NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahira Tahu Tentang Kehamilan

Pagi itu Naura lupa nutup pintu kamarnya rapat rapat. Gak sengaja, dia turun ke bawah buat sarapan sambil masih setengah ngantuk, foto USG yang biasanya dia simpen di laci meja samping tempat tidur kemarin malem dia bawa turun ke ruang tamu, dia liat liat sambil duduk di sofa, mengelus sambil senyum tipis.

Terus dia ninggalin foto itu di meja tamu pas bi Ijah manggil buat sarapan. Cuma sebentar. Naura pikir ga ada siapa siapa di rumah kecuali dia sama bi Ijah.

Nathan udah berangkat dari subuh, tapi Naura gak tau. Mahira dateng pagi itu, Mahira yang punya kunci duplikat mansion dari Nathan, kunci yang Nathan kasih seminggu lalu dengan alasan, "kalau ada keperluan mendesak dan aku gak bisa pulang, kamu bisa masuk ambil dokumen di ruang kerja."

Alasan yang kedengeran masuk akal, tapi sebenernya Mahira yang minta, yang manipulasi Nathan supaya dia bisa akses rumah ini kapanpun dia mau.

Dan pagi ini dia dateng, jam delapan pagi. Naura lagi di dapur sama bi Ijah, lagi sarapan sambil ngobrol ringan.

Mahira masuk lewat pintu depan pelan pelan, ga ada yang denger karena dia emang sengaja pelan.

Dia jalan ke ruang tamu, mata ngelirik kesana kesini, nyari sesuatu yang bisa dia pake buat ya, buat apa aja yang bisa merusak Naura.

Matanya nangkep sesuatu di meja tamu, selembar kertas. Mahira jalan mendekat, lalu mengambil kertas itu.

Foto hitam putih, gambar kabur dengan titik kecil di tengahnya. Mahira mengkerut dahi, membalikan kertas itu, ada tulisan di belakangnya.

"Calon bayi Naura Erlangga, usia kehamilan 6 minggu"

Foto USG Naura hamil, seketika Mahira membeku. Tangannya menggenggam foto itu dan meremasnya.

"Sialan," Mahira berbisik pelan, suaranya bergetar antara marah dan panik.

Ini ancaman besar, kalau Nathan tau Naura hamil, dia mungkin bakal lebih perhatian sama Naura, mungkin bakal mulai peduli, mungkin bakal ngerasa punya tanggung jawab sebagai calon ayah.

Dan itu artinya Mahira makin susah dapetin Nathan balik. Mahira ga bisa biarin itu terjadi, gak bisa. Otaknya langsung kerja cepet, nyusun rencana, mikirin semua kemungkinan.

Rencana satu: bilang ke Nathan tentang kehamilan ini sebelum Naura sempet bilang, bikin Nathan curiga kenapa Naura ga bilang dari awal, tanam benih ketidakpercayaan.

Tapi terlalu obvious, Nathan bisa tau Mahira yang nyebarin.

Rencana dua: cari cara buat bikin Naura keguguran, accident yang keliatan natural, tangga yang licin, makanan yang salah, apapun yang ga ninggalin jejak.

Lebih licik, lebih efektif. Tapi butuh waktu dan perencanaan mateng. Mahira senyum tipis, senyum dingin yang mengerikan. Dia foto hasil USG itu pake ponselnya, cepet cepet sebelum ada yang liat.

Terus dia taro kertas itu balik ke meja persis di posisi semula, langkahnya pelan balik ke pintu depan. Keluar tanpa suara, Naura ga tau ada yang baru aja masuk rumahnya. Gak tau rahasia terbesarnya baru aja ketauan sama musuh terbesarnya.

***

Sore harinya Mahira dateng lagi, tapi kali ini resmi, lewat pintu depan dengan bel dan senyum manis.

Bi Ijah yang bukain pintu, "Nona Mahira? ada perlu apa?"

"Aku mau ketemu Naura, dia ada ga?"

"Ada Nona, Nyonya lagi di taman belakang, silakan masuk."

Mahira masuk dengan langkah percaya diri, dia bawa tas branded besar, di dalemnya ada oleh oleh kue dari toko terkenal.

