Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 05
TERLALU MENGEJUTKAN
Tatapan Luis tidak berubah. Dingin, kosong—namun di baliknya ada sesuatu yang berdenyut liar, seperti amarah yang dipaksa duduk diam terlalu lama.
Tanpa peringatan.
PLAK!
Suara tamparan itu memecah udara kamar seperti letupan senjata. Kepala Elizabeth terhempas ke samping, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke lantai berlapis karpet gelap. Dunia berputar. Pandangannya mengabur. Rasa panas menjalar cepat dari tulang pipinya hingga ke rahang, diikuti nyeri tajam yang membuat napasnya tercekat.
Rasa asin memenuhi mulutnya.
Darah.
Bibirnya pecah. Tulang pipinya berdenyut hebat, seolah ada sesuatu yang retak di dalam sana. Elizabeth mencoba menopang tubuhnya dengan satu tangan, namun jemarinya gemetar hebat. Kepalanya berdengung, telinganya berdesi panjang.
Belum sempat ia menarik napas utuh—
Luis sudah berjongkok di hadapannya.
Tangannya yang sama—yang barusan menamparnya tanpa ampun—kini menangkup wajahnya dengan lembut. Terlalu lembut. Ibu jarinya menyentuh pipi Elizabeth, tepat di atas area yang memerah dan mulai membengkak. Sentuhan itu membuat Elizabeth tersentak, tubuhnya menegang, matanya membulat penuh keterkejutan.
“Lihat aku,” kata Luis pelan.
Nada suaranya… hangat. Hampir penuh kasih.
Elizabeth mengangkat pandangannya dengan susah payah. Matanya berkaca-kaca, bukan hanya karena sakit, tetapi karena kebingungan yang menghantam lebih keras dari tamparan itu sendiri. Air mata menggenang tanpa ia sadari, jatuh perlahan ke punggung tangan Luis.
“Aku tidak suka harus melakukan ini,” lanjut Luis lirih, seolah ia benar-benar menyesal. Ibu jarinya menyeka sudut bibir Elizabeth yang berdarah, gerakannya hati-hati, intim—menyakitkan dalam caranya sendiri. “Tapi kau memaksaku.”
Elizabeth berkerut antara heran dan marah. Bukan karena ia ingin, melainkan karena tubuhnya bereaksi sendiri. Ia tidak mengerti. Kepalanya berdenyut, hatinya remuk oleh kontras yang tak masuk akal: kekerasan brutal yang dibungkus kelembutan palsu.
“Aku hanya ingin kau aman,” bisik Luis, dahinya menyentuh dahi Elizabeth. “Dan aman artinya kau tidak mempermalukan ku lagi.”
“Aku tidak mempermalukan mu. Aku hanya meluruskan sesuatu yang salah.”
Luis menatap tajam mendengar ucapan Elizabeth yang masih berani membuka suara.
Tangannya turun, memeluk wajah Elizabeth dengan kedua telapak, sedikit mencengkram bak ingin mengancurkan kepala itu, dan seolah ia tengah menenangkan seorang anak yang ketakutan. Elizabeth membeku di tempatnya. Air mata jatuh semakin deras, napasnya tersengal tertahan.
“Aku lebih suka kau memohon dan meminta maaf setelah apa yang terjadi. Atau aku tidak akan segan lagi, sayang.”
Di momen itu, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Luis tidak marah karena ia salah.
Luis marah karena ia berani. Dan kasih sayang yang ditunjukkannya sekarang—
lebih menakutkan daripada tamparan itu sendiri.
Elizabeth masih berani menatapnya hingga dia menundukkan pandangannya saat ia harus berpikir lebih logis. “Maafkan aku.” Ucapnya mengalah.
“Good girl!” kata Luis tersenyum miring dan mencium kening Eliza seperti biasa, sebelum akhirnya melenggang pergi tanpa memperdulikan luka yang dia buat ke wajah cantik istrinya.
Elizabeth menundukan kepalanya dan memejamkan matanya, merasakan perih di lukanya hingga dia mengingat semua perkataan suaminya. -‘Apa ini termasuk mempertahankan kehormatan?’
Wanita malang itu berdiri, berjalan perlahan ke arah kamar mandi, membasuh wajahnya, membersihkan luka di wajahnya yang terlihat jelas ketika darah mulai keluar dari sudut bibirnya dan juga tulang pipi yang terlihat bergores.
“Ini pukulan fisik pertama yang aku dapatkan.” Gumamnya sedikit sedih. Bagaimana tidak, ibu dan ayahnya saja tak pernah memukulnya seperti itu.
