NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:261.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri dan selir

"Elina!"

Elina menatap tajam Ares yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, namun raut wajahnya tetap tenang. Ia bahkan masih sempat menutup map di hadapannya dengan gerakan santai.

"Apa apaan, Mas? Masuk tanpa izin seperti ini, seperti bukan di kantor profesional saja," ucap Elina ringan.

"Ada apa?" Ares mendekat dengan wajah memerah. "Kamu yang mengulur pengumuman CEO, lalu kamu tanya ada apa? Kamu sengaja mempermalukan aku di depan dewan direksi!"

Elina menyandarkan punggungnya di kursi, kedua lengannya bersedekap. "Aku hanya minta penjadwalan ulang. Itu hakku sebagai pemegang saham mayoritas."

"Kamu tahu betul pengumuman itu tinggal selangkah lagi. Semua sudah siap, namaku sudah di atas!" bentak Ares tak mampu lagi menahan emosi.

"Tenang, Mas," sahut Elina sambil tersenyum tipis. "Cuma ditunda seminggu, bukan dibatalkan. Kamu kelihatan terlalu panik hanya karena satu perubahan kecil."

"Ini bukan perubahan kecil!" sergah Ares. "Kamu sengaja menghambat karier aku."

Elina menatapnya tanpa gentar. "Karier kamu tergantung pada kinerja, bukan pada jadwal. Kalau kamu memang pantas, kenapa harus takut ditunda?"

Ucapan itu membuat Ares terdiam sesaat.

"Aku hanya ingin memastikan perubahan ini benar-benar aman sebelum diserahkan kepada siapa pun," lanjut Elina datar. "Lagipula, bukankah kamu sendiri selalu bilang transparansi itu penting?"

Ares mengepalkan tangan. "Jangan memutarbalikkan kata-kataku, Elina."

Elina bangkit dari kursinya, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.

"Mas, aku ini bukan lagi Elina yang dulu hanya diam dan menuruti semua keinginanmu," katanya lembut namun menusuk. "Kalau kamu merasa terganggu hanya karena aku menunda satu keputusan, mungkin kamu perlu bertanya pada diri sendiri... apa sebenarnya yang kamu takutkan."

Ares menatap Elina dengan napas memburu, rahangnya mengeras menahan amarah yang semakin membuncah. "Apa maksudmu, hah?" desisnya.

Elina merapikan lengan blazernya dengan tenang. "Aku hanya heran, kenapa Mas terlihat seperti orang yang akan kehilangan segalanya hanya karena pengumuman CEO diundur seminggu."

"Kamu sengaja bermain api, Elina."

"Mungkin," balas Elina ringan. "Tapi api itu hanya membakar orang yang menyimpan rahasia."

Ares tertawa sinis. "Jangan sok tahu. Semua sudah sesuai rencana."

Elina tersenyum tipis, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. "Rencana siapa?"

Hening sesaat menyergap ruangan itu. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar. "Aku ini istrimu," lanjut Elina, suaranya masih lembut. "Harusnya kamu senang kalau aku mau memastikan semuanya berjalan rapi."

"Kamu berubah," ucap Ares lirih namun penuh tekanan.

"Aku hanya akhirnya membuka mata." Elina melangkah menjauh lalu mengambil map merah di mejanya. "Oh ya, Mas. Mulai hari ini, semua akses dokumen strategis perusahaan harus lewat persetujuanku. Termasuk yang berkaitan dengan pemindahan aset."

Ares langsung menoleh tajam. "Kamu tidak punya hak—"

"Aku pemilik mayoritas saham," potong Elina datar. "Justru kamulah yang sekarang harus minta izin."

Wajah Ares menegang, tangannya terkepal di sisi tubuhnya.

Elina menatapnya penuh arti. "Jadi, daripada marah-marah di sini, lebih baik Mas fokus membuktikan kalau kamu memang layak jadi CEO. Siapa tahu... seminggu ini akan jadi waktu yang sangat menentukan."

Ares menatap Elina dengan mata menyala, napasnya memburu. Tanpa berkata apa pun lagi, ia memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan itu begitu saja.

Brak!