Naura duduk di bangku taman sambil baca buku tentang kehamilan yang dia beli kemarin di toko buku, dia lagi fokus baca chapter tentang perkembangan janin minggu ke enam.

"NAURA!"

Suara riang Mahira bikin Naura kaget sampe bukunya hampir jatuh. Naura langsung tutup bukunya cepet cepet, sembunyiin di samping badan.

"Mahira? kamu dateng?" Naura berdiri dengan senyum canggung.

"Iya dong! aku kangen kamu!" Mahira peluk Naura erat, terlalu erat sampe Naura susah napas. "Udah lama kita ga ngobrol berdua kan?"

"I-iya," Naura melepas pelukan, dan bernapas lega. Mereka duduk di bangku taman, Mahira menaruh tas besarnya di samping.

"Aku bawain kue buat kamu, dari toko yang kamu suka itu inget ga? yang ada di Senayan," Mahira ngeluarin box kue cantik.

"Wah makasih Mahira, ga usah repot repot."

"Gak repot kok, buat sahabat mah apapun aku lakuin." Mahira senyum manis.

Mereka ngobrol ringan beberapa menit, topik ga penting, cuaca, drama tv terbaru, fashion. Tapi mata Mahira ga lepas dari Naura, mengawasi setiap gerakan.

"Naura," Mahira tiba tiba bilang dengan nada yang berubah jadi lebih lembut, lebih care. "Kamu terlihat bersinar, apa akhir-akhir ini ada kabar bahagia?"

Jantung Naura berdegup kenceng.

Bersinar?

Apa Mahira tau?

"A-apa maksudnya?" Naura nervous.

"Ya kulitmu lebih glowing gitu, matamu lebih berbinar, biasanya kan kamu keliatan stress terus, tapi sekarang ada aura beda," Mahira mendekatkan wajahnya, ngeliatin Naura intens.

Naura menelan ludah, mulutnya hampir kebuka mau bilang.

Iya aku hamil.

Aku lagi mengandung anak Nathan, tapi ada sesuatu yang nahan. Sesuatu di dalam hatinya berbisik: jangan bilang.

Jangan percaya.

Ada yang ga beres.

"Gak ada apa apa kok Mahira, mungkin aku cuma lagi rajin skincare aja." Naura ketawa paksa.

Mahira menatap Naura lama, matanya menyipit sedikit. Senyumnya masih ada tapi ga sampe ke mata.

"Oh gitu, kirain ada kabar spesial, misalnya." Mahira berhenti sebentar, ngeliatin perut Naura yang ditutup dress longgar. "Misalnya kamu hamil atau gimana gitu."

WHAT.

Naura langsung kaku, tangannya refleks nutupin perut, napasnya tertahan.

"Ha-hamil?" suaranya keluar gemetar.

"Iya, kan biasa pasangan yang baru nikah gitu suka langsung hamil." Mahira senyum, tapi senyumnya mengerikan. "Kamu dan Nathan pasti sering... ya kan?"

Naura ngerasa mau muntah, bukan karena morning sickness. Tapi karena cara Mahira ngomong. Cara Mahira ngeliatin dia, kayak predator yang lagi mainin mangsa sebelum dibunuh.

"Kami belum." Naura berbohong, suaranya hampir ga keluar. "Belum ada rencana anak dulu."

"Ohhh," Mahira ngangguk pelan. "Sayang ya, padahal Nathan pasti jadi papa yang baik."

Papa yang baik, Nathan yang bahkan ga tau istrinya hamil. Nathan yang ninggalin istrinya sendirian tiap hari. Nathan yang lebih milih Mahira dibanding istri sendiri.

Papa yang baik katanya, Naura nahan air mata yang mau keluar.

"Iya, mungkin nanti." Naura cuma bisa jawab gitu.

Mahira berdiri, meluruskan dressnya yang udah rapi. "Aku pulang dulu ya Naura, nanti malem ada janji sama Nathan, dia mau ajak aku makan malam."

Pisau. Kata kata Mahira kayak pisau yang nusuk jantung Naura berkali kali. Nathan mau makan malam sama Mahira. Bukan sama istrinya yang hamil anaknya.

"O-oke, hati-hati di jalan."

Mahira peluk Naura lagi, kali ini lebih lama. Bibirnya deket banget di telinga Naura.

"Jaga diri baik baik ya Naura," dia berbisik pelan, pelan banget sampe Naura ga yakin dia denger bener atau gak. "Apalagi kalau kamu lagi hamil gitu, kan harus extra hati-hati, banyak bahaya dimana-mana."

Mahira melepas pelukan, senyum manis. Tapi mata Mahira dingin, Sangat dingin. Kayak mata ular yang lagi ngeliatin mangsa. Naura berdiri membeku di taman sambil nonton Mahira jalan keluar dari mansion.

Naura belum bilang ke siapapun kecuali bi Ijah. Apa Bi Ijah yang bilang?

Gak mungkin, Bi Ijah ga akan khianati Naura, terus gimana Mahira bisa tau?

Naura langsung lari ke ruang tamu, nyari foto USG yang dia ninggalin di meja tadi pagi. Foto itu masih di situ, persis di posisi yang sama.

Tapi ada yang beda, foto itu agak kusut di pinggirnya. Kayak dipegang sama orang lain. Naura ngangkat foto itu dengan tangan gemetar.

Mahira pasti sudah liat, Mahira tau, dan sekarang Mahira ancam Naura dengan halus.

"Banyak bahaya dimana-mana."

Ancaman, itu ancaman. Naura jatuh duduk di sofa, peluk foto USG ke dada.

"Ya Allah." dia berbisik sambil nangis "Gimana ini."

Bi Ijah keluar dari dapur, liat Naura nangis. "Nyonya kenapa?"

"Bi, Mahira tau. Dia tau kalo aku hamil." Naura nangis keras.

Bi Ijah langsung duduk di samping Naura, peluk dia. "Gimana bisa Nyonya?"

"Aku gak tau Bi, mungkin dia liat foto ini pagi tadi, aku ninggalin di sini, aku bodoh bi, aku ceroboh."

"Nyonya jangan salahkan diri sendiri, ini rumah Nyonya, Nyonya bebas naruh apapun dimana aja."

"Tapi sekarang dia tau Bi, dan dia ancam aku." Naura terisak

"Ancam gimana?"

Naura cerita tentang kata kata Mahira tadi, tentang tatapan mata Mahira, tentang semua yang bikin Naura takut.

Bi Ijah memeluk Naura lebih erat. "Nyonya harus bilang ke Tuan Nathan, harus bilang tentang kehamilan ini secepatnya, biar Tuan Nathan bisa jaga Nyonya."

"Nathan gak akan peduli Bi." Naura menggeleng sambil nangis. "Dia ga peduli sama aku, dia cuma peduli Mahira, bilang juga percuma."

"Tapi ini anak dia Nyonya! dia harus tau!"

"Aku takut, Bi," Naura memeluk Bi Ijah sambil gemetar. "Aku takut Mahira bakal lakuin sesuatu ke bayi ini, aku takut."

Dan ketakutan Naura bukan tanpa alasan, karena di tempat lain, di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan ga jauh dari mansion, Mahira duduk sambil buka ponselnya.

Ngeliatin foto hasil USG Naura yang dia foto tadi pagi. Zoom in ke titik kecil di tengah foto, calon bayi Naura, calon anak Nathan, penghalang rencana Mahira.

"Kamu gak akan lahir ke dunia ini sayang." Mahira berbisik sambil senyum dingin. "Mama gak akan biarin kamu ambil papa dari mam.."

Dia buka aplikasi note di ponselnya, mulai nulis rencana. Rencana buat bikin Naura keguguran. Rencana yang licik yang gak akan ninggalin jejak.

Dan Mahira senyum lebar sambil nulis. Senyum seseorang yang udah kehilangan kemanusiaannya. Senyum monster yang siap bunuh bayi yang ga bersalah demi dapetin apa yang dia mau. Senyum yang bakal jadi mimpi buruk Naura untuk selamanya.

1
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Leoruna: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
kalea rizuky
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
kalea rizuky
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!