NovelToon NovelToon
Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Nikahkontrak / Romansa / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:733.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Andropist

Terperangkap pernikahan dadakan membuat Ustad Syamir harus menerima Syahira sebagai istrinya. Padahal dia hendak menikahi Zulaikha, wanita sholeha yang diidamkannya. Semua itu pupus karena kesalahan satu malam. Niat hati Ustad Syamir menolong Syakira justru berbuntut pengerebekan warga dan nikah paksa. Tak hanya batal nikah dengan Zulaikha, Ustad Syamir harus menikah dengan Syahira, wanita gaul dari Jakarta yang jelas-jelas tidak dikenalnya.

Ustad Syamir harus menelan pil pahit karena gunjingan orang ditambah lagi dia harus membatalkan pernikahannya. Selain itu dia harus mengantarkan Syakira ke Jakarta tanpa memiliki bekal yang cukup.

Apakah Syamir dan Syahira akan tetap bersama atau memilih bercerai mengejar mimpi mereka masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andropist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu Kandung Rasa Ibu Tiri

Malam itu di rumahnya Nenek Syahira, Ibu Syahira yang bernama Tamara tengah duduk di pelataran rumah sembari meneguk secangkir kopi. Tak lama Nenek Syahira pun muncul dari balik pintu menghampiri Tamara. Ia lalu duduk di samping Tamara.

“Bagamana kabar Sya sekarang?” Nenek itu memandangi Tamara dengan serius.

Tamara perlahan meneguk kopinya, dengan helaan nafas yang berat ia lalu menjawab pertanyaan dari ibunya itu.

“Aku tidak peduli, suruh siapa dia main kabur dengan kekasihnya malam itu. Toh jika sudah kehabisan uang ia juga akan kembali lagi.” Tamara mendelik, ia masih marah pada putri kandungnya itu. Entah kenapa diantara ketiga putrinya hanya Syahira lah yag paling Tamara benci.

“Apa ia sudah tahu berita tentang Ayahnya?”

“Dia pasti sudah mengetahuinya dari berita. Toh semua aset Vir sudah disita, pasti ia juga sudah pergi dari Villa itu. Paling ia kini tinggal di rumah temannya atau pacarnya.”

“Kenapa kau bersikap seperti itu pada anakmu sendiri. Dia darah dagingmu Tamara.”

“Ya, tapi dia bukan anak kandung Vir.” Tamara keceplosan memberitahu kebenaran yang sebenarnya mengenai Syahira pada ibunya.

“Apa? Bagaimana bisa? Jangan-jangan...., setelah kejadian di malam tahun baru itu kau telah mengandung anak bajingan itu? Dan Sya, Sya....”

“Ya, Sya adalah anak dari bajingan terkutuk itu. Vir tidak pernah menaruh curiga saat ia mengetahui bahwa aku langsung mengandung di usia pernikahan kami yang baru satu bulan. Ia juga tidak pernah bertanya kepada dokter soal usia kandunganku. Mana mungkin pria gila kerja itu mau repot-repot mengetahui hal itu.”

“Tapi Syahira adalah anak yang paling Vir sayang dan kau tahu sendiri jika sebagian besar warisannya jatuh ke tangan Syahira.”

“Maka dari itu aku tak pernah suka padanya. Sejak ia lahir, Vir mulai menjauh dariku. Ia begitu menyayangi anak haram itu ketimbang aku. Ia juga memberikan kasih sayang yang berbeda pada anak kami yang lainnya. Segalanya selalu Syahira, Syahira yang paling utama. Andai saja dia mengetahui kebenarannya maka entah apa yang akan terjadi.”

“Jangan, jangan beri tahu kebenarannya. Kau akan dalam bahaya jika memberitahu yang sebenarnya. Biarkan saja semuanya tetap begini. Tapi kau juga harus mulai mencarinya Tamara. Ia belum pulang selama berhari-hari.”

“Aku tak perlu repot-tepot mencarinya. Besok aku akan menghadiri jumpa pers yang diadakan oleh para wartawan. Di sana aku akan membuat sedikit drama mengenai berita kehilangan anakku. Setelah itu semuanya beres.”

“Kenapa kau selalu bersikap seperti ini Tamara? Apa kau tak lelah?”

“Tak lelah kata Ibu? Kenapa Ibu tidak bertanya hal itu sebelum ibu memutuskan untuk menjodohkanku dengan Sadavir? Kenapa baru sekarang hah?”

Malam itu Nenek meninggalkan Tamara seorang diri di pelataran rumahnya. Putrinya itu adalah purti semata wayangnya. Tak sangka jika ia telah membesarkan putri semata wayangnya itu menjadi seperti ini. andai waktu bisa diulang, Nenek berharap jika ia bisa membesarkan Tamara menjadi wanita yang jauh berbeda dari sekarang. Sekarang hanya penyesalanlah yang menggelayuti hati dan pikiran Nenek.

