Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Bayangan di Antara Hidup dan Mati
Sore datang dengan langit yang mulai memerah, tapi perasaan Kiara sama sekali tidak ikut menghangat. Sejak bel pulang sekolah berbunyi, ada kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk bergerak lebih cepat, lebih waspada, lebih siap menghadapi hal yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.
Kiara menyalakan motor bututnya di depan gerbang sekolah. Sky sudah melayang di sampingnya, ekspresinya lebih serius dari biasanya. Tidak ada candaan. Tidak ada komentar iseng.
“Kita mulai dari taman terdekat,” kata Kiara.
Sky mengangguk. “Aku masih bisa merasakan suasananya, tapi gambarnya… kabur.”
“Setidaknya kita coba.”
Mereka menyusuri jalanan kota, berhenti di taman kecil dekat perumahan, lalu taman yang lebih besar di dekat alun-alun, lalu satu taman lagi di pinggir sungai kecil yang sering jadi tempat anak-anak nongkrong.
Taman pertama terlalu sempit.
Taman kedua terlalu ramai.
Taman ketiga terlalu sepi dan suram.
Sky berdiri di tengah-tengah taman keempat, menutup mata, seolah mencoba menarik sesuatu dari ingatannya.
“Bukan ini,” katanya pelan.
Kiara menghela napas. “Kita sudah ke empat tempat.”
“Masih ada satu lagi,” jawab Sky.
Mereka lanjut ke taman kelima. Yang ini sedikit lebih besar, dengan pohon-pohon tua, ayunan berderit, dan bangku-bangku besi yang catnya mulai terkelupas.
Sky berdiri lama di sana. Menatap ayunan. Menatap jalan setapak. Menatap lapangan kecil.
Ekspresinya berubah-ubah. Dari berharap. Ke ragu. Ke kosong.
“Gimana?” tanya Kiara akhirnya.
Sky menggeleng pelan. “Bukan ini juga.”
Kiara menurunkan helmnya sedikit, mengusap wajahnya. “Lima taman, Sky.”
Sky menatap sekeliling lagi, seolah memaksa ingatannya bekerja. “Rasanya… lebih terang. Lebih hidup. Dan… lebih besar.”
“Jadi mungkin bukan di kota ini?” Kiara menebak.
Sky terdiam.
“Mungkin,” jawabnya akhirnya. “Atau mungkin taman itu sudah berubah. Direnovasi. Dipindah. Atau… sudah tidak ada lagi.”
Kalimat itu terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Kiara menatap langit yang mulai gelap. “Atau mungkin ingatanmu belum lengkap.”
Sky mengangguk kecil. “Aku masih merasa ada bagian yang hilang.”
Mereka berdiri dalam diam beberapa detik. Lelah. Frustrasi.
Lalu ponsel Kiara bergetar di sakunya.
Ia mengeluarkannya. Nama Nayla muncul di layar.
“Ini Nayla,” kata Kiara cepat, lalu mengangkatnya. “Nay?”
Suara Nayla terdengar berbeda. Terburu-buru. Goyah. Seperti habis menangis.
“Kiara… Bima… kondisinya kritis.”
Dunia Kiara seperti berhenti berputar.
“Kritis?” ulang Kiara, suaranya menegang.
“Iya,” suara Nayla bergetar. “Dia dibawa ke rumah sakit. Sekarang aku di sini sama orangtuanya dan omnya. Dokter masih periksa.”
Jantung Kiara berdetak lebih keras. “Rumah sakit mana?”
Nayla menyebutkan nama rumah sakit.
“Oke,” kata Kiara cepat. “Aku ke sana sekarang.”
Telepon ditutup.
Sky sudah menatap Kiara dengan ekspresi yang langsung berubah tegang.
“Bima?” tanya Sky.
“Di rumah sakit. Kondisinya kritis,” jawab Kiara singkat.
Tanpa banyak bicara, Kiara langsung menyalakan motor dan melaju lebih cepat dari sebelumnya. Jalanan sore terasa lebih padat. Klakson terdengar dari berbagai arah.
“Tenang,” kata Sky, meski suaranya juga tegang. “Jangan sampai kamu kecelakaan.”
“Aku baik-baik saja,” jawab Kiara, tapi jari-jarinya mencengkeram setang lebih erat.
Mereka baru menempuh setengah perjalanan ketika motor Kiara tiba-tiba tersendat. Suaranya berubah kasar.
“Jangan sekarang,” gumam Kiara.
Mesin batuk.
Lalu mati.
Kiara menepi dengan napas berat. “Sial.”
Ia mencoba menyalakan lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Tidak ada respon.
Sky menatap motor itu dengan frustrasi. “Timing-nya buruk banget.”
“Motor ini memang suka drama,” jawab Kiara kesal.
