Aruna, namanya. Gadis biasa yatim-piatu yang tidak tau darimana asal usulnya, gadis biasa yang baru memulai hidup sendiri setelah keluar dari panti asuhan di usianya yang menginjak 16 tahun hingga kini usianya sudah 18 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga belas
Seminggu telah berlalu dari acara liburan puncak. Sudah seminggu ini juga Tama susah sekali menghubungi bahkan mendapatkan kabar kekasih hatinya, chat dan telpon tidak ada balasan, bahkan Tama beberapa kali mampir ke rumah Alana tapi perempuan itu selalu tidak ada, kata pekerja dirumah Alana.
Tama kalut pasti, frustasi. Sebenernya apa yang terjadi pada kekasihnya itu?
Apa Tama ada buat salah ya? Tapi se taunya, Tama tidak ada berbuat kesalahan apapun. Tapi Alana terlihat seperti menghindarinya, saat Tama datang ke rumah Alana, laki-laki itu tau kalau sebenarnya Alana ada di rumahnya.
Tapi sudah seminggu ini. Tama sudah tidak tahan lagi, dia harus meluruskannya sesegera mungkin, sebenernya apa yang terjadi pada Alana dan adakah dirinya berbuat salah hingga perempuan itu seperti enggan menemuinya.
'Ting'
Ponsel Tama berbunyi bertanda pesan masuk, dirinya yang sibuk termenung di balkon kamar sambil bermain gitar, sontak mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja bundar yang letaknya tak begitu jauh dari tempatnya duduk.
Pesan dari Alana, Tama menegakkan badannya. Dengan perasaan gugup dan pergerakan pelan, dia membuka kolom chat Alana.
"Aku mau kita ketemuan di cafe jalan xxxx jam 4 sore nanti, ada yang mau aku ngomongin sama kamu. Gak usah jemput aku, kita berangkat ke sana masing-masing aja. "
Tama mengerjapkan matanya berulang kali setelah membaca pesan Alana, ingin bertemu di cafe? Ini bukannya cafe tempat Aruna kerja, kan?
Udahlah. Tama juga gak begitu peduli, yang terpentingnya dia akan bertemu dengan Alana nanti, dia juga ingin memperbaiki hubungannya yang sempat renggang ini karena kabar Alana yang tiba-tiba hilang dan susah dia hubungi.
Melirik jam di ponselnya, sudah jam tiga sore sekarang. Tama bangun dari duduknya, menyimpan asal gitar dan berlalu masuk untuk mandi. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Alana nanti, semoga setelah pertemuan mereka ini, hubungan keduanya kembali dekat dan membaik seperti biasanya.
••••••
Tepat jam empat. Tama suda tiba di cafe- tempat janjian temunya dengan Alana, kepalanya mengedar mencari tempat kosong untuk dia duduki, cafe hari ini tampak begitu ramai ya.
Pojokan, dekat jendela. Tama melangkah saat sudah di dapatinya tempat untuk dia duduk. Setelah duduk dengan nyaman, dia menghembuskan nafas, melirik sebentar ponselnya untuk melihat jam berapa.
Seorang pelayan perempuan datang ke mejanya untuk menanyakan pesanan, kali ini bukan Aruna. Tama mengedar sebentar mencari keberadaan perempuan itu, tadi tidak begitu pedulinya, mungkin saja Aruna tidak masuk kerja.
Setelah menyebutkan pesanannya juga Alana, pelayan itu mengundurkan diri untuk menyiapkan pesanan Tama. Bertepatan dengan perginya pelayan itu, muncullah Alana yang memasuki cafe.
Perempuan itu tampak celingak-celinguk mencari keberadaannya, Tama mengangkat satu tangannya agar Alana tau keberadaannya.
"Maaf ya aku terlambat, tadi macet di jalan. " nafas Alana terlihat terengah-engah, keringat membanjiri pelipisnya yang dengan cepat Tama menyeka, membuat Alana membatu sejenak.
Menepis tangan Tama yang masih menyeka keringatnya, Alana dengan canggung mengusap kembali keringatnya yang di usap Tama tadi dengan tissue yang diambilnya didalam tas bawaannya.
"Makasih." ucap Alana, canggung.
"Alana." panggil Tama, dia menatap sayang wajah cantik Alana yang sibuk menatap kesana-kemari, enggan menatap balik padanya.
Tama menghembuskan nafasnya sebentar, dia ambil tangan Alana di atas meja dan di genggamnya dengan erat.
"Aku ada salah kamu? Kok udah seminggu ini aku chat dan telepon gak pernah kamu balas sama sekali, kamu lagi ada masalah ya? Sini cerita sama aku. " ujar Tama penuh perhatian, dia gak bisa banget di diemin Alana kayak begini. Hatinya gak tenang.
Alana dia sejenak, menatap hampa pada tangannya yang di genggam erat sama Tama, seperti laki-laki itu enggan untuk melepaskannya. "A-aku, sibuk. " jawabnya singkat, kepalanya menunduk tidak berani menatap Tama di hadapannya.
"Kamu lagi ada masalah, hmm? " Tama sadar nada suara Alana yang terdengar dingin dan terkesan seperti enggan berbicara padanya, tapi tidak bisa dibiarkan begini terus. Hubungannya dengan Alana harus membaik kembali, walau Tama rasa hubungan keduanya tidak ada masalah apapun. "Sini cerita sama aku, gak baik kalau kamu pendam sendiri."
"Masalah aku ada di kamu, Tama. " Alana tidak bisa menutupi hal yang sudah dia ketahui, menarik nafas dalam. Alana mengangkat kepalanya untuk menatap penuh pada Tama. "Kamu jujur sekarang sama aku. "
Tama gak tau, tapi perasaannya mendadak saja tidak enak. Seperti akan ada hal sesuatu yang menimpa dirinya.
