NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Jalanan ibu kota itu sungguh padat dipenuhi lalu lalang kendaraan, bekas hujan yang masih ada rintikan memunculkan aroma khas menenangkan, para pejalan kaki terlihat begitu ramai, pun suara yang samar sedikit bisa didengar.

Radio yang diputar dengan volume rendah itu terasa tak berfungsi tatkala kedua manusia itu terus mengoceh satu sama lain, saling melepaskan rasa rindu.

"Memangnya apa lagi yang bisa kau harapkan dari Elia? Apa kau ingat ketika dulu kita akan presentasi, dia bahkan belum mengisi bagiannya, sehingga dosen marah?" Algio tertawa pelan.

Menganggukan kepala, Afnan ikut tertawa, kembali mengingat masa-masa indah mereka saat masih berada di dunia perkuliahan, "Dan kebodohannya itu masih tetap bertahap."

"Kau tau kabar terbarunya?" Algio membuka topik baru, ingin membahas sesuatu yang lebih menantang.

Menoleh, Afnan menggelengkan kepala, "Terakhir aku ingat jika dia dipecat karena memukul kepala bossnya sendiri karena dianggap satpam." Ujarnya terkekeh.

Decakan penuh ejekan terdengar, "Kau ini kurang update," Ujar Algio melirik Afnan, "Elia sekarang menjadi simpanan penjabat karena kehabisan uang, dia berkoar-koar hingga khalayak umum tau, dan kau tau ujungnya?"

"Apa dia mendapat sangsi sosial? Baguslah agar otaknya bisa berpikir normal." Jawab Afnan memijat pelipis, berharap salah satu musuh bebuyutannya semasa kuliah bisa bertobat.

"Sangsi sosial apanya? Dia malah menjadi selebgram dengan jutaan pengikut."

Afnan mengerjabkan netranya perlahan, menatap Algio tak percaya, "Apa? Sungguh? Mengapa takdir Tuhan begitu aneh? Bagaimana bisa orang dengan track record buruk bisa menjadi selebgram?"

"Mana ta-"

"SEBENTAR ALGIO, MATIKAN MOBILNYA!" Tiba-tiba sekali Afnan berteriak tatkala netranya tak sengaja menangkap pemandangan menakjubkan.

Yap, keberadaan sang suami dengan wanita lain yang kini terlihat begitu bahagia sembari memakan jajanan ringan, bahkan dapat Afnan tebak, Dareen kini tertawa lepas.

Citttt......

Reflek Algio berhenti mendadak, menatap Afnan penuh perhitungan sebab mengejutkannya, "Kau ini! Jika ingin membeli makanan jangan berteriak, aku pasti akan membelikannya untukmu."

Tanpa menunggu jawaban Algio, Afnan turun dari mobil dengan tergesa-gesa, menghampiri Dareen bersama wanita bersurai blonde itu.

Kini Afnan sudah berdiri tepat di samping meja Dareen. Ia menatap nyalang Dareen dan wanita bersurai blonde di sampingnya, wanita berpakaian formal dengan wajah cantik yang menenangkan.

​Dengan tatapan tak percaya, Afnan berkacak pinggang, menatap interaksi keduanya yang masih belum menyadarinya, seolah dunia milik berdua, dan itu terlihat menyebalkan di mata Afnan.

​"Ah maaf anda siapa ya?" Lerona selaku wakil sekretaris Dareen itu berkata dengan sopan, menatap bingung Afnan yang sedari tadi terus menangkring di samping meja mereka dengan tatapan julid.

​Mendengar seruan itu membuat Dareen menoleh, netra itu membulat terkejut mendapati kehadiran Afnan yang lagi-lagi mengacaukan rencananya, entah kesalahan apa yang ia perbuat hingga sialnya berkali-kali lipat.

​"Tebak saya siapa?" Afnan malah membalikkan ucapan, menatap Lerona sinis.

​Lerona menggaruk tengkuk lehernya canggung, mengapa ia merasa tengah dipergok sebagai selingkuhan? Siapa pula yang gila di sini? Sedari tadi ada seorang wanita yang terus menatapnya, Lerona merasa risih dan tak nyaman.

​Dareen berdeham keras, menarik perhatian Afnan, ia tersenyum, tapi senyum itu hanya sampai di bibir, tidak mencapai matanya, dan terlihat sangat dipaksakan.

​"Lerona maaf, kenalkan-" Celetuk Dareen dengan nada yang terlalu riang dan dibuat-buat, ia mengibaskan tangannya ke arah Afnan, seperti sedang memperkenalkan barang yang tidak penting.

​"Ini Afnan, dia adik sepupu saya, baru datang dari Pegunungan LA dan sedang dititipkan sementara di New York." ​Dareen menekankan kata 'adik sepupu' dan 'dari pegunungan LA' dengan sorot mata peringatan keras kepada Afnan.

​Afnan, yang mendengar kata-kata itu, benar-benar syok. Mulutnya sedikit terbuka. Adik sepupu? Dari Pegunungan? Dia pikir aku ini bibit unggul dari pegunungan mana?!

