Kehidupan Naura Anandita ternyata tidak seberuntung anak-anak pada umumnya. Hinaan dan cacian adalah makanan Naura sehari-hari, bahkan penderitaan demi penderitaan tidak pernah absen menghampiri kehidupan Naura. Acara camping sekolah yang seharusnya menjadi momen bahagia, justru menjadi awal penderitaan yang panjang untuk Naura. Naura diperkosa oleh seseorang pria yang mabuk, kehidupan Naura semakin hancur saat Naura diketahui hamil dan diusir oleh orangtuanya sendiri. Ditengah keputusasaannya, tidak disangka Naura dipertemukan dengan orang yang sudah memperkosanya itu. Siapakah dia? Apakah Naura akan meminta pertanggung jawaban orang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Dikeluarkan Dari Sekolah
Rani menghapus airmata Naura. "Yuk, kita ke kelas!"
Naura dan Rani pun berjalan beriringan menuju kelas, tapi diperjalanan teman-temannya langsung menghalangi jalan Naura.
"Ada apa ini?" tanya Rani.
"Naura, kamu hamil ya? Pantas saja kamu selalu memakai hoodie ke sekolah, dan kamu juga sering absen dari pelajaran olahraga," seru salah satu temanya.
Naura dan Rani terkejut dengan ucapan salah satu temannya.
"Maksud kamu apa!" bentak Rani.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu Rani, kamu sama saja sudah menyembunyikan kehamilan Naura, pokoknya kami tidak may tahu, Naura harus keluar dari sekolahan ini karena sudah mencoreng nama baik sekolah," sahut temanya.
"Tidak disangka ya, wajah polos dan terlihat alim seperti itu bisa hamil diluar nikah sungguh sangat menjijikan," seru teman yang lainnya.
Salah satu teman Naura mendorong Naura sampai terjatuh dan membuat Naura meringis sembari memegang perutnya.
"Astaga Naura!"
Rani segera menolong Naura, sedangkan Siska menghampiri Naura dan menjambak rambut Naura.
"Jadi kamu mendekati Kak Chris karena kamu butuh Ayah untuk anak haram mu itu," seru Siska.
"Siska, lepaskan Naura!" bentak Rani.
"Bisa-bisanya kamu membela ****** ini, memangnya kamu tidak malu punya teman hamil diluar nikah seperti itu," sindir Siska.
"Kenapa mesti malu? Justru aku akan malu jika mempunyai teman sepertimu yang sama sekali tidak mempunyai hati," sahut Rani.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, keluarkan Naura dari sekolahan ini."
Siska menarik tangan Naura dan menyeret Naura untuk pergi ke ruangan kepala sekolah, sedangkan Rani memilih berlari memberitahukannya kepada Chris.
Chris merasa geram, dan segera berlari menyusul Naura.
"Lepaskan aku Sis, aku mohon. Sebentar lagi ujian sekolah biarkan aku ikut ujian, aku mohon," rengek Naura dengan deraian airmata.
"Tidak bisa, kamu sudah mencoreng nama sekolah ini."
Siska terus menyeret Naura, hingga akhirnya Chris datang dan menghempaskan tangan Siska.
"Apa hak kamu melakukan semua ini?" bentak Chris.
"Kak Chris itu kenapa sih? Masih saja membela si ****** itu, sudah jelas-jelas dia sudah mencoreng nama sekolah, dia tidak pantas sekolah lagi, bagaimana kalau anak-anak dari sekolahan lain tahu? Bisa hancur nama baik sekolah kita," sahut Siska.
"Selama kalian diam, tidak akan ada yang tahu tentang Naura."
"Pokoknya kita tidak bisa diam, Naura harus dikeluarkan dari sekolahan ini," sahut Siska.
Tiba-tiba pintu ruangan kepala sekolah pun terbuka, ia keluar karena mendengar keributan.
"Ada apa ini, ribut-ribut?" tanya Pak Ganda.
"Pak, kami minta Naura dikeluarkan dari sekolahan ini," seru Siska.
"Memangnya kenapa?" tanya Pak Ganda.
"Naura hamil, Pak."
"Apa? Naura, apa benar yang dikatakan Siska itu?"
Naura menundukkan kepalanya dengan deraian airmata, sungguh Naura saat ini tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ya sudah, kalian masuk ke ruangan saya dan kita bicarakan di dalam."
Akhirnya Naura, Rani, Chris, dan Siska masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
"Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" seru Pak Ganda.
"Pak, waktu kita melakukan kemping, Naura diperkosa dan saat ini Naura hamil," sahut Chris.
"Apa? Kenapa kamu tidak lapor, Naura?"
"Aku takut, Pak."
"Siapa yang sudah melakukan itu kepadamu?" tanya Pak Ganda.
Naura tidak bisa mengatakan siapa pelakunya karena nyali Naura terlalu kecil untuk melakukannya dan akhirnya Naura hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Pak Ganda tampak mengusap wajahnya dengan kasar.
