NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Dari Seorang Gus

Menjadi Istri Dari Seorang Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: pinkberryss

Akibat kenakalan dari Raya dan selalu berbuat onar saat masih sekolah membuat kedua orangtuanya memasukkan Raya ke ponpes. setelah lulus sekolah.

Tiba disana, bukannya jadi santri seperti pada umumnya malah dijadikan istri kedua secara dadakan. Hal itu membuat orangtua Raya marah. Lalu apakah Raya benar-benar memilih atau menolak tawaran seperti orangtuanya?

Tingkah laku Raya yang bikin elus dada membuat Arsyad harus memiliki stok kesabaran yang banyak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkberryss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik-detik melepas status jomblo

Tak terasa waktu pernikahan akan tiba yang dimana kurang beberapa hari lagi Raya akan menjadi bagian dari keluarga pemilik ponpes ini. Awalnya memang hanya untuk mengenyam pendidikan keagamaan agar Raya lebih terdidik lagi dan bisa merubah sifatnya, namun karena sesuatu yang mengharuskan mereka menjadi calon pasangan.

Bagaimana tidak Raya yang dulunya sangatlah bandel di sekolah membuat orangtuanya kelas karena beberapa kali pernah dipanggil ke ruang BK. Prinsip Raya kalau ada yang nyenggol, dia senggol balik. Masih teringat bahwa Raya sampai pernah memanjat pagar belakang sekolah hanya untuk menghindari hukuman guru.

Sekarang lihatlah, dia akan melepas masa remajanya dengan menikah bersama seorang yang jauh lebih tua, bahkan umurnya hampir sama dengan umur mamanya. Bagaimana nanti mereka saling memanggil, apakah ada rasa canggung.

Hari ini mereka tidak boleh saling bertemu dulu, atau bisa dibilang dipingit. Pingitan biasa terjadi di kalangan masyarakat yang akan mau menikah selang beberapa hari atau minggu. Lalu bagaimana dengan keadaan Zalima waktu itu yang dijahili oleh Raya dengan kelereng, jawabannya adalah untung saja tidak cedera apapun, hanya rasa nyeri akibat terjatuh. Namun saat ini dia masih bersedih hati akibat beberapa hari lagi akan dilaksanakan pernikahan ramai yang digelar di lingkungan ponpes.

Undangan sudah disebar luas seminggu sebelum acara berlangsung, namun Raya tak mengundang siapapun bukan karena malu dia akan menikah dengan yang lebih tua. Hanya saja mengundang teman dekatnya itupun berjumlah dua.

"Ini punyanya siapa?" Raya bertanya ke Bu Sofiyah yang tengah duduk santai karena lelah habis ikut beberes walau tidak banyak namun butuh tenaga untuk bicara banyak.

"Makan saja nak tadi Inayah bawakan," jawabnya saat Raya melihat cookies warna hijau atau rasa matcha diatas meja.

Dia memakannya dan menikmati setiap kunyahan yang di mulutnya. Rasanya selain renyah juga ada empuknya didalam.

"Bikin sendiri ya umi?"

"Kayaknya sih beli mana sempat bikin nak, lah wong ikut sibuk juga." jawabnya .

Baru saja akan mau makan lagi, suara dering dari hp Raya menyita perhatiannya.

"Iya halo?"

"Ya ampun Raya..! gue kaget banget Lo mau nikah, kek? Kita baru aja lulus kocak tang bener aja sih nggak nge prank kan?" suara Sena sahabat Raya masa sekolah, mereka video call bersama teman satunya, Alin.

"Iya ih untung kagak jantungan gue. Eh btw nih ya kok lo bisa nikah sama orang tua sih Ray? Maksud gue nggak ada cowok lain selain yang katamu umurnya 40 an," sahut Alin dia masih tak percaya yang menikah dengan sahabatnya adalah seorang om-om. Bukan om-om lagi ini sih bisa dibilang bapak-bapak.

"Jangan-jangan orangtua Lo bangkrut terus ngutang sama juragan abis itu lo dijadiin istri?" tebak Sena membuat Alin tertawa.

"Enak aja ngomong begitu. Meski umurnya udah mau setengah abad tapi masih kelihatan muda kok! Badannya aja kekar loh," baik Sena dan Alin sama-sama membulat.

"Lo udah itu Ray?"

"Apaan sih lin, jangan ngaco ya. Dia ini dari kalangan keluarga pesantren tau!" ucapan Raya ini membuat mereka saling kaget lagi bahkan saat Sena minum jus pun tersedak.

"Ustad maksud lo?"

"Gile Raya mainnya udah jauh,"

"Terserah kalian pokoknya datang ya! Gue siapin undangan spesial buat kalian kemarin tuh cuma ada dua... Bagus nggak? Premium loh itu," jawabnya.

"Iya deh undangan premium!"

Obrolan mereka berlanjut lebih lama dibarengi canda tawa yang mengasyikkan, sampai-sampai dia tak tahu kehadiran seseorang di sampingnya yang sedari awal menguping pembicaraan antara mereka bertiga.

Ehem

Suara deheman keras membuat Raya menoleh ke sampingnya, ternyata ada Arsyad yang tiba-tiba disini.

"Gus!" Raya terkejut.

"Ngapain kesini bukannya lagi dipingit, ha?"