Kiara turun, membuka jok sedikit, memeriksa sebisanya. Tangannya sedikit gemetar, entah karena emosi atau karena rasa cemas yang makin menekan dadanya.
“Kalau kita telat-”
Kalimat Kiara terpotong saat suara motor besar berhenti di belakang mereka.
“Kiara?”
Suara itu terlalu familiar.
Kiara menoleh.
Aditya.
Masih dengan jaket kampusnya. Helm masih di kepala. Motor besar yang suaranya khas.
“Kok berhenti di sini?” tanya Aditya sambil menurunkan standar motornya.
“Motor aku mogok,” jawab Kiara cepat.
Aditya melirik mesin motor Kiara. “Ya ampun. Motor kamu memang hobi cari perhatian.”
Sky mendengus. “Aku setuju.”
Aditya menatap wajah Kiara lebih teliti. “Kamu kenapa? Kelihatan pucat.”
Kiara ragu sejenak. “Temanku… Bima. Dia kritis. Aku mau ke rumah sakit.”
Ekspresi Aditya langsung berubah. Tidak ada senyum. Tidak ada nada bercanda.
“Rumah sakit mana?”
Kiara menyebutkan namanya.
Aditya langsung melepas helm, mengaitkannya di motor. “Naik. Aku antar.”
“Aku nggak mau pulang,” kata Kiara refleks.
“Siapa bilang pulang?” jawab Aditya. “Aku antar kamu ke rumah sakit.”
Kiara menatapnya beberapa detik.
Sky melirik Aditya dengan ekspresi menilai, lalu menoleh ke Kiara. “Terima.”
Kiara mengangguk kecil. “Makasih.”
Tanpa banyak bicara, Kiara naik ke motor Aditya. Sky melayang mengikuti, posisinya di sisi mereka, seperti bayangan yang tidak terlihat oleh dunia.
Motor Aditya melaju lebih cepat. Lebih stabil. Lebih bertenaga.
Kiara menahan diri agar tidak terlalu kencang memeluk jaket Aditya, tapi ia juga tidak benar-benar melepaskan pegangan. Pikirannya hanya satu.
Bima.
Rumah sakit terlihat ramai. Lampu-lampu terang. Suara langkah cepat. Bau khas antiseptik langsung menusuk hidung Kiara saat ia turun dari motor.
“Terima kasih,” kata Kiara cepat.
“Sama-sama,” jawab Aditya. “Aku ikut masuk.”
Kiara tidak menolak.
Mereka berlari kecil menuju ruang yang Nayla sebutkan.
Dan di sanalah Kiara melihat mereka.
Pak Arman.
Bu Lina.
Nayla.
Seorang pria paruh baya yang Kiara kenali sebagai Om Hardi, om Bima.
Wajah-wajah tegang. Mata merah. Posisi duduk yang gelisah.
Nayla langsung berdiri saat melihat Kiara. “Kiara!”
Kiara mendekat cepat. “Gimana Bima?”
Nayla menggeleng, matanya berkaca-kaca. “Masih di dalam. Dokter belum keluar.”
Bu Lina tampak sangat pucat. Tangannya gemetar saat memegang tisu. Pak Arman duduk dengan tangan terkatup, menatap lantai seperti sedang berdoa dalam diam.
Kiara merasakan dadanya mengencang.
Lalu ia merasakan sesuatu yang lain.
Udara di ruangan itu… berbeda.
Lebih berat.
Lebih dingin.
Sky berdiri di sampingnya, ekspresinya menegang.
“Dia ada di sini,” bisik Sky.
Kiara menelan ludah. “Siapa?”
Sky melirik ke satu sudut ruangan.
Dan saat Kiara menoleh-
Ia melihatnya.
Sosok wanita berpakaian putih. Rambut panjang terurai. Wajah yang sama. Hantu genit yang dulu menempel pada Bima.
Tapi kali ini…
Tidak ada senyum genit.
Tidak ada sikap manja.
Tatapannya kosong.
Penuh rasa bersalah.
Dan… penuh ketakutan.
Sosok itu berdiri agak menjauh dari keluarga Bima. Seolah tidak berani mendekat. Seolah tahu bahwa ia tidak pantas berada di sana.
Sky menegang. “Itu dia.”
Kiara menatap hantu itu tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya, Kiara tidak hanya melihat hantu itu sebagai sesuatu yang mengganggu. Tapi sebagai sesuatu yang… terikat.
Terikat pada Bima.
Terikat pada kondisi ini.
Tatapan mereka bertemu.
Mata hantu itu membesar sedikit.
Untuk sepersekian detik, Kiara melihat emosi yang sangat manusiawi di wajah yang tidak seharusnya bisa merasakannya.
Penyesalan.
Lalu…
Sosok itu memudar.
Bukan menghilang perlahan.
Tapi seperti ditarik.
