(Revisi)
Merasa akhirnya bebas dari ikatan pernikahan dengan Elsa, wanita pilihan orangtuanya, Edward, berniat menata ulang hidupnya dan membangun rumah tangga bersama Lily, sang kekasih.
Namun tanpa disadari saat tangannya menggoreskan tandatangan di atas surat cerai, bukan sekedar perpisahan dengan Elsa yang harus dihadapi Edward tapi sederetan nasib sial yang tidak berhenti merudungnya.
Tidak hanya kehilangan pekerjaan sebagai dokter dan dicabut dari wasiat orangtuanya, Edward mendadak jadi pria impoten padahal hasil pemeriksaan dokter, dirinya baik-baik saja.
Ternyata hanya Elsa yang mampu mengembalikan Edward menjadi pria sejati tapi sayangnya wanita yang sudah terlanjur sakit hati dengan Edward, memutuskan untuk menikah kembali dengan Erwin, adik iparnya.
Apakah Edward akan memaksa Elsa kembali padanya atau memutuskan tetap menjadi pria mandul dan menikahi Lily ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian yang Terlewatkan
“Jadi kapan kalian akan menikah ?”
“Dad !” Mommy Silvia langsung melotot, terkejut mendengar pertanyaan suaminya yang langsung membuat wajah sepasang manusia di depan mereka berubah cerah.
“Jadi daddy akan memberikan restu untukku dan Lily ?” Edward menyunggingkan senyum bahagia.
Lily ikut tersenyum, beranjak bangun dan duduk di samping Edward bahkan langsung mengggenggam jemari pria itu.
“Saya terserah Edward saja, Om,” ujar Lily dengan wajah malu-malu mau.
Daddy Robert menarik satu sudut bibirnya dan menatap tajam ke arah putranya.
“Saya bertanya kapan kalian nikah, bukan memberikan ijin atau restu.” Suara tegas dokter Robert membuat Edward dan Lily tanpa sadar menelan ludah.
“Secepatnya Dad, kemungkinan 3 atau 4 minggu lagi,” ujar Edward dengan sedikit terbata.
“Kamu seorang dokter, spesialis jantung pula tapi tidak teliti dan gegabah dalam mengambil keputusan. Untung saja posisi pimpinan di rumah sakit belum diserahkan padamu dan jangan pernah berharap kamu akan mendapatkan kesempatan itu.”
“Pernikahanku dengan Lily tidak ada hubungannya dengan pekerjaan dan profesiku sebagai dokter, Dad.”
“Oh ya ?” Daddy Robert tersenyum sinis. “Apa kamu sudah membaca surat perjanjian yang ditandatangani sebelum menikah dengan Elsa ?”
Edward menggeleng pelan, wajahnya berubah tegang. Mendengar pertanyaan dan raut wajah daddy-nya, Edward yakin ada sesuatu yang terlewatkan olehnya.
“Berdasarkan perjanjian itu, kamu sudah kehilangan segalanya sejak memutuskan untuk berselingkuh dengan wanita ini, Ed. Semua warisan yang seharusnya menjadi hakmu sudah dialihkan menjadi milik Elsa sepenuhnya dan masalah jabatanmu di rumah sakit hanya tinggal menunggu waktu. Ada baiknya kamu mulai mencari pekerjaan di tempat lain karena daddy yakin kalau para pemegang saham tidak akan menunjukmu sebagai pimpinan rumah sakit selanjutnya apalagi kamu sudah menandatangani surat permohonan cerai dengan Elsa.”
“Masalah surat cerai itu adalah inisiatif Elsa, kenapa aku jadi pihak yang bersalah lagi ?”
“Apa ucapan daddy masih kurang jelas kalau kamu sudah kehilangan segalanya sejak memutuskan kembali bersama wanita ini 8 bulan yang lalu ?”
“Sejak awal Elsa-lah yang menjadi orang ketiga yang merusak hubunganku dengan Lily. Aku sudah memenuhi permintaan daddy dan mommy untuk menikahinya dengan alasan balas budi. Mungkin dia baik di mata daddy dan mommy tapi tidak untukku, aku tidak pernah bisa mencintainya bahkan dia membuatku semakin menderita. Tidak bisakah kali ini daddy dan mommy memberikan aku kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaanku bersama Lily ?”
“Silakan saja, tidak ada alasan bagi kami berdua untuk menghalangi kalian. Kamu sudah dewasa dan berhak mengambil keputusan untuk hidupmu sendiri tapi perjanjian tetaplah perjanjian. Kamu menyetujui dan menandatanganinya tanpa paksaan jadi semuanya akan berjalan sesuai kesepakatan. Persiapkan dirimu untuk menanggung semua konsekuensinya.”
Daddy Robert mengajak istrinya pulang karena keputusan Edward sudah bulat dan tidak bisa digoyahkan sedikit pun.
“Hhmm, mommy lupa memberitahumu, Ed, apartemen ini adalah milik Elsa, pemberian dari opa saat ia berulangtahun ke-18. Sayangnya opa tidak bisa memberikan langsung pada Elsa, jadi jangan coba-coba mengotori tempat ini dengan perbuatan zina atau membawa perempuan lain untuk tidur di sini.”
Edward tampak terkejut, dengan mata membola ia menatap kedua orangtuanya bergantian untuk meyakinkan ucapan mommy Silvia.
“Sebaiknya kamu segera mencari tempat tinggal baru, Ed. Daddy sudah berjanji pada Elsa akan mengosongkannya akhir bulan ini.”
