Naya seorang istri yang sedang hamil harus menerima takdir ditinggal suaminya karena kecelakaan. Pada saat sedang dalam perjalanan ke kampung halaman, suaminya yang bernama Ammar jatuh dari Bus antar kota yang ugal-ugalan.
Sebelum Ammar tewas, dia sempat ditolong oleh sahabatnya yang kebetulan mobilnya melintas di jalan tol. Tak disangka Ammar menitipkan amanah cinta kepada sahabatnya bernama Dikara yang berprofesi sebagai dokter.
Padahal saat itu Dikara sudah bertunangan dengan seorang wanita yang berprofesi sama dengannya.
Akahkah Dika menjalani amanah yang diberikan sahabatnya? Atau dia akan tetap menikahi tunangannya?
Apakah Naya bersedia menerima Dikara sebagai pengganti Ammar?
Cinta adalah amanah yang diberikan Allah SWT terhadap pasangan. Namun bagaimana jadinya jika amanah itu dinodai oleh pengkhianatan?
Yuk lah kita baca selengkapnya kisah ini!
Happy reading!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Masa lalu Naya
Reno menunduk lebih dalam, masih tidak bisa menatap Bu Nia.
"Aku...aku masih ingat saat dia meninggalkanku, Mam. Aku masih ingat perasaan sakit dan kehilangan itu. Dan sekarang, melihatnya lagi...aku merasa seperti semua itu kembali terjadi," Suara Reno terputus-putus, dan ia bisa merasakan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Bu Nia memeluk Reno lebih erat, mencoba membuatnya merasa lebih aman dan nyaman. "Mama ada di sini untukmu, Nak. Mama tidak akan pernah meninggalkanmu," katanya dengan lembut.
Reno merasa sedikit lega setelah mengungkapkan perasaannya kepada Mamanya. Ia merasa bahwa beban yang selama ini ia simpan sendiri mulai terangkat. Ia memeluk Mamanya lebih erat, merasa bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi perasaannya.
"Jadi orang yang sudah menyakiti mu itu Naya? Ya Allah, Mama rasanya tidak percaya. Ternyata orang terlihat lugu seperti Naya bisa menyakitimu,"
Reno mengangguk pelan, masih merasa sedikit sakit saat mengingat masa lalunya dengan Naya.
"Iya, Mam. Aku tidak pernah menyangka bahwa Naya bisa menyakitiku seperti itu. Aku pikir kita memiliki hubungan yang baik, tapi ternyata aku salah,"
Bu Nia memeluk Reno lagi, merasa bahwa anaknya masih sangat terluka oleh kejadian itu.
"Mama tidak akan pernah membiarkan orang lain menyakitimu lagi, Nak. Mama akan selalu ada di sini untuk melindungimu,"
Reno mengangguk. Baginya seorang Mama adalah satu-satunya wanita yang tidak pernah mengecewakannya di dunia ini. Cukup hanya Naya yang menyakitinya, ia mencoba untuk mengubur masa lalunya dalam-dalam.
Reno merasa bahwa cinta dan kasih sayang dari Bu Nia adalah obat yang paling efektif untuk mengobati luka hatinya. Ia merasa bahwa dengan memiliki Bu Nia di sampingnya, ia bisa menghadapi apa pun yang datang dalam hidupnya.
Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk melepaskan semua perasaan sakit dan kecewa yang masih tersisa di hatinya.
"Aku akan melupakan semua itu, Mam," katanya dengan suara yang lebih kuat.
"Aku akan melanjutkan hidupku dan tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi, aku akan mencoba untuk menerima kehadiran wanita lain yang memiliki itikad baik hidup bersamaku kelak,"
"Nah gitu dong anak Mama. Jangan pernah mau terperangkap pada masa lalu," Bu Nia tersenyum melihat anak satu-satunya itu bisa bangkit kembali dari keterpurukan cintanya.
Bu Nia memeluk Reno lagi, merasa bahwa anaknya telah membuat kemajuan besar dalam mengatasi perasaan sakitnya.
"Mama sangat bangga denganmu, Nak," katanya dengan suara yang penuh kasih sayang.
"Kamu telah menunjukkan bahwa kamu kuat dan bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Mama yakin bahwa kamu akan menemukan kebahagiaan yang sebenarnya kelak,"
Reno tersenyum lembut, merasa bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat untuk melanjutkan hidupnya dan meninggalkan masa lalunya.
xxxxx
Sementara itu di ruang perawatan intensif, Naya masih menatap daun pintu yang tertutup. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan sosok lelaki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya di masa lalu.
Laki-laki baik yang selalu ada di saat Naya sedang mengalami kesulitan. Laki-laki yang selalu hadir membangkitkan semangat kuliahnya yang hampir terhenti karena terhambat ekonomi.
Reno yang saat itu kuliah sambil bekerja masih mampu untuk membagi waktunya untuk sekedar bertemu. Selalu ada saja yang dibawa berupa makanan ataupun bingkisan. Sehingga suatu hari Reno harus pindah tugas ke luar kota.
Sejak itulah mereka jarang sekali bertemu. Sampai pada akhirnya datang sosok Ammar yang tiba-tiba melamarnya.
