Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikmat Mana Lagi yang Abah Dustakan
"Akhir-akhir ini Mak jarang minta kerokan atau ngeluh sakit kepala. Apa ditahan-tahan, atau memang sudah sembuh?" tanya Kosasih lembut.
Mak Sari merenung sejenak. Benar juga.
"Iya ya, Bah. Sejak sebulan lalu, pas Kinar pulang bawa Tari, sakit kepala Mak yang langganan tiap bulan itu hilang pleng begitu saja. Padahal biasanya kalau kumat, kepala rasanya kayak mau pecah."
Mak Sari bangkit sedikit, wajahnya tampak khawatir.
"Bah, jangan-jangan... kita ini nyedot rezekinya si Nduk Tari? Kok rasanya semenjak ada dia, penyakit Mak diangkat, tapi Mak takut malah dia yang kena imbasnya."
Kosasih menggeleng tegas, meski tangannya tetap lembut memijat.
"Jangan mikir yang aneh-aneh, Mak. Lihat si Tari, badannya seger waras, pipinya gembil. Abah rasa, cucu kita itu memang bawaannya adem. Dia tinggal di mana, tempat itu jadi subur, jadi enak ditinggali. Kayak tanaman padi, kalau tanah dan airnya bagus, ya dia tumbuh subur. Tari itu kayak mata air buat rumah ini."
"Ya moga-moga begitu, Bah. Mak jadi tenang. Si Kinar sekarang juga sudah punya usaha keripik, lancar lagi. Sawah jatah Kinar yang dia nggak bisa garap, tahun depan bisa kita sewakan ke Pak Nardi saja. Bagi hasil gabah tiga-empat karung juga cukup buat makan mereka berdua setahun," ucap Mak Sari dengan nada lega.
Beban di pundaknya rasanya terangkat.
Anak perempuannya yang janda punya pegangan hidup, cucunya sehat.
"Mak nggak khawatir kalau Abah gagal ujian persamaan nanti?" goda Kosasih.
"Gagal ya sudah, wong hidup juga tetap berjalan. Mak nggak mimpi jadi istri pejabat atau istri sarjana. Yang penting kita sekeluarga sehat, bisa kumpul makan sambal terasi bareng-bareng, itu sudah cukup," jawab Mak Sari tulus.
Kosasih tersenyum, hatinya menghangat.
"Duh, punya istri kok ya pengertian begini. Nikmat mana lagi yang Abah dustakan."
Mak Sari menepuk pelan lengan suaminya,
"Ih, Abah! Tua-tua makin gombal."
Langit masih gelap, ayam jantan baru berkokok satu-dua kali.
Tari sudah bangun, duduk anteng di samping ibunya, Kinar.
Di halaman, Abah Kosasih sudah siap dengan pedati sapi sewaan.
Ia dibantu Kang Jaka menaikkan keranjang-keranjang berisi dagangan.
Muatannya sama banyaknya dengan kemarin.
Tari duduk di atas tumpukan jerami di belakang pedati, mengunyah telur rebus hangat, lalu menenggak air dari botol kaca bekas sirup.
Perjalanan menuju Kota Kabupaten memakan waktu cukup lama.
Saat matahari mulai meninggi dan jalan aspal mulai terasa panas, mereka sampai di pasar.
Begitu keranjang diturunkan di lapak sederhana mereka, pembeli sudah mulai mengerubung.
"Wah, ini keripik pedas manis yang kemarin ya? Enak tenan, Bu. Bumbunya medok. Saya beli dua kilo buat oleh-oleh!" seru seorang ibu-ibu berdaster batik dengan antusias.
Kinar tersenyum sumringah, tangannya cekatan menimbang keripik.
Tari yang duduk di samping toples dagangan nyeletuk,
"Tante Cantik, karena Tante baik hati, Tari kasih bonus kerupuk satu ya!" Tangan mungilnya mengambil satu kerupuk aci dan memasukkannya ke kantong belanjaan si ibu.
"Aduh, manisnya mulutmu, Nduk! Pinter banget dagang," si ibu tertawa gemas, mencubit pelan pipi Tari.
Kosasih melihat dagangan anaknya laris manis, merasa tugasnya sudah selesai.
"Nar, kamu jaga lapak sama Tari ya. Abah mau pergi sebentar, ada urusan."
Kinar mengangguk takzim.
Ia tahu ayahnya punya urusan sendiri dan tak berani bertanya macam-macam.
"Nggih, Bah. Hati-hati."
"Dah, Mbah Kung!" Tari melambaikan tangan mungilnya.
Kosasih tersenyum, membetulkan letak pecinya, lalu menyusup ke dalam keramaian pasar.
Ia berjalan melewati los daging yang bau anyir, los sayur yang becek, hingga sampai di deretan ruko-ruko tua bergaya kolonial di jalan utama.
Suasana di sini lebih tenang.
