Tolong tinggalkan Like Dan comment yah ❤😍
Danny sudah memantapkan pilihannya pada Rose, gadis yang lebih mudah darinya. Rose sudah terlanjur hidup dalam gelapnya masa lalunya, begitu berhasil mendapatkan Rose, ada saja cobaan dalam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesicca26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ijinkan aku mencintaimu, Rose.
Suara gaduh terdengar dari kamar tempat Rose dirawat, Rose melempari Danny dengan semua barang yang ada didekatnya. Dia mengamuk menghamburkan semua barang didalam ruangan, selang infusnya dia cabut paksa. Kegilaan akan semakin menjadi jika laki-laki yang masuk kedalam entah itu perawat, dokter ataupun teman yang ingin menjenguk diusir Rose.
Hanya ayahnya dan Billy yang boleh masuk kedalam, Rose benar-benar akan panik dan histeris jika ada laki-laki selain mereka berdua.
Ayah dan Billy masuk dan menenangkan Rose, Billy kemudian meminta Danny menunggu diluar sembari menunggu Rose tenang. Danny benar-benar kaget dengan reaksi Rose, dia baru bisa mengunjungi Rose setelah Rose sadar dua hari lalu karna harus menemui clientnya. Setelah Rose benar-benar tenang barulah perawat perempuan masuk dan memasanginya infus lagi dan membereskan ruangan yang berantakan karna amukan Rose.
Billy keluar sambil menutup pintu "Ada yang luka nggak?" tanyanya lalu duduk disamping Danny
Danny menggeleng "Apa dia seperti ini pada semua laki-laki?"
"Iya, kita juga nggak tau. Pas dia siuman dia terlihat baik-baik aja, sampai saat cairan infusnya habis dan papa memanggil perawat untuk mengganti botol infus. Rose jadi histeris kesetanan saat perawat laki-laki masuk, dokter laki-laki juga nggak bisa mendekatinya."
Danny dan Billy berbincang cukup lama, sampai akhirnya terdengar suara pintu dibuka. Keduanya menoleh melihat papa keluar, papa berjalan lusuh lalu duduk disebelah Billy sambil menghela nafas panjang.
"Rose sudah tidur, dokter Ella memberikan obat penenang." beritahu papa sambil melihat Danny seperti memberi kode jika ingin melihat Rose
"Saya boleh masuk liat Rose?" tanya Danny meminta ijin
"Silahkan." jawab papa
Perlahan Danny membuka pintu dan melihat Rose tertidur, perlahan dia melangkah masuk agar nggak menghasilkan suara ribut yang bisa membangunkan Rose. Danny lalu duduk disamping tempat tidur sambil menatap wajah Rose yang masih pucat, airmata meleleh dipipi Rosenyang sedang tidur. Danny dapat merasakan perih yang dirasakan Rose, hidup dalam kelamnya masa lalu dan menanggungnya sendirian cukup untuk membuat jiwa Rose tertekan.
Tangan Danny meraih tangan Rose "Rose, jangan siksa diri kamu, sayang. Aku janji akan bantu kamu terlepas dari masalalu kamu, masih banyak hal indah yang nggak kamu ketahui diluar sana." ucap Danny sambil menempelkan tangan Rose dipipinya "Ijinkan aku mencintaimu Rose." lanjutnya lalu mencium punggung tangan Rose
Suara pintu terdengar terbuka, dokter Ella masuk dan melihat Danny tengah duduk sambil melihat kearahnya. Dia menarik nafas panjang lalu melangkah maju mendekat. Dokter Ella adalah dokter spesialis yang menangani ibu Danny dulu, karna itu Danny menpercayakan Rose dalam perawatannya.
"Dia pacar kamu yah?" tanya Ella
"Belum. Saya masih berusaha mendapatkan hatinya." jawab Danny jujur
"Kamu harus berusaha lebih kuat, Dan. Rose menderita depresi mayor, suasana hatinya bisa berubah setiap saat, kehilangan berat badan, selalu merasa bersalah dan tidak berguna.. Dan yang paling pokok, dia bisa kapan saja berusaha untuk bunuh diri." ucap Ella.
Mendengar itu Danny menundukkan kepalanya sambil tetap menggenggam tangan Rose "Seperti mama dulu?" suaranya lirih
Sekali lagi Ella menarik nafas panjang, wajah menunjukkan rasa prihatin dengan apa yang dihadapi Danny "Benar." jawabnya lalu menepuk pundak Danny "Kalo kamu benar-benar serius dengan pasien ini, perjuangkan! Stress sedikit saja bisa memancing emosinya yang berlebihan dan akan mencoba melukai diri sendiri. Jangan biarkan dia berakhir seperti mama kamu."
