"Dengar, saya menikahi kamu hanya untuk nama baik keluarga Avandher Smith agar tidak tercemar diluaran sana. Jadi gak perlu menganggap saya suami mu. Cukup urus diri masing-masing dan tetap berpura-pura di depan orang tua dan teman-teman saya."
Maurisha terdiam, dengan kepala menunduk tak berani mendongak menatap wajah dingin Alaska.
***
Radicha Maurisha, gadis cantik berusia 18 tahun. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di kota, dimana kakak perempuannya tinggal.
Disanalah Risha kembali merasakan jatuh cinta, setelah sekian lama dia takut berdekatan dengan pria, karena suatu insiden di masa lalu yang membuat dia harus kehilangan orang tersayang dalam hidupnya. Trauma itu sampai sekarang masih ada, tetapi tidak separah dulu, dan dia bisa mengontrol dirinya.
Ketika bertemu dengan Alaska, yang ternyata salah satu dosen dikampusnya. Risha langsung mengagumi Alaska, mengklaim dosennya itu miliknya. Hingga kejadian tak terduga membuat dia harus berurusan dengan Alaska.
Pernikahan sah mereka, tidak bisa membuat Alaska menganggap Risha istrinya. Malah sebaliknya, kehadiran dia sama sekali tidak diinginkan Alaska.
.
Alaska Avandher Smith, pria tampan kaya raya, berusia 30 tahun. Alaska belum menikah, tetapi pria itu memiliki tunangan. Sifat dingin dan cueknya Alaska, malah membuat dirinya disukai salah satu mahasiswanya. Tak lupa sikap arogannya, seringkali merendahkan dan tidak menghargai, atau meremehkan orang lain.
Malam itu Alaska datang ke pernikahan sahabatnya, yang ternyata pengantin wanita itu adalah mantannya. Alaska mabuk berat di acara tersebut. Suatu accident, membuat dia terpaksa menikahi perempuan yang tidak dicintainya.
Sanggupkah Risha bertahan dalam menjalani kehidupan rumah tangga, saat pria yang dicintainya tak sedikitpun menganggapnya istri. Lalu, bagaimanakah pernikahan mereka yang baru seumur jagung, akankah bertahan atau bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon antiloversn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah Risha pergi dari ruang tamu, barulah Alaska membuka suara. Mengobrol santai bersama Samudra, membahas liburan akhir tahun mereka nanti.
"Andrew ngajakin liburan kali ini nginap di vila barunya. Kira-kira menurut lo gimana?" Tanya Alaska, padahal dia mau mengajak sahabatnya liburan ke luar negeri. Tetapi keduluan temannya yang mengutarakan keinginannya.
"Tunggu dulu, liburannya boleh bawa keluarga atau cuman kita bertujuh doang," ujar Samudra memastikan, karena dia berniat hendak mengajak istri dan kedua adik iparnya untuk ikut.
"Boleh Ndra, Andrew sendiri bawa istrinya. Kedua adik gue juga mau ikut." Kepala Alaska pusing menghadapi adik terakhirnya yang terus minta ikut liburan. Awalnya dia enggan membawa adiknya, tapi atas permintaan Mommy nya, dia tak punya pilihan lain, selain menuruti Mommy nya.
"Lu tadi gak marahin adek gue kan Al, pas ditemani," ujar Samudra mengganti topik pembahasan mereka.
"Maksud lu perempuan tadi adik lu," ujar Alaska, baru tau Samudra punya adik perempuan, setaunya sahabatnya itu anak tunggal.
"Lebih tepatnya adik ipar gue, gak lu marahin kan tadi," kata Samudra ulang
"Kita gak ngobrol, gue kira perempuan itu pengasuh baru Langit," ujar Alaska dengan santai menyebut Risha adalah bebysitter Langit.
"Sembarangan lu, kedengaran istri gue bisa marah dia."
•••
Tak kerasa sudah setengah jam Risha mengajak Langit jalan-jalan sore. Risha memutuskan pulang, tapi baru setengah jalan dia merasa capek, dia juga tidak sadar berjalan terlalu jauh.
Risha menepi sejenak beristirahat di bangku panjang.
"Te puyang," rengek Langit menarik-narik kerah baju Risha, mengajak tantenya melanjutkan perjalanan mereka.
"Tante istirahat dulu, sebentar aja sayang," ucap Risha
Sebuah mobil berhenti tepan depan mereka, ketika kaca mobil itu diturunkan Langit langsung berteriak heboh memanggil pria itu.
"Om Al, angit ama te mayu puyang. Boyeh nda itut Om."
Alaska belum bicara, dia melirik ke arah perempuan yang bersama Langit. Jujur Alaska tidak tega membiarkan Langit yang kelihatan ingin cepat pulang, tetapi dia tidak suka ketika mobil yang dia pakai sekarang harus di duduki perempuan. Sebab dia membawa mobil kesayangan yang belum pernah di masukin siapa pun.
"Masuk!" Titah Alaska datar, dengan sangat terpaksa merelakan mobil kesayangan di duduki oleh perempuan itu.
"Ayo te, macuk."
"Langit sendiri aja duduk di depan temani Om nya, tante duduk di belakang," ucap Risha merasa takut dengan Alaska, menurutnya wajah pria itu serem. Ia juga tak nyaman harus merepotkan orang lain. Melihat tampang pria itu seperti tidak ikhlas.
