Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuai fungsi
Rasa tercekik itu nyata, sebuah cengkeraman beku yang merayap dari dadanya ke tenggorokan. Darian tidak bisa bernapas. Setiap nada dari nyanyian lembut itu adalah serpihan kaca yang menyumbat paru-parunya, membangkitkan hantu yang seharusnya terkubur dalam keheningan rumah ini. Luna. Lagu itu milik Luna.
Kakinya bergerak tanpa perintah, membawanya menaiki tangga dengan langkah-langkah yang nyaris tak bersuara, tetapi sarat dengan amarah yang membara. Ia tidak mengetuk. Pintu kamar Elios ia dorong dengan kasar, membuat Queenora yang sedang mengayunkan kursi goyang tersentak kaget dan sontak menoleh kearah pintu.
Mata mereka bertemu di tengah ruangan yang bercahaya remang-remang. Ketakutan terpancar di wajah Queenora, sementara Elios, yang nyaris terlelap, kini kembali merengek karena suara keras, dan gerakannya Queenora tiba-tiba itu.
“Jangan,” desis Darian, suaranya serak, begitu menekan dan mengancam.
Pria itu tidak melangkah lebih jauh, masih terpaku dimana dia menginjak, hanya berdiri di ambang pintu seperti malaikat pencabut nyawa.
“Jangan. Pernah. Menyanyikan. Lagu. Itu. Lagi.”
Setiap kata diucapkan dengan jeda yang menusuk, sebuah perintah yang tidak butuh penjelasan.
Queenora menatapnya, bingung dan ngeri. Ia tidak tahu apa kesalahannya. Melodi itu hanyalah bisikan dari hatinya yang kosong.
“Saya… saya hanya mencoba menenangkannya,” sahut Queenora, iya juga hanya menyanyi lagu dengan lirik asal, semua hanya rangkaian kata yang terlintas begitu saja diotaknya.
“Cukup berikan dia susu,” potong Darian, nadanya sedingin es.
“Lakukan saja fungsimu. Bukan menyanyikan lagu-lagu yang aneh yang bahkan bukan milikmu.”
Luka dari kata-kata itu terasa lebih perih daripada tamparan.
Bukan milikmu.
Seolah-olah bahkan senandung pun bisa ia curi. Queenora menunduk, memeluk Elios lebih erat, seolah melindungi bayi itu dari hawa dingin yang dibawa ayahnya.
“Maaf,” bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan.
“Tidak akan saya ulangi," imbuh gadis itu dengan menundukkan kepalanya perlahan.
Darian menatapnya tajam selama beberapa detik lagi, memastikan pesannya telah terpatri, sebelum akhirnya berbalik dan menghilang secepat ia datang. Pintu ia biarkan terbuka, meninggalkan Queenora dalam keheningan yang kini terasa jauh lebih menakutkan daripada sebelumnya.
Queenora menatap wajah Elios yang menuntut ia untuk menenangkan ia lagi. Wanita muda itu menarik kedua sudut bibirnya, mengayunkan kembali kursi goyang, kali ini hanya hening, tanpa gumam melodi.
***
Satu minggu berlalu dalam keheningan yang dipaksakan.
Queenora tidak pernah lagi bersenandung. Ia menjadi bayangan yang bekerja sebagai fungsinya, bergerak antara kamarnya dan kamar Elios, menjalankan tugasnya sesuai perintah seperti robot. Ia memberi susu, mengganti popok, menimang Elios dalam diam. Setiap tangisan bayi itu ia redakan dengan sentuhan, bukan suara. Persis seperti yang Darian inginkan.
Ironisnya, di bawah perawatannya yang sunyi, Elios justru tumbuh pesat.
Pipinya semakin tembam, matanya semakin jernih, dan ia mulai mengeluarkan suara-suara ocehan lucu yang hanya dijawab Queenora dengan senyuman. Darian, yang hanya melihat putranya sesekali, tidak bisa menyangkal perubahan positif itu, meski ia tidak pernah mengucapkannya.
Siang itu, saat Elios tertidur pulas di boksnya, Queenora memutuskan untuk merapikan lemari pakaian bayi yang mulai sesak.
Bi Asih sudah menyiapkan tumpukan baju baru yang ukurannya lebih besar. Sambil melipat baju-baju mungil itu, Queenora membuka salah satu pintu lemari yang lebih tinggi, yang selama ini tidak pernah ia sentuh. Ia pikir isinya adalah selimut atau perlengkapan cadangan yang selama ini tak terpakai.
Namun, yang menyambutnya bukanlah aroma kapur barus atau detergen bayi. Melainkan hembusan lembut wangi lavender dan vanila yang feminin.
Di dalamnya, tergantung dengan rapi beberapa potong pakaian wanita. Gaun musim panas berbahan katun tipis, blus sutra berwarna krem, dan sebuah kardigan wol yang lembut. Semuanya tergantung sempurna, seolah baru saja disetrika dan menunggu pemiliknya untuk dipakai. Di rak bawah, tersimpan sebuah kotak beludru biru tua.