Ammar yang begitu perhatian pada Naya dan keluarga membuat hati orang tuanya terpikat. Sehingga ia menerima pinangan Ammar saat itu atas desakan orang tuanya yang melihat umur Naya sudah cukup waktu untuk menikah.
Pada saat itu Naya masih menanti Reno untuk datang melamarnya, namun kekasihnya itu tidak kunjung datang. Naya merasa kecewa karena Reno tidak pernah menghubunginya lagi. Ia sempat berpikir, Reno sudah tidak peduli lagi padanya.
Naya pun memutuskan menerima pinangan Ammar. Dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya agar ia segera memiliki pasangan hidup.
Tanpa diduga saat Naya baru saja mendengar kata"Sah" dari para saksi atas pernikahannya dengan Ammar, seseorang datang dengan kekecewaan yang mendalam.
Naya yang sedang tersenyum bahagia karena telah menikah dengan Ammar, tiba-tiba merasa terkejut dan tidak percaya ketika melihat seseorang yang datang dengan wajah kecewa dan marah.
Orang itu tidak lain adalah Reno, kekasihnya yang sudah lama menghilang tanpa berita. Naya merasa hatinya berdebar keras ketika melihat Reno berdiri di depannya dengan mata yang berapi dan wajah yang penuh kekecewaan.
"Reno...kau datang?" Naya bertanya dengan suara yang tergagap.
Reno seperti tersambar petir. Ia tidak percaya dengan penglihatannya. Naya, orang yang ia cintai, telah menikah dengan orang lain. Ia merasa semua harapannya telah hancur. Reno berdiri di sana, tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara. Ia hanya bisa menatap Naya dengan mata yang penuh kekecewaan dan sakit hati.
"Apa... apa yang terjadi?" Reno akhirnya bisa berbicara, suaranya terdengar lemah dan bergetar.
Naya terlihat tidak nyaman, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa menatap Reno dengan mata yang penuh penyesalan.
Naya berusaha untuk berbicara, tetapi kata-katanya terjebak di tenggorokannya. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan apa yang terjadi. Ia hanya bisa menatap Reno dengan mata yang penuh penyesalan, berharap bahwa Reno bisa memahami.
Ammar, suami Naya, melangkah maju, mencoba untuk memperkenalkan diri kepada Reno.
"Aku Ammar, suami Naya," katanya dengan suara yang ramah.
Reno tidak memperhatikan Ammar, ia hanya terus menatap Naya dengan mata yang penuh kekecewaan dan sakit hati.
Reno merasa seperti dunianya telah runtuh. Ia tidak bisa memahami mengapa Naya tidak memberitahunya tentang pernikahannya. Ia merasa seperti telah dikhianati oleh orang yang ia cintai. Reno berusaha untuk mengendalikan emosinya, tetapi ia tidak bisa menahan air matanya yang mulai mengalir.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Reno bertanya dengan suara yang terputus-putus.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa kamu akan menikah?" tanyanya lagi dengan mata yang mengembun.
Naya terlihat sangat tidak nyaman, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa menatap Reno dengan mata yang penuh penyesalan.
Naya berusaha untuk berbicara, tetapi kata-katanya terjebak di tenggorokannya. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan apa yang sudah terjadi.
Setelah beberapa saat, Naya akhirnya bisa berbicara.
"Aku... aku tidak tahu bagaimana cara memberitahumu," katanya dengan suara yang lembut.
"Aku sudah menunggumu Reno. Tapi kau tidak ada kabar. Ponselmu tidak pernah aktif. Aku harus bagaimana? Sementara orang tuaku sangat menginginkan aku segera menikah. Dan akhirnya Mas Ammar datang melamarku. Apa aku salah, menerima pinangannya?" Naya berusaha menjelaskan dengan membela dirinya sendiri.
Reno mendengarkan kata-kata Naya dengan mata yang penuh air mata. Ia merasa seperti telah dikhianati oleh orang yang ia cintai, dan ia tidak tahu bagaimana cara memaafkan Naya.
Reno meremas kotak perhiasan yang ia pegang dengan kuat, sebagai simbol dari harapannya yang telah hancur. Kotak perhiasan itu berisi cincin yang ia telah siapkan untuk melamar Naya, tetapi sekarang ia merasa seperti tidak perlu lagi. Reno membuka kotak perhiasan itu dan melihat cincin yang berkilau di dalamnya, lalu menutupnya kembali dengan perasaan sedih dan kecewa.
Reno berbicara dengan suara yang terdengar dingin dan sedih, sambil menatap Naya dengan mata yang penuh kekecewaan. Ia kemudian berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Naya dan Ammar yang terlihat tidak nyaman.
Naya berusaha untuk memanggil Reno, tetapi ia tidak menoleh ke belakang. Ia terus berjalan, meninggalkan semua kenangan dan harapan yang telah ia miliki bersama Naya.
"Reno maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau akan kembali untuk melamarku," Naya terisak.
"Dia hanya masa lalu, Nay. Masa depanmu adalah Ammar. Lupakan Reno!" titah Mama penuh penekanan.