepupuku."
"Benarkah?"
"Apanya yang benarkah?" Caca datang membawa minumannya.
Pie dan Ezti mendongak menatap Caca yang menyeruput hingga setengah gelas.
"Astaga, kenapa tidak minum sembari duduk?" Ezti mengingatkan Caca yang terlihat cuek.
"Aku sangat haus."
Hasil ulangan Biologi telah dibagikan. Pie merasa tak bahagia mendapatkan hasil kali ini. Bukan tanpa alasan. Pie mendapatkan nilai 70 sedangkan Yan mendapatkan nilai 100.
Pie sangat yakin dirinya sudah menjawab dengan benar dan membuat keliru jawaban yang ia berikan pada Yan. Pie tidak mempercayai Yan seratus persen, itu sebabnya ia membedakan jawaban dirinya dan Yan.
Beberapa hari Pie masih jengkel dengan nilai yang ia anggap jelek itu.
"Apa itu teguran dari guru Biologi agar aku tak memberi contekan saat ulangan?" Gumam Pie ketika ia terpikirkan sesuatu.
"Tidak mungkin guru Biologi tak melihatku memberi contekan. Beliau pasti sangat tahu gerak-gerikku meskipun aku memakai jurus."
"Ya tuhan. Masih baik nasibku tak dipermalukan oleh guru di depan teman satu kelas."
Pie bermonolog ketika ia sedang di perpustakaan. Sejak saat itu dirinya tak mau lagi memberi contekan. Ia ingin perilakunya bersih dari nilai minus di mata para guru. Pie ingin menjadi siswi yang baik dan tidak berulah.
"Selamat ulang tahun, Pie. Semoga panjang umur dan sehat selalu." Fang masih rutin mengiriminya pesan terlebih saat Pie berulang tahun. Mantannya itu selalu mengirimkan ucapan selamat ulang tahun tepat pukul 00.00.
"Amen, terima kasih, Fang."
Meskipun Pie tidak ada perasaan apapun lagi terhadap Fang, Pie hanya menghargai usaha Fang. Ia selalu mengingat pesan sang Mama agar tak sombong kepada laki-laki karena bisa berakibat fatal.
"Jam berapa kau pulang sekolah?" Fang mengirim pesan pada saat istirahat kedua.
"Aku tidak tahu. Ada apa?"
"Aku ingin memberi hadiah ulang tahun padamu."
"Kenapa kau selalu memberiku hadiah? Aku bahkan tak pernah memberimu kado."
"Karena aku menyukaimu, Pie."
"Kau sedang menikmati karma?"
"Hahaha, entahlah, Pie. Tapi aku bahagia bisa memiliki perasaan untukmu."
Pie tak membalasnya karena kini dirinya sedang bercanda dengan teman-temannya di kantin.
"Kutunggu kau di pertigaan, Pie. Hubungi aku jika kau pulang sekolah." Pesan dari Fang membuat Pie memeriksa ponselnya lagi.
"Ada apa, Pie?" Ezti menangkap raut wajah Pie yang sulit diartikan.
"Tidak ada." Pie menyimpan kembali ponsel ke dalam saku.
"Pesan dari seseorang?" Tebak Caca.
"Ya. Dari Fang." Seketika Caca dan Ezti menatap Pie terkejut.
"Dia masih menghubungimu?" Ezti sangat tahu saat SMP Fang mengejar Pie walaupun mereka sudah putus sejak lama.
"Ya, begitulah." Pie tersenyum kecil. Jujur, ia risih dengan pandangan teman-temannya.
"Astaga. Ternyata dia segigih itu."
"Menurutku, Fang merasa akan lebih mudah mendekati Pie lagi saat Kim dan Pie sudah putus." Ucap Caca
"Benar juga. Astaga aku melupakan Kim si pemalu itu." Ezti terkekeh pelan.
"Apa si keren itu menghubungimu?"
Pie menggeleng.
"Setelah mengirimkan pesan itu, dia tak lagi menghubungiku."
Caca dan Ezti hanya ber-oh ria.
Mereka berdua sangat mendukung hubungan Kim dan Pie. Namun, sayang kapal mereka baru berlayar di pesisir tetapi sudah dihantam oleh Megalodon.
"Apa kau sudah pulang?" Pesan dari Fang kembali masuk ketika Pie baru saja menaiki angkutan umum.
"Ya. Aku sedang di jalan."
"Baiklah. Hati-hati, Pie."
Fang tersenyum ketika dirinya melihat Pie turun dari angkutan lalu menyeberang jalan raya.
Fang menunggu di bawah pohon rindang sembari memegang kotak kecil. Ia tak sabar untuk bertemu Pie yang terlihat cantik dengan balutan seragam putih-abunya.
"Hai." Sapa Pie ketika ia menghampiri Fang yang tersenyum padanya.
"Hai, kau sendirian?"
"Ya. Kau sudah lama menunggu?"
"Lumayan."
"Oh."
Fang memberikan kotak tersebut kepada Pie.
"Ini untukmu. Aku menabung dari hasil bekerja di bengkel." Fang tidak melanjutkan sekolahnya, ia memilih untuk bekerja saja.
"Terima kasih, aku menghargai usahamu. Tapi selanjutnya kau tidak perlu melakukan hal seperti ini lagi, Fang. Kau harus memikirkan masa depanmu atau hubungan asmaramu."
"Kau tak perlu terbebani tentang hal ini, Pie. Aku sangat ikhlas melakukannya karena aku menyukaimu."
"Maaf, aku tidak bisa-"
"Tak apa. Aku mengerti." Fang tersenyum tulus.
"Kalau begitu, aku pulang dulu. Sekali lagi terima kasih kadonya."
"Ya, hati-hati di jalan. Hubungi aku jika kau sudah sampai rumah." Pie hanya mengangguk, mereka berpisah di sana dengan arah yang berbeda.