NovelToon NovelToon
Dipaksa Jadi Yang Kedua

Dipaksa Jadi Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: heni

Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.

Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.

Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Apakah Aku Pembawa Sial?

Miko berhasil mendapat nomor telepon pelayanan Rumah Sakit terdekat. Miko meminta Ambulan untuk menjemput kondisi Abi yang terlihat kritis disetujui, namun paling cepat mereka akan sampai 15 menit karena jarak yang lumayan jauh.

"Pak Abi, bertahan Pak! 15 menit lagi ambulan akan datang," ucap Miko.

Zella kalut, dia berusaha mencari sesuatu yang bisa membantu Abi. Melihat tempat duduk Abi yang memiliki Roda, seketika sebuah ide muncul. "Kalau bisa bawa Abi ke rumah apakah keadaanya bisa lebih membaik?" tanya Zella pada Miko.

"Sepertinya membaik, Pak Abi seperti ini karena kepanasan. Jika di rumah ada pendingin udara yang membuat Pak Abi lebih baik."

"Kamu bantu turunkan kursi roda ini" pinta Zella.

"Sulit, sistem penggeraknya tak bisa digunakan karena mesin mobilnya mati."

Zella merasa idenya sia-sia, karena roda kursi itu terkunci di sistem mobil. Namun melihat sebuah gerobak pengangkut hasil panen, ide itu menyala lagi. Zella keluar dari mobil dan berlari keluar. Dia berusaha menarik gerobak itu hingga sampai di sisi mobil Abi.

"Miko! Bantu pindahkan Pak Abi ke sini!"

Melihat apa yang Zella bawa, membuat Miko tak yakin untuk mematuhi permintaan Zella.

"Jangan diem aja! Nyawa Abi dalam bahaya! Jangan banyak mikir! Jangan lihat gerobak ini! Cepat miko!" Teriakan Zella melengking di tengah kesunyian malam, walau bernada tinggi, tapi suara itu terdengar sangat putus asa.

"Maafin saya, karena membuat Pak Abi berbaring di gerobak." Miko berusaha mengangkat Abi yang sudah tak sadarkan diri. Dengan sisa tenaga yang ada, Miko berhasil memindahkan Abi ke atas gerobak. Merebahkannya di sana.

Miko mengambil jas Abi, dan menjadikannya bantal, agar kepala Abi aman saat ada benturan.

"Tunggu apa lagi, bantu saya dorong sampai rumah! Di dorong berdua lebih cepat!" teriak Zella. Air matanya terus menetes melihat kondisi Abi seperti itu, baginya satu detik waktu yang berjalan sangat berharga.

Miko mengambil tas Zella, dan menaruhnya du sisi Abi, lalu meraih handphonenya memasukannya ke saku, dengan sekuat tenaga dia dan Zella mendorong gerobak itu menuju kediaman Zella. Di tengah gelapnya malam, putaran roda gerobak itu menciptakan suara decit yang memecah ketegangan.

"Abi, kamu harus kuat! Agar bisa meluapkan emosimu karena kami membuatmu tergeletak di gerobak ini!" ucap Zella, napasnya tersengal karena terus belari untuk mendorong gerobak agar lebih cepat sampai.

Abi yang setengah sadar memaksa membuka kedua matanya, namun berat, dia hanya bisa membuka matanya sebentar, lalu terpejam kembali, matanya sempat melihat Zella, dia ingin tertawa menyadari dirinya terbaring di gerobak pengangkut sayur. Namun mengingat kepanikan dan kesedihan di wajah Zella yang dia tangkap sebelumnya, Abi sangat terharu.

Usaha dan kerja keras Zella demi menyelamatkannya, sangat luar biasa bagi Abi. Abi berusaha lagi membuka kedua matanya, tapi tak bisa, rasanya dan beban berat yang berada di kelopak matanya. Dia hanya bisa

"Zella ...." Nama itu hanya bisa Abi sebut dalam hati, sangat ingin memeluknya karena mengkhawatirkannya sepanik itu. Namun lagi-lagi hanya sebatas keinginan, sekujur tubuhnya tak bisa dia kuasai. Semua anggota tubuhnya lemah, bahkan untuk tetap tersadar saja berat.

