Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Chelyne Kembali Pulih
Setelah pengakuannya malam itu pada Hugo, Grace tidak lagi terlihat seperti wanita yang terbakar amarah.
Ia menjadi jauh lebih tenang. Justru itu yang membuatnya lebih berbahaya.
Ia sadar satu hal penting bahwa ia hampir tertangkap. Tatapan Thaddeus sore itu bukan tatapan anak kecil yang bingung. Itu tatapan seseorang yang ketakutan.
Grace tidak boleh ceroboh lagi. Balas dendam yang tergesa hanya akan menyeretnya pada kehancuran. Ia sudah terlalu jauh untuk kalah sekarang.
Maka ia menunda tapi bukan membatalkan rencananya.
...****************...
Dua bulan berlalu sejak kekacauan mangkuk yang jatuh dan tuduhan tak langsung dari Thaddeus. Selama dua bulan itu, Grace benar-benar membuat ramuan yang memang menyembuhkan. Tidak ada lagi cairan ungu pekat dan takaran dosis berlebihan bahkan Grace tidak memasukkan racun yang diselipkan diam-diam.
Perlahan, Ratu Chelyne mulai membaik.
Wajahnya yang dulu pucat kembali memiliki warna. Langkahnya tidak lagi goyah, Ia bisa duduk lebih lama di taman dan bisa tertawa tanpa terbatuk panjang.
Castle Castavia yang selama berbulan-bulan terasa muram mulai bersinar lagi.
Suatu pagi, Arion terbangun dan mendapati sisi tempat tidur kosong.
Jantungnya sempat melonjak.
"Chelyne?" panggilnya, bangkit dengan cemas.
Namun aroma mentega dan gula tercium dari lorong dapur. Arion mengikuti aroma itu dan berhenti di ambang pintu dapur.
Chelyne berdiri di sana. Tangannya berbalut tepung, rambutnya terikat sederhana. Di hadapannya, adonan biskuit tersusun rapi di atas nampan.
Ia tersenyum ketika melihat Arion.
"Sudah lama aku tidak sebebas ini," katanya Chelyne.
"Aku hampir lupa rasanya berdiri lama tanpa pusing."
Arion menatapnya beberapa detik, seakan takut semua itu hanya mimpi.
"Chelyne, kau yakin sudah benar-benar pulih?" tanyanya pelan.
Chelyne tertawa kecil. "Kau ragu padaku, Arion?Bahkan Grace juga bilang tubuhku sudah kembali kuat."
Arion mengangguk pelan, lalu melangkah mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. Ia merasakan kehangatan tubuh Chelyne dan napasnya yang stabil.
Sudah lama ia tidak merasakan ini tanpa rasa takut.
Di sudut dapur, seorang pelayan perempuan membantu menyusun kue kering di atas nampan sesuai permintaan sang ratu.
Hingga dua ekor kupu-kupu kaca masuk melalui jendela yang terbuka. Sayapnya memantulkan cahaya pagi, berkilau seperti pecahan kristal.
Satu hinggap di pundak Chelyne dan satu lagi di lengan Arion. Mereka berdua saling menatap, lalu tertawa kecil melihat keindahan makhluk itu.
"Kau lihat?" bisik Chelyne. "Seakan mereka ikut merayakan."
Kupu-kupu kaca itu terbang mengitari kepala mereka beberapa saat, lalu melayang lebih jauh ke lorong castle.
Tepat saat itu, Greta muncul dengan mata setengah terpejam. Rambutnya sedikit berantakan.
Ia menguap kecil. Kupu-kupu kaca itu terbang mendekatinya. Mata Greta langsung berbinar.
Tanpa sadar, ia melangkah lebih cepat ke arah dapur, mencoba mengikuti gerakan sayap kaca yang berkilau itu. Namun langkah kecilnya terlalu terburu-buru.
Greta menabrak pelayan yang sedang membawa nampan penuh biskuit. Nampan itu miring, beberapa kue kering jatuh ke lantai batu dengan bunyi pelan.
Pelayan itu mendesah kesal.
"Pagi-pagi sudah membuat repot saja," gumamnya pelan, cukup lirih agar tidak terdengar oleh raja dan ratu yang sedang berbincang.
Greta terdiam sesaat. Lalu ia berlutut, memunguti biskuit yang jatuh.
"Maaf..." katanya pelan. "Aku tidak sengaja."
Greta tidak menangis, ia hanya terlihat bingung.
...****************...
Di sisi lain dapur, Chelyne dan Arion masih berbicara tentang hari itu. Tentang bagaimana Chelyne ingin berjalan-jalan ke taman sore nanti.
Tak satu pun dari mereka melihat tangan kecil Greta yang sedikit gemetar saat memunguti kue.
Beberapa menit kemudian, Thaddeus datang. Ia berhenti di ambang dapur, terpaku.
Melihat ibunya berdiri sehat, tertawa, membuat kue seperti dulu, sesuatu di dadanya menghangat.
Namun kehangatan itu tidak sepenuhnya menghapus kegelisahannya.
Ia melangkah mendekat.
"Ibu benar-benar sudah pulih?" tanyanya hati-hati.
Chelyne tersenyum dan mengusap rambut putranya.
"Ibu tidak pernah merasa sebaik ini dalam beberapa bulan terakhir."
Thaddeus mengangguk, tapi tatapannya tidak sepenuhnya lega.
"Ayah," katanya pada Arion, "mungkin sebaiknya kita memanggil tabib sekali lagi. Untuk memastikan."
Arion terdiam sejenak. Ia memandang wajah putranya yang penuh kesungguhan. Namun ia juga melihat Chelyne yang tampak begitu hidup.
"Kita lihat nanti," jawabnya singkat.
Di sudut ruangan, Greta kembali melihat kupu-kupu kaca yang kini melayang rendah di dekat meja.
Ia berdiri dan mencoba menangkapnya. Tangannya menyentuh sisi meja hingga nampan lain bergeser.
Beberapa kue kembali jatuh. Pelayan itu kehilangan kesabaran. Dengan gerakan cepat, ia menepis tangan Greta.
"Berhenti mengacau!" bisiknya tajam.
Tepisan itu tidak keras, tapi cukup membuat Greta terdiam. Ia menatap tangannya, lalu pelayan itu.
Dan lagi-lagi, tak seorang pun memperhatikan. Greta hanya ingin menangkap kupu-kupu kaca itu sebagai teman barunya. Tapi yang Ia dapat malah kekacauan.
Thaddeus terlalu sibuk memperhatikan ibunya sehingga Ia tidak melihat Greta yang dimarahu oleh pelayan perempuan.
"Oh iya, dimana Grace?" tanya Arion pada Chelyne
"Grace bilang dia tidak masuk hari ini. Grace ingin menghabiskan waktu persama Hugo dan dia juga mau melihat ladangnya." ujar Chelyne.
Grace memang sudah meminta izin beberapa hari untuk kembali ke ladangnya. Ia berkata ia merindukan tanah dan ingin melihat Hugo.
Chelyne mengizinkannya tanpa ragu. Ia sudah begitu percaya pada Grace.
Tapi dibalik kesembuhan Chelyne, ada seseorang yang belum merasa puas dengan hal itu. Tak lain itu adalah Thaddeus. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, entah itu Grace atau bukan.
karena dia gak perlu ngerasa sakit.
asumsi orang dulu emang rada-rada ya.