NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri dan selir

"Elina!"

Elina menatap tajam Ares yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, namun raut wajahnya tetap tenang. Ia bahkan masih sempat menutup map di hadapannya dengan gerakan santai.

"Apa apaan, Mas? Masuk tanpa izin seperti ini, seperti bukan di kantor profesional saja," ucap Elina ringan.

"Ada apa?" Ares mendekat dengan wajah memerah. "Kamu yang mengulur pengumuman CEO, lalu kamu tanya ada apa? Kamu sengaja mempermalukan aku di depan dewan direksi!"

Elina menyandarkan punggungnya di kursi, kedua lengannya bersedekap. "Aku hanya minta penjadwalan ulang. Itu hakku sebagai pemegang saham mayoritas."

"Kamu tahu betul pengumuman itu tinggal selangkah lagi. Semua sudah siap, namaku sudah di atas!" bentak Ares tak mampu lagi menahan emosi.

"Tenang, Mas," sahut Elina sambil tersenyum tipis. "Cuma ditunda seminggu, bukan dibatalkan. Kamu kelihatan terlalu panik hanya karena satu perubahan kecil."

"Ini bukan perubahan kecil!" sergah Ares. "Kamu sengaja menghambat karier aku."

Elina menatapnya tanpa gentar. "Karier kamu tergantung pada kinerja, bukan pada jadwal. Kalau kamu memang pantas, kenapa harus takut ditunda?"

Ucapan itu membuat Ares terdiam sesaat.

"Aku hanya ingin memastikan perubahan ini benar-benar aman sebelum diserahkan kepada siapa pun," lanjut Elina datar. "Lagipula, bukankah kamu sendiri selalu bilang transparansi itu penting?"

Ares mengepalkan tangan. "Jangan memutarbalikkan kata-kataku, Elina."

Elina bangkit dari kursinya, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.

"Mas, aku ini bukan lagi Elina yang dulu hanya diam dan menuruti semua keinginanmu," katanya lembut namun menusuk. "Kalau kamu merasa terganggu hanya karena aku menunda satu keputusan, mungkin kamu perlu bertanya pada diri sendiri... apa sebenarnya yang kamu takutkan."

Ares menatap Elina dengan napas memburu, rahangnya mengeras menahan amarah yang semakin membuncah. "Apa maksudmu, hah?" desisnya.

Elina merapikan lengan blazernya dengan tenang. "Aku hanya heran, kenapa Mas terlihat seperti orang yang akan kehilangan segalanya hanya karena pengumuman CEO diundur seminggu."

"Kamu sengaja bermain api, Elina."

"Mungkin," balas Elina ringan. "Tapi api itu hanya membakar orang yang menyimpan rahasia."

Ares tertawa sinis. "Jangan sok tahu. Semua sudah sesuai rencana."

Elina tersenyum tipis, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. "Rencana siapa?"

Hening sesaat menyergap ruangan itu. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar. "Aku ini istrimu," lanjut Elina, suaranya masih lembut. "Harusnya kamu senang kalau aku mau memastikan semuanya berjalan rapi."

"Kamu berubah," ucap Ares lirih namun penuh tekanan.

"Aku hanya akhirnya membuka mata." Elina melangkah menjauh lalu mengambil map merah di mejanya. "Oh ya, Mas. Mulai hari ini, semua akses dokumen strategis perusahaan harus lewat persetujuanku. Termasuk yang berkaitan dengan pemindahan aset."

Ares langsung menoleh tajam. "Kamu tidak punya hak—"

"Aku pemilik mayoritas saham," potong Elina datar. "Justru kamulah yang sekarang harus minta izin."

Wajah Ares menegang, tangannya terkepal di sisi tubuhnya.

Elina menatapnya penuh arti. "Jadi, daripada marah-marah di sini, lebih baik Mas fokus membuktikan kalau kamu memang layak jadi CEO. Siapa tahu... seminggu ini akan jadi waktu yang sangat menentukan."

Ares menatap Elina dengan mata menyala, napasnya memburu. Tanpa berkata apa pun lagi, ia memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan itu begitu saja.

Brak!

Pintu tertutup keras di belakangnya. Beberapa karyawan yang berada di lorong langsung menoleh, terkejut melihat Ares berjalan cepat dengan wajah gelap. Namun Ares sama sekali tidak peduli, rahangnya mengeras menahan emosi yang hampir meledak.

Di dalam ruangan, Elina masih berdiri di tempatnya.

Ia tidak berusaha mengejar, tidak pula memanggil nama suaminya. Dengan gerakan pelan dan anggun, Elina merapikan kembali map-map di atas meja, lalu duduk di kursi kerjanya. Jari-jarinya mengetuk ringan permukaan meja, ritmenya tenang, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.

Elina menatap pintu yang baru saja dibanting itu, kemudian tersenyum tipis.

“Silakan marah, Mas,” gumamnya lirih, penuh keyakinan. “Aku sudah terlalu lama diam. Sekarang giliranku memegang kendali.”