Air mata dan keringat seakan bercampur. Entah berapa lama waktu yang mereka tempuh, berlari mendorong gerobak ini, akhirnya napas mereka bisa lebih lega karena di depan mata mereka adalah kediaman Zella.

"Aku sangat menyesal memberi libur pada semua anak buahku, andai mereka di sini, ada orang yang mudah ku panggil," keluh Miko.

"Sudah, jangan berandai-andai lagi, namanya musibah siapa yang mau. Ayo kita pindahkan Abi kedalam."

Miko langsung menggendong Tuannya masuk ke dalam rumah. Perlahan Abi dia baringkan di atas sofa. Dia langsung mencari obat Abi, dengan tenang Miko menyuntikan cairan obat penolong Abi. Sedang Zella langsung menyalakan pendingin ruangan.

"Ambulan yang kamu telepon tadi kabari, karena titik penjemputannya berubah," saran Zella.

"Ini saya kabari." Miko fokus dengan handphonenya.

Obat yang sudah masuk, dan ruangan yang dingin, membuat Abi perlahan tersadar.

"Aku sudah pindah alam?" tanya Abi bernada lemah.

"Jangan pindah alam, masa tega ninggalin aku yang baru saja sah menjadi istrimu." Zella terisak di samping Abi.

"Kalau aku mati bukankah bagus untukmu? Kamu tak harus menjadi istri pria lemah dan penyakitan sepertiku."

Zella meraih tangan Abi dan menggenggamnya. "Aku berharap kamu sehat, bahagia dan panjang umur. Jangan berpikir kematian, bagaimana aku berusaha membahagiakanmu jika kamu tidak ada di dunia ini?"

"Kamu dipaksa menikahiku, lantas tetap ingin membahagiakan aku?"

"Untuk jalan menjadi istrimu memang dipaksa, tapi untuk menerima takdir sebagai istrimu, aku ikhlas. Kamu suamiku, dan membahagiakanmu itu salah satu tujuanku." Zella mencium tangan pria yang tampak lemah itu.

"Aku tunggu janjimu." Perlahan mata Abi terpejam kembali.

"Abi! Abi! Bertahanlah Abi!" teriak Zella.

Saat yang sama, suara sirene ambulan terdengar. Mendengar suara itu, Zella merasa lebih lega, akhirnya armada penyelamat Abi sudah tiba. Tak buang waktu Abi langsung diangkat menuju ambulan.

"Anda dulu yang temani Pak Abi, saya akan menyusul kalian secepatnya," ucap Miko.

Zella mengangguk, dia langsung masuk kedalam Ambulan. Ambulan melaju cepat da suara sirine pun kembali mengaung memecah kesunyian malam.

Sejak Abi masuk ke ambulan, tangan Zella selalu memegang erat tangan Abi. Laki-laki itu masih setengah sadar, tatap mata yang begitu lemah selalu tertuju pada Zella. Zella merasa sangat kacau, air matanya tak bisa berhenti mengalir melihat keadaan Abi yang begitu menyedihkan. Di bagian belakang ambulan ada seorang dokter dan perawat yang terus memantau keadaan Abi.

Suara sirine yang mengaung membuat pengguna jalan lain menepi memberi jalur buat ambulan melaju cepat membelah jalanan kota. Ambulan berhenti di depan UGD, tim medis dengan sigap membawa Abi menuju ruang penanganan. Zella menatap tak berdaya kearah brangkar yang membawa Abi semakin jauh dari pandangannya, hingga menghilang di balik pintu.

Detik demi detik berlalu, Zella tak tahu harus bagaimana. Rasanya dia berpijak di papan yang lapuk. Rasa takut, khawatir, dan perasaan lain bercampur aduk jadi satu. 20 menit berlalu, tapi bagi Zella ini sudah sangat lama.

"Zella!"

Suara itu bagai angin penyejuk bagi hati Zella. Zella langsung menoleh ke arah sumber suara. Melihat sosok yang memanggilnya Zella merasa lebih kuat, dia berlari menghampiri sosok yang memanggilnya.

"Mama, apakah aku pembawa sial buat suamiku? Baru saja kami menikah keadaannya seketika memburuk!"