**

Setelah mendengar berita dari TV itu Syamir langsung meminta keterangan dari Syahira. Syahira tampak kesal bercampur emosi. Ia memang sudah marah dengan ibunya sebelumnya tetapi belum pernah semarah ini.

“Sya maafkan Syam ya karena telah membuat keluarga Sya cemas. Syam berjanji akan memulangkan Syahira segera. Malam ini, InsyaAllah Syahira pasti sudah sampai rumah. Syam harap Ibu Sya belum lapor polisi.”

“Wanita itu selalu saja membuatku jengkel. Tindakan sembrono apa lagi yang kini ia ciptakan? Ia bersikap sok peduli padaku di depan wartawan hingga bersusah payah akan lapor polisi padahal kenyataannya ia malah berharap aku tak pernah kembali ke kehidupannya.”

“Astagfirullah, istigfar Sya. Sya tidak boleh berkata seperti itu pada ibu kandung Sya. Ia sudah melahirkan Sya dan membesarkan Sya.”

“Ibu kandung? Ibu kandung macam apa yang memperlakukan anak kandungnya layaknya anak tiri atau anak pungut? Aku bahkan curiga jika aku ternyata bukan anak kandungnya.”

“Sya, ingat, jangan terbawa bujuk rayu setan. Kebencian dan was-was serta prasangka buruk adalah bisikkan setan. Baik atau buruk, ia adalah orang tua Sya, yang harus Sya hormati.”

“Kamu gampang ngomong gitu karena kamu dibesarkan oleh seorang ibu yang tulus menyayangimu Syam. You never know Syam.”

Syahira masih marah dan kesal, bagaimanapun Syamir mencoba menenangkannya ia masih saja marah. Perjalanan kini semakin jauh, tak lama lagi Syahira dan Syamir akan tiba di Jakarta. Syamir hampir merasa lega karena telah mengantarkan Syahira dengan selamat. Tetapi perasaanya berubah sedih saat mengingat harus berpisah dengan Syahira. Apakah Syamir benar-benar rela melepaskan Syahira begitu saja. Ia tak pernah tahu, hanya kepada Allah lah ia kini serahkan segalanya.

Mobil yang Syamir dan Syahira tumpangi kini kembali berhenti entah kenapa. Tak lama sang supir menghampiri mereka. Ternyata sang supir harus menurunkan beberapa sayur mayur yang telah dipesan oleh seseorang yang tinggal di daerah ini. Syamir membantu menurunkan sayur mayur itu. Orang yang memesan sayur mayur itu ternyata adalah pemilik salah satu pondok pesantren yang ada di tempat ini. Syamir lalu menyalaminya.

“Antum dan istri antum juga mau ke Jakarta ya?” Tanya orang itu.

“Kok Bapak tahu wanita itu istri saya?” Syamir keheranan.

“Ya tentulah. Antum sepertinya orang baik, dan mana mungkin orang baik macam antum bepergian dengan yang bukan mahram, betul apa benar?”

“Hehe.”

“Boleh ana memberi sedikit wejangan buat antum?”

“Oh tentu boleh Pak, saya sangat senang menerimanya.”

“Pernikahan itu memang bukan hal yang mudah. Menyatukan dua kepala yang berbeda menjadi satu. Tetapi sejatinya pernikahan adalah ibadah. Siapapun yang telah menjadi pasangan kita dan menemani kita dalam mengarungi bahtera rumah tangga adalah sudah pilihan yang terbaik dari Allah. Terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya. Pasrahkan saja semuanya pada Allah, minta petunjuk pada Allah. Biar Allah yang membimbing kalian dalam mengarungi bahtera rumah tangga.”

“berapapun sulitnya ombak yang akan menerjang kapal jangan pernah sekali-kali untuk loncat dari kapal. Air yang menerjang bahtera dari luar tidak akan mampu menenggelamkannya tetapi justru air yang masuk ke dalam yang akan membuat bahtera karam. Arungi bahtera itu dengan iman sebagai layarnya dan jadikan Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah sebagai kompasnya. Jangan lupa juga ilmu agama sebagai bekal kalian dalam berlayar.” Pria itu mengakhiri ucapannya. Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan Syamir.

Syamir benar-benar tersentuh atas ucapan dari pemilik pesantren itu. Ucapan pemilik pesantren itu menyadarkan Syamir. Syamir lalu menengok Syahira yang tengah berdiri di dekat mobil. Wanita itu kini melambai-lambai ke arah Syamir. Ia menyuruh Syamir agar segera naik kembali ke mobil. Syamirpun menghampiri Syahira.