Pintu tertutup keras di belakangnya. Beberapa karyawan yang berada di lorong langsung menoleh, terkejut melihat Ares berjalan cepat dengan wajah gelap. Namun Ares sama sekali tidak peduli, rahangnya mengeras menahan emosi yang hampir meledak.

Di dalam ruangan, Elina masih berdiri di tempatnya.

Ia tidak berusaha mengejar, tidak pula memanggil nama suaminya. Dengan gerakan pelan dan anggun, Elina merapikan kembali map-map di atas meja, lalu duduk di kursi kerjanya. Jari-jarinya mengetuk ringan permukaan meja, ritmenya tenang, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.

Elina menatap pintu yang baru saja dibanting itu, kemudian tersenyum tipis.

“Silakan marah, Mas,” gumamnya lirih, penuh keyakinan. “Aku sudah terlalu lama diam. Sekarang giliranku memegang kendali.”

♡♡

Ares melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya masih dipenuhi amarah setelah pertengkarannya dengan Elina di kantor. Klakson mobil-mobil lain yang ia salip sama sekali tidak ia hiraukan.

“Perempuan itu keterlaluan…” geram Ares di balik kemudi. “Dia pikir bisa main-main dengan posisiku.”

Tanpa pulang ke rumah utama, Ares justru membelokkan mobil ke arah kawasan perumahan yang sedang ia cicil untuk Maya.

Begitu sampai di depan rumah itu, ia memarkir mobil dengan kasar.

Baru saja ia turun, pintu rumah langsung terbuka.

“Mas Ares!” seru Maya dengan wajah berseri. Ia berlari kecil menghampiri, matanya berbinar melihat Ares datang di jam kerja. “Mas kok ke sini? Aku kaget banget!”

Ares menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya. Maya meraih tangannya dan menariknya masuk ke dalam rumah.

“Mas kelihatan capek banget,” ucap Maya lembut. “Ada masalah di kantor lagi ya?”

Ares menjatuhkan tubuhnya ke sofa, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. “Masalah? Lebih dari itu, May. Elina sudah mulai berani ngatur-ngatur seenaknya.”

Maya duduk di sampingnya, menyentuh lengan Ares penuh perhatian. “Dia ngapain lagi, Mas?”

“Dia undur pengumuman CEO. Padahal tinggal selangkah lagi aku resmi duduk di kursi itu,” jawab Ares dengan nada kesal. “Tanpa bilang apa pun ke aku.”

Maya menautkan alis. “Kok bisa begitu sih? Berani banget dia ke Mas.”

Ares tertawa pendek, hambar. "Makanya Mas ke sini. Di sini Mas bisa sedikit tenang."

Maya tersenyum tipis, lalu meraih tangan Ares dengan lembut. "Mas harus cepat hubungi orang-orang yang Mas suruh. Suruh mereka segera cepat mengalihkan semua aset itu, secepatnya pindah di tangan Mas."

Ares menatap Maya sesaat, rahangnya mengeras. Kekesalan yang sejak tadi menyesakkan dadanya perlahan berubah menjadi ambisi yang membara.

"Iya," gumamnya sambil meraih ponsel dari saku celana. "Aku gak mau tunggu lebih lama lagi. Semakin lama Elina pegang kendali, semakin besar juga risikonya."

Ia langsung menekan salah satu dari mereka.

Maya duduk di sebelahnya, memperhatikan wajah Ares yang tegang. Tangannya mengelus lengan pria itu seolah memberi dorongan.

"Tenang, Mas. Aku di sini. Kita bentar lagi bebas dari semua tekanan dari Elina," bisiknya pelan.

"Bagaimana, Mas?" tanya Maya.

"Bayu dan Dirga lagi meeting, mereka tidak mengangkat telepon Mas," jawab Ares dengan napas kasar, jelas terlihat frustrasi.

"Mas sabar dulu, mungkin setelah meeting mereka akan menelpon Mas," ucap Maya dengan nada menenangkan.

Ares hanya mengangguk lalu memeluk Maya erat. "Bagaimana keadaan kamu dan anak kita?" tanyanya sambil mengelus perut Maya yang masih rata.

"Keadaan aku baik, Mas, tapi..." ucap Maya ragu.

