NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gastronomi Bencana dan Protokol Evakuasi Hati

Nara Amelinda baru saja pulang kerja dengan sebuah ambisi yang berbahaya yaitu menjadi istri yang fungsional.

Setelah insiden Diplomasi Koridor tempo hari, Nara merasa perlu memberikan apresiasi pada Arga. Meskipun Arga adalah manusia dengan tingkat kekakuan setara beton cor, pria itu sudah membelanya di depan Ibu Widya dengan sangat gagah.

Nara menatap apartemen yang masih sepi, Arga biasanya pulang tepat pukul 19.00. Lalu ia segera melempar tasnya ke sofa dan menyingsingkan lengan baju.

"Oke, Nara. Kamu sering nonton video masak di TikTok sampai jam 2 pagi. Masak makan malam romantis itu cuma soal mentega, keberanian, dan sedikit feeling," gumamnya sambil mengikat rambutnya asal-asalan menjadi cepol yang berantakan.

Dapur Arga adalah sebuah mahakarya teknologi yang tidak pernah disentuh oleh noda minyak. Kompor induksinya berkilau seperti cermin, dan alat masaknya terlihat seperti instrumen bedah.

Nara mulai beraksi, ia menemukan dua potong daging wagyu premium di kulkas (yang sepertinya dibeli Arga hanya untuk pajangan nutrisi). Ia juga menemukan mentega impor. Masalah dimulai ketika Nara tidak tahu cara mengoperasikan kompor induksi layar sentuh milik Arga yang lebih mirip dasbor pesawat jet daripada alat masak.

"Kenapa nggak ada tombol on/off-nya sih? Ini kompor apa tablet grafis?"

Nara menekan sembarang ikon. Tiba-tiba, kompor itu menderu pelan. Nara memasukkan mentega dalam jumlah yang tidak masuk akal ("Biar gurih," pikirnya) dan daging wagyu yang ternyata masih agak beku di bagian tengah.

Sssshhhhttttt!

Asap mulai mengepul. Nara panik, ia mencoba membalik dagingnya, tapi minyak panas memercik ke mana-mana. Dalam kepanikannya, ia menyambar sebuah botol saus yang ia kira saus tiram untuk bumbu tambahan, padahal itu adalah minyak wijen konsentrasi tinggi yang diletakkan Arga di dekat rak bumbu khusus.

"Lho, kok apinya makin gede? Kok asapnya jadi hitam? Ini smoke point-nya ketinggian!" teriak Nara, mendadak teringat satu istilah kuliner yang pernah ia dengar.

Dalam hitungan detik, dapur minimalis itu berubah menjadi panggung konser musik metal dengan efek asap yang terlalu berlebihan.

BIIIIIIP! BIIIIIIP! BIIIIIIP!

Tepat saat Arga baru saja melangkah masuk ke pintu apartemen dan meletakkan tas kerjanya, suara alarm kebakaran pecah, membelah kesunyian lantai 12. Diikuti oleh suara otomatis dari langit-langit,

"Attention, please. Smoke detected in Sector 12. Please evacuate immediately via the emergency stairs."

Nara mematung di tengah kepulan asap dengan spatula di tangan, wajahnya sudah coreng-moreng terkena percikan saus.

"Mati gue."

Arga berlari ke dapur tanpa sempat melepas dasinya.

"Nara! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Arga melalui kabut asap yang mulai memenuhi ruang tamu.

"Aku... aku cuma mau bikin surprise makan malam romantis!"

Arga melihat wajan yang mulai mengeluarkan lidah api kecil akibat minyak yang terlalu panas. Dengan ketangkasan seorang auditor yang terlatih menghadapi situasi darurat (atau mungkin hanya karena ia sudah menghafal letak alat pemadam), Arga menyambar kain serbet, membasahinya dengan cepat di wastafel, dan menutup wajan tersebut hingga api padam.

"Evakuasi, Nara! Sekarang! Prosedur gedung mewajibkan kita turun!" Arga menarik tangan Nara yang masih memegang spatula.

"Tapi wagyunya... Gimana??"

"Lupakan daging itu! Seluruh koridor sudah mulai panik karena sistem otomatis ini!"

Mereka keluar ke koridor tepat saat Ibu Widya dan penghuni lainnya keluar dengan wajah pucat pasi.

"Ada apa?! Kebakaran?! Di mana?!" teriak Ibu Widya sambil memeluk tas Hermes-nya dan membawa kucing persianya yang terlihat bingung.