“Kamu tadi ngomong apa sama pemilik pesantren itu?” Syahira penasaran.

“Tidak, bukan apa-apa Sya. Hanya obrolan biasa.”

“Ku kira kamu ditawarkan uang lagi. Kalau benar maka aku akan menghampirimu dan memaksamu untuk menerimanya, hehe.”

“Sya-Sya, tidak semuanya tentang uang.”

“Yeah, eh, mobilnya udah mau jalan lagi, naik yuk.”

“Ayo!”

Merekapun kembali melanjutkan perjalanan. Hari sudah beranjak petang menuju malam. Mereka kini berada di perbatasan Bekasi-Jakarta, tak lama lagi mereka akan tiba. Kini mobil melalui perkotaan yang ramai. Jalanan yang penuh dengan kendaraan dan bunyi klakson, para pedangan asongan dan boneka badut yang membawa kaleng berisi uang receh. Sisi jalan dipenuhi oleh pedagang kaki lima dan ojek yang sedang mangkal. Karena ini jam pulang kerja maka jalanan tampak ramai dan lebih hidup. Gedung-gedung tinggi menjulang memenuhi sesaknya perkotaan. Memang benar jika ada pepatah bahwa kota tak pernah tertidur. Selalu saja penuh dengan aktivitas dan hiruk pikuknya.

Kini tibalah mereka di Jakarta. Syamir begitu takjup saat menginjakan kembali kakinya di sana. Sudah lama ia tak datang ke kota metropolitan ini. rasanya kota ini sudah banyak berubah. Ia berdecak memandangi kota dari atas jalan layang. Syahira tiba-tiba tertawa kecil saat melihat ekspresi Syamir.

“Kamu belum pernah ke Kota ya?” ledek Syahira.

“...” Syam hanya terdiam. Ia fokus memandangi kota yang kini penuh dengan kerlap kerlip lampu. Terkadang kota ini begitu menyilaukan Syamir.

“Sya hafal kan alamat rumah Sya?” kini Syamir menoleh memandangi Syahira.

“of course. But, jangan anterin aku ke rumahku. Anterin aku ke rumah Oma. Rumahku kini pasti sudah disita jadi hanya rumah Oma tempat kembaliku.” Raut muka Syahira berubah murung.

Hati Syamir terenyuh mendengar ucapan Syahira barusan.

“Ya sudah, Syam antarkan Sya ke sana ya.”

“Syam....”

“Iya Sya?”

Syahira hendak mengatakan sesuatu tapi tak bisa. Ada sesuatu yang kini mengganjal di benanknya. Tetapi ia tak mampu mengatakannya pada Syamir. biarlah waktu yang akan menuntunnya.

Kini mobil itu berhenti di stasiun rambutan. Syamir mengucapkan banyak terima kasih pada sopir itu karena telah mengantarkan mereka dengan selamat. Syamir lalu hendak memberikan uang pada sopir itu tapi malah ditolak.

“Ndak usah Mas, simpan saja. Saya ikhlas mengantarkan kalian.” Ucap supir itu.

“Matur suwun tenan yo Pak. Semoga segala kebaikan yang telak Bapak lakukan pada kami dibalas oleh Allah berkali-kali lipat.”

“Enjeh, aamiin Mas. Yo wes, kami pamit dulu ya mau mengantarkan sayuran ini ke pelanggan. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Setelah berpamitan sang supir lalu pergi meninggalkan Syamir dan Syahira. Kini tinggal sedikit lagi maka Syahira akan sampai di rumahnya. Syamir kini mencari angkot yang memiliki jurusan ke daerah tempat tinggalnya Nenek Syahira.

“Naik angkot gak papa kan Sya?” tanya Syamir.

“Santai aja Syam, naik mobil bak aja aku mau apalagi cuma angkot.”

“Baiklah, ayo naik.”

Merekapun menaiki angkot, entah kenapa dalam mobil itu mereka saling memalingkan wajahnya dan terdiam tak saling menyapa. Mungkin mereka tengah mengalami pergolakan batin. Setelah ini semuanya selesai. Apa yang akan Syamir putuskan? Apakah Syamir akan menceraikan Syahira begitu saja?

Angkot pun tida di pinggir jalan raya secara sembarangan. Syamir dan Syahira pun turun dari angkot. Setelah membayar ongkos Syamir dan Syahira lalu berjalan kaki menuju rumah Neneknya Syahira. Nenek Syahira ternyata tinggal di sebuah perumahan mewah. Mereka harus kembali berjalan agak jauh karena angkot tak bisa masuk ke perumahan itu. Dalam perjalanan itu mereka masih saling terdiam.