Pasangan suami istri itu berjalan ke arah pintu tanpa berpamitan pada Lily maupun Edward.
“Dad, aku mau bicara dengan Elsa.” Edward menyusul ayahnya yang sudah memegang gagang pintu.
“Untuk apa ?” tanya mommy dengan nada tidak suka.
“Tidak usah,” daddy Robert menggeleng. “Apakah kamu pernah berpikir kalau perbuatanmu terlalu menyakiti hatinya sampai akhirnya Elsa menyerah ? Kamu pikir selama 8 bulan ini siapa yang membuatmu bertahan di posisimu sekarang ? Elsa lah yang menutupi semua perselingkuhan kalian yang terekam CCTV termasuk aksi gila perempuan itu di ruang kerjamu sebelum Elsa memutuskan untuk bercerai. Asal kamu tahu Ed, Elsa tidak pernah mengadu apapun pada kami berdua bahkan melarang Fahmi dan Joko untuk melaporkan rekaman CCTV itu pada daddy.”
“Mommy sedih sekaligus kecewa padamu Ed. Kamu menuduh kami membela dan menyayangi Elsa secara membabi buta padahal semua itu kami lakukan karena terlalu malu akan perbuatanmu dengan wanita itu dan Elsa selalu tahu bagaimana cara mengatasinya. Kamu sendiri yang mengotori namamu bukan Elsa.”
Edward bergeming, menatap orangtuanya yang pergi tanpa mau diantar.
***
“Ed, biarkan aku ikut denganmu ke rumah sakit. Apa kamu tidak menangkap kalau kedua orangtuamu hanya mencoba mempengaruhi bahkan meracuni pikiranmu dengan gadis kampung itu ?”
Edward memejamkan mata sejenak untuk meredakan emosinya yang sedang campur aduk sementara Lily terus mengoceh, membuat kepalanya tambah pusing.
“Mulai sekarang belajarlah bersabar dan biarkan aku yang mengambil keputusan. Aku sudah kecolongan dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
“Selama ini aku menyerahkan semuanya padamu, tapi apa hasilnya ? Keadaan malah semakin kacau. Kamu terlalu baik sampai perempuan licik itu berhasil membuatmu hancur dan kehilangan segalanya ya pekerjaan, posisimu di rumah sakit bahkan dia mengambil semua hak warismu !”
Edward menghela nafas saat mendengar suara Lily makin meninggi. Untung saja mereka sudah tiba di depan rumah kost Lily.
“Cobalah untuk mencari pekerjaan di rumah sakit atau klinik manapun, aku pun akan melakukan yang sama. Daddy tidak pernah main-main dengan ucapannya.”
“Ed…”
“Tolong turun dulu, Lily, biarkan aku memastikan semuanya.”
Dengan berat hati Lily turun dari mobil dan baru saja ia menutup pintu, Edward sudah melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Fahmi sudah menunggunya.
“Dasar wanita brengsek ! Berani-beraninya kamu merebut Edward dan membuatnya jatuh miskin. Rasakan pembalasanku saat kita bertemu, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang setelah mengacaukan rencanaku !” geram Lily sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sementara Edward yang baru saja tiba di parkiran rumah sakit bergegas turun dan masuk lift menuju lantai 9. Ia yakin kalau semua omongan daddy-nya bukan asal gertak untuk membuat Edward menurut dan sudah tidak ada harapan untuk memohon agar perjanjian itu dibatalkan.
Kalau di dalam lift tidak ada CCTV, rasanya Edward ingin berteriak, memaki dan memukul untuk melampiaskan rasa marahnya. Hidupnya mulai berantakan sejak Elsa hadir dan ia berpikir semuanya akan kembali seperti semula setelah perempuan itu pergi, ternyata malah semakin kacau.
Fahmi sudah menunggunya di depan ruangan saat Edward tiba.
“Ini perjanjian yang anda minta, dokter.”
“Bawa masuk ke dalam !”
Fahmi mengikuti Edward yang masuk dengan langkah tergesa dan duduk berhadapan di sofa.
“Apa kamu sudah membaca isi perjanjian ini, Fam ?”
Fahmi menggeleng. “Saya tidak berani dokter, perjanjian ini sifatnya pribadi antara anda dan nona Elsa. Saya juga tidak mengijinkan Rini atau siapapun membacanya.”
Edward menghela nafas dan menopang kepalanya yang bertambah sakit saat menemukan pasal yang sesuai dengan ucapan daddy Robert.
“Sebentar lagi kamu akan mendapat bos baru, Fam. Aku tinggal menunggu kapan surat pemecatanku keluar,” gumam Edward dengan wajah sendu.
“Apa maksud dokter ?”
Edward menyodorkan lembar perjanjian yang ada di tangannya. “Bacalah sendiri, aku sangat percaya kamu bisa menyimpan rahasiaku.”
Wajah Fahmi tampak kaget saat membaca poin-poin yang dimaksud oleh dokter Robert.
“Apakah semuanya bisa kembali seperti semula kalau anda rujuk lagi dengan nona Elsa ?”
“Tidak akan pernah, Fam ! Aku tidak mau bersama perempuan itu lagi. Dia hanya membawa kesialan dalam hidupku dan sekarang sepertinya dia sedang mengutukku karena tidak mau peduli padanya.”
“Bukan kutukan dokter tapi mungkin saja pelajaran dari Tuhan.” Edward tertawa getir mendengar nasehat asistennya.