NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:225
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian Di Villa

“Cukup, Kakak!” ucap Hanin lirih. Suaranya memohon.

Laki-laki itu menghentikan pergerakannya begitu mendengar Hanin mulai menangis dan memanggilnya kakak.

”Aku tahu itu kakak,” ucap Hanin di antar kedua matanya yang tertutup dan basah oleh air mata.

“Bagaimana kamu mengira kalau aku kakakmu?” laki-laki itu bertanya. Masih menekan kedua tangan Hanin dan menatapnya.

“18 tahun bersama. Hani bahkan tahu harum parfum dan aroma tubuh kakak, dan ciuman waktu itu meskipun hanya sekali Hani tak pernah lupa,” ungkapnya.

Laki-laki itu menghembus nafas berat. Menundukkan pandangannya sesaat, lalu kembali menatap wajah di hadapannya dengan perasaan bersalah. Mengusap wajah itu pelan.

Sadar apa yang dilakukannya salah, dia segera beranjak dari tubuh Hanin lalu merapikan kembali pakaian gadis itu.

Perlahan dia melepaskan kain yang menutup mata Hanin, juga melepaskan ikatan di kedua tangannya. Kini Hanin benar-benar bisa melihat sosok laki-laki yang hampir menggagahi dirinya.

“Plak!!”

Satu tamparan mendarat di wajah kiri laki-laki itu. Satya tak melawan, hanya mendesis pelan. Tamparan itu lumayan keras. Dia hanya tak mengira Hanin yang selalu lembut itu akhirnya berani juga menampar dirinya. Satya sadar dirinya sudah sangat salah dan pantas mendapatkan tamparan itu.

“Untuk apa tamparan ini, bukankah selama ini kau suka dengan kakak?” Satya bertanya dengan begitu percaya diri.

“Tapi kakak tidak pernah menyukaiku? Kenapa kakak melakukan ini pada Hani?” Hanin masih dengan suara gemetar dan menangis.

“Kakak tidak tahu, yang kakak rasakan hanya marah saat mendengar kamu mau bertunangan dengan Awan.”

“Kakak sangat egois, mulai sekarang Hani tidak mau menganggapmu kakak lagi.” Hanin buru-buru beranjak, siap meninggalkan tempat itu.

“Kakak tahu kakak salah, kakak tidak akan melarangmu jika kau sudah memutuskan memilih Awan, tapi kakak hanya ingin tahu satu hal.” Ucapan Satya menghentikan langkah Hanin. Dia menoleh, Satya sudah berdiri di hadapannya.

“Apa?” tanya Hanin dengan tatapan nanar. Kedua mata masih memerah dan bulu matanya basah.

“Apa kau sudah tidak menyukai kakak? Kau sudah menyerah untuk menikah dengan kakak?” pertanyaan itu jelas saja membuat Hanin ingin tertawa dan menangis bersamaan. Satya sudah menolak bagaimana bisa bertanya seperti itu.

“Untuk apa Hani menjawabnya, apa masih ada gunanya?” jawaban Hanin masih disertai emosi, kemudian berlalu.

“Kakak tidak akan bertanya lagi setelah malam ini kau bertunangan dengan Awan.”

Mendengar pernyataan itu Hanin kembali bimbang. Hatinya serasa sangat sakit ketika Satya justru merelakan dirinya bertunangan dengan Awan, dan kini menanyakan perasaannya kembali.

Melihat sikap Hanin yang ragu-ragu, Satya merasa telah mendapatkan jawabannya.

“Kakak akan mengantarmu ke hotel,” ucapnya dingin saat berjalan melalui Hanin.

Sekian detik Hanin dibuat termangu, dia sungguh tak mengerti dengan sikap Satya hari itu. Satya sudah menculiknya dan hampir menodainya, dan sebelum pertanyaan itu dijawab Satya pergi begitu saja dengan terburu-buru.

••

Begitu melihat dua orang itu keluar dari vila, sopir yang masih menyembunyikan dirinya dibalik masker dan topi itu menghampiri Satya.

“Kita pergi ke hotel Angkasa!” kata Satya pada sopir. Sopir mengangguk lalu masuk ke dalam mobil tanpa banyak bertanya.

Dalam sekejap mobil sudah meninggalkan vila meluncur di jalan raya dengan kecepatan sedang menuju hotel Angkasa.

Dari balik kaca spion, sopir sesekali mencuri memperhatikan dua orang yang duduk di belakang saling diam. Mata Hanin agak merah dan rambut sedikit berantakan. Entah apa yang sudah terjadi dengan mereka berdua. Keduanya bahkan terlihat seperti orang asing tidak saling kenal. Sepasang mata sopir menyipit terpikirkan sesuatu rencana.

Detik berikutnya, mendadak mobil membelok dengan tajam dan tiba-tiba membuat tubuh Hanin menimpa Satya. Keduanya saling berpegangan, bertemu pandang dengan wajah tegang dan perasaan gugup.

Belum sempat mereka kembali pada posisi semula, mobil berhenti mendadak. Posisi yang berjarak hanya satu jengkal itu kembali membuat mereka berbenturan, bibir saling bersentuhan.

Hanin dengan cepat menyingkir dari tubuh Satya menjauhinya. Pipinya merah merona, dia bahkan tak berani memandang ke arah Satya karena kejadian itu.

“Sekali lagi kau menyetir seperti itu aku pastikan memecatmu!” Satya mengingatkan sopir dengan tegas.

“Maaf, tak sengaja,” jawab sopir tak serius. Dia justru tersenyum senang melihat apa yang terjadi barusan dengan Hanin dan Satya.

Satya sebenarnya tahu sopir itu sengaja melakukannya, tapi malas mendebatnya di depan Hanin.

