“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
"Bagaimana kalau anda melamar nona Cahaya, Tuan?" ucap Martha.
Jeremy langsung tersedak wine sampai wajahnya memerah padam. Ia terbatuk-batuk hebat sambil mengelap bibirnya dengan saputangan.
Kalimat Martha barusan terdengar lebih mengerikan daripada laporan kebangkrutan perusahaan.
"Menikah dengan Cahaya? Kau sudah gila, Martha?!"
"Tuan, tolong jangan berlebihan. Saya hanya memberi saran logis," ucap Martha tenang sambil merapikan piring di meja.
"Saranmu tidak masuk akal!"
"Tentu sangat masuk akal. Tuan Joko sebentar lagi datang untuk menjemput tuan muda Elio. Anda butuh istri, dan Elio butuh ibu. Sejauh mata saya memandang, tidak ada wanita lain yang sanggup menjinakkan rumah ini selain nona Cahaya," ucap Martha, mencuri pandang ke arah Jeremy.
"Tidak mau! Enak saja kau bilang!" gerutu Jeremy sambil menyandarkan punggungnya dengan kasar. "Kau pikir aku pria macam apa sampai harus menikahi gadis cerewet, galak dan tidak punya sopan santun seperti dia? Bisa tua mendadak aku kalau setiap hari harus adu urat saraf!"
Jeremy membayangkan wajah Cahaya yang sedang memaki-makinya. Bukannya ngeri, ia malah teringat bagaimana gadis itu memeluk Elio dengan tulus. Ia mendengus, mencoba mengusir pikiran itu.
"Lagipula, dia sudah punya pacar. Si pria cokelat itu!" seru Jeremy.
"Dasar gengsi kok dipelihara. Tadi saja mukanya sudah seperti kepiting rebus melihat Elio berangkat bersama Alvino, sekarang pura-pura jual mahal. Kalau nona Cahaya benar-benar dilamar Alvino dan dibawa pulang ke Indonesia, baru tahu rasa dia," batin Martha diam-diam mencibir dalam hati.
"Begini, Tuan," Martha berdehem sambil berpikir untuk mencoba pendekatan lain. "Maksud saya bukan menikah karena cinta yang mendalam seperti dulu dengan nyonya Stella. Kita bicara bisnis. Anda punya uang banyak, kan? Gunakan itu. Bayar nona Cahaya untuk menjadi istri pura-pura di depan Tuan Joko."
Jeremy terdiam. Gelas wine-nya tertahan di udara. "Pura-pura?" tanyanya.
"Iya. Anggap saja ini kontrak kerja tambahan. Daripada anda harus mencari wanita asing yang belum tentu disukai Elio, nona Cahaya adalah kandidat terbaik. Elio sudah sangat dekat dengannya. Dan bukankah anda juga tidak suka melihat nona Cahaya bersama pria bernama Alvino itu?" lanjut Martha sengaja memanasi Jeremy.
Jeremy meletakkan gelasnya ke atas meja. Otaknya yang biasa dipakai untuk menghitung laba rugi mulai bekerja.
Benar juga. Kalau Cahaya jadi istrinya, meski hanya pura-pura, setidaknya Alvino tidak akan punya alasan untuk menjemputnya lagi di depan gerbang mansion.
"Ehem. Baiklah... saranmu kali ini masuk akal," ucap Jeremy pura-pura ketus sembari mencoba menutupi rasa setujunya yang menggebu.
"Nah, kalau begitu, sekarang Tuan pergi ke toko perhiasan," sahut Martha cepat.
Jeremy mengernyit bingung. "Toko perhiasan? Untuk apa? Aku tidak sedang ingin membeli jam tangan."
"Astaga, Tuan! Tentu saja membeli cincin!" Martha memutar bola matanya, benar-benar tidak habis pikir dengan kebebalan majikannya.
"Cincin?"
"Ya! Memangnya Tuan mau melamar nona Cahaya pakai cincin palsu dari akar pohon? Atau mau pakai karet gelang?"
"Untuk apa cincin kalau semua ini cuma pura-pura?"
"Nona Cahaya itu perempuan, Tuan! Biarpun kontrak, tetap harus ada simbolnya. Kalau Tuan melamar tanpa cincin, dia bakal menertawakan Anda seumur hidup!" kesal Martha sambil cemberut. Kesal karena Jeremy tak paham juga. "Seorang Jeremy Sebastian yang kaya raya melamar gadis dengan tangan kosong? Memalukan!"
Jeremy berdiri sembari merapikan jasnya dengan gugup. "Aku tidak tahu ukuran jarinya!"
"Gunakan insting Anda, Tuan. Atau ukur saja satu jarinya saat dia tidur nanti," canda Martha sambil berlalu ke dapur.
Jeremy berdiri mematung di tengah ruangan.
Menikah pura-pura? Dengan Cahaya? Gadis yang memanggilnya monster es itu?
"Hanya kontrak, Jeremy. Hanya demi Elio," bisiknya pada diri sendiri, meyakinkan hatinya yang sebenarnya mulai berdegup kencang karena alasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