Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sudah dua minggu berlalu, Selena menjalani hari-harinya seperti biasa.
"Nona... Madam Cassandra ingin menghubungi Anda," ujar seorang pelayan dengan sopan.
Selena, yang tengah duduk di taman sambil menikmati keindahan mawar, tidak langsung merespons. Mata birunya meredup, dan dia menopang wajah di atas meja, jemarinya mengelus lembut kelopak mawar di sampingnya.
"Aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun, bahkan dengan Cassandra sekalipun," balasnya pelan, pandangannya tetap tertuju pada bunga itu.
Pelayan itu terdiam sejenak, ragu untuk membalas. Namun, melihat ekspresi Selena yang tak menunjukkan keinginan untuk berdebat, ia akhirnya menundukkan kepala dengan hormat.
"Baik, Nona. Saya akan menyampaikan bahwa Anda sedang tidak ingin diganggu," katanya sebelum berbalik meninggalkan taman.
Selena tetap diam, jemarinya masih mengelus kelopak mawar merah yang mulai merekah sempurna. Angin sore bertiup lembut, menerbangkan aroma bunga yang samar. Dalam keheningan itu, pikirannya melayang. Dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Cassandra, namun rasa enggan untuk berhadapan dengannya masih belum pudar.
Aku tidak tahu
Kenapa aku ingin menjaga jarak Dengan nya.
Cassandra...aku mengenalnya sebagai seorang bangsawan dan kolektor benda Antik.
Dua tahun yang lalu,aku bertemu dengannya saat berada di kasino.Sejak hari itu,entah kenapa aku menjadi begitu dekat dengan nya, bukan hanya sekadar teman minum teh melainkan teman untuk berdiskusi dan tertawa.
"ha."desir nya ,rambut emas nya terurai lembut di atas meja minimalis itu dengan penampilan rupawan milik nya.
Mata birunya menatap kosong ke arah taman yang dihiasi beragam bunga. Dulu, tempat ini memberinya ketenangan. Namun kini, entah mengapa, perasaan itu terasa jauh.
Saat dia ingin beranjak pergi dari taman nya, seorang pelayan wanita memasuki rumah kaca nya sembari membawa sebuah ponsel,"Nona... Earl greyes dari inggris, menghubungi anda."ujar nya, memberikan ponsel genggam dengan nomor rumah milik Selena.
Mendengar ajuan pelayan itu,raut wajah nya mengerut.Ponsel itu terus berdering dan memperlihatkan nama penelpon.Mata biru itu menatap dengan dalam dan Kembali duduk lalu mengambil ponsel itu.
dia memerintahkan pelayan untuk pergi,dan sebelum pergi meminta untuk menyiapkan air mandi untuk nya.Pelayan itu segera pergi dan mematuhi perintah nya.
Dia menjawab panggilan itu dengan meletakkan ponsel nya di atas meja.
Selena menatap layar ponsel itu dengan ekspresi sulit diterka. Nama Earl Greyes terpampang jelas di sana. Suara dering yang monoton terasa semakin menusuk di telinganya, seolah memaksa dirinya untuk mengambil keputusan.
Dengan gerakan pelan, ia akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Selena," suara di seberang terdengar tenang, tetapi ada sesuatu di balik nada suaranya.
"Earl."
"Aku harap aku tidak mengganggumu," lanjut pria itu.
Selena menyandarkan tubuhnya pada kursi, matanya menatap ke luar jendela rumah kaca, memperhatikan bunga-bunga yang bergoyang tertiup angin. "Itu tergantung alasanmu menelepon," ujarnya santai
"Bagaimana kabar mu?."tanya di seberang telpon
Selena mengerutkan keningnya dan menopang wajah nya dan melihat layar ponsel nya,"Katakan saja apa yang ingin kau katakan?."balas nya .
Pria itu duduk di kursi di seberangnya, menyandarkan tubuhnya dengan sikap yang terlihat santai, namun matanya tetap waspada. "Madam Cassandra mengkhawatirkanmu," katanya akhirnya.
suasana di antara panggilan,hening.
"akan aku tutup telpon nya."dia mengangkat teleponnya dan mencoba membatalkan panggilan.
Namun, suara mendesak terdengar.
"Selena! Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?!."suara itu mendesak,di sisi telpon,ponsel Earl di rebut oleh Cassandra.
"Selena,jawab!!"suara yang lantang
Selena menghela napas pelan. Jemarinya mencengkram kelopak mawar di tangannya tanpa sadar, hingga durinya menusuk telapak tangannya.
Selena membuka matanya, menatap kelopak mawar yang kini sedikit berlumuran darah dari luka kecil di tangannya. Ia mengabaikannya, lebih fokus pada perasaan yang berkecamuk dalam dirinya
"Siapa kau?."Kalimat itu seperti dinding yang membatasi mereka.
dibalik ponsel, Cassandra yang mendengar wajah nya begitu kusam,dia tiba tiba terhuyung tetapi ponsel masih di genggam nya.
Earl greyes bangkit dan segera menopang nya.
"Selene jangan bercanda! Kenapa kau melakukan ini kepada teman mu?!Bukan nya kita teman!?."dia berteriak di balik ponselnya, berbicara dengan nada lantang.
"Sejak kapan?."balasan selena membuat syok di wajah Cassandra.
"Sejak kapan kita menjadi teman?Aku merasa tidak begitu."balas nya dengan nada yang dingin
Cassandra mendengar nya , seluruh tubuh nya serasa lemas,dia menyentuh lengan Earl greyes dengan kuat,"Selena..tolong-."suara pelayan terdengar di sisi Selena.
Selena menatap layar ponselnya yang kini gelap, jemarinya masih sedikit gemetar meskipun ekspresinya tetap datar.
Pelayan yang tadi membawa ponsel itu kembali masuk dengan kepala tertunduk. "Nona, air mandinya sudah siap," katanya dengan suara pelan, seolah takut mengganggu suasana.
Selena tidak langsung merespons. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu berdiri perlahan. Tatapannya kosong saat dia berjalan melewati pelayan itu.
Di ambang pintu, dia berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh, suaranya begitu dingin hingga udara di sekitarnya terasa menegang.
"Jika ada nomor yang tidak di kenal menelpon ku, blokir."
Pelayan itu menelan ludah, tak berani berkata apa-apa. Hanya mengangguk pelan saat Selena melangkah pergi, meninggalkan aroma mawar dan keheningan yang lebih dingin daripada angin sore.
Pelayan itu mematikan ponsel yang masih aktif itu.