Dalam waktu singkat, mereka telah tiba di depan hotel Angkasa. Mobil berhenti sejenak untuk menurunkan Hanin di halaman depan pintu masuk. Saat Hanin bersiap mendorong pintu, Satya mencekal lengannya.

“Kau yakin tidak ingin menjawab pertanyaanku?” tanya Satya mengingatkan pertanyaannya yang belum terjawab.

Hanin menjatuhkan pandangannya pada sepasang mata laki-laki di hadapannya. Sepasang mata yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar. Sepasang mata yang telah membuatnya mengenal cinta.

Hanin menggeleng pelan. Jawaban itu tampaknya membuat Satya kecewa. Dia melepaskan tangannya dari lengan Hanin seolah ingin membiarkan Hanin pergi.

Hanin kembali dibuat ragu. Dia menatap pada laki-laki di sampingnya yang membuang pandangannya keluar jendela. Hatinya sangat sakit.

Suara klakson mobil di belakang mereka membuat berisik. Satya menyadari keadaan itu lalu menoleh pada Hanin mengapa masih tak keluar juga. Saat itu wajah Hanin sudah dekat di hadapannya, dan bibir gadis itu menciumnya.

Satya tercengang, sekian detik, ciuman singkat itu membuat kepalanya tak bisa berpikir untuk beberapa waktu. Saat Hanin melepasnya gadis itu langsung pergi.

Satya termenung, bibirnya masih sedikit terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi menyadari itu dia sudah terlambat. Sopir sudah membawa mobil meninggalkan tempat itu lantaran mobil di belakangnya begitu tidak sabar.

Ketika mobil meninggalkan tempat itu, Hanin memutar tubuhnya memandang perginya mobil itu dengan raut wajah sedih, lalu berjalan dengan cepat masuk hotel.

Seseorang di sudut halaman semenjak tadi melihat apa yang terjadi. Awan melihat siapa laki-laki di dalam mobil yang telah menculik Hanin, yang tidak lain adalah Satya. Tangan Awan mengepal, dengan langkah cepat dia menyusul kepergian Hanin.

••

Begitu mobil meninggalkan halaman hotel, sopir langsung membuka masker dan melepas topinya, memperlihatkan dengan jelas bahwa sebenarnya dia adalah Rio.

“Jadi bagaimana? Kita akan langsung kembali ke bandara?” tanya Rio pada Satya.

“Ya, ke mana lagi,” sahut Satya datar. Raut wajahnya kembali dingin.

Rio tahu sebenarnya Satya menyukai Hanin, tapi sepertinya sahabatnya itu masih tidak mau mengakuinya juga. Terlalu besar gengsinya. Kalau tidak untuk apa jauh-jauh pulang di malam pertunangan Hanin dan Awan kalau bukan berniat mencegahnya, tapi entah apa yang sudah terjadi Satya malah melepaskan Hanin begitu saja.

“Jadi kamu akan membiarkan Hanin bertunangan dengan Awan? Kau tahu sendiri seperti apa Awan, dia itu Playboy,” kata Rio tak percaya. “Dan lagi kau lebih pantas dengan Hanin, kau selama ini bisa menjaganya dan melindunginya dengan baik dari laki-laki, dan Hanin sepertinya selalu nyaman denganmu.”

Satya tersenyum mengejek, senyum untuk dirinya sendiri.

“Menjaganya, tapi nyaris merenggut kehormatannya. Aku ini laki-laki brengsek, Rio,” makinya pada diri sendiri.

“Apa maksudmu?” tanya Rio kaget.

“Tadi, saat di vila, aku nyaris saja menodainya. Amarahku benar-benar selalu membutakan mataku. Saat dia memanggilku kakak aku baru sadar dia adalah gadis kecil yang selama ini aku jaga dan aku lindungi, tapi aku justru hampir saja merenggut miliknya. Aku memang laki-laki bajingan.” Satya marah pada diri sendiri sampai mengepalkan tangannya dan memukulnya pada jendela mobil.

Rio prihatin mendengar cerita Satya. Sepertinya cinta Satya kepada Hanin jauh lebih besar dari yang disadarinya. Kemarahan karena cemburu membuat Satya hilang akal, dan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

“Kalau sampai kamu melakukannya, kamu tidak punya pilihan lain, Satya, kamu harus menikahi Hanin. Dia itu sangat menyukaimu.”

“Suka, tapi bertunangan dengan laki-laki lain, kamu pikir aku bodoh,” balas Satya.

“Karena dia sudah kehilangan harapannya padamu. Apa kau tidak sadar selama ini kau selalu menolaknya, bahkan menolak bertunangan dengannya. Asal kamu tahu, Satya, ada dua hal yang memungkinkan mengapa Hanin melakukan itu. Pertama, dia ingin tahu reaksimu saat dia bertunangan dengan Awan. Kedua, dia benar-benar ingin melupakanmu.”

“Kalau begitu lupakan saja, lagi pula selama ini aku selalu menganggapnya adik.”

“Kau ini sungguh bodoh atau pura-pura tidak sadar, ha? Kau ini menyukai Hani, kenapa masih saja mengelak?”

“Tapi aku tidak bisa, aku ragu itu adalah cinta. Sekarang berhentilah membicarakannya!” Satya mulai kesal.

“Kau yakin tidak ingin menyaksikan pertunangan Hanin, dia itu adikmu satu-satunya. Ini kesempatan terakhirmu menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya.”

“Kalau aku datang, hanya akan merusak acaranya. Bukankah akan membuatku terlihat lebih jahat.”

“Kau sudah jahat dengan menolaknya di acara pertunangan. Kau memang pantas untuk dilupakan.”

“Berhenti memaki, atau keluar!” bentak Satya.

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!