"Pak, aku ingin Naura dikeluarkan dari sekolahan ini, dia hanya akan mempermalukan sekolah kita Pak," seru Siska dengan sinisnya.
"Pak, aku mohon jangan keluarkan aku, sebentar lagi ujian sekolah aku ingin mengikuti ujian dan mendapatkan ijazah," mohon Naura dengan deraian airmata.
"Pak, biarkan Naura tetap sekolah aku yakin kalau masalah ini tidak bocor keluaran, sekolah ini tidak akan terkena masalah," sambung Chris.
"Iya Pak, kasihan Naura biarkan Naura tetap sekolah," timpal Rani.
"Tidak bisa Pak, ujian sekolah itu 2 bulan lagi, coba Bapak lihat, perut Naura sudah besar kalau nunggu 2 bulan lagi sudah pasti perut Naura semakin besar walaupun ditutupi tetap saja semua orang akan tahu. Apalagi sebagian teman-teman sudah tahu, bagaimana kalau mereka ngadu kepada orangtua mereka dan mencabut anaknya dari sekolahan ini? Kan bahaya Pak, nama sekolahan ini akan tercoreng," seru Siska.
"Siska, kamu memang biang keroknya," geram Rani.
"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kalian kembali ke kelas, Bapak harus membicarakan masalah ini dengan guru-guru," seru Pak Ganda.
Mereka semua pun keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Kamu benar-benar sangat menyebalkan, Siska," sentak Rani dengan mendorong Siska.
"Apaan sih kamu."
Rani dan Siska saling dorong, Naura dan Chris pun segera melerai keduanya.
"Awas kamu."
Siska segera meninggalkan ketiganya, Rani memeluk Naura.
"Kamu yang sabar ya Ra, kita berdo'a saja semoga para guru memberikan kebijaksanaannya," seru Rani.
"Amin."
Rani mengajak Naura masuk ke dalam kelasnya, bahkan Chris ikut menemani Naura karena saat ini semua guru sedang rapat. Untung saja, Chris berada di sana kalau tidak, sudah pasti Naura akan habis di olok-olok oleh teman-teman sekelasnya.
1 jam kemudian....
Naura kembali dipanggil oleh kepala sekolah untuk masuk ke dalam ruangannya, kali ini Naura masuk sendirian sedangkan Rani dan Chris menunggu di luar.
"Naura, maafkan Bapak bukanya Bapak tidak kasihan kepadamu tapi hasil rapat dengan guru-guru memutuskan kalau kami harus mengeluarkan kamu dari sekolahan ini demi kebaikan kita semua."
"Pak, aku mohon berilah kebijaksanaan, aku ingin mengikuti ujian Pak."
"Maafkan Bapak Naura, Bapak tidak bisa mempertahankanmu, Bapak mohon kamu harus mengerti karena Bapak juga harus menjaga nama baik sekolahan ini."
Naura menundukkan kepalanya dengan deraian airmata, Pak Ganda menghampiri Naura dan memeluknya. Pak Ganda memang sudah menganggap Naura seperti anaknya sendiri.
"Maafkan Bapak Naura, semoga kamu sukses dan bahagia."
Setelah merasa tenang, akhirnya Naura pun keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Bagaimana Ra? Apa keputusannya?" tanya Rani penasaran.
"Aku dikeluarkan dari sekolahan ini," lirih Naura.
"Apa?"
"Tidak bisa, aku harus bicara dengan Pak Ganda," seru Chris.
Chris hendak masuk ke dalam ruangan Pak Ganda tapi dengan cepat Naura menahannya dan menggelengkan kepala.
"Sudahlah Kak, aku memang sudah mempermalukan sekolah ini dan aku menerimanya konsekuensinya," sahut Naura.
"Tapi---"
"Aku ikhlas Kak."
Rani memeluk Naura, sungguh Rani tidak menyangka kalau nasib sahabatnya itu akan semenyedihkan seperti ini.
Naura, kembali ke kelasnya dan mulai merapikan alat-alat tulisnya. Naura memperhatikan setiap sudut kelasnya yang selama ini sudah memberikan ilmu kepadanya. Airmata Naura kembali menetes, Naura memeluk sahabat satu-satunya itu.
"Terima kasih Ran, selama ini kamu sudah menjadi sahabatku."
"Kamu yang sehat ya Ra, nanti aku akan sering datang ke kosanmu dan kalau kamu butuh apa pun jangan sungkan-sungkan bilang sama aku."
"Iya Ran."
Naura pun mulai melangkahkan kakinya, Siska tampak tertawa bahagia karena saingannya sudah pergi.
"Aku antar kamu pulang."
"Tidak usah Kak, ini kan masih jam pelajaran."
"Aku sudah minta izin."
Akhirnya Naura pun naik ke atas motor Chris dan meninggalkan sekolahan yang penuh kenangan itu.
kenapa Andre nggak dikasih jodoh jg..
tapi nanti jadi panjang episode atau babnya..
terima kasih author keren...