NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Beda Usia / Selingkuh / Cintamanis / Cinta Terlarang
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.

"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)

Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.

"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)

Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?

Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setelah Lima Bulan Perceraian.

Lima bulan berlalu sejak ketukan palu itu memisahkan nama mereka dalam satu berkas.

Hari-hari Nadira berjalan pelan tapi pasti. Pagi diisi dengan pekerjaan, malam dengan keheningan yang kini tak lagi menyakitkan. Perutnya mulai membulat, meski masih bisa disamarkan dengan pakaian longgar.

Tak banyak yang tahu.

Ia memilih menyimpan kehamilannya itu rapat-rapat. Bahkan dari Tante Rini. Terlebih dari keluarga mantan suaminya.

Siang itu, aroma antiseptik memenuhi lorong klinik kandungan.

“Baik, Dok,” jawab Nadira. “Saya akan terus perhatikan pola makan saya,” ucap Nadira lembut. “Kalau begitu saya permisi.”

Dokter mengangguk, Nadira berdiri, merapikan tas, dan melangkah keluar ruangan.

Di depan pintu, langkahnya terhenti.

Ia menatap lembaran hasil USG di tangannya. Gambar hitam putih yang masih samar, tapi cukup membuat dadanya menghangat.

Senyumnya merekah, saat melihat bentukan anaknya didalam sana.

“Dira.”

Suara itu membuat senyum itu memudar.

Ia menoleh.

“Tante Rini?” gumamnya pelan, sedikit terkejut.

Wanita itu berdiri tak jauh darinya, tas tergantung di bahu. Tatapannya heran.

“Kamu kenapa di sini?” tanya Tante Rini, lalu matanya bergeser ke tulisan di pintu ruangan. “Siapa yang cek kandungan?”

Refleks, Nadira menyembunyikan kertas USG ke belakang tubuhnya.

“A—anu, itu—”

“Kenapa gagap begitu, Nadira.”

“Ini… aku salah masuk ruangan, Tante.”

Mata Tante Rini menyipit. Tatapan itu terlalu tajam untuk dibohongi.

Nadira segera menunduk. Jemarinya menggenggam kertas itu makin erat.

“Apa yang kamu sembunyikan?”

Nadira mendongak sekilas. “H—hanya kertas biasa kok, Tan. Gak terlalu penting.”

Sret.

Gerakan cepat. Kertas itu berpindah tangan.

Nadira tercekat. Jantungnya berdetak keras saat melihat Tante Rini membuka lembaran itu.

“Ini USG? Ini punya kamu, Nadira?”

Nadira menggeleng cepat. “Tan, itu bukan punya Nadira, itu Nadira nemu—”

“Untung saja ibu Nadira masih di sini.”

Suara dokter memotong kalimatnya yang belum selesai.

“Ada apa Dok?” tanya Tante Rini lebih dulu.

“Ini vitaminnya Bu Nadira ketinggalan di atas meja saya.”

Dokter menyerahkan plastik kecil berisi obat.

Ia dengan cepat meraih palastik itu dengan tangan sedikit gemetar.

“M—maaf, saya hampir…”

“Vitamin apa, Dokter?” tanya Tante Rini.

Dokter tersenyum ramah. “Eh Bu Rini? Anda disini?”

“Iya, saya habis jenguk sahabat saya.”

Dokter mengangguk. “Ini vitamin buat ibu hamil. Bu Nadira baru saja periksa kehamilan.”

“H—hamil?”

Satu kata itu menggantung di udara.

Tatapan Tante Rini seketika beralih padanya.

Nadira dengan cepat menunduk. Tenggorokannya terasa kering untuk melepas suara.

“Anda kenal Bu Nadira?”

“Sangat kenal,” jawab Tante Rini.

“Kalau begitu saya permisi, Bu Rini,” ucap dokter sebelum pergi.

“Iya,” jawab Tante Rini singkat.

Lorong mendadak terasa lebih sempit. Lebih sunyi, setelah dokter pergi.

Nadira masih setia menatap lantai.

“Jawab yang jujur, Dira.” suara Tante Rini memecah sunyi. “Kenapa kamu menyembunyikan kehamilan kamu dari Tante?”

“Jangan bicara di sini, Tan,” ucapnya pelan.

Tante Rini menghela napas. “Yasudah. Kita ke resto saja. Hampir jam makan siang.”

Wanita itu melangkah lebih dulu.

“Iya, Tan.”

Nadira menatap punggung yang menjauh itu. Napasnya berat.

Kenapa Tante Rini bisa ada di sini?

Ujung Hoodie diremas pelan. Bayangan-bayangan buruk bermunculan. Jika keluarga Ardian tahu… bagaimana nanti saat bayi ini lahir? Apakah mereka akan menuntut hak? Mengambil anaknya?