♡♡

Ares melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya masih dipenuhi amarah setelah pertengkarannya dengan Elina di kantor. Klakson mobil-mobil lain yang ia salip sama sekali tidak ia hiraukan.

“Perempuan itu keterlaluan…” geram Ares di balik kemudi. “Dia pikir bisa main-main dengan posisiku.”

Tanpa pulang ke rumah utama, Ares justru membelokkan mobil ke arah kawasan perumahan yang sedang ia cicil untuk Maya.

Begitu sampai di depan rumah itu, ia memarkir mobil dengan kasar.

Baru saja ia turun, pintu rumah langsung terbuka.

“Mas Ares!” seru Maya dengan wajah berseri. Ia berlari kecil menghampiri, matanya berbinar melihat Ares datang di jam kerja. “Mas kok ke sini? Aku kaget banget!”

Ares menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya. Maya meraih tangannya dan menariknya masuk ke dalam rumah.

“Mas kelihatan capek banget,” ucap Maya lembut. “Ada masalah di kantor lagi ya?”

Ares menjatuhkan tubuhnya ke sofa, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. “Masalah? Lebih dari itu, May. Elina sudah mulai berani ngatur-ngatur seenaknya.”

Maya duduk di sampingnya, menyentuh lengan Ares penuh perhatian. “Dia ngapain lagi, Mas?”

“Dia undur pengumuman CEO. Padahal tinggal selangkah lagi aku resmi duduk di kursi itu,” jawab Ares dengan nada kesal. “Tanpa bilang apa pun ke aku.”

Maya menautkan alis. “Kok bisa begitu sih? Berani banget dia ke Mas.”

Ares tertawa pendek, hambar. "Makanya Mas ke sini. Di sini Mas bisa sedikit tenang."

Maya tersenyum tipis, lalu meraih tangan Ares dengan lembut. "Mas harus cepat hubungi orang-orang yang Mas suruh. Suruh mereka segera cepat mengalihkan semua aset itu, secepatnya pindah di tangan Mas."

Ares menatap Maya sesaat, rahangnya mengeras. Kekesalan yang sejak tadi menyesakkan dadanya perlahan berubah menjadi ambisi yang membara.

"Iya," gumamnya sambil meraih ponsel dari saku celana. "Aku gak mau tunggu lebih lama lagi. Semakin lama Elina pegang kendali, semakin besar juga risikonya."

Ia langsung menekan salah satu dari mereka.

Maya duduk di sebelahnya, memperhatikan wajah Ares yang tegang. Tangannya mengelus lengan pria itu seolah memberi dorongan.

"Tenang, Mas. Aku di sini. Kita bentar lagi bebas dari semua tekanan dari Elina," bisiknya pelan.

"Bagaimana, Mas?" tanya Maya.

"Bayu dan Dirga lagi meeting, mereka tidak mengangkat telepon Mas," jawab Ares dengan napas kasar, jelas terlihat frustrasi.

"Mas sabar dulu, mungkin setelah meeting mereka akan menelpon Mas," ucap Maya dengan nada menenangkan.

Ares hanya mengangguk lalu memeluk Maya erat. "Bagaimana keadaan kamu dan anak kita?" tanyanya sambil mengelus perut Maya yang masih rata.

"Keadaan aku baik, Mas, tapi..." ucap Maya ragu.

Ares melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah Maya. "Tapi apa, sayang? Katakan saja."

"Aku ngidam, Mas," ucap Maya pelan.

"Ngidam? Kamu ngidam apa, sayang? Katakan saja, Mas akan penuhi," ucap Ares antusias, berusaha menutupi kegelisahannya.

"Tapi Mas, ngidam aku berbeda dengan wanita hamil lainnya..." ujar Maya ragu sambil menunduk.

"Hai, sayang, lihat Mas," ucap Ares sambil mengangkat dagu Maya agar menatapnya.

"Katakan saja kamu ngidam apa. Mas akan menuruti. Calon semua kamu ini sebentar lagi akan menjadi pemilik perusahaan Anderson Internasional Group, katakan saja apa yang kamu inginkan."

Dengan ragu, Maya berkata, “Aku ingin berlian, Mas. Persis seperti punya Elina.”

Ares menelan ludahnya sendiri. Ia tahu betul harga berlian Elina, fantastis, bahkan bisa membeli sebuah rumah.

“Ini keinginan anak kamu, Mas,” sambung Maya lirih.

Ares menghela napas kasar. “Akan Mas usahakan, sayang.”

“Mas serius?” ucap Maya dengan mata berbinar.

Ares hanya mengangguk pelan. Maya langsung memeluknya erat. “Makasih, Mas. Kamu selalu mengusahakan apa yang aku mau.”

Ares terdiam. Di kepalanya, ia mulai memutar cara mendapatkan berlian dan seluruh perhiasan Elina yang selama ini disembunyikan istrinya itu.

1
Ma Em
Ares pasti akan ngamuk karena sdh dibohongi sama Elina , karena kedudukan CEO yg Ares inginkan ternyata zonk .
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!