"Saya bukan sopir," dengus Alaska
"Maaf, tapi aku gak ada bilang Om sopir," ucap Risha tidak mengerti yang di maksud Alaska
"Ck, pindah ke depan." Titah Alaska berdecak
"Aku udah nyaman duduk di belakang, Om." kata Risha enggan untuk berpindah tempat
"Turun dari mobil saya---,"
"Te ndah epan." Suara Langit menyela omongan Alaska.
Tentu, dengan berat hati Risha mengalah pindah duduk di depan sambil memangku Langit. Daripada mereka tidak pulang-pulang, karena Alaska mengajak Risha berdebat.
"Makasih O---,"
"Langit, Om pergi dulu." Pamit Alaska menyela omongan Risha. Kemudian langsung menjalankan mobilnya masuk garasi, tanpa perduli dengan kekesalan Risha.
"Om itu nyebelin banget sih Lang, masa tante belum selesai ngomong udah di potong aja. Mana mukanya serem kalau lagi natap, Langit emang gak takut," gerutu Risha mengeluh pada Langit yang berada di gendongan.
"Om Al selem dalimana te, Om Al baik nda selem." Oceh Langit menanggapi omongan Risha
"Iya gak serem lagi ngomong sama kamu, tapi nada suaranya berubah kalau sama tante. Dasar Om Om aneh," cibir Risha dibelakang orangnya, tapi jika berhadapan dia tidak berani.
"Siapa yang kamu katain Om Om aneh, Dek." Ujar Mesya muncul dari pintu depan, untuk melihat adik dan anaknya sudah pulang atau belum. Ternyata adik dan anaknya sudah berada di depan rumah.
"Engga ada, Mba salah dengar." Risha memberikan Langit kepada Mesya.
Tampaknya Mesya percaya, lalu masuk ke dalam rumah bersama putranya.
•••
Di meja makan rame, adanya kehadiran Ibu dan kedua adiknya. Samudra begitu senang dengan kedatangan keluarga istrinya. Samudra telah lama tidak pernah makan bareng Sadewa. Papa nya juga merupakan seorang dokter, semanjak tante nya sakit. Papa nya terpaksa pindah tempat kerja, supaya dapat memantau kesehatan tante nya.
Rumah yang ditinggali Samudra dan Mesya adalah milik Sadewa. Papa nya tidak mau rumah kosong tanpa penghuni, makanya meminta dia dan istrinya untuk tinggal di rumah. Mereka tidak diizinkan pindah, sebelum Papa nya kembali. Jadi dia akhirnya terpaksa tinggal semantara di rumah Papa nya. Padahal dia sendiri punya rumah dekat para sahabatnya.
"Mas, ini aku benaran gak papa tinggal sama kalian," ujar Risha, seingatnya rumah kakaknya bukan ini, jadi dia takut tidak diperbolehkan.
"Kamu gak capek nanya itu terus, Dek. Lagian Papa nya Mas juga gak tau kapan pulangnya. Sebelumnya Mas udah izin sama Papa, kalau kamu tinggal bareng kami," jelas Samudra bosan mendengar pertanyaan adik iparnya.
"Mba Sha, jangan boros lho tinggal di kota," celetuk Rasya
"Emangnya Mba kaya kamu, setiap dapat uang dari Mba Mesya langsung di habiskan nongkrong bareng teman," balas Risha membongkar kelakuan Rasya di depan kakak dan kakak iparnya.
"Oh jadi gitu kamu dek, Mba kira uang itu kamu gunain dengan baik. Ternyata abis kamu bawa nongkrong, uang bulanan kamu mulai sekarang di simpan Ibu. Kalau perlu, harus jelas mau beli barang apa." Kata Mesya tidak akan lagi menyuruh Ibunya memberikan semua uang bulanan yang selalu dia kasih ke adik-adiknya, untuk diberikan pada Rasya adik bungsunya. Baru diketahuinya bahwa adiknya itu menghabiskan uang bulanan dengan berfoya-foya mentraktir temannya.
"Jangan dong Mba, itukan hak Rasya," ujar Rasya tidak terima uang bulanannya di pegang oleh Ibu nya.
"Iya tau hak kamu, tapi salah kamu menggunakan uang itu untuk foya-foya. Mba bisa maklumi kalau kamu hanya sekali-kali mentraktir teman mu---,"
"Hampir setiap dapat kiriman, Rasya selalu traktir teman-temannya Mba," ujar Risha mendapat tatapan tajam dari Rasya, tapi dia tak perduli, siapa suruh adiknya duluan sok sok mengingatkannya.
"Mba Sha diam sih! Ayolah, Mba jangan terpengaruh sama omongan Mba Sha, uang dari Mba ada kok yang aku tabung, tanya aja sama Ibu," kata Rasya membela diri, karena memang Ibu nya sendiri yang selalu melihat dia memasukan uang ke tabungan.
"Adek mu benar Mey, bahkan Ibu yang selalu mastiin Rasya nabung. Meskipun yang ditabung masih lebih banyak dibelanjakan," sambung Bu Elma
"Tuh Mba denger sendirikan, aku juga nabung. Meski gak banyak."
"Alah itupun nabung, disuruh dulu sama Ibu," ucap Risha
"Mba Sha udah ngajak adeknya berantem. Gak malu apa dilihati Mas kalian." Tegur Bu Elma, barulah Risha diam, begitupun Rasya tak lagi membalas perkataanya Risha.
di sinopsis si Al tunangan bubar karena sesuatu tapi di bab lalu karena di ga mau jadi ibu rumah tangga Thor
seru ceritanya