Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Maira melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit sambil menggenggam bingkisan buah di tangannya. Sinar matahari sore menembus jendela-jendela besar di sepanjang lorong, menciptakan bayang-bayang hangat yang bergerak mengikuti langkahnya. Bau khas antiseptik bercampur dengan aroma obat-obatan membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Di belakangnya, tanpa sepengetahuan Maira, Hazel berjalan pelan. Langkahnya sengaja diperlambat, menjaga jarak agar tidak menarik perhatian. Pandangannya tak lepas dari punggung perempuan itu, seolah ada sesuatu yang membuatnya tak tega meninggalkannya sendirian.
Setibanya di depan pintu kamar, Maira berhenti. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan debar jantungnya yang mendadak berpacu. Tangannya sempat gemetar sebelum akhirnya mengetuk pintu pelan.
Hazel segera bersembunyi di balik sudut koridor, mengintip dari kejauhan.
Pintu terbuka.
Maira terpaku. Hatinya seketika luluh melihat sosok papanya yang duduk di kursi roda. Tubuh pria itu tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya. Wajahnya pucat, matanya redup, seolah kehilangan sinar yang dulu selalu membuat Maira merasa aman.
Gunawan menoleh perlahan. Senyum lemah terbit di wajah tuanya.
“Maira, anak papa,” ucapnya lirih, serak, tapi penuh kehangatan.
Perasaan di dada Maira runtuh seketika. Ia berlari kecil dan memeluk papanya erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
“Pa… Maira kangen banget,” isaknya. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah tanpa bisa dicegah.
Hazel yang menyaksikan dari kejauhan hanya bisa terdiam. Ada sesuatu yang mencengkeram dadanya saat melihat pemandangan itu.
Beberapa saat kemudian, Maira mendorong kursi roda papanya ke arah taman belakang rumah sakit,dimana di sana ada taman dan para pasien sering bermain di sana.
Angin sore berembus pelan, membawa udara segar yang sedikit menenangkan. Sesekali Maira melirik sekitar, tanpa sadar Hazel sudah lebih dulu menghilang di balik pepohonan di taman karena tak ingin maira tau keberadaanya.
Maira meraih jeruk dari dalam bingkisan. Dengan gerakan hati-hati, ia mengupasnya, lalu menyodorkan potongan buah itu sambil tersenyum.
“Pa, makan dulu buahnya, ya,” ucapnya lembut.
Namun papanya hanya menatapnya kosong. Alisnya berkerut, matanya bergerak gelisah, seolah sedang mencari sesuatu yang tak ia temukan.
“Kamu… siapa?” tanyanya bingung.
Senyum di wajah Maira membeku. Dadanya terasa ditusuk, tapi ia memaksakan senyum.Penyakit alzheimer yang diderita papanya memang seperti ini. Beliau selalu lupa kalau Maira adalah anaknya.
“Ini Maira, Pa. Anak papa,” jawabnya lirih, suaranya bergetar.
Namun yang ia terima justru teriakan.
“Saya nggak punya anak! Kamu bukan anak saya! Sarah itu pembohong! Sarah itu pembohong!” teriak Gunawan sambil mengayunkan tangan tak terkendali.
Maira menggenggam tangan papanya yang gemetar, meski sentuhan itu langsung dihindari.
“Pa…” suaranya pecah.
Dadanya terasa sesak. Air matanya kembali jatuh saat melihat papanya semakin resah. Beberapa suster bergegas mendekat, mencoba menenangkan pria itu dan mendorong kursi roda kembali ke kamar.
“Mbak Maira, sabar ya,” ucap salah satu suster dengan tatapan iba.
Maira hanya mengangguk lemah.
“Aku akan berusaha, Pa,” bisiknya pelan.
“Aku janji… aku akan bawa papa pergi berobat jauh ke tempat yang lebih baik. Aku bakal bikin papa sembuh dan bahagia lagi.”
Di balik pepohonan, Hazel menatap pemandangan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tak pernah menyangka perempuan yang sering ia lihat ceroboh dan ceplas-ceplos itu menyimpan luka sedalam ini.
Tiba-tiba, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Maira.
“Dasar anak kurang ajar!” bentak Sarah.
“Kamu tau nggak, gara-gara kamu, Pak Vincent menarik semua uang yang udah dia setor ke mama?!”
“Ma…” Maira terpekik. Tubuhnya gemetar, napasnya tercekat.
Sarah menatapnya tajam, suaranya makin keras. “Kenapa sih kamu nggak nurut aja? Layani Pak Vincent? Kalau perlu kasih tubuh kamu! Cuma itu cara biar kita bisa hidup!”
Air mata Maira menggenang. Dadanya panas, emosinya meluap.
“Aku bukan barang, Ma!” suaranya meninggi.
“Aku juga punya harga diri! Mama kira aku senang hidup kayak gini? Menjual diri demi uang?!”
“Harga diri?” Sarah tertawa sinis.
“Kamu itu cuma perempuan rendahan! Nggak ada lelaki baik-baik yang mau sama kamu!”
“Mama hentikan!” Maira terisak.
“Aku… aku…”
Kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Jiwanya terasa terkoyak, tapi ia terlalu lelah untuk melawan keras kepala mamanya.
“Dasar anak nggak tau diuntung!” dengus Sarah sebelum berlalu pergi.
Maira terduduk lemas. Dadanya sesak, kepalanya pening.
“Apa aku salah, Tuhan?” gumamnya lirih.
“Semua yang aku lakuin cuma buat mama dan papa bahagia…”
Ia menunduk, bahunya terguncang oleh tangisan.
Tak lama, Hazel mendekat. Tanpa berkata apa-apa, ia melepas jaketnya dan menutupi kepala Maira.
“Menangislah,” ucapnya pelan.
“Sampai kamu lega.”
Tangisan Maira pecah lebih keras. Setelah beberapa saat, ia berdiri, membuka jaket itu. Wajahnya sembab, tapi senyum kecil terbit di bibirnya.
“Ayo, Pak Hazel. Kita pulang,” ucapnya, berusaha tegar.
Di dalam mobil, suasana hening. Maira menatap keluar jendela, Hazel fokus menyetir.
“Dasar manusia aneh,” oceh Maira pelan.
“Harusnya hibur aku kek,sudah jelas orang lagi sedih. Beliin es krim gitu…”
”Dasar pria berhati batu!”Dengus Maira.
Hazel mendadak mengerem.
“Astagfirullah!” Maira menjerit.
“Pak, jantung saya cuma satu! Nggak ada stok!”
“Tadi ku bilang saya berhati batu?” tanya Hazel datar.
“Perasaan bapak aja kali!”
Hazel cukup kesal dengan ucapan Maira yang mengatakan dirinya seperti batu. Mobil pun kembali melaju.
Tak lama, Hazel berhenti di depan minimarket.
“Tunggu sebentar,” katanya.
Tak lama kemudian dia kembali membawa sekantong penuh es krim.
“Saya nggak tau kamu suka rasa apa,” ucapnya singkat.
“Jadi saya beli semuanya.”
Mata Maira membulat. Lalu senyum lebarnya merekah.
“Terima kasih, Pak Hazel.”
Hazel hanya mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ia merasa lega. Setidaknya, hari berat Maira itu ditutup dengan senyum kecil di wajah Maira kali ini.
Dan untuk pertama kalinya, Maira menyadari… pria kaku di sampingnya ternyata tak sedingin yang ia kira.