"Loh ini kan juga rumah saya. Rumah orangtua saya ya rumah saya," jawabnya santai dan tenang namun dengan ekspresi datar menghadap ke depan bukan menatap Raya.

"Ter se rah!"

"Ternyata kamu kasih tau sama temenmu kalau saya usianya tua banget ya sampai-sampai ada yang nyeletuk kalau saya bapak-bapak saat mau putus video call nya?"

"Jangan baper deh Gus lagian dia nggak tau bentukan dirimu kayak apa makanya mengada-ada seperti bapak-bapak. Lagian nih umur Gus kan emang sudah 40 tahun kan? Gausah mengelak Gus," seketika Arsyad bungkam.

"Tapi tadi kamu belain saya ya soal kalau saya kelihatan muda dan badan saya kekar?"

"Biar mereka nggak ngomongin ente lagi Gus! Jangan kepedean dong,"

"Oh iya gue penasaran sama lo yang katanya pernah ketemu gue waktu itu. Emangnya ketemu dimana dan kapan itu terjadi?" Raya memberondong beberapa pertanyaan ke Arsyad. Pasalnya dia sangatlah ingin tahu dan mumpung sekarang ingat akan ucapan Arsyad waktu itu.

"Pengen tau banget apa tau aja?" Daya melengos mendengar Arsyad yang sengaja menggodanya, mengulur waktu menjawab pertanyaan yang dia lontarkan.

Namun melihat ekspresi kesal Raya membuatnya tak tega ia langsung menarik napas dalam dan membuangnya perlahan.

"Baiklah akan saya ceritakan. Waktu itu saya nggak tau kamu kelas berapa yang jelas saya mampir ke tempat jual kue yang tak jauh dari sekolah SMA. Saya mendengar teriakan kamu memanggil nama temanmu, terus kita papasan di dalam toko kue tapi kamu nggak lihat.

Masih pakai seragam sekolah tapi anehnya nggak dekil sama sekali—"

"Ya iyalah seorang Raya mana mungkin dekil buluk, meski pulang sekolah tetep harus kelihatan fresh yang paling penting wangi!"

"Saya belum selesai bicara Raya!" protes Arsyad, Raya langsung bungkam. Oke, kali ini dia harus diam mengunci bibirnya agar mulutnya tak bersuara.

"Kamu sama temenmu berpencar, terys nggak lama temenmu dekat sama aku dia manggil namamu buat lihat-lihat sepotong kue yang berjejer di etalase,"

"Terus Gus langsung jatuh hati sama saya pandangan pertama gitu?" Arsyad hanya diam namun Raya masih menunggu dia melanjutkan ceritanya tadi.

"Entah, kamu kepo sekali." Rahang Raya terjatuh memperlihatkan mulutnya terbuka. Dia ingin sekali menjambak, mencubit, mencakar, memukul dan lainnya.

"Oke nggak usah dilanjutkan sudah pasti jawabannya ketebak sekali bahwa seorang Gus Arsyad jatuh cinta pada pandangan pertama sama Raya cantik!"

"Oh iya gue inget waktu itu gue masih kelas sebelas, berarti Gus Arsyad umur 38 tahun?" kenapa lagi dia mengingatkan umurnya yang segitu, tapi apakah Arsyad malu karena umurnya yang terlalu tua untuk Raya? Sungguh kalau saja dia masih mau menginjak umur tiga puluhan tidak masalah, namun sekarang sudah berkepala empat rasanya seperti seorang om atau ayah bagi Raya.

"Duh bukannya calon pengantin lagi dipingit ya kok bisa ketemu begini?" suara Farah tiba-tiba mengagetkan mereka berdua yang duduk di sofa.

"Farah, kapan datang?" Farah mendudukkan dirinya di hadapan Raya.

"Dari tadi," Raya membulatkan matanya menatap horror Farah.

"Santai kak, baru saja datang kok. Jangan kira Gus Arsyad tinggal disini jadi mentang-mentang bisa ketemuan?" selidik Farah, matanya memicing melihat Arsyad.

"Kamu ini, memangnya nggak ada tugas sekolah apa habis pulang langsung kesini,"

"Yaelah om Arsyad mah gitu, kan ini rumah uma sama Abah," Farah lebih suka memanggil nenek dan kakeknya dengan sebutan Uma dan Abah.

Arsyad lalu bangkit keluar rumah daripada harus bertemu dengan keponakannya itu yang cerewet banyak omong.

"Habis ngobrol apa aja sih kak?"

"Nggak papa... Gue capek mau tidur dulu ya bye!" dia meninggalkan Farah yang sendirian.

"Kenapa malah ditinggal gini sih? Percuma datang kesini tapi untungnya tadi denger banyak cerita dari mereka." gumamnya, memang sejak tadi dia sudah pulang sekolah namun bukan langsung ke rumahnya melainkan mampir kesini untuk menemui Raya sebentar. Tapi ternyata lagi asyik bercerita hingga dia melanjutkan mendengar apapun yang keluar dari mulut Arsyad maupun Raya.

Hadeh Farah sudah pandai berbohong guys! Tapi kalau soal beginian sih Farah ambil amannya aja, hehe:)

Sudah dulu ya up nya... Nanti up lagi kok tenang aja...

Love sekebon semua!!!

1
Sena Kobayakawa
Gemesin banget! 😍
_senpai_kim
Sudah berhari-hari menunggu update, thor. Jangan lama-lama ya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!