NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Wakasa berjongkok di dekat tubuh Spinokiller, lalu mengeluarkan kristal merah kehitaman dari dada monster itu. Kristal itu masih berdenyut pelan, menyisakan sisa aura panas.

“Target utama,” ucapnya singkat, lalu menyimpannya dengan hati-hati.

Setelah itu, Wakasa membuka magic hole di tanah. Lingkaran hitam berkilau muncul, dan tubuh raksasa Spinokiller perlahan tersedot masuk hingga tak tersisa apa pun. Tanah kembali normal seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Diana mengangguk kagum.

“Selalu saja praktis. Andai aku punya itu, aku tak perlu menyeret monster ke mana-mana.”

Starla tersenyum kecil.

“Jangan-jangan kau malah memakainya untuk hal aneh.”

Diana langsung menyeringai lebar.

“Oh? Hal aneh seperti apa?”

Ia mendekat ke Starla sambil berbisik usil, “Atau… menyimpan kenangan manis saat seseorang bersembunyi di belakang Wakasa?”

Starla berhenti melangkah.

“A-aku tidak bersembunyi!”

Wakasa menoleh sekilas, sedikit bingung.

“Ada apa?”

“Tidak ada!” jawab Starla terlalu cepat, pipinya memerah.

Diana tertawa lepas.

“Hahaha! Lihat, Wakasa. Sepertinya seseorang mulai nyaman berada di dekatmu.”

Starla memalingkan wajah, suaranya mengecil.

“Diana, hentikan…”

Wakasa hanya menghela napas kecil, namun ada senyum samar di wajahnya.

“Kalian berdua masih punya tenaga untuk bercanda setelah pertarungan tadi?”

“Tentu,” jawab Diana santai. “Menggoda Starla adalah sumber energiku.”

“KAU—”

Starla terdiam, lalu mendengus kesal, namun senyumnya tak bisa ia sembunyikan.

Tak lama kemudian, gerbang ibu kota terlihat menjulang di hadapan mereka. Suasana ramai, suara pedagang dan petualang bercampur menjadi hiruk-pikuk yang terasa menenangkan setelah hutan yang mencekam.

Tanpa membuang waktu, mereka bertiga langsung menuju kantor petualang.

Begitu pintu dibuka, seorang gadis berambut merah muda menoleh dari balik meja. Matanya langsung berbinar.

“Oh! Kalian kembali.”

“Sakura,” sapa Wakasa sambil berjalan mendekat. “Misi Spinokiller selesai.”

Sakura berdiri, menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum lega.

“Aku sudah menduganya, tapi tetap saja… kalian benar-benar cepat.”

Diana menyandarkan siku di meja dengan gaya santai.

“Tentu saja. Dengan pemimpin sehandal Wakasa dan penyihir secantik Starla, bagaimana mungkin gagal?”

Starla terkejut.

“Diana!”

Sakura tertawa kecil, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.

“Wah~ sepertinya aku melewatkan sesuatu yang menarik.”

“Tidak ada yang menarik,” jawab Wakasa cepat.

“Oh, tentu~” Sakura tersenyum jahil. “Kalau begitu, serahkan kristalnya.”

Wakasa menyerahkan kristal Spinokiller ke meja. Sakura memeriksanya sejenak, lalu mengangguk puas.

“Lengkap dan dalam kondisi bagus. Kalian bertiga hebat.”

Diana mengangkat kedua tangannya ke udara.

“Yosh! Makan besar setelah ini, kan?”

Starla tertawa pelan.

“Setidaknya, kita bisa istirahat dengan tenang.”

Sakura menatap mereka dengan senyum hangat.

“Selamat datang kembali. Kantor petualang selalu menunggu kalian.”

Setelah semua urusan selesai, mereka bertiga berpamitan pada Sakura.

“Hati-hati di jalan,” ucap Sakura sambil melambaikan tangan.

“Tentu,” jawab Wakasa singkat.

“Jangan lupa istirahat!” tambahnya.

“Kalau perutku sudah terisi, itu namanya istirahat,” sahut Diana riang.

Begitu keluar dari kantor petualang, cahaya senja menyinari jalanan ibu kota. Mereka berjalan berdampingan menuju aula kota, tempat berbagai rumah makan terkenal berkumpul.

“Akhirnya… makanan,” gumam Diana sambil merentangkan tangan.

“Sepertinya kau hanya memikirkan itu sejak misi selesai,” kata Starla sambil tersenyum.

“Setelah bertarung dengan Spinokiller, aku rasa aku pantas mendapatkannya,” balas Diana.

Wakasa melirik mereka berdua. “Kau benar.”

Diana terkekeh.

“Dengan Starla di sini? Aku akan berusaha jadi manis.”

Starla menatapnya curiga.

“Aku tidak yakin.”

Mereka bertiga tertawa kecil, langkah mereka terasa lebih ringan dibanding saat berangkat misi.

Tak lama, mereka tiba di sebuah tempat makan yang ramai. Aroma daging panggang dan sup hangat langsung menyambut. Mereka duduk di satu meja, lalu mulai memesan.

“Aku mau yang paling besar,” kata Diana tanpa ragu.

“Aku pesan steak saja” jawab Wakasa.

Starla mengangguk kecil. “Aku sup hangat saja.”

Sambil menunggu pesanan, Diana bersandar santai.

“Ngomong-ngomong, Spinokiller itu keras kepala sekali. Kalau tidak diikat mulutnya, kita pasti kerepotan.”

Starla mengangguk.

“Auranya jauh lebih kuat dari yang tercatat di papan misi.”

“Kerja sama kita yang membuatnya jatuh,” kata Wakasa tenang.