Arga, dengan sisa-sisa wibawanya, tetap memegang tangan Nara dengan sangat erat seolah takut Nara akan hanyut di tengah kerumunan orang yang menuruni tangga.

"Hanya gangguan sistem di unit saya, Bu. Silakan turun dengan tenang, tidak ada api besar," lapor Arga, berusaha tetap terlihat profesional meskipun kemeja mahalnya kini beraroma tumisan minyak wijen hangus.

Nara menunduk sedalam-dalamnya, wajahnya tertutup rambut, merasa ingin berubah jadi ubur-ubur dan menyelinap masuk ke lubang pembuangan air saja.

Setelah petugas keamanan menyatakan bahwa itu hanya

"insiden kuliner yang gagal", para penghuni diperbolehkan kembali.

Namun, Arga membawa Nara ke sudut taman apartemen yang sepi dan dingin di bawah langit malam, menjauh dari tatapan menghakimi Ibu Widya yang masih sibuk mengipasi kucingnya.

Nara berdiri tegak di depan Arga, pipinya tercoret noda hitam, rambutnya bau gosong, dan ia masih memakai celemek bergambar wortel.

"Maaf," cicit Nara pelan.

"Aku cuma mau apresiasi kamu karena udah bantuin aku kemarin. Aku nggak tahu kalau kompor kamu punya sensor yang lebih sensitif daripada perasaan aku kalau lagi laper."

Arga menatap Nara, napasnya masih sedikit memburu karena turun tangga tadi. Ia tidak marah, yang justru membuat Nara makin merasa merana. Arga melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Nara bisa mencium aroma parfum Arga yang beradu dengan bau gosong.

"Nara," panggilnya rendah.

"Iya?"

Arga mengangkat tangannya. Nara refleks memejamkan mata, bersiap dikuliahi soal kerugian material akibat overheating alat masak. Tapi yang ia rasakan adalah jempol Arga yang mengusap noda hitam di pipinya dengan sangat lembut, gerakannya perlahan dan penuh perhatian.

Nara membuka mata, wajah Arga hanya berjarak sepuluh sentimeter.

"Lain kali," bisik Arga, matanya menatap langsung ke manik mata Nara dengan intensitas yang membuat lutut Nara lemas,

"kalau mau makan malam romantis, cukup hubungi saya. Saya akan memesan koki atau saya sendiri yang memasak untukmu. Tidak perlu memicu protokol evakuasi satu gedung hanya untuk mengejutkan saya."

Jantung Nara mulai melakukan overclocking tanpa ampun.

"Aku... aku nggak cari perhatian!"

"Benarkah?" Arga tersenyum tipis, jenis senyum tipis yang jarang terlihat namun sanggup menghancurkan pertahanan logika siapa pun.

Arga meletakkan tangannya di tengkuk Nara, menariknya sedikit lebih dekat hingga dahi mereka bersentuhan di bawah lampu taman yang temaram.

"Karena secara statistik, setiap kali kamu berada di dapur tanpa pengawasan, risiko keselamatan jiwa saya menurun, tapi minat saya padamu meningkat secara signifikan."

Nara menelan ludah.

"Itu karena kamu panik takut apartemen kamu hangus, kan?"

"Tidak," sahut Arga pelan.

Ia menunduk sedikit, hidung mereka bersentuhan.

"Itu karena saya baru menyadari bahwa hidup yang terlalu steril dan teratur ternyata sangat membosankan sebelum kamu datang dan... membakarnya."

Arga mengecup kening Nara lama sekali. Kecupan yang terasa hangat, tulus, dan penuh klaim kepemilikan. Nara merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya lupa bahwa ia baru saja dicibir oleh seluruh penghuni lantai 12.

Nara memberanikan diri melingkarkan tangannya di pinggang Arga, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada pria itu.

"Tadi... wagyunya mahal banget ya?" tanya Nara lirih.

Arga tertawa pelan, sebuah suara yang renyah dan nyata.

"Sangat mahal... tapi biaya investasi perasaan saya jauh lebih besar daripada dua potong daging hangus itu."

Nara tersenyum di balik kemeja Arga.

"Dasar robot gombal."

"Saya hanya menyatakan data faktual, Sayang."

Malam itu, mereka kembali ke apartemen yang masih beraroma asap, tapi bagi Nara, tempat itu kini terasa jauh lebih hangat daripada sekadar unit hunian mewah.

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!