Seperti dipaksa pergi oleh sesuatu yang tidak terlihat.
“Dia pergi,” bisik Sky.
Kiara mengangguk pelan. Jantungnya berdetak cepat.
“Dia nggak mau dilihat,” lanjut Sky. “Atau… dia nggak bisa lebih lama di sini.”
Aditya yang berdiri di samping Kiara menoleh. “Kamu kenapa?”
“Hah?”
“Kamu kelihatan bengong.”
“Cuma… cemas,” jawab Kiara cepat.
Aditya mengangguk. “Wajar.”
Mereka duduk menunggu. Waktu terasa melambat. Setiap menit seperti satu jam.
Bu Lina sesekali menangis pelan. Nayla menggenggam tangannya, berusaha menguatkan meski dirinya sendiri tampak rapuh. Pak Arman berdiri beberapa kali, berjalan bolak-balik, lalu duduk lagi.
Sky berdiri di dekat pintu ruang perawatan, menatap ke dalam dengan ekspresi yang tidak bisa Kiara baca.
“Kamu merasakan sesuatu?” tanya Kiara pelan.
“Ada energi yang tidak biasa,” jawab Sky. “Seperti… Bima bukan cuma sakit biasa.”
Kiara menelan ludah.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Seorang dokter keluar.
Semua orang langsung berdiri.
“Bagaimana anak saya, Dok?” tanya Pak Arman cepat.
Dokter itu menatap mereka dengan ekspresi profesional, tapi tidak terlihat terlalu tegang.
“Secara fisik,” kata dokter, “tidak ada masalah serius yang kami temukan.”
Semua terdiam.
“Maksudnya?” tanya Bu Lina dengan suara bergetar.
“Organ vital normal. Tidak ada infeksi berat. Tidak ada pendarahan. Tidak ada kelainan yang jelas,” jelas dokter. “Tapi kondisi kesadarannya menurun drastis. Seperti kelelahan ekstrem atau tekanan berat yang tidak bisa kami deteksi secara medis.”
Kiara merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Jadi… kenapa dia kritis?” tanya Om Hardi.
“Kami masih observasi,” jawab dokter. “Secara medis, tubuhnya tidak menunjukkan penyebab yang jelas. Ini yang membuatnya sulit.”
Sky menatap Kiara.
Tatapan itu sudah cukup.
Ini bukan sakit biasa.
Ini bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan alat medis.
Setelah dokter pergi, suasana tidak serta-merta menjadi lebih tenang. Justru sebaliknya.
Kebingungan menggantung di udara.
“Kalau bukan sakit… terus kenapa?” gumam Nayla, suaranya hampir putus.
Kiara tidak menjawab. Ia menatap ke arah tempat hantu itu tadi berdiri. Sekarang kosong.
Sky berdiri di sampingnya. “Aku punya perasaan tidak enak.”
“Jangan bilang,” gumam Kiara.
“Hantu itu,” lanjut Sky. “Dia bukan cuma nempel ke Bima karena iseng.”
“Lalu?”
“Dia mungkin terikat. Bukan cuma ke Bima. Tapi ke sesuatu yang lebih besar.”
Kiara menelan ludah.
“Dan kalau tubuh Bima baik-baik saja secara medis,” lanjut Sky, “maka yang diserang bukan tubuhnya.”
“Jiwanya,” bisik Kiara.
Sky mengangguk pelan.
Aditya memperhatikan Kiara dari samping. “Kamu yakin kamu baik-baik saja?”
Kiara menoleh. “Aku cuma… mikir.”
Aditya mengangguk, tidak memaksa. “Kalau kamu butuh ditemani, aku di sini.”
Kiara terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Makasih.”
Sky melirik Aditya, ekspresinya tidak lagi sinis seperti biasanya. “Dia… lebih peduli dari yang dia tunjukkan.”
“Aku tahu,” jawab Kiara pelan.
Waktu berjalan. Bima masih belum sadar.
Dan di tengah lampu rumah sakit yang dingin, suara langkah perawat, dan bisik-bisik cemas keluarga-
Kiara menyadari satu hal dengan sangat jelas.
Pencarian tentang masa lalu Sky mungkin bukan satu-satunya misteri.
Sosok peniru.
Hantu yang terikat pada Bima.
Dan kondisi Bima yang tidak bisa dijelaskan.
Semua seperti terhubung oleh benang yang belum bisa ia lihat.
Dan Kiara merasa....
Mereka sudah terlalu jauh untuk berpura-pura ini hanya kebetulan.
Karena sesuatu di dunia lain jelas mulai ikut campur.
Dan jika benar jiwa Bima yang diserang....
Maka pertanyaannya bukan lagi siapa yang meniru manusia.
Tapi…
Apa yang sebenarnya sedang berburu.
Dan apakah Kiara dan Sky akan terlambat menyadarinya.