Ares melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah Maya. "Tapi apa, sayang? Katakan saja."

"Aku ngidam, Mas," ucap Maya pelan.

"Ngidam? Kamu ngidam apa, sayang? Katakan saja, Mas akan penuhi," ucap Ares antusias, berusaha menutupi kegelisahannya.

"Tapi Mas, ngidam aku berbeda dengan wanita hamil lainnya..." ujar Maya ragu sambil menunduk.

"Hai, sayang, lihat Mas," ucap Ares sambil mengangkat dagu Maya agar menatapnya.

"Katakan saja kamu ngidam apa. Mas akan menuruti. Calon semua kamu ini sebentar lagi akan menjadi pemilik perusahaan Anderson Internasional Group, katakan saja apa yang kamu inginkan."

Dengan ragu, Maya berkata, “Aku ingin berlian, Mas. Persis seperti punya Elina.”

Ares menelan ludahnya sendiri. Ia tahu betul harga berlian Elina, fantastis, bahkan bisa membeli sebuah rumah.

“Ini keinginan anak kamu, Mas,” sambung Maya lirih.

Ares menghela napas kasar. “Akan Mas usahakan, sayang.”

“Mas serius?” ucap Maya dengan mata berbinar.

Ares hanya mengangguk pelan. Maya langsung memeluknya erat. “Makasih, Mas. Kamu selalu mengusahakan apa yang aku mau.”

Ares terdiam. Di kepalanya, ia mulai memutar cara mendapatkan berlian dan seluruh perhiasan Elina yang selama ini disembunyikan istrinya itu.

1
Gintania nia
cukup bagus
THAILAND GAERI
kok tokoh perempuannya kek lucinta luna 🤣🤣🤣🤣
Sarminem Mimi
gitu Thor aga gambar nya 👍. biar bisa ngebayangin cantik nya Elina☺️☺️😍
Nona Jmn: Terima kasih🤭
total 1 replies
Sarminem Mimi
gitu Thor ada gambar nya👍
Ophelia Roosevelt
ga punya kaca apa gimana neng..
Raisha Mieyka
𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘬𝘬𝘬𝘬
Lies Atikah
mang enak ternyata bukan anak loh
Lies Atikah
si jala nk maya aman 2 saja masih tetatp bahagia ada yang ngelindungi lagi kebohongan mu hamil anak si ares aman menang banyak kamu maya
Lies Atikah
kebayang perasaan si Ares pastahu kalau anak yang di kandung si jala nk Maya adalah anak dari lelaki lain cian deh loh
Lies Atikah
semoga berjodoh yah oma
Lies Atikah
kayanya yang mandul teriak mandul 😄😄😄😄 semoga begitu
Lies Atikah
semoga yang di kandung bukan anak s Ares biar si ares jatuh dlm penyesalan yang patal
Lies Atikah
kirain lengah suka thor yang satset ginni sedikit lebih kejam bolehlah biarkan hancur merangkak dan punah.. puas👍
Lies Atikah
skalian putarkan juga perselingkuhan dan kebusukan si Arres dan si maya biar orang2 tahu
Lies Atikah
kelamaan makin lengket dan bahagia aja Si ares sama si amel bebas melakukan niu niu nya di man saja termasuk di kamar pribadi menang banyak Amel😄
Lies Atikah
nah gitu donk thor adakan saingan cowok janga menyedih kan kesan jadi lebih cantik si maya laku sampai si Ares kelepek2 jadi kasihan lina gakada pengagum yang bikin si ares cemburu
Lies Atikah
jangan lemah Lin jangan karna bucin sama si Ares berengsek kamu jadi bodoh sadar diri kamu sudah di campakan gitu harga dirimu mana ngenes banget
Lies Atikah
jangan ragu 2 untuk bertindak bener2 harus di hancur kan
Hasanah
🤣🤣 keluarga gila iri kok sama harta dan hidup orang lain mereka berada di titik itu kan Krena kerja keras lah Klian klau mau Kya gitu ya kerja jngan jdi benalu aj krjax
Hasanah
Klian ngak bersyukur udah di ksih berlian ee milih batu got 🤣🤣 ya udah nikmati aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!