"Musibah nggak ada yang tahu. Jangan salahin diri sendiri, ini ujian. Kamu harus kuat." Indri berusaha menguatkan putrinya.

Zella menumpahkan kesedihannya dalam pelukan ibunya. Tangis pilunya sangat mengiris hati, membuat siapa saja yang melihatnya ikut menangis.

"Maafin mama, handphone mama masih mode senyap. Mama nggak tahu kamu berulang kali menghubungi kami semua. Saat akad berlangsung, kami semua kompak mematikan bunyi handphone, agar tak terganggu oleh panggilan atau pesan yang masuk."

Zella terus terisak, dia hanya bisa menumpahkan air matanya.

"Maafin kami Zella. Tadi saat kami hampir sampai rumah, kami terkejut melihat mobil Abi terparkir di tepi jalan. Saat kami sampai rumah baru kami tahu apa yang terjadi setelah Miko menjelaskan semuanya."

"Sudah Pak, biarkan Zella menumpahkan semua air matanya, semoga setelah ini dia bisa lebih kuat," ucap Taufik.

"Bagaimana? Apakah dokter yang memeriksa Pak Abi sudah keluar?" tanya Miko.

"Sepertinya belum," sahut Indri.

Melihat Zella begitu terpukul, Miko sangat terharu. Dia merasa kepercayaan dan keyakinan Abi pada Zella memang layak. "Nyonya Zella jangan merasa bersalah atas keadaan Pak Abi. Keadaan Pak Abi memang begitu lemah, jauh sebelum Anda masuk dalam kehidupan Pak Abi, kejadian ini rawan terjadi jika ada keteledoran saya dan Pak Abi."

Menunggu kabar tentang keadaan Abi, rasanya waktu berjalan begitu lama. Di deretan kursi besi yang ada di ruang tunggu, di sana Zella duduk bersandar pada ibunya.

"Keluarga pasien atas nama Rakha Abimayu!" panggil seorang perawat yang keluar dari sebuah ruangan.

"Saya istrinya!" Zella langsung berlari menghampiri perawat itu.

"Dokter ingin bertemu, dan dokter meminta kalian membawa obat-obatan yang biasa dikonsumsi oleh pasien."

Zella menoleh kearah Miko. "Kamu ikut sama saya untuk menjelaskan obat-obatan Abi!"

"Baik, Nyonya."

Miko dan Zella langsung mengikuti perawat memasuki ruangan dokter yang menangani Abi.

Indri menatap sedih kearah Zella yang sudah menghilang di balik pintu. "Putriku wanita baik-baik, kenapa ujiannya seperti ini, dia tak ingin menikah tapi dipaksa menikah, setelah dia menikah mengapa harus dengan laki-laki sakit dan tak berdaya seperti Abi?" Indri menjerit pilu.

"Zella dipaksa menikah?" gumam Taufik pelan.

"Diam kau! Jangan ikut campur dengan kehidupan pribadi Zella!" tegur Saman pelan. Dia tak ingin Indri merasa lebih tertekan lagi.

"Ibu jangan ikut sedih, kalau ibu tak bisa tegar pada siapa Zella bersandar?" ucap Saman.

"Malam pengantin yang hangat dan indah, jangankan menikmati indahnya selayaknya pengantin baru, mapi malam pengantin putriku malah harus dihabiskan di Rumah Sakit yang penuh kesedihan--" Indri tak bisa lagi berpura-pura tegar.

Saman menarik Indri dalam pelukannya, berusaha menenangkan istrinya. "Menangis lah bu. Tapi sebelum Zella keluar dari ruangan dokter, ibu harus kembali kuat dan tegar!"

"Kasian sekali anakku pak ...."

1
Yusna Wati
aku gk suka abi perhatian sama anjani pdhal anjani udh menghianati pernikahan apa gk jijik si abi deket2 anjani
Ma Em
Semangat Thor semoga menjadi yg terbaik dan selalu mendapatkan rating 🤲🤲🤲.
ᗰIՏՏ ᘜᗩᑭTᗴK ᵖⁱⁿⁿ: Aamiin, makasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!