​"Oh, begitu," Lerona tersenyum lega, "Pantas saja, selamat datang di New York Afnan, apa anda sudah mencoba makanan ringan di sini? Enak-enak, loh!" Serunya sok akrab.

​Menutup mulutnya dengan tangan, Afnan berusaha keras menahan teriakan histeris, ia menoleh ke Dareen dengan mata berkedut, lalu ke Lerona, dan akhirnya, sebuah senyum aneh, lebar, dan licik muncul di wajahnya.

"Salam kenal, Kak Lerona! Iya, aku Afnan! Aduh, kaget ya, Kak? Aku memang agak lusuh, namanya juga baru dari gunung." Kata Afnan dramatis, sengaja menggesekkan lengan bajunya yang bersih ke meja.

Afnan mengabaikan tatapan mengancam Dareen, ia menatap Lerona, lalu menunjuk Dareen dengan matanya, "Tolong kak, aku harus minta tolong sekali sama kakak. Kak Dareen ini sebenarnya punya obsesi yang unik!"

​Mata Lerona membulat penasaran, namun ia tetap menatap Dareen dengan kekaguman, menganggap keanehan sekecil apa pun dari Dareen tetaplah menarik.

​"Obsesi apa?" Tanya Lerona setengah berbisik, mungkin informasi yang diberikan oleh adik sepupu dari majikannya ini sedikit berguna.

​"Begini kak." Afnan melipat tangan di depan dada, memasang ekspresi polos tanpa dosa, seolah ucapannya nanti adalah hal nyata yang menggelikan.

"Kak Dareen ini sangat obsesi sama kebersihan, tapi bukan bersih biasa, dia cuma mau handuk warna pink dengan gambar pinguin! Kalau tidak ada handuk itu, dia tidak mau mandi selama seminggu!"

​Dareen terbatuk keras hingga wajahnya memerah padam, handuk pinguin pink itu adalah hadiah ulang tahun konyol dari mommynya yang ia simpan di paling bawah lemari! Lantas mengapa Afnan bisa tau ada handuk ajaib itu?

Sial, ternyata Afnan cukup lancang mengobrak-abrik isi lemarinya. Ingin memukul Afnan pun rasanya percuma, Dareen tetap ingin menjaga image.

​Afnan kembali berbisik, kini dengan suara yang sedikit lebih keras, "Makanya kak, kalau nanti dia pulang, tolong kakak carikan toko yang jual handuk pinguin pink itu, ya! Kasihan dia, sudah empat hari belum mandi! Dia pura-pura wangi pakai parfum mahal, padahal sudah bau mayat busuk."

​Lerona menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa, lantas ia menatap Dareen, yang terlihat seperti ingin menenggelamkan dirinya ke dalam dasar lautan.

Sedangkan Afnan, wanita itu tersenyum bangga telah membuat Dareen malu, siapa suruh bermain dengan orang lain di belakangnya? Untung saja ia sempat melihat handuk pink pinguin setelah mencari kemeja untuk sang suami pagi tadi.

​"Afnan! Hentikan omong kosong ini!" Desis Dareen, berusaha menarik Afnan menjauh, sungguh ia malu, namun ia tidak tau apa yang harus dilakukan? Memukul? Menyeret? Atau membentak?

Lalu apa yang akan orang pikirkan jika ia melakukan kekerasan di depan khalayak umum seperti ini? Tentu itu akan beribas pada keseimbangan sahamnya.

​Menurunkan bibirnya tanda mengejek, Afnan malah merengek dan memegang erat lengan Lerona bagai anak ayam yang takut kehilangan induknya.

"Lihat kak! Begini nih kalau lagi kumat obsesinya!"

​Afnan lalu menyentuh kemeja Dareen jijik, "Kakak Lerona tahu tidak? Kemeja yang dia pakai ini sudah tiga hari tidak ganti! Dia cuma menyemprotnya dengan parfume!"

Tak sanggup mendengar ejekan Afnan yang terkesan merendahkan harga dirinya sejak tadi, ​Dareen memilih untuk menarik tangan sang wanita dengan kasar, menjauh dari kerumunan untuk memberi pelajaran.

"Lerona maaf, dia ini memang agak sensitif terhadap bau, dan suka mengarang cerita untuk mencari perhatian." Jelas Dareen tersenyum masam, mencekal erat jemari Afnan.

​"Oh tentu, Tuan Dareen," Balas Lerona, tersenyum geli melihat tingkah kedua manusia itu, "Saya mengerti dan tidak akan mempermasalahkannya."

Tanpa aba-aba Dareen langsung menyeret ​Afnan, sontak wanita itu melambai genit ke Lerona, "Dadah, Kakak Lerona! Jangan lupa Handuk bebeknya! Kalau perlu, belikan aku juga!"

Setelah itu, semua senyap, tak bersisa apapun lagi yang dapat Lerona lihat selain banyaknya kerumunan orang asing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!