kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Perang di Langit Atlas
Info:
~KERAJAAN ATLAS ~
*ratu layla
*penasehat : penyihir petir
*panglima delta
—pasukan : *minotaur : manusia banteng
*centaur : manusia kuda
*griffon : elang bertubuh singa
*naga api.
~KERAJAAN FARAMIS~
*raja gris
*penasehat : penyihir hutan
—pasukan : *echidna : manusia ular
*orc.
*naga air.
~siluman lain~
*arkhne:manusia laba-laba — *hydra
*siluman rubah— *dll.
*CERITA RATU LAYLA*
Ratu Layla berdiri mematung di balkon tertinggi Istana Atlas. Tatapannya sedingin es, mencerminkan hatinya yang telah lama membeku oleh ambisi dan kekejaman. Di bawah kakinya, Kerajaan Atlas membentang dengan kemegahan yang dibangun di atas ketakutan. Baginya, diplomasi adalah kelemahan, dan hanya darah yang bisa menyuburkan kekuasaannya.
"Panggil Delta dan Penyihir Petir. Sekarang," perintah Layla tanpa menoleh. Suaranya rendah, namun memiliki daya tekan yang membuat pelayan di belakangnya gemetar sebelum berlari menjauh.
Tak lama kemudian, langkah kaki berat berbahan besi bergema di aula utama. Delta, Sang Panglima perang yang legendaris, masuk dengan pedang besar tersampir di punggungnya. Di sampingnya, Penyihir Petir berjalan dengan jubah hitam yang sesekali memercikkan aliran listrik statis di lantainya. Mereka berlutut di hadapan takhta emas yang dihiasi tengkorak musuh-musuh lama.
"Kerajaan faramis telah berani menolak upeti kita," Layla menutup rapat dengan nada datar yang mengerikan. "Gris merasa pasukannya cukup kuat untuk menantang Atlas. Aku ingin kepalanya menjadi hiasan meja makanku sebelum bulan purnama berakhir."
Penyihir Petir mengangkat tongkat peraknya. "Ratu, intelijen sihirku melaporkan bahwa faramis telah mengumpulkan pasukan Orc dan Echidna di perbatasan. Mereka juga melatih Naga Air untuk menahan serangan api kita."
Layla menyeringai kejam. "Biarkan mereka bersembunyi di balik air. Delta, bagaimana kesiapan pasukan kita?"
Delta berdiri tegak, matanya berkilat penuh nafsu perang. "Pasukan Minotaur telah berada di baris depan untuk menghancurkan barisan Orc. Centaur akan melakukan serangan menjepit dari sayap kanan dan kiri, sementara Griffon akan menguasai langit. Naga Api kita hanya menunggu perintah untuk menghanguskan sisa-sisa keberadaan mereka. Aku mengumumkan bahwa hari pertempuran adalah esok . Kita akan menghapus faramis dari peta sejarah."
Pagi yang dijanjikan tiba dengan langit berwarna merah saga. Ratu Layla tidak duduk diam di takhtanya. Ia mengenakan zirah hitam legam dan menunggangi Naga Api terbesar, Dari ketinggian langit, Layla melihat pemandangan yang memuaskan dahaganya akan kekacauan.
Lembah di bawahnya menjadi lautan pembantaian. Pasukan Minotaur menerjang barisan Orc dengan kapak raksasa, menciptakan bunyi retakan tulang yang terdengar hingga ke langit. Centaur berlari dengan kecepatan luar biasa, melepaskan anak panah yang menghujani musuh tanpa ampun. Di udara, Griffon bertarung sengit melawan Naga Air milik Veon, menciptakan benturan antara cakar tajam dan semburan air yang mendinginkan udara.
Penyihir Petir turun ke medan laga. Ia merentangkan tangannya ke langit, memanggil badai yang tidak alami. Kilatan petir raksasa menyambar dari awan hitam, menghanguskan barisan Echidna yang mencoba melilit pasukan Atlas. Setiap sambarannya merenggut puluhan nyawa, mengubah medan perang menjadi tanah yang hangus dan berbau belerang.
Ratu Layla tertawa di atas naganya saat melihat formasi tempur Raja Gris kocar-kacir. Dengan satu perintah, ia menukik tajam, membiarkan naganya menyemburkan api abadi yang membakar habis tenda-tenda komando musuh. Kemenangan mutlak berada di tangan Atlas. Pasukan faramis yang tersisa melarikan diri dalam kehinaan. Layla mendarat di tengah reruntuhan, memandang bangkai musuh dengan kepuasan yang mendalam.