"Kamu perkosa Aruna, kan? Sampai perempuan itu hamil anak kamu sekarang! " dada Alana kembang kempis setelah mengatakan itu, air matanya turun membasahi pipinya.
Tama tertegun mendengar nama Aruna, dan kata hamil keluar dari mulut Alana. Menelan ludahnya dengan susah payah, Tama menegakkan tubuhnya menatap bingung pada Alana yang tengah menangis.
"M-maksud kamu apaan sih, sayang. Gak usah ngawur, aku gak mungkin lah hamilin perempuan lain. " Tama berusaha berkilah.
Alana menggeleng kepalanya, "Aku udah tau semuanya, Tama. Kamu masih mau ngebantah apalagi? Aku udah tau semuanya! Kamu perkosa Alana sampai hamil, kamu juga gak ada niatan tanggung jawab, kamu serius Tama?! " air mata Alana sudah banjir, matanya memerah menatap tidak menyangka pada Tama.
"Alana–" Tama tidak ada tenaga lagi untuk menjelaskan, semua dilontarkan Alana adalah kebenaran.
"Pengecut kamu, Tama! " Alana rasanya ingin berteriak kalau dia gak sadar dimana mereka sekarang. "Gak seharusnya kamu kayak gini, Tama. Dimana hati nurani kamu sebagai laki-laki dan seorang ayah? Tega! Kamu keterlaluan, Tama! "
Tama menatap Alana yang menatapnya penuh kekecewaan. Tama cuman bisa diam, dia tau kelakuannya ini sangat keterlaluan dan terkesan pengecut.
"Kamu tau darimana ini semua? "
"Gak penting! Kamu gak perlu tau, aku tau darimana semua masalah ini. Yang terpenting kamu harus tanggung jawab, atas semua yang udah kamu lakuin sama, Aruna. "
Tama tak mengiyakan juga tak menolak atas ucapan Alana, "Terus, kamu? Aku gak bisa ninggalin kamu. Aku gak bisa putusin hubungan kita begitu aja. " katanya lalu menarik tangan Alana yang di lepas paksa Alana tadi.
"Aku cinta kamu, Alana. Kamu pun juga begitu, kan? Aruna udah aku urusin dia, dia bersedia kok ngurusin anak itu seorang diri tanpa aku nikahin dia, kalau soal materi, bakal aku transfer dia sejumlah uang untuk kebutuhan anak itu, kamu tenang aja. " ujar Tama yang mana Alana yang mendengar tak habis pikir, dimana sebenarnya otak laki-laki itu saat mengucapkan kata-kata itu semua?
"BR*NGSEK! "
'Prangghh'
'Bukhh'
'Bukhhh'
"Astaga, TAMA!" kaget Alana saat baju belakang Tama tiba-tiba saja ada yang tarik.
Tama di pukul membabibuta oleh laki-laki yang Alana tebak seorang pekerja di cafe ini, Alana ingin menghentikan. Tapi laki-laki yang memukul Tama itu seperti enggan melepaskan Tama begitu saja.
"Si*lan! Jadi elo yang udah perkosa Aruna sampai hamil! Bi*dab lo, si*lan! Setelah semua perbuatan lo sama adek gua, lo mau lepas tanggung jawab begitu aja! "
Arjun tanpa ampun memukul Tama sampai laki-laki itu mengeluarkan darah dari mulutnya, wajahnya babak belur dipukul Arjun. Arjun dengar semua tadi ucapan Alana tentang Tama yang ternyata pelaku yang sudah menghamili Aruna, makin naik emosinya saat mendengar Tama yang mengatakan tidak akan mau bertanggung jawab atas perbuatannya pada Aruna.
Memang brengsek, Arjun akan bunuh laki-laki ini biar tidak bisa menghirup udara yang sama dengan Aruna.
Kinan yang sibuk melayani pengunjung yang ingin membayar di meja kasir, berjalan tergopoh-gopoh saat melihat siluet Arjun yang tengah memukul seseorang.
"Yaampun, mas Arjun! Berhenti mas Arjun! Bisa mati itu anak orang kamu pukul terus. " Kinan berusaha menghentikan aksi Arjun dengan menarik baju belakang Arjun. Tama sudah babak belur dibuatnya, sebentar lagi mungkin Tama akan pingsan dihajar habis-habisan oleh Arjun.
"Biarin, kalau bisa mati saja secepatnya. Manusia b*jat kayak dia emang gak pantas untuk hidup. "
Kinan bingung jadinya. Akhirnya, dia meminta tolong pada pengunjung laki-laki untuk melerai, menarik tubuh Arjun yang masih terus memukul Tama tanpa ampun.
"Lepasin, biarin saya b*nuh manusia b*jingan itu. " Arjun memberontak, saat tubuhnya ditarik oleh empat orang laki-laki. Tama sudah di amankan, laki-laki itu lemas tak bertenaga, wajahnya babak belur tak berbentuk lagi.
"Sebenernya ini ada apa, mas? Kenapa mukul anak orang seperti itu, emang mas mau masuk penjara, hah? " marah Kinan, dia tarik wajah Arjun untuk menatapnya. Meminta penjelasan.
"Aruna hamil, Kinan! Dan laki-laki bi*dab itu yang sudah memperkosa Aruna! " teriak Arjun begitu kencang membuat Kinan membatu tidak percaya, tangannya di wajah Arjun seketika terlepas, menatap tidak percaya pada Arjun.
"H-hah? "
•
•
•