DURI Di Dalam PERNIKAHAN ternyata bukan hanya PELAKOR saja. Ada banyak DURI-DURI lainnya yang bisa menjadi CUCUK TAJAM dalam PERNIKAHAN. Salah satunya adalah karma orang tua yang melakukan perjanjian gaib yang ternyata harus ditanggung pula oleh anaknya.
Seorang perempuan BIASA bernama LIANA WULANDARI, ketika berusia 32 tahun dan pernikahannya tepat 10 tahun justru harus mengalami PERCERAIAN karena ulah PELAKOR.
Tapi siapa sangka, LIANA yang hanya perempuan BIASA akhirnya justru berubah menjadi LUAR BIASA setelah suaminya resmi menceraikan dirinya.
Perjalanan hidup membawanya pada PERUBAHAN NASIB yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Satu persatu tersingkap misteri yang berada di putaran hidup orang-orang terdekat.
Novel ini novel fiksi pernikahan yang unik. Genrenya beragam selain PELAKOR, CERAI, MENGUBAH NASIB, dan juga ROH SPIRITUAL.
Semoga pembaca Budiman terhibur dan juga bisa mengambil hikmahnya.
Please... LIKE, FAVORIT, KOMENTAR dari para pembaca yang baik hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - KEJADIAN MENAKUTKAN
Janggal sekali rasanya melihat semua keanehan di depan mata.
Aku, benar-benar tak bisa mencernanya dengan akal sehat.
Setelah Genta pergi keluar rumah kontrakan karena ada keperluan, aku juga turut keluar demi mencari informasi lain lagi.
Walau sulit kufahami keadaan yang tiba-tiba ini, akal sehatku masih berfikir betapa bodohnya aku karena terlihat begitu ingin mempertahankan rumah tangga yang telah hancur ini.
Memang. Aku terlihat gila.
Jujur, aku tak terima.
Aku...tak mengerti kesalahan fatalku yang sampai sebegitunya Bang Irsyad serta keluarganya benci.
Bahkan, aku merasa kalau rumah tanggaku baik-baik saja selama ini.
Tak ada keributan besar apalagi mempermasalahkan soal anak yang tak kunjung Tuhan beri.
Dulu, Bang Irsyad sendiri tak pernah seheboh diriku yang seringkali kesal menangis bila datang haid. Aku-lah malah yang selalu menangis mendapati keadaanku karena menstruasi.
Justru Bang Irsyad lebih sering menghiburku. Mengatakan kalau anak memang penting sebagai pengikat. Tetapi dalam rumah tangga, belum adanya anak juga tidak akan jadi masalah besar baginya.
Riska Adiknya sudah memiliki anak satu. Otomatis Ayah Idham dan Bunda Agis sudah memiliki cucu. Memang sedih, memang sudah sangat menginginkan cucu baru dari pihak Bang Irsyad. Tetapi semua balik lagi, adalah kehendak Illahi Robbi. Tuhan-lah Penentu Segalanya. Dan suamiku itu selalu bisa menerangkan dan mampu meredam emosi labilku dikala sedang datang bulan.
............
Aku kembali mendatangi kediaman orangtua Katliya.
Kini suasana rumahnya jauh berbeda dari dua hari yang lalu. Tampak sepi dan sedikit sunyi.
Bahkan tak ada aktifitas terlihat dari luar rumah. Seolah rumah itu sepi tanpa penghuni.
Tok tok tok
Sepi. Tiada respon.
Tok tok tok
"Permisiii... Assalamualaikum!"
Dadaku bergemuruh, seorang perempuan paruh baya mengintip dari balik jendela.
Wanita itu bertubuh kurus dan seperti tak terawat.
"Katliya-nya ada, Bu?" tanyaku dengan gugup. Khawatir juga akan mendapatkan respon yang tidak kuduga.
"Katliya?" tanyanya seperti orang bingung.
"Iya. Katliya!"
"Liya... Ikut suaminya!" Jawabannya membuatku termangu, terkesima.
Ikut suaminya? Ikut Bang Irsyad? Kemana?
"Kemana? Suaminya? Memangnya mereka sudah menikah?" tanyaku lagi.
"Iya. Kemarin mereka melangsungkan ijab kabul atas perintah Eyang Subur. Sekarang sudah pindah ke rumah suaminya!"