“Syam...” Syahira kini memanggil Syamir.

“Iya Sya?” Syamir tampak sedikit antusias saat mendengar ucapan Syahira.

“Emm, makasih ya.”

“Sama-sama Sya.”

Kembali mereka saling terdiam.

“Sya....” Kini giliran Syam yang memanggil Syahira.

“Iya Syam?” Syahira kini tersenyum saat mendengar panggilan dari Syamir.

“Emmmm, tidak. Syam hanya memastikan Sya masih berjalan di belakang Syamir.”

Baik Syamir maupun Syahira sebenarnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi mereka tak mampu mengatakannya. Akhirnya mereka hanya kembali saling terdiam. Tak terasa mereka kini hampir tiba di rumahnya Nenek Syahira. Mereka kaget saat sampai, ada beberapa wartawan dan mobil polisi yang memadati rumah Neneknya Syahira. Syahira lalu menarik Syamir untuk bersembunyi di balik pohon besar.

“Gawat, My Mom have called the police. Syam, maksih ya udah nganterin aku. Kamu harus pergi sekarang sebelum para wartawan atau polisi mengetahui keberadaanmu. Kamu akan dalam bahaya Syam. Polisi akan menangkapmu. Cepat pergi sekarang!” ucap Syahira.

“Tapi Sya, tapi....” Syamir sepertinya hendak mengatakan sesuatu.

“Tidak ada tapi-tapi. Cepat pergi sekarang Syam. Sebelum semuanya terlambat.”

Syamir akhirnya menuruti perintah Syahira. Dengan berat hati Syamir lalu meninggalkan Syahira. Perasaannya serasa tersayat, Syamir kini menitikan air mata sembali berajaln meninggalkan Syahira. Akankah ia bisa kembali menemuinya?

1
Lina Herlinawati
ini cerita kawin sa zulaika kawin sm si sakila....yg bnr yg mn.
Sulaiman Efendy
PASTI KERJAAN TEON & TAMARA
Sulaiman Efendy
BENAR2 WANITA IBLIS NI SI TAMARA, SEMOGA SI VIR & TANTE SYAHIRA BISA LINDUNGI SYAM & SYA
Sulaiman Efendy
BRRTI SURUHN TAMARA. KRN SURUHN SI VIR KDULUAN ORG2 TAMARA,, ENTAH IBU SPRTI SI TAMARA, BNR2 BRHATI IBLIS..
Sulaiman Efendy
ENTAH SURUHAN SI VIR ATAU TAMARA TU YG MUKULIN SI SYAMIR
Sulaiman Efendy
NAHHH, ZULAIKHA ADALAH JODOH EDWARD, DRI ZULAIKHA, EDWARD BNAR2 HIJRAH, DN SYAHIRA JODOH SYAMIR, KRN DARI SYAMIR SYAHIRA JUGA HIJRAH.. SMUA SDH TRTULIS, BHWA ZULAIKHA & SYAMIR SAMA2 MMBERIKN KBAIKAN KPD MANUSIA LAINNYA..(EDWARD & SYAHIRA), MAUPUN MANUSIA2 LAINNYA..
Sulaiman Efendy
EDWARD KELAK MLH JADI JODOHNYA ZULAIKHA...
Sulaiman Efendy
ALLAH MNJODOHKN LO DGN SYAHIRA AGAR LO BSA BWA SYAHIRA HIJRAH, MSKI DIAWALI DGN KSALAHFAHAMAN SI LURAH.. NMUN ITULH TAKDIR JODOH LO, JIKA LO BSA BIMBING SYAHIRA, ITU MNJADI PAHALA BUAT LO..
Sulaiman Efendy
SYAMIR & ZULAIKHA GK JODOH, TPI ALLAH MMBRIKAN ZULAIKHA YG JUGA MANTAF, SEORANG DOKTER..
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
aliya
bagus..suka...
Ramadhani Kania
nie kq gk da kelanjutnnya y...🤔
sartini 1977
lanjut thor
Beatrix
kalau dalam islam yang sebenarnya, pernikahan shahira enggak sah. Kan, bapaknya bukan Sadavir, kenapa pake binti Sadavir, harusnya kembarannya kan.
Hr sasuwe
menarik ceritanya
Sita Redjeki
langsung kesini aq
Saudah Hafifah
ceritanya bagus cm penulisannya saja yg blm tertata baik seperti berlari
reader novel
Dan selesai🤍
Benazier Jasmine
alhamdulillah akhir nya bahagia smua
Benazier Jasmine
q kok yakin klo alma yg bersekongkol dg tamara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!