Ini kawasan toko buku dan percetakan.
Bau kertas tua dan tinta menguar di udara.
Kosasih melangkah masuk ke "Toko Buku Pustaka Ilmu", toko buku terbesar di kabupaten itu.
"Selamat pagi, Pak. Cari buku pelajaran buat cucu? Atau mau cari alat tulis? Di sini lengkap, Pak," sapa seorang pelayan toko muda dengan ramah.
Ia tak memandang rendah Kosasih meski pakaiannya hanya kemeja batik lusuh dan celana kain sederhana.
Kosasih tersenyum sopan.
"Saya tidak cari buku, Mas. Saya mau cari pemilik toko ini. Pak Lukman. Tolong sampaikan, teman lamanya, Kosasih Hidayat, ingin bertemu. Kalau beliau sibuk, saya akan datang lagi tiga hari lagi."
Lukman. Teman sebangku Kosasih saat sekolah rakyat dulu.
Anak orang kaya, yang nasibnya jauh lebih mujur.
Kosasih ingat betul, Lukman pernah bilang kalau dia akan meneruskan usaha toko buku ayahnya. Sudah dua puluh tahun mereka tak bertemu. Entah Lukman masih ingat atau tidak pada anak petani sepertinya.
Tujuan Kosasih cuma satu: mencari pekerjaan sampingan menyalin naskah atau dokumen untuk biaya ujian persamaannya nanti.
"Wah, Bapak beruntung. Pak Bos jarang-jarang datang, biasanya cuma enam bulan sekali ngecek toko. Eh, hari ini beliau ada di lantai dua. Tunggu sebentar ya, Pak, saya sampaikan," ujar pelayan itu antusias, lalu berlari menaiki tangga kayu.
Sambil menunggu, Kosasih melihat-lihat rak buku.
Banyak buku tulis halus dan buku cetakan stensil.
Matanya menangkap satu buku dengan tulisan tangan yang rapi di etalase. Ia mengenali gaya tulisan itu. Hatinya sedikit tenang. Tulisan tangan mencerminkan karakter. Jika tulisan itu masih ada di sini, berarti temannya mungkin masih menghargai hal-hal lawas.
"Kosasih? Mana Kosasih?"
Suara berat dan langkah kaki terburu-buru terdengar dari tangga.
"Lho, orangnya mana?" tanya pria separuh baya yang baru turun itu pada pelayannya.
Kosasih melangkah keluar dari balik rak buku sejarah.
Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Assalamualaikum, Lukman. Kumaha damang?"
Keduanya terdiam sejenak.
Kosasih terkejut melihat Lukman yang kini tubuhnya subur, perutnya membuncit khas juragan makmur.
Jauh berbeda dengan Lukman si kerempeng dulu. Tapi sorot matanya masih sama hangatnya.
"Masya Allah, Kosasih! Kamu kok awet muda begini?" seru Lukman sambil menepuk bahu Kosasih.
Lukman geleng-geleng kepala.
Teman-temannya yang lain rata-rata sudah bungkuk, ompong, atau minimal ubanan total.
Tapi Kosasih? Badannya masih tegap, kulitnya kencang meski terbakar matahari. Hanya sedikit kerutan di ujung mata yang menandakan usianya.
"Kamu yang makin makmur, Man," balas Kosasih terkekeh.
"Hahaha, makmur apanya. Ini isinya lemak semua, kebanyakan makan enak tapi malas gerak. Ayo, ayo naik ke atas. Kita ngobrol di ruangan saya," ajak Lukman sambil menarik lengan baju Kosasih, tak ada jarak, tak ada rasa canggung karena beda status sosial.
Pelayan toko tadi tersenyum melihat bosnya begitu gembira.
Alhamdulillah, bakal dapat uang tips nih, batinnya riang.
Ia teringat keripik pedas yang dijual ibu-ibu di pasar, nanti ia mau beli ah.
Di lantai dua, ruangan Lukman penuh dengan tumpukan kertas dan bau teh melati.
Ia menuangkan secangkir teh hangat untuk Kosasih.
"Minum dulu, Sasih."
"Matur nuwun." Kosasih menyesap teh itu pelan.
Nikmat. Teh mahal, beda dengan teh nasgitel (panas, legi, kental) di desa.
"Dua puluh tahun kita nggak ketemu. Kamu ke mana saja? Masih ngejar jadi pegawai negeri? Anakmu berapa sekarang?" cerocos Lukman antusias.
Kosasih meletakkan cangkirnya.
"Dua puluh tahun ini aku jadi petani, Man. Nggak pernah ikut tes lagi. Anakku dua, satu laki satu perempuan. Hidupku ya begini, jadi orang tani biasa."
Lukman memperhatikan lengan Kosasih yang berotot.
"Pantesan badanmu sehat. Orang tani kan gerak terus. Lah aku? Jalan dari parkiran ke sini saja sudah ngos-ngosan."
Ada nada iri dalam suara Lukman. Harta banyak ternyata tak membeli kesehatan.
"Aku ke sini sebenarnya ada perlu, Man," ucap Kosasih, merubah nada bicaranya jadi lebih serius.
"Bilang saja. Kalau bisa bantu, pasti aku bantu."
Kosasih menarik napas panjang.
"Umurku sudah empat puluh enam tahun. Anak-anak sudah mentas semua. Tapi ada satu ganjalan di hati. Dulu aku putus sekolah, nggak punya ijazah, gagal jadi pamong desa. Jadi... aku berniat mau ikut Ujian Persamaan tahun depan. Biar punya ijazah SMA, syukur-syukur bisa ikut tes pamong atau sekadar membuktikan ke diri sendiri."
Ia menatap lurus ke mata Lukman.
"Aku butuh biaya buat beli buku dan bayar pendaftaran. Dulu di sekolah, tulisan tanganku kan lumayan rapi. Aku mau melamar kerjaan di sini, barangkali butuh orang buat menyalin naskah, menulis ijazah, atau bikin undangan yang butuh tulisan halus."
Hening sejenak.
Lukman melongo.
Mulatnya sedikit terbuka.
"Tunggu... telingaku nggak salah dengar? Kamu mau sekolah lagi? Mau ujian lagi?"
Kosasih mengangguk mantap meski telinganya terasa panas menahan malu.
"EDAN!" Lukman menggebrak meja, tapi wajahnya sumringah.
"Kosasih, kamu bener-bener gila! Tapi aku salut! Sumpah, aku salut! Aku saja yang punya duit, boro-boro mikir sekolah lagi, baca koran saja malas. Kamu ini semangatnya ngalahin anak muda!"
Lukman menggeleng kagum.
"Luar biasa. Jarang ada orang setua kita masih punya api kayak gitu. Oke, aku dukung seratus persen! Soal nyalin menyalin, kebetulan aku memang butuh. Tapi..." Lukman menatap tajam, mode pebisnisnya keluar. "Aku harus lihat dulu tulisanmu sekarang. Kalau tanganmu sudah kaku karena pegang cangkul, ya maaf saja aku nggak bisa kasih harga tinggi."
"Wajar," jawab Kosasih tenang.
"Tolong ambilkan kertas dan pena."
Lukman segera menyiapkan peralatan tulis terbaiknya.
Tinta hitam pekat dan kertas HVS tebal.
Kosasih duduk tegak.
Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napas.
Tangannya yang kasar memegang pena dengan luwes. Ia mulai menulis.
Meski sehari-hari memegang gagang pacul, memori ototnya tak lupa cara menari di atas kertas.
Tulisannya tegak bersambung, rapi, tegas, namun ada kelembutan di setiap lengkungannya.
Tulisan orang yang matang ditempa kehidupan, bukan sekadar tulisan indah anak sekolahan.
Lukman mengintip dari balik bahunya.
"Wah... edan. Makin bagus tulisanmu, Sasih. Lebih berkarakter daripada zaman sekolah dulu. Kamu masih sering nulis di desa?"
"Sesekali, kalau lagi senggang di gubuk sawah," jawab Kosasih merendah.
"Ini sih lebih bagus daripada si Wawan, juru tulis andalanku," puji Lukman jujur.
Ia mengambil sebuah buku tebal dari laci.
"Nih, bandingkan. Ini tulisan si Wawan."
Kosasih melihatnya.
Tulisan Wawan memang rapi dan cantik, tapi terlihat tipis dan ragu-ragu.
Sedangkan tulisan Kosasih terlihat mantap dan berwibawa.
"Oke, Sasih. Lulus. Kebetulan ada orderan dari Kantor Kabupaten. Mereka butuh salinan rapi untuk Buku Induk Kependudukan dan beberapa naskah pidato Bupati yang mau diarsipkan. Ini butuh ketelitian tingkat dewa. Salah satu huruf, kertasnya harus ganti, nggak boleh ada coretan atau tipe-x."
Lukman menyodorkan sebuah buku tebal.
"Satu buku ini upahnya lumayan. Cukup banget buat bayar ujian persamaanmu plus beli seragam baru. Tapi ingat, kalau banyak salah, potong honor ya."
"Siap, Man. Aku pilih yang Buku Induk Kependudukan dulu." Kosasih tersenyum lebar.
Jalan untuk meraih impian masa mudanya yang tertunda kini terbuka lebar.
"Sip. Nanti biar anak buahku yang bungkusin kertasnya. Kamu kerjakan di rumah nggak apa-apa. Nanti kalau sudah selesai, bawa sini lagi."
Kosasih mengucap syukur dalam hati.
Di kejauhan, di pasar yang ramai, rezeki lain mungkin sedang menghampiri cucunya, Tari, yang tanpa sadar telah membuka pintu keberuntungan bagi kakeknya hari ini.