"A_apa???"
Tentu saja aku meradang.
Tetapi langsung kutekan perasaan penuh amarah ini melihat wajah polos wanita paruh baya yang tampak linglung.
"Ibu siapanya Katliya?" tanyaku dengan suara ditekan.
"Saya Ibu Kandungnya!"
Ibu kandung? Tetapi kenapa keadaannya tak terawat begini? Ada apa dengan keluarga ini???
"Ibu beneran ibu kandung Katliya?"
"Iya."
"Ibu... Apa Ibu sedang sakit?" tanyaku menyelidik. Berusaha baik.
Dia menggeleng. Tetapi wajahnya terlihat bingung dan tampak linglung.
Ada apa? Apa... Ibunya Katliya kena tekanan jiwa? Maaf... Aku melihatnya seperti kurang se-ons!
Grep
Aku terkejut mendapati sebuah tangan kuat berwarna sawo matang mencekal pangkal lenganku.
Nyaris berteriak karena kaget. Namun segera kuurungkan melihat sesosok wajah pria separuh baya dengan wajah tegang menatapku.
"Kamu siapa?" tanyanya dengan suara berat.
"Saya..., saya temannya Katliya!" jawabku tergagap, setengah ketakutan.
"Katliya sudah tidak ada di rumah ini! Silakan Mbak pergi angkat kaki dari rumah ini!" katanya, semakin membuatku penasaran.
"Kenapa? Ada apa kalian terlihat tegang?" tanyaku walau dengan langkah mundur karena takut juga jika bapak-bapak ini menyerang.
"Kamu siapa? Pasti bukan temannya Katliya!" Bukan jawaban itu yang kumau.
Dan...
Sesosok pria tua yang bisa kukatakan renta, berdiri dengan tubuh ringkihnya.
Tetapi tatapannya mampu menghujam jantungku sampai sakit ke ulu hati. Hingga sesak dada ini dan tanganku tanpa sadar menekan guna meringankan rasa sakitnya.
"Berani juga kau kemari, perempuan gendut!"
Ya Tuhan! Tua-tua keladi! Semakin tua semakin busuk mulut serta hatinya!
Dia tersenyum tipis.
Terlihat sangat santai meskipun pria paruh baya yang tadi mencekal tanganku menuntun langkahnya menuju kursi kayu goyang yang ada dipojokan.
Sudah tua, uzur dan bau tanah. Tapi kenapa gayanya sombong sekali. Siapa aki-aki ini?
Aku menelan saliva. Merasakan denyut urat di kepalaku menguat. Sakit rasanya.
"Kamu sedang mencibirku, Nona Gembrot?" ujarnya masih dengan seringai lebar. Membuatku jijik dan mengeraskan rahang tanpa sadar.
"Pulanglah! Tak perlu banyak tingkah! Kau tahu, aku ini justru sedang menyelamatkanmu!"
Apa katanya? Selamatkan aku? Bukankah dia justru yang menghancurkan rumah tanggaku yang awalnya adem-adem saja? Tetapi dia menjadikan Bang Irsyad budaknya dan Katliya menjadi istri baru dari suamiku.
Ada hubungan apa Katliya dengan aki-aki tua ini?
"Hehehe...! Kalau ada yang mau kau tanyakan, tanyalah! Jangan berfikir yang aneh tentangku juga tentang Katliya!"
Dia bisa membaca fikiranku! Dia... Dia sepertinya aki-aki yang punya ilmu kebatinan!
Sontak wajahku membiru. Dan gatal tiba-tiba menyerang tenggorokan hingga Aku terbatuk-batuk seketika.
"Uhuk, uhuk!!!"
Aku kaget sekali. Tiba-tiba perutku mual dan... terbuar darah segar berhamburan bagai meloncat dari mulut ini.
Ibu Katliya, juga bapak-bapak yang entah siapa menatapku dengan wajah serius.
Darah merah membasahi lantai keramik rumah baru orangtuanya Katliya.
"Hm...!"
Aki-aki tua itu berdehem.
"Salut juga aku padamu. Berani sekali datang lagi ke rumah ini!" katanya dengan suara santai.
"Siapakah kakek? Kakeknya Katliya? Atau... Dukun spiritualnya?"
"Hahaha...! Kukira kamu akan lari terbirit-birit ketakutan setelah serangan diam-diamku menjotos telak isi perutmu! Ternyata, kau perempuan yang punya nyali juga!"
Aku tentu saja gemetar ketakutan.
Tetapi kukerahkan seluruh kekuatan demi untuk membuka tabir yang tidak bisa kucerna akal sehat.
"Aku, tentu saja akan mencari kebenaran sampai akarnya! Apa sebabnya sampai suamiku bersikukuh menikahi Katliya bahkan kini berani menceraikanku atas perintahmu!"
Bruk
Seperti ada angin besar yang menerjang hingga tubuh besarku terpental dan membentur tembok rumah Katliya.
"Lagi? Masih mau bermain-main denganku, nona Gendut?"
Aku terkesima. Wajahku pucat pasi saking takutnya.
Punggung terasa sangat panas dan kakiku seperti kram hingga sulit kugerakkan.
"Kamu... mau kenalan denganku? Atau, kamu mau jadi istri kesembilan belas-ku? Hehehe... Jujur aku tidak suka perempuan bertubuh besar. Tapi, demi variasi bolehlah. Sepertinya akan menarik juga bercinta dengan perempuan gempal seperti dirimu."
Aku tersekat.
Dasar aki-aki gila! Ternyata bangkotan bau tanah ini fikiran mes*mnya mengalahkan pria hidung belang, bajingan dan buaya darat diluaran sana!
Aku terhuyung. Berusaha bangkit lagi dan berdiri merapikan pakaianku yang tampak carut-marut.
"Saya tidak ada urusan apalagi punya masalah dengan Bapak. Jadi, Saya tidak ingin berkata kasar dan menyakitkan hati Bapak. Maaf..., kalau kedatangan Saya membuat Bapak kesal!"
"Hm! Begitu khan lebih baik!" tuturnya membuatku menunduk.
Tetapi sejujurnya hatiku bukanlah tunduk pada ucapannya. Melainkan cari aman karena jika aku tetap bersikukuh melawan dengan kata-kata asal yang keluar dari bibirku sembarangan, tidak mustahil bisa saja aku mati di rumah ini.
"Ibu...! Aku pamit pulang!"
Dengan langkah hati-hati, aku berusaha menghampiri Ibu Kandung Katliya yang terlihat seperti kurang sehat.
"Ibu..., maaf, aku membuat lantai rumahnya jadi kotor! Aku muntah darah!" kataku merasa tak enak hati.
"Tidak apa. Biar nanti Kami yang bereskan!" sela bapak-bapak paruh baya sembari menatapku tajam.
Aku, menghampiri Kakek Tua yang telah terang-terangan mengatakan telah bermain-main denganku. Kucium punggung tangannya.
"Nona Gendut! Ini kartu namaku. Jika kau butuh bantuan, advis, nasehat atau mau pengasihan, hubungi aku. Aku akan membantumu!"
Kartu nama? Wooow keren juga aki-aki ini! Bisa-bisanya praktek perdukunannya sampai punya kartu nama segala.
"Eyang Subur? Jadi Eyang adalah orang pintar yang telah membantu Katliya mencapai keinginannya untuk menikahi suamiku?"
Aki-aki melotot.
"Kau...? Apakah kau lahir hari Rabu Pahing?"
Aku mengeryit. Tak mengerti apa yang dia tanyakan. Dan menggeleng sambil mundur ambil langkah seribu.
Aku benar-benar menggigil ketakutan kini.
Aura aki-aki tua itu memang bukan main. Daripada aku berurusan panjang dengan orang-orang yang punya hubungan klenik dan ilmu gaib, aku lebih memilih pergi angkat kaki segera dari rumah seram itu.
Kejadian menyeramkan ini membuka mata serta hatiku, kalau di dunia ini masih banyak orang yang percaya hal-hal mistis dan berhubungan dengan dunia supranatural.
Aku,... Liana Wulandari. Akhirnya tahu, kalau suamiku seutuhnya telah kena ilmu pelet dan guna-guna pengasihan seorang perawan tua bernama Katliya.
Rupanya usia tua dan belum juga menikah membuat gadis itu akhirnya mengambil langkah segala cara. Salah satunya bersekutu dengan iblis lewat Eyang Subur yang sudah uzur dan sebentar lagi masuk kubur.
BERSAMBUNG