Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 ~ Tidak Diinginkan Siapapun
Raina keluar dari ruang ganti setelah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Berdiri di depan figura foto yang terpajang di dinding. Senyuman Kakaknya terlihat begitu cerah tanpa beban disana. Tanpa sadar Raina meneteskan air matanya, dia merindukan sosok Kakak yang sangat menyayanginya itu.
"Kak, sekarang aku benar-benar sendirian. Tidak ada lagi yang akan bela aku ketika Mama marah, tidak akan ada yang melindungi aku saat Papa memukul. Kak, kenapa Kak Amira yang pergi ... Hiks... Jika bisa aku rela yang menggantikan Kak Amira. Karena hidupku di dunia ini, tidak pernah di harapkan oleh siapapun.. Hiks.."
Bayangan masa lalu masih teringat jelas dalam diri Raina yang menjadi sebuah trauma yang tidak akan pernah bisa hilang dari dirinya.
"Bunda, kita mau pergi kemana?" Seorang gadis kecil yang baru berusia 4 tahun, dengan cara bicara yang bahkan belum benar jelas. Merengek terus bertanya pada Ibunya saat tangan mungilnya di tarik oleh Ibunya ke dalam sebuah halaman rumah yang luas.
"Bunda, ini rumah siapa?"
Ibunya berbalik, berjongkok di depannya dengan memegang kedua tangan mungilnya. Menatapnya dengan lekat.
"Bukankah kamu terus bertanya dimana Ayah kamu, dan kamu ingin punya Ayah 'kan? Dan ini adalah rumah Ayahmu"
Tatapan gadis kecil itu berbinar, selama ini memang dia sangat ingin bertemu Ayahnya. Dia iri dengan teman-temannya yang selalu dimanja oleh Ayahnya, semua keinginannya selalu dituruti oleh sang Ayah. Namun tidak dengannya, Ibunya lebih sering marah-marah padanya. Bahkan ketika Raina kecil meminta untuk sekolah seperti yang lain, Ibunya malah mengurungnya di kamar mandi dan mengatakan jika dia tidak boleh sekolah.
"Mulai saat ini kamu akan tinggal dengan Ayah kamu. Dan aku akan pergi"
"Kenapa Bunda pergi? Kita bisa tinggal bersama dengan Ayah disini"
"Tidak bisa, Ayahmu tidak akan menerima kehadiranku"
Tangan Raina kecil kembali di tarik menuju pintu utama. Mengetuk pintu, sampai beberapa saat kemudian pintu terbuka oleh seorang anak perempuan sekitar berusia 10 tahun. Raina kecil langsung beringsut ke belakang tubuh Ibunya, malu.
"Kamu Amira 'kan?"
"Iya, Tante cari siapa ya?"
"Orang tuamu ada, Tante datang kesini untuk mengantarkan adik kamu. Ini adalah adik kamu, Raina" ucapnya dengan menarik tangan Raina yang bersembunyi di belakang tubuhnya.
Pertemuan pertama mereka bahkan terlihat jelas Amira yang antusias dengan itu. Dia langsung menghampiri Raina dan membawanya masuk.
"Jadi kamu adalah adik aku"
Raina yang merasa senang karena diterima, langsung mengangguk. Meski dia masih bingung dengan keadaan yang sebenarnya. Namun, anak kecil seperti mereka tidak akan paham tentang kekacauan orang tua mereka.
"Mama, Papa, ini adik aku ya. Akhirnya aku punya adik"
Amira yang tiba-tiba membawa seorang anak perempuan yang dia katakan sebagai adiknya, tentu membuat Mama dan Papa terkejut. Apalagi Papa yang merasa ini tidak mungkin.
"Amira, kamu menemukan di dimana? Kenapa kamu membawanya kesini?" tanya Mama.
"Tante tadi membawa Raina kesini dan mengatakan jika ini adalah adikku"
Papa langsung berjalan menuju keluar rumah, dan orang yang di maksud oleh Amira sudah tidak ada disana. Dia mengusap wajah kasar, melihat sebuah surat yang berada di atas lantai dan tidak sengaja terinjak olehnya. Papa mengambilnya dan membuka surat itu.
Aku akan kembali ke tempat asalku, dan aku tidak bisa membawa anakmu itu. Jadi, aku berikan padamu.