Jantung Queenora berdebar. Ia tahu ini adalah milik mendiang istri Darian. Milik sang Nyonya Rumah.
Tangannya gemetar saat menyentuh lengan kardigan wol itu. Bahannya begitu halus, begitu mewah. Ia bisa membayangkan seorang wanita anggun memakainya, dengan rambut tergerai dan senyum hangat. Wanita yang sempurna. Wanita yang begitu beruntung dalam kehidupannya.
Perasaan menjadi penyusup merayap di sekujur tubuhnya. Ia tidak seharusnya berada di sini. Ia tidak seharusnya menyentuh barang-barang suci ini.
Ia hanyalah pengganti fungsi, sebuah inkubator berjalan yang disewa untuk menjaga peninggalan berharga wanita ini tetap hidup.
Didorong oleh rasa penasaran yang menyakitkan, ia membuka kotak beludru itu. Di dalamnya, terlipat rapi sehelai selendang sutra dengan motif bunga lili dan sebuah buku harian bersampul kulit.
Queenora segera menutupnya kembali, merasa bersalah seolah baru saja mengintip rahasia paling pribadi seseorang.
“Nona butuh sesuatu?”
Queenora tersentak kaget, nyaris menjatuhkan kotak itu. Bi Asih berdiri di pintu, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Ah… tidak, Bi. Saya hanya… merapikan lemari,” jawab Queenora gugup, buru-buru meletakkan kotak itu kembali ke tempatnya.
Bi Asih tersenyum tipis, senyum yang penuh kesedihan.
“Itu barang-barang Nyonya Luna. Tuan Darian tidak sanggup memindahkannya. Katanya, beliau ingin Elios tetap bisa mencium aroma ibunya.”
Setiap kata Bi Asih adalah belati. Jadi, bahkan aroma di ruangan ini pun bukan miliknya. Kehadirannya hanyalah polusi di tengah kuil kenangan ini.
“Nyonya Luna sangat suka wangi lavender,” lanjut Bi Asih, seolah mengenang.
“Beliau sendiri yang memilih semua perabotan dan dekorasi di kamar ini. Beliau sudah menyiapkannya jauh-jauh hari. Sangat tidak sabar menanti kelahiran Tuan Muda Elios.”
Queenora hanya bisa mengangguk, tenggorokannya tercekat.
"Wanita yang sangat sempurna. Ia menyiapkan segalanya dengan cinta. Sementara aku… aku adalah luka berjalan yang bahkan tidak bisa melindungi bayiku sendiri." gumaman yang begitu tajam terdengar dalam telinga Queenora.
“Saya… saya permisi dulu, Bi,” kata Queenora pelan, merasa perlu melarikan diri dari ruangan yang tiba-tiba terasa begitu menyesakkan.
Ia berjalan keluar dari kamar Elios, meninggalkan aroma lavender dan bayang-bayang Luna di belakangnya. Ia butuh udara. Ia butuh pengingat bahwa dirinya nyata, bukan sekadar hantu pengganti.
Koridor terasa panjang dan sunyi. Saat ia melewati ruang kerja Darian, ia mendengar suara dari dalam. Bukan suara telepon atau rapat daring. Melainkan suara Darian yang berbicara sendiri, rendah dan penuh kepahitan. Pintu ruang kerja itu sedikit terbuka, cukup untuk membuat suaranya bocor keluar.
Nalurinya menyuruhnya untuk terus berjalan, untuk tidak ikut campur. Tapi sebuah kekuatan tak terlihat menahan kakinya di tempat.
“…selalu seperti ini,” gumam suara Darian, sarat dengan penderitaan yang pekat.
“Kau dengar itu, Luna? Dia butuh sesuatu lagi. Selalu butuh.”
Queenora membeku. Darian pasti sedang melihat foto istrinya.
Keheningan sesaat, lalu suara Darian kembali terdengar, kali ini lebih tajam, lebih beracun.
“Seharusnya kau yang ada di sini, memeluknya. Bukan aku yang harus mendengarkan semua ini sendirian.” Ada suara gelas yang diletakkan dengan kasar di atas meja kayu.
“Semua ini salahnya. Kalau saja dia tidak… kalau saja prosesnya tidak begitu sulit…”
Napas Queenora tercekat. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
“Kau pergi karena dia,” bisik Darian, dan dalam bisikan itu terkandung kebencian yang begitu murni hingga membuat udara di sekitar Queenora terasa membeku. Suaranya pecah saat mengucapkan kalimat terakhir, sebuah vonis yang ia jatuhkan di dalam pengadilan dukanya sendiri.
“Kau penyebabnya.”
Sebuah pekikan kecil lolos dari bibir Queenora tanpa bisa ia cegah. Tangan yang menutupi mulutnya tak cukup kuat untuk menahan keterkejutan yang merobek jiwanya.
Di dalam ruangan, suara Darian berhenti mendadak. Sunyi senyap. Lalu, suara kursi yang didorong ke belakang dengan kasar memecah keheningan.
Langkah kaki yang berat dan cepat bergerak menuju pintu.
Queenora terpaku di tempat, matanya membelalak ngeri saat kenop pintu itu berputar.