Namun, di tengah euforia kemenangan dan teriakan para prajurit, sebuah bayangan bergerak tanpa suara. Penyihir Hutan, penasehat Raja Gris, menggunakan sisa kekuatannya untuk menyusup ke barisan belakang melalui celah-celah gaib. Dengan sihir manipulasi tumbuhan, ia berhasil menjangkau tenda perlindungan Putri Layla, Tanpa suara, sang putri diculik, dibawa pergi ke dalam kegelapan sebelum siapa pun menyadari kehilangannya.
Saat matahari terbenam, langit berubah warna menjadi ungu pekat, Ratu Layla memacu naganya kembali ke Istana Atlas dengan kemenangan gemilang di pundaknya. Para prajurit Minotaur dan Centaur bersorak, meneriakkan nama sang ratu yang baru saja menghapus sebuah kerajaan dari peta.
Malam di Istana Atlas yang seharusnya penuh dengan pesta kemenangan berubah menjadi keheningan yang mencekam. Ratu Layla duduk di singgasananya, namun matanya memancarkan kemarahan yang bisa membakar seluruh kerajaan. Di tangannya, terdapat sebuah surat yang diantar oleh seekor burung gagak hitam milik faramis.
“Jika kau ingin melihat putrimu lagi, datanglah ke hadapanku tanpa tentara. Jika tidak, kecantikan putri kecilmu akan menjadi abu.”
Gigi Layla bergemeretak. "Delta! Penyihir Petir! Ikut aku. Kita akan menghadap bangkai bernyawa bernama Gris itu," geramnya.
Tanpa membawa pasukan besar, ketiganya bergerak menuju titik pertemuan di perbatasan wilayah faramis yang telah hancur. Di sana, Raja Gris berdiri di atas tebing tinggi di atas kawah yang dipenuhi bara api yang menggelegak. Wajahnya penuh luka bakar, . Di sampingnya, sang putri terikat erat dalam jeratan akar berduri milik Penyihir Hutan.
"Kau datang, Ratu yang Haus Darah," ejek Gris dengan suara parau.
"Lepaskan dia, Gris, dan aku mungkin akan membiarkan kematianmu menjadi cepat," ancam Layla.
Gris tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh dengan keputusasaan. "Kau telah menghancurkan kerajaanku, membantai rakyatku. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan!"
Layla memberi isyarat halus pada penasehatnya. "Sekarang!"
Penyihir Petir melepaskan serangan kilat secara mendadak ke arah Gris. Namun, Penyihir Hutan telah mengantisipasi hal itu dengan menciptakan perisai dari kayu purba yang menyerap energi listrik tersebut. Kekacauan pecah dalam sekejap. Delta menghunus pedangnya dan merangsek maju, namun Gris menarik rantai yang mengikat sang putri.
"Jangan selangkah pun maju, atau dia jatuh!" teriak Gris.
Layla membeku. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ketakutan yang nyata merayap di punggungnya. Namun, Gris telah kehilangan akal sehatnya. Dengan senyum penuh dendam, ia menendang tubuh kecil sang putri ke arah bibir tebing.
"TIDAK!" teriak Layla.
Tubuh sang putri jatuh dengan cepat ke dalam lubang bara api di bawah mereka. Suara jeritan singkat tertelan oleh gemuruh api yang meluap. Dalam sekejap, semua yang tersisa dari masa depan Layla hanyalah asap hitam yang membubung tinggi. Putri Atlas telah tewas.
"Serang! Bunuh mereka semua!" raung Layla dengan suara yang pecah karena duka dan kemarahan.
Pertarungan kembali pecah dengan brutal. Delta mengamuk, menebas setiap rintangan yang menghalangi jalan. Namun, posisi mereka tidak menguntungkan. Pasukan sisa Veon yang bersembunyi mulai muncul dari balik bebatuan. Penyihir Hutan mengeluarkan kabut beracun yang mulai menyesakkan napas mereka.
"Ratu, kita harus mundur! Kita terjebak!" teriak Delta sambil menangkis serangan anak panah.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Layla dipaksa oleh pengikutnya untuk mundur. Mereka memacu tunggangan mereka meninggalkan tempat terkutuk itu, meninggalkan abu sang putri di belakang mereka.
Sesampainya di dalam istana, Ratu Layla tidak lagi terlihat seperti penguasa yang perkasa. Ia berjalan gontai menuju kamar pribadinya, menutup pintu rapat-rapat, dan merosot ke lantai. Di dalam kesunyian istana yang dingin, sang Ratu yang dikenal tak memiliki hati itu akhirnya menangis. Isak tangisnya menggema di dinding batu, sebuah ratapan pilu yang menandakan bahwa kemenangan atas faramis hanyalah sebuah kekosongan yang membakar jiwanya sendiri. hanya menyisakan keinginan untuk pembalasan dendam yang lebih mengerikan dari sebelumnya.