Mulut Danny membisu, dia kembali teringat pada mamanya yang meninggal bunuh diri saat dia berumur delapan tahun. Papanya yang sibuk hanya menyuruh dokter dan orang suruhan untuk merawat mamanya, karna malu sampai diketahui oleh rekan bisnisnya papa mengurung mama dirumah yang saat ini ditinggalinya. Mamanya berhasil bunuh diri dengan menusukkan pecahan gelas tepat dijantungnya. Danny yang masih kecil saat itu belum mengerti apa itu depresi, tangan kecilnya menggenggam erat tangan mamanya saat mamanya menghembuskan nafas untuk yang terakhir kali.
Semenjak itu Danny dan papanya nggak terlalu dekat, hubungan ayah dan anak yang mereka jalani hanya sekedar didepan umum, dan dilakukan saat diperlukan untuk ditunjukkan pada media. Setelah itu Danny hidup sendiri dirumah tempat ibunya meninggal, pak Sam adalah orang paling setia merawat Danny hingga kini.
Setelah menjelaskan semua yang perlu Danny ketahui Ella pergi meninggalkan Danny yang masih duduk sambil memegang tangan Rose, papa dan Billy yang berniat masuk langsung mengurungkan niatnya saat melihat Danny. Mereka kembali duduk diluar.
"Apa menurut papa dia bisa dipercaya?" tanya Billy
"Dicoba saja, toh papa nggak akan biarkan dia macam-macan. Dia juga terlihat baik dan bertanggungjawab, siapa tau kehadirannya bisa membantu penyembuhan Rose." jawab papa berusaga meyakinkan
"Yah sudah, kita kasih dia kesempatan."
Didalam kamar masih dengan posisi yang sama Danny terus menunggu Rose, tangannya enggan melepaskan Rose yang sedang tertidur dibawah pengaruh obat penenang.
"Kamu nggak sendirian menghadapi ini, Rose. Kamu terlalu berharga untukku. Aku akan selalu ada untukmu, Rose. Jangan menyerah." ucapnya lagi lalu kembali menempelkan punggung tangan Rose dipipinya
Suasana hening dalam ruangan terganggu saat HPnya berbunyi, cepat-cepat Danny mematikan suara HPnya sambil melirik Rose yang masih tertidur. Dia melangkah menjauhi Rose dan berdiri dibagian ruang tamu mengangkat telpon.
"Yah halo."
"Pak Benny terjatuh saat menghadiri pertemuan, beliau sekarang ada dirumah sakit." suara diseberang memberitahu Danny
"Kirimkan lokasinya." perintah Danny lalu memutus sambungan telpon
Sekertaris papanya menghubunginya, ini pertama kalinya setelah berbulan-bulan nggak ada komunikasi antara mereka. Mereka nggak pernah bertengkar, hanya saja hubungan ayah dan anak yang mereka jalani terlalu dingin. Ayahnya yang nggak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada ibunya membuat rasa benci Danny makin bertambah, meski begitu Danny nggak pernah bersikap kurang ngajar pada ayahnya, dia membantu ayahnya menjalakan perusahaan bahkan berjuang menyelamatkan perusahaan disaat perusahaan goyang dan nyaris bangkrut.
"Pak Sam, saya mengirimkan lokasi dimana papa dirawat. Sebentar lagi saya turun kebawah." beritahu Danny ditelpon lalu memutus sambungan telpon
Sebelum pergi Danny kembali mendekati Rose dan mengecup dahi Rose "Aku pergi sebentar, nggak lama. Cepat sembuh, Rose." ucapnya lalu berjalan keluar
"Om, Billy, saya pamit sebentar. Ayah saya juga sedang dirawat, setelah itu saya kembali kesini." kata Danny sesaat setelah menutup pintu.
"Ohh papa lo sakit?" tanya Billy
"Terjatuh saat rapat, saya baru mau pergi cek. Kalo begitu saya permisi dulu."
"Okey, kamu hati-hati dijalan." ucap papa mempersilahkan Danny pergi
Danny kemudian pergi meninggalkan dua pasang mata yang masih mengikutinya hingga hilang saat dia masuk lift.
"Yah sudah, ayo pa kita masuk kedalam." ajak Billy lalu membuka pintu dan masuk kedalam ruangan dimana Rose dirawat
Sekalian kasih rekomen novel yang rapi juga, judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib pakek tanda kurung ya nyarinya
mampir juga di ceritaku yh thor
"love with enemy