Tanpa mereka sadari, di meja belakang, seorang petualang bertubuh besar dengan bekas luka di wajah menghentikan makannya. Sejak tadi, telinganya menangkap potongan percakapan mereka.

“Spinokiller… peringkat A?” gumamnya pelan.

Ia melirik ke arah Wakasa dengan tatapan tajam.

“Hah… jadi dia orangnya.”

Petualang itu mendengus, lalu berbicara pada rekannya dengan suara cukup keras untuk terdengar.

“Anak itu lagi. Ke mana pun aku pergi, namanya selalu muncul.”

“Aku sudah bertahun-tahun jadi petualang, tapi orang baru seperti dia malah mengalahkan monster yang bahkan tak berani ku dekati.”

Ia kembali menatap punggung Wakasa.

“Dengan wajah tenang seperti itu… seolah semuanya mudah.”

Diana yang memiliki pendengaran tajam melirik ke belakang, menyeringai tipis.

“Sepertinya kita jadi bahan pembicaraan.”

Starla berbisik pelan.

“Apa… itu tidak masalah?”

Wakasa tetap tenang, matanya tak berpaling.

“Biarkan saja. Selama kita tidak mencari masalah.”

tawa kecil kembali terdengar saat makanan mulai dihidangkan—tak peduli pada tatapan di sekeliling mereka.

Makanan akhirnya tersaji di atas meja—daging panggang besar, sup hangat, dan steak yang aromanya langsung menggugah selera.

Diana langsung menyambar potongan daging terbesar.

“Ahhh~ ini dia kebahagiaan sejati setelah hampir dibakar hidup-hidup.”

Starla tertawa kecil sambil mengaduk sup nya.

“Kau benar-benar tidak berubah.”

Wakasa mencicipi makanannya dengan tenang.

“Energi kita perlu dipulihkan. Terutama kau, Diana.”

“Hei, aku yang menutup pertarungan, tahu!” protes Diana sambil tersenyum bangga.

Starla menatap Diana, lalu Wakasa, matanya berbinar lembut.

“Tapi… aku senang. Kita bisa makan bersama seperti ini setelah semuanya selesai.”

Wakasa mengangguk kecil.

“Ya. Ini juga bagian dari hasil kerja keras.”

Diana menyeringai, mencondongkan badan ke arah Starla.

“Dan bonusnya, aku bisa melihat wajah bahagiamu~”

Starla tersipu dan menunduk.

“Diana…”

Tawa kecil kembali mengisi meja mereka, menenggelamkan sisa ketegangan dari pertempuran tadi.

Setelah semua makanan habis, Diana menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kenyang~ aku bisa tidur berdiri sekarang.”

Starla berdiri sambil merapikan jubahnya.

“Kalau begitu, kita pulang. Besok kita masih punya urusan.”

Wakasa bangkit.

“Aku akan lewat jalan lain.”

Diana mengangkat alis.

“Oh? baiklah.”

“Hati-hati di jalan,” kata Starla lembut.

Wakasa menatapnya sejenak, lalu mengangguk.

“Kalian juga.”

Mereka pun berpisah di persimpangan, Diana melambaikan tangan sambil bersiul kecil, sementara Starla menoleh beberapa kali sebelum akhirnya menghilang di keramaian kota.

Jalan yang Wakasa pilih lebih sempit dan sepi. Lampu-lampu kristal kota menerangi jalan dengan cahaya redup, bayangan bangunan memanjang di dinding batu. Langkah Wakasa tenang, seolah tidak ada apa-apa.

“Terlalu tenang untuk orang sepertimu.”

Suara itu datang dari depan. Beberapa petualang muncul dari balik bayangan—empat orang, termasuk pria yang tadi mengeluh di rumah makan.

Wakasa berhenti, ekspresinya tetap datar.

“Kalian mengikuti ku?”

Petualang itu menyeringai miring.

“Jangan sok polos. Kami hanya ingin bicara.”

“Kalau bicara,” jawab Wakasa santai, “kalian tidak perlu berdiri seperti itu.”

Salah satu petualang mengepalkan tangan.

“Kau pikir dunia ini adil, ya? Datang entah dari mana, lalu langsung jadi pusat perhatian.”

Wakasa menghela napas pelan.

“Aku hanya menyelesaikan misi.”

“Hmph! Mudah bagimu mengatakannya!” bentak petualang utama itu.

Wakasa melangkah melewati mereka.

“Aku tidak tertarik dengan iri hati kalian.”

Saat Wakasa hendak pergi—

Cling!

Salah satu petualang mencabut pedangnya dan mengayunkannya ke arah Wakasa.

Namun—

Dalam sekejap, Wakasa sudah tidak ada di tempatnya berdiri.

“Hah?!”

Tiba-tiba, hawa dingin menyentuh leher si penyerang. Sebilah pisau tipis telah menempel tepat di kulitnya. Wakasa berdiri di belakangnya, suara napasnya tenang, matanya dingin tanpa emosi.

“Jika kau terus seperti ini,” ucap Wakasa pelan namun tajam,

“aku tidak ragu membunuhmu, loh.”

Tubuh petualang itu membeku. Keringat dingin mengalir deras.

“A-aku…”

Tiga petualang lainnya mundur refleks, wajah mereka pucat.

“Cepat sekali…”

“Aku bahkan tidak melihatnya bergerak…”

“Itu… bukan kecepatan biasa…”

Wakasa menarik pisaunya dan kembali.

“Jangan paksa seseorang untuk menunjukkan sisi yang tidak ingin ia perlihatkan.”

Tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi, langkahnya kembali santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, bayangan Wakasa perlahan menjauh—meninggalkan empat petualang yang masih berdiri gemetar, menyadari satu hal pahit:

Ada perbedaan besar antara iri… dan benar-benar kuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!