Mengingat ibu dan ayahnya membuat Elizabeth mulai merindukannya dan ingin sekali kembali ke mansion Taylor, meski 1 hari dia tinggal bersama Luis, namun pukulan tadi seolah membuatnya takut.
.
.
.
“Di mana Taylor? Mereka belum kembali dari pesta?” tanya Esperance yang tengah duduk cantik menikmati secangkir teh.
“Mereka sudah kembali Nyonya, tapi ada sesuatu yang aku dengar di kamar tuan Luis dan nyonya Elizabeth!” kata seorang pelayan wanita yang bernama Cili(49th)— pelayan yang selalu ingin tahu dan menguntungkan dirinya sendiri. Suaranya begitu cempreng.
Esperance berkernyit menatap pelayan itu. “Soal apa?“
“Pukulan yang sangat keras dan keheningan yang begitu lembut setelah luapan amarah!”
Wanita tua itu langsung terdiam, cukup terkejut, namun keterkejutannya bukan soal pukulan itu, melainkan soal keuntungan yang dia rasakan. Jauh dari amarah Luis yang sakit mental. Esperance tersenyum puas dan meneguk tehnya.
Sementara Cili yang melihat senyuman itu seolah dia merasa aneh akan sikap nyonya nya. “Aku melihat Anda sepertinya senang mendengar berita itu Nyonya.”
“Tentu saja, kau seharusnya juga senang. Karena Luis mendapatkan samsak yang cocok.” Ujar Esperance terus terang sehingga kedua mata Cili melotot terkejut namun juga setuju akan ucapan Esperance.
“Saya permisi!”
Selagi pelayan tadi pergi, Esperance terus merasakan teh yang dia teguk namun juga bercampur dengan pikirannya. Bagaimana dia mengingat kejadian yang membuat mental Luis menjadi brutal dan hilang kendali.
...***...
Berada di ruang pribadinya, tepatnya di perusahaan Holloway yang sudah cukup lama berdiri. Luis duduk dengan tatapan tegas saat ia tengah berbincang serius dengan kliennya, salah satu diantaranya merupakan tamu yang sama di pesta tertutup. Carlos Daniel.
“Aku suka yang menguntungkan, jadi aku terima.” Kata Luis yang dibalas senyuman oleh si pria tua asal Tiongkok itu.
Carlos yang juga membahas soal bisnis dan menawarkan kerjasama membuka kasino terbesar di Birmingham pun disetujui oleh Luis.
“Apa hanya terbesar di Birmingham? Kenapa tidak satu Inggris?” mata Luis sembari meneguk minumannya dan menatap lekat ke Carlos.
“Apa kau lupa soal keberadaan Nathaniel Vale? Pria itu sudah membangun kasino terbesar se-Inggris, untuk menyainginya aku rasa itu mustahil.” Kata Carlos yang mulai bersandar.
Mendengar nama Vale membuat Luis muak. “Jika bertekad menghancurkannya, maka bajingan itu akan hancur. Dia hanya selalu bersembunyi dalam bayang-bayang.” Kata Luis berhasil membuat Carlos terdiam menatapnya.
Ya, siapa yang tak kenal si Nathaniel Vale itu? Konglomerat dan pengusaha se-Inggris tahu pria itu dan perusahaan yang tengah dia pegang kuat-kuat agar Inggris tidak kehilangan ekonomi dan keseimbangan lainnya.
“Kau sudah mendengar soal pria Vale itu? Aku curiga pria itu juga bekerja ilegal.” Pikir Carlos yang hanya mengada-ada saja.
“Fuck him.” Umpat Luis dingin dan tenang, namun sangat terlihat jelas bagaimana dia menahan emosinya setiap kali mendengar nama pria itu disebutkan.
Di jam yang sama namun di kota yang berbeda, seorang pria bertubuh tinggi, kekar yang mengenakan kemeja hitam, berdiri tegak menatap ke dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota London.
“Tuan Vale. Surat terbuka dari Taylor.” Kata seorang pria berpakaian kemeja putih nan rapi yang berdiri di belakang pria kemeja hitam tadi dengan jarak yang cukup berjauhan.
Pria itu menoleh dan hanya memperlihatkan garis wajahnya yang nampak hidung mancungnya. “What?” tanya nya dingin.
“Tidak ada yang tertulis, hanya stempel merah dari lambang Taylor.”
Vale, pria yang bernama Nathaniel Vale itu kembali menatap lurus dengan tatapan tegas. “Kirim seseorang untuk mendatangi kediamannya. Mereka sangat memaksa.” Pinta nya.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl