arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH EMPAT
Malan itu sangat cerah, dan jalanan tetap padat penuh dengan kendaraan bahkan setelah jam sibuk selesai.
Setelah membelah padatnya jalanan, Rinta akhirnya menemukan tempat parkir. Dia melihat sekilas ke arah penumpang di sebelahnya dan tersenyum
"Ayo pergi, Erika! Yang lainnya sudah menunggu!"
Erika bersenandung dengan tersenyum. Tentu."
Rinta tersenyum misterius saat dia menggandeng tangan Erika dan masuk ke dalam ruang privat yang telah mereka pesan sebelumnya.
Ketika mereka melihat bahwa ruangan privat itu gelap dan sunyi, Rinta berpura-pura bingung. "Hey, apa mereka berbohong padaku? Bukankah seharusnya mereka sudah sampai di sini?"
+3
Dia membawanya masuk ke ruangan dan melanjutkan, "Erika, ayo masuk dan tunggu mereka di dalam."
Sebelum Erika bisa merespons, suara keras dari terompet pesta pun meledak di telinga mereka.
Selain itu, lampu di ruangan juga tiba-tiba dinyalakan sementara pita confetti menghujani dari atas dan jatuh ke rambut dan bahu kedua wanita itu.
Setelahnya, diikuti oleh suara sorakan yang sangat riuh. "Woohoo! Selamat lajang kembali, Erika!
Erika menganga sedangkan Rinta tertawa terbahak-bahak. Dia berbalik untuk melihat Erika dan berseru, "Kejutan, Erikal
Gadis yang meniupkan confetti juga tertawa.
"Menurutku dia lebih dari terkejut! Erika, kau telah dibatasi oleh segala macam aturan dari keluarga Wistam sejak kau menikah dengannya. Tapi sekarang kau akhirnya bisa terbebas dari beban itu dan menjadi diri sendiri!
Rinta terkekeh. "Benar sekali! Mulai sekarang, Erika kita yang tersayang harus menjalani hidup dengan menjadi dirinya sendiri! San, aku suka dengan ide cemerlangmu!"
Tersentuh dengan kepedulian teman-temannya, Erika mengatakan, "Terima kasih, San!"
Shenna masih memegang properti pesta di tangannya. Dia memiliki rambut hitam yang panjangnya sebahu dan wajah yang imut.
"Hey, ini bukan apa-apa. Masih ada kejutan lainnya!"
Rinta juga merasa bingung. "Apa itu?"
Dia telah meminta beberapa teman untuk mendekorasikan ruangan guna merayakan perceraian Erika dan menyemangatinya, tapi dia tidak tahu rencana yang sesungguhnya.
Tak lama setelah itu, sesosok pria tinggi muncul di pintu masuk dengan membawa sebuket bunga mawar di tangannya, Pria itu mengatakan dengan tersenyum lembut, "Erika, selamat telah kembali lajang."
Rinta terkesima karena terkejut hingga matanya menyala. Astaga! Dia bahkan menyiapkan bunga mawar!
Sebelum Erika bisa mengenali siapa pria itu. pria tersebut telah meletakkan bunga di tangannya.
Beberapa dari mereka adalah terman dekat saat di universitas.
Cakan Semon sudah menyukai Erika sejak tahun pertama mereka di universitas, dan sudah lima tahun sejak saat itu.
Ketika dia akhirnya berani untuk menyatakan perasaannya pada Erika, wania itu sudah menikah, jadi dia pun menyerah. Sekarang setelah tahu Erika sudah bercerai, dia menjadi punya harapan lagi.
Ketika Erika menyadari bunga di tangannya itu adalah sebuket mawar, ada sedikit perubahan di ekspresinya. Dia ingin mengembalikan bunga itu kepada Cakan, tetapi Rinta meraih tangannya dan berkata, "Ayo bernyanyi, Erika. Bagaimana dengan 'Love Yourself?"
Erika dibuat terdiam olehnya.
Sementara itu, di ruangan privat lainnya di tempat yang sama, beberapa pria sedang duduk sambil minum-minum.
Sambil menekuk wajah, Vinno memacarkan aura depresinya.
*Tiba-tiba, dia meletakkan botol wine di tangannya dan menggerutu, "Sia*an! Seharusnya aku tidak menganggap remeh wanita itu Ini membuatku gila!"*
Gardan meliriknya dengan acuh tak acuh dan tidak repot-repot bertanya.
Hari ini, mereka memang berkumpul karena Vinno sedang dalam suasana hati yang buruk.
Pria tampan yang duduk di depan Vinno tersenyum sambil mengejeknya. "Jadi, wanita mana yang mengganggumu kali ini?"