Jantungnya berdegup tak teratur.

Ia menggeleng pelan.

“Enggak,” gumamnya dalam hati. “Aku gak akan biarkan itu terjadi. Anak ini milikku, aku yang mengandungnya, aku yang berjuang melahirkannya.”

Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya.

Apa pun yang terjadi, anak ini hanya miliknya.

...

Restoran itu tak terlalu ramai. Aroma masakan hangat bercampur suara sendok beradu pelan dengan piring. Cahaya siang masuk dari balik jendela kaca besar, memantulkan bayangan dua perempuan yang duduk saling berhadapan.

Nadira duduk tegak, jemarinya meremas ujung hoodie yang dikenakannya.

“Jadi katakan.”

Suara Tante Rini lembut, tapi tegas.

Nadira menghela napas panjang. Dadanya naik turun pelan. Tak ada lagi celah untuk berkelit.

Perlahan, ia berdiri.

Hoodie kebesaran itu dilepas. Kain longgar yang selama ini menyamarkan kini terlipat di tangannya.

Perutnya yang membulat terlihat jelas.

Mata Tante Rini membesar. Terkejut.

“Berapa bulan? Kenapa sudah besar ini?”

“Sudah hampir enam bulan, Tan.”

Nada suaranya pelan, nyaris seperti pengakuan bersalah.

“Mau hampir enam bulan tapi kenapa kamu gak bilang sama Tante, kenapa?”

Nadira menunduk. Pandangannya jatuh pada meja.

“Maaf, Tan. Aku melakukan ini karena ada alasannya.”

“Apa alasannya?”

Tenggorokannya terasa kering, tapi ia tetap bicara.

“Dira gak mau terus-menerus terikat sama keluarga itu. Selama lima tahun menikah, Dira selalu hidup seperti orang asing. Mas Ardian selalu membela ibunya, meski jelas yang salah bukan Dira.” Napasnya tertahan sejenak. “Dan juga… rahasia Mas Ardian.”

Tante Rini mengembuskan napas panjang. Wajahnya melunak.

“Iya, Tante tahu. Tapi setidaknya jangan menutupinya. Anak itu tetap penerus.”

“Dan juga... Dira takut suatu saat anak ini akan diambil, oleh Ibu Wani. Dira gak mau itu terjadi.”

Tangan Nadira tiba-tiba digenggam lembut. Hangat.

“Jangan takut kalau anakmu diambil. Ada Tante di sini. Tante akan lakukan apapun.”

Kalimat itu membuat dada Nadira menghangat sekaligus perih.

“Iya, Tan. Tapi jangan kasih tahu mereka dulu. Dira belum siap.”

Tante Rini mengangguk pelan. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

“Bagaimana kata dokter? Bayinya sehat?”

“Sehat, Tan.”

“Sudah dicek kelaminnya?” tanya Tante Rini.

Nadira mengangguk kecil. “Sudah. Katanya laki-laki.”

Ada getar halus dalam suaranya saat mengucapkan itu.

“USG-nya, Tante boleh lihat lagi? Tante belum puas melihatnya.”

Nadira mengambil lembaran dari dalam tas dan menyerahkannya.

Tante Rini menatap gambar hitam putih itu lama. Senyum lebarnya perlahan terukir.

“Tante jadi teringat masa-masa mengandung Gama. Padahal seperti baru kemarin Tante lahirin Gama, eh tuh anak cepat sekali besarnya.”

Nadira tersenyum tipis.

Tante Rini menghela napas. “Akhirnya Tante punya cucu.”

Deg.

Jantung Nadira berdegup lebih cepat.

“Maksud Tante?”

Tante Rini tersenyum samar. “Bukan apa-apa. Jaga baik-baik anak ini, Dira.”

“Iya, Tante.”

Keheningan singkat mengisi meja mereka.

“Apa kamu gak mau cari ayah baru untuk anak ini?”

Ayah baru?

Kata-kata itu terasa asing di telinga Nadira.

Senyum canggung muncul di bibirnya. “Lihat saja nanti, Tan. Tapi sekarang mungkin Dira mau fokus sama bayi kecil ini dulu.”

Tante Rini mengangguk pelan. “Jangan lama-lama jadi single mom. Semua wanita butuh pendamping. Dulu Tante juga ada buat nikah lagi. Tapi ingat usia, jadi Tante memilih besarkan Gama sendiri. Berat, Dira. Sepi juga.”

Nadira terdiam.

Tangannya kembali menyentuh perutnya yang membulat.

Pendamping.

Kata itu terdengar jauh.

Untuk saat ini, yang ia rasakan hanya satu hal yang pasti.

Detak kecil yang tumbuh di dalam dirinya.

1
new user
D tunggu next up
new user
D tungg next up thor
putmelyana
lanjut Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!