Di season 1. Keyla sangat menderita awal pernikahan dengan Martin Kwang namun pada akhirnya mereka saling mencintai dan Keyla mengandung buah hati mereka.
Jeni sudah tiba di Irlandia dan dia mengunakan banyak trik muslihat untuk bisa merebut kembali Martin dari Keyla.
Dan apakah akhirnya Martin akan meninggalkan Keyla demi kembali pada Jeni ataukah Martin tetap setia menjaga cintanya dengan Keyla dan bagaimanakah dengan nasib Jeni selanjutnya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khairin Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
"Tuan Dikra ada diluar. Tuan muda." Ucap asisten Hen.
Berdiri dari posisi duduknya, "Suruh dia masuk!"
"Baik!" Jawab Asisten Hen sembari berjalan membukakan pintu sedangkan Martin kembali mendudukkan tubuhnya dikursi kerjanya.
Pak Hen keluar dari ruangan tersebut dan melihat Dikra sedang memainkan ponselnya sembari duduk di kursi yang letaknya tak jauh dari ruangan Martin. Asisten Hen membungkukkan badannya dihadapan Dikra sembari berkata, "Tuan Dikra. Tuan memanggil anda." Ucap Asisten Hen sembari kembali menarik punggungnya.
Asisten Hen berjalan mendahului Dikra, dan Dikra berjalan mengekor persis dibelakang Asisten Hen yang tidak menunjukkan wajah persahabatan pada Dikra.
Asisten Hen memang seperti itu sifatnya jika, Martin tidak menyukai seseorang maka Asisten Hen pun akan bersikap demikian karna Asisten Hen harus menjaga semua yang akan terjadi didalam hidup Martin harus berjalan dengan sempurna namun karna kehadiran Jeni kembali ke kota itu. Hidup Martin seakan tidak berjalan sesuai kebiasaannya.
setelah masuk kedalam ruangan asisten Hen berdiri persis disamping Martin yang sedang duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Dikra masih berdiri di tengah ruangan tersebut sembari mata menatap kearah Martin dengan pandangan kagum jika dilihat dari sorot matanya.
Ya tuhann, aku sungguh beruntung bisa bertemu pembisnis muda yang sangat tersohor seperti Tuan Martin. Tak semua orang bisa seberuntung aku, tapi aku juga bingung sebenarnya apa yang dilakukan oleh Jeni sampai orang hebat seperti Martin mau bertemu denganku. di telvon Jeni tidak bicara apapun padaku hingga aku tak mengerti apa yang akan pria ini bicarakan padaku.
Tuan Martin sangat ganteng tapi kenapa aku takut jika melihat sorot tajam matanya yang seakan sedang berkobar api emosi seperti itu saat melihatku! Atau jangan-jangan Jeni membuat masalah setelah tiba di kota ini sampai orang seperti Martin mau bertemu denganku.
Ribuan pertanyaan melayang-layang diangan-angan Dikra namun dia tak berani untuk mengatakannya. Semua rasa penasaran itu hanya bisa Dikra simpan dalam hati. Jeni tak memberitahu Dikra tentang kejahatan yang telah dia lakukan pada adiknya dua hari yang lalu jadi pantas saja jika Dikra tidak tau apapun saat itu. Kasihan sekali sebenarnya nasib Dikra saat ini dan Semoga saja Martin tidak membunuhnya karna membantu Jeni lolos dari para pengawalnya di Paris beberapa waktu yang lalu.
Bicara dengan wajah datar, "Duduk!"
"Ba. . baiklah Tuan." Sahut Dikra sembari menyungingkan senyumnya. Namun Martin sama sekali tidak mengubris senyuman ramah dari musuhnya itu. Martin masih menatap Dikra dengan alis hampir menyatuh membuat Dikra kebingungan dengan arti sorot mata tajam itu.
"Kau yang membantu Jeni kabur?" Ucap Martin dengan mata tak berkedip saat bicara dengan Dikra.
"Apa maksud anda Tuan?" Tanya Dikra kebingungan karna Dikra tidak tau jika Martin adalah orang yang menahan Jeni agar tidak bisa kembali ke kota tersebut.
"Jawab!" Teriak Martin dengan emosi meledak-ledak. Wajah Dikra langsung berubah pucat pias saat melihat Martin yang sedang tidak bercanda itu. Bahkan jantung Dikra berdetak semakin kencang setelah mendengar teriakkan Martin yang tiba-tiba dan membuat Dikra yang belum siap mendengarnya pun gemetaran.
