NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 – Oma Mengusir

Pagi datang terlalu cepat bagi Tara.

Ia tidak benar-benar tidur. Hanya memejamkan mata, lalu terbangun berkali-kali dengan dada sesak. Setiap kali ia hampir terlelap, wajah Kia muncul—bukan dengan amarah, tapi dengan tatapan kosong yang membuatnya lebih sakit.

Jam menunjukkan pukul enam ketika Tara bangun.

Rumah terasa sunyi, terlalu sunyi. Tidak ada suara langkah pembantu, tidak ada suara televisi dari kamar orang tuanya. Seolah semua orang sepakat memberi jarak.

Tara turun ke dapur.

Di sana, Oma duduk sendirian, minum teh hangat. Rambutnya rapi seperti biasa, tapi wajahnya tampak lelah, jauh lebih tua dari kemarin.

“Kamu sudah bangun,” kata oma tanpa menoleh.

“Iya,” jawab Tara singkat.

Ia mengambil segelas air, meminumnya pelan. Tangannya sedikit gemetar.

Beberapa menit berlalu tanpa suara.

Tara akhirnya duduk di kursi seberang oma.

“Oma,” katanya pelan. “Kenapa Oma nggak pernah bilang?”

Oma menatap cangkirnya. “Karena kalau Oma bilang, semuanya akan hancur.”

“Sekarang juga hancur,” balas Tara cepat. “Bedanya, aku ikut hancur tanpa tahu kenapa.”

Oma menghela napas panjang. “Kamu marah.”

“Jelas,” kata Tara. “Aku dibesarkan dengan cerita yang dipelintir. Aku diajari siapa yang harus kubenci, tanpa pernah tahu kebenarannya.”

Oma mengangkat wajahnya. Matanya tajam, tapi basah.

“Kamu pikir Oma menikmati ini?” tanyanya. “Menutup mulut selama bertahun-tahun?”

Tara mengepalkan tangan. “Aku pikir Oma memilih Papa dan Mama. Bukan aku.”

Kalimat itu seperti pisau.

Oma berdiri perlahan. “Kamu tidak tahu apa yang Oma korbankan.”

“Yang aku tahu,” suara Tara meninggi, “aku disuruh membenci saudara kandungku sendiri.”

“Saudara tiri,” koreksi oma otomatis.

Tara tertawa pahit. “Lihat? Bahkan sekarang Oma masih merapikan kata-kata.”

Oma terdiam.

“Kemarin,” lanjut Tara, “aku pulang ke rumah dengan kepala penuh. Mama nangis. Papa menghindar. Semua orang menyimpan wajah bersalah. Dan satu-satunya orang yang kukira akan jujur sejak awal—ternyata sama saja.”

Oma menutup mata sejenak.

“Jadi apa maumu sekarang?” tanya oma akhirnya. “Menyalahkan semua orang?”

“Aku mau kejujuran,” jawab Tara. “Setidaknya sekali dalam hidupku.”

Oma tertawa kecil—tawa tanpa bahagia.

“Kejujuran tidak selalu menyelamatkan,” katanya. “Kadang justru membakar segalanya.”

“Kalau begitu biar terbakar,” kata Tara tegas. “Aku capek hidup di atas kebohongan.”

Oma menatap Tara lama.

Terlalu lama.

Seolah sedang menimbang sesuatu yang sangat berat.

“Kamu sudah bicara ke Kia?” tanya oma tiba-tiba.

Tara tersentak. “Belum.”

“Dan kamu berniat?” desak oma.

Tara mengangguk pelan. “Aku harus.”

Oma memejamkan mata.

“Tidak,” katanya tegas.

Tara berdiri. “Aku nggak minta izin.”

“Ini bukan soal izin!” bentak oma, suaranya pecah untuk pertama kali. “Ini soal keluarga!”

“Keluarga macam apa yang dibangun dari dusta?” balas Tara.

Oma menghantam meja dengan telapak tangannya.

Ckrek.

Cangkir bergeser.

“Kamu tidak akan menghubungi Kia,” kata oma dingin. “Tidak sekarang. Tidak pernah.”

Tara terdiam, terkejut oleh nada itu.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

“Karena sekali kamu membuka pintu itu,” ucap oma, “kamu tidak tahu siapa yang akan jatuh.”

Tara menatap oma tajam. “Atau Oma takut reputasi keluarga jatuh?”

Oma terhenyak.

“Jangan berani-berani bilang begitu,” katanya lirih tapi berbahaya.

“Itu yang selama ini terjadi, kan?” suara Tara bergetar. “Semua disembunyikan demi nama baik.”

Oma melangkah mendekat. “Kamu anak yang keras kepala.”

“Dan Oma pengecut,” balas Tara tanpa sadar.

Kalimat itu menggantung di udara.

Wajah oma memucat.

“Keluar,” katanya pelan.

Tara mengernyit. “Apa?”

“Keluar dari rumah Oma,” ulangnya. “Sekarang.”

Tara menatapnya, tidak percaya. “Oma…?”

“Kamu tidak boleh tinggal di sini,” lanjut oma, suaranya bergetar tapi tegas. “Selama kamu masih membawa kemarahan dan niat membongkar masa lalu.”

“Aku cucu Oma,” kata Tara lirih.

“Dan Oma ingin kamu selamat,” balas oma. “Bukan hancur karena kebenaran yang belum tentu bisa kamu tanggung.”

Tara tertawa kecil, nyaris putus asa. “Jadi Oma mengusir aku?”

Oma memalingkan wajah. “Kalau itu caranya kamu melihatnya.”

Tara meraih tasnya dengan tangan gemetar.

“Baik,” katanya. “Aku pergi.”

Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti.

“Oma tahu,” katanya tanpa menoleh, “yang Oma lakukan ini bukan melindungi aku. Oma hanya melindungi rasa bersalah Oma sendiri.”

Pintu tertutup pelan.

Tapi bunyinya terasa seperti ledakan.

Tara berdiri di luar rumah oma dengan napas berat.

Angin pagi terasa dingin di kulitnya.

Ia tidak tahu harus ke mana.

Ia mengirim pesan ke Mamanya singkat.

Tara: Aku diusir Oma.

Tidak lama kemudian, balasan masuk.

Mama: Pulang sekarang.

Tara memejamkan mata.

Ia berjalan menyusuri jalan dengan langkah kosong.

Di rumah, Papa duduk di ruang tamu ketika Tara masuk.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, Tara tidak menunduk.

“Papa tahu semuanya,” kata Tara datar.

Ayahnya menegang. “Siapa yang bilang?”

“Oma,” jawab Tara. “Dan sekarang Oma mengusir aku.”

Ayahnya berdiri. “Apa?”

“Mungkin sekarang Papa bisa berhenti pura-pura,” lanjut Tara. “Karena semua sudah rusak.”

Ayahnya mengusap wajahnya, hancur.

“Kamu mau aku bagaimana?” tanyanya lirih.

“Jujur,” jawab Tara. “Sekali saja.”

Ayahnya terdiam.

Dan di detik itu, Tara sadar—tidak semua orang dewasa cukup berani untuk berkata jujur.

Di sisi lain kota, Kia berdiri di depan jendela kamarnya.

Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Tidak tahu bahwa Tara diusir.

Tidak tahu bahwa oma yang selama ini menjadi benteng keluarga akhirnya runtuh oleh satu kalimat kejujuran.

Yang Kia tahu, hatinya terasa berat tanpa alasan.

Dan bahwa badai belum selesai.

...****************...

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!