Mama merebut surat itu, dan dia langsung berteriak histeris pada suaminya. Menamparnya dengan keras, atas rasa sakit yang dia terima.
"Kau bilang sudah tidak berhubungan lagi dengan perempuan itu, tapi sekarang kau membawa seorang anak dari perempuan itu. Kau gila!"
"Aku juga tidak pernah tahu kalau dia akan memberikan anak itu padaku. Sial, aku tidak pernah menginginkan anak itu"
*
Raina mengerjap pelan, air mata sudah membanjiri pipinya. Segera dia usap dengan kasar. Hari ini, ketika dia sudah dewasa dan mengingat kembali tentang kenangan itu. Maka dia mengerti dengan jelas, jika kehadirannya memang tidak pernah di harapkan oleh siapapun. Raina hanya di anggap sebagai anak pembawa sial yang tidak diharapkan kehadirannya.
"Bunda pergi karena tidak ingin merawatku dan terbebani olehku. Dan Papa juga tidak inginkan kehadiranku, Mama juga marah karena kehadiranku. Lalu, aku harus kemana?"
Mungkin dulu pertanyaan itu selalu dia lontarkan dalam kesendirian. Bertanya pada angin lalu yang tidak bisa memberikan jawaban apapun. Tapi sekarang, Raina memilih untuk lebih tegar dan tidak lagi mempertanyakan tentang takdirnya.
"Untuk apa kau masih berada disini?!"
Raina mengerjap kaget dengan suara bariton itu. Ketika menoleh dan melihat Marvin yang sudah siap dengan pakaian kerjanya.
"Maaf Kak, aku hanya melihat foto Kak Amira. Aku merindukannya"
Tatapan Marvin begitu tajam, dia menarik tangan Raina dan mendorongnya kasar hingga dia terjatuh membentur meja kaca di sana. Raina mengaduh kesakitan dengan memegang pinggangnya.
"Jangan pernah ucapkan kata rindu untuk Amira-ku dari mulutmu yang kotor itu. Kau yang membunuhnya, dan sekarang kau mengatakan jika kau merindukannya? Haha.. Apa itu pantas?"
Raina menunduk, air mata berjatuhan ke atas lantai. Menandakan sebesar apa rasa sakit dan luka yang harus dia terima. Namun, dia tetap harus berdiri dan kuat menjalaninya.
"Kak Marvin, jika boleh meminta pada Tuhan, aku juga akan meminta untuk nyawaku saja yang ditukar dengan Kak Amira. Aku saja yang mati daripada Kak Amira"
Marvin tersenyum tipis dengan mengerikan, dia membungkuk dan mencengkram kuat leher Raina hingga gadis itu kesulitan napas. Hembusan napasnya yang terasa berat, wajahnya memerah.
"Memang sebaiknya kau mati saja, mungkin itu akan menjadi kebahagiaan yang sempurna untukku"
Air mata menetes dari sudut matanya, rasa sakit di lehernya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya mendengar ucapan Marvin yang begitu menusuk. Ketika Marvin melepaskan cengkraman tangannya, membuat Raina langsung lunglai dan terbatuk-batuk. Sedikit keluar darah dari mulutnya akibat dari cengkraman kuat tangan Marvin di lehernya
"Mati saja kau!"
Marvin melangkah pergi dari sana dan meninggalkan Raina yang hampir kehabisan napas karena ulahnya. Raina mengusap air mata yang mengalir, mengatur napasnya yang sudah terengah-engah.
Mendongak dan menatap kembali foto Kakaknya disana. Raina menangis sesenggukan dengan rasa sakit di tenggorokannya.
"Mungkin jika aku mati sekalipun, tidak akan ada yang peduli. Semua orang akan tenang dan merasa hidupnya bebas setelah kematianku"
Pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tapi Raina sadar jika itu hanya akan semakin membuatnya berdosa. Setelah semua dosa yang dilakukan orang tuanya, maka dia tidak mungkin terus berdosa dengan mengakhiri hidupnya sendiri.
"Raina, kamu kuat"
Sekilas suara itu seperti nyata dari Kakaknya, karena dulu selalu Amira yang mengatakan itu untuk menguatkannya. Dan sekarang suara itu terasa begitu nyata.
"Aku akan berusaha lebih kuat, Kak"
Bersambung
👍
pergi dari rumah Marvin,,