Pak Hen berjalan menuju arah kulkas dan dia segera mengambil minuman dingin kalengan yang ada didalam kulkas tersebut. Setelah pintu kulkas tertutup Pak Hen segera berjalan mendekat Dikra dan dia menyuguhkan minuman kaleng itu dihadapan Dikra tanpa bicara sepatah katapun.
Hahaha! Pak Hen kau sangat baik, dan kau juga tau jika saat ini Dikra sedang membutuhkan minuman tersebut untuk menetralisir rasa kaget yang kini melanda jantungnya hingga berdetak sangat kencang dan seakan mau melompat keluar dari tubuhnya.
Glekk glekk glekk!
Tanpa sungkan Dikra langsung menyambar botol yang tadi ditaruh dihadapannya oleh Pak Hen. Bahkan Dikra langsung menghabiskan isi didalam kaleng tersebut tanpa jeda. Setelah minum di kaleng itu habis Dikra langsung kembali menatap kearah orang yang tadi membuat jantungnya maraton itu. Sebelum bicara Dikra seakan memantapkan hatinya lebih dulu bahkan terlihat beberapa kali Dikra sempat menarik nafas panjang sebelum bicara dengan Martin yang sedari tadi masih tak bergeming menatapnya.
"Ya Tuan muda, memang saya yang membantu Jeni kembali ke kota ini! Karna Jeni bilang jika ada orang yang mengawasinya di Paris hingga Jeni tidak bisa pulang ke kota ini." Ucap Dikra dengan jujur.
"Kau tau alasan dia kembali ke kota ini?" Tanya Martin dengan rahangnya terlihat mulai mengeras.
"Ya aku tau. Jeni sangat merindukan Keluarganya dan dia sampai menagih sesenguka saat meminta tolong pada ku. Aku sangat mencintainya dan tidak tega melihatnya bersedih lagi Karna sebab itu aku membantunya pulang ke Paris beberapa waktu yang lalu." Ucap Dikra dengan nada suara lirih karna Dikra tau jika melihat wajah Martin yang seakan murka itu membuktikan jika Jeni sudah membuat orang nomor satu di kota itu merasa tersinggung ataupun hal semacamnya hingga membuat Dikra yang harus menunggu semuanya.
"Bodoh! Kau hanya dibuat alat untuk Jeni bisa kembali ke kota ini! Kau tau apa yang sudah wanita gila itu lakukan setelah kembali ke kota ini?" Bentak Martin dengan emosi mulai meledak-ledak. Sedangkan Pak Hen hanya bisa diam tanpa bicara sedikitpun.
"Memangnya apa yang telah Jeni lakukan?"
Martin sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Martin tak habis pikir kenapa Dikra begitu ceroboh membantu Jeni tanpa menyelidik dulu apa yang sedang terjadi hingga Jeni tak bisa kembali ke kota ini. Tapi Dikra telah dibutakan boleh cintanya pada Jeni hingga pria itu rela berkorban apapun untuk wanita yang dicintainya asalkan wanita itu bahagia mungkin saja Dikra juga akan memberikan nyawanya jika saja Jeni menginginkannya.
Karna cinta memang membuat orang buta dan tak bisa membedakan yang benar dan yang salah mungkin itu juga yang membuat Dikra membantu Jeni pulang ke rumahnya tanpa memikirkan reksiko yang terjadi hari ini.
Wajah Martin semakin merah padam dan dua mulai berdiri dari posisi duduknya. Martin berjalan mendekati Dikra, dan Dikra yang mengetahui Martin berdiri segera ikut menarik tubuhnya dari kursi.
Kini Martin dan Dikra saling berhadapan! Martin segera meraih kedua kera baju Dikra dengan nafas terlihat berat karna Martin sekarang semakin kesulitan mengendalikan emosinya.
"Kau tau, karna kebodohanmu! Jeni hampir saja membunuh adiknya sendiri!" Ucap Martin sembari mengepalkan jari-jari tangannya hingga membentuk tinju.
Martin segera melayangkan beberapa kali tinjunya tepat di wajah Dikra. Dan karna rasa bersalah Dikra hanya bisa diam menerima hukuman yang Martin berikan padanya.
Dikra juga sangat kaget saat mengetahui akan kebenaran tersebut jika Jeni sampai tega melukai adik yang selama ini sangat dia sayangi namun saat melihat sorot mata Martin dan emosi yang sangat jelas terlihat itu. Dikra tau jika Martin tidak sedang bercanda padanya saat ini.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
dasar Martin bucin....🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