Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Sabotase di Menit Terakhir
Tekanan deadline bertemu dengan sabotase yang menguji kerja sama tim antara Adelia dan Arlan.
Dua hari. Empat puluh delapan jam untuk membuktikan bahwa cinta tidak membuat mereka lemah.
Studio 4 berubah menjadi medan perang. Arlan bekerja seperti mesin yang tak kenal lelah, sementara Adelia menjadi jenderal lapangan yang memastikan tidak ada satu pun kru yang bergosip di jam kerja. Namun, ancaman Reihan Malik bukan sekadar gertakan sambal.
"Pak Arlan! Monitor tiga mati total! Semua data playback adegan tadi pagi hilang!" teriak salah satu asisten editor di jam keenam belas mereka bekerja.
Arlan melompat dari kursinya. "Bagaimana bisa? Kita pakai sistem back-up ganda!"
Adelia segera memeriksa kabel-kabel di belakang meja kontrol. Ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: kabel serat optik utama tampak seperti dipotong secara sengaja dengan benda tajam, bukan karena korsleting listrik.
"Ini disabotase," bisik Adelia pada Arlan agar kru lain tidak panik.
Arlan mengepalkan tinju. Ia menoleh ke arah ruang tunggu artis, di mana Reihan sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Amarah Arlan hampir meluap, namun Adelia dengan cepat memegang lengannya.
"Jangan sekarang, Arlan. Kalau kamu menyerangnya di depan orang banyak, dia menang. Biarkan saya yang urus teknisnya. Kamu fokus arahkan Reihan untuk adegan close-up terakhir. Jangan beri dia celah untuk berakting buruk," bisik Adelia tegas.
Arlan menarik napas dalam, mencoba meredam 'Naga' di dalam dirinya. "Kamu punya waktu satu jam untuk memulihkan monitor itu, Adel. Jika tidak, kita kehilangan cahaya matahari buatan yang sudah diatur tim lighting."
Adelia mengangguk. Ia tidak memanggil tim teknisi luar yang butuh waktu lama untuk datang. Ia ingat bahwa di gudang logistik ada cadangan kabel dari proyek bulan lalu. Dengan tangan yang masih terbalut plester, ia membongkar tumpukan kotak berat sendirian.
Saat ia sedang sibuk, bayangan seseorang menutupi cahayanya.
"Masih mau jadi pahlawan, Adel?" Itu Reihan. Dia berdiri di pintu gudang dengan senyum sinis.
Adelia tidak berhenti bekerja. "Kenapa kamu lakukan ini, Reihan? Kamu aktor besar. Kalau proyek ini hancur, namamu juga ikut terseret."
Reihan tertawa pelan, melangkah masuk ke gudang yang sempit. "Aku punya kontrak lain yang lebih besar dengan perusahaan Papa-nya Arlan. Menghancurkan Arlan adalah bonus yang sangat menguntungkan. Lagi pula, siapa yang akan percaya asisten kecil sepertimu? Semua orang akan berpikir Arlan ceroboh karena terlalu sibuk bermesraan denganmu."
Adelia berdiri, menatap tepat ke mata Reihan. "Kamu meremehkan saya. Dan itu kesalahan terbesarmu."
Adelia mengeluarkan ponselnya dari saku. Di layarnya, terlihat aplikasi perekam suara yang masih berjalan. "Terima kasih atas pengakuannya. Ini sudah cukup untuk membuat agensimu memutuskan kontrakmu atas dasar sabotase produksi."
Wajah Reihan mendadak pucat. "Hapus itu, Adelia! Jangan main-main!"
Reihan mencoba merebut ponsel itu, namun Adelia dengan gesit menghindar dan berlari keluar menuju set utama. "Arlan! Saya punya sesuatu!"
Melihat Adelia berlari dengan Reihan yang mengejar di belakangnya, Arlan langsung siaga. Ia menghadang Reihan dengan tubuh tegapnya. "Berhenti di situ, Reihan."
"Dia mencuri privasiku, Arlan! Berikan ponsel itu!" teriak Reihan panik.
Adelia menyerahkan ponselnya pada Arlan. Begitu Arlan mendengarkan rekaman pendek itu, auranya berubah menjadi sangat dingin—dingin yang jauh lebih mengerikan daripada teriakannya yang biasa.
"Keluar," ujar Arlan pendek.
"Apa?" Reihan tertegun.
"Keluar dari set saya. Sekarang. Saya tidak butuh aktor pengkhianat. Peranmu akan saya gantikan dengan stuntman untuk adegan jauh, dan untuk close-up, saya punya cukup rekaman cadangan," Arlan melangkah maju, memaksa Reihan mundur. "Dan jangan harap kamu bisa bekerja di industri ini lagi setelah saya mengirim rekaman ini ke asosiasi produser."
Reihan pergi dengan makian yang tertahan, menyadari bahwa ia baru saja menggali kuburannya sendiri.
Setelah Reihan pergi, suasana studio mendadak sunyi. Kru menatap Arlan dan Adelia dengan perasaan campur aduk. Arlan kemudian berbalik ke arah timnya.
"Semuanya, dengar!" suara Arlan menggema.
"Kita punya sepuluh jam tersisa. Kita tidak punya aktor utama, tapi kita punya talenta terbaik di ruangan ini. Adelia sudah menyelamatkan data kita, sekarang mari kita selamatkan kehormatan kita. Kerja!"
Semangat kru kembali berkobar. Mereka bekerja dengan kecepatan dua kali lipat. Adelia memimpin koordinasi dengan presisi yang luar biasa, sementara Arlan mengedit secara langsung di lokasi.
Di tengah kesibukan itu, Arlan sempat menarik Adelia ke sudut ruangan. Ia mengusap pipi Adelia yang kotor karena debu gudang.
"Kamu luar biasa, Adel. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpamu."
"Kamu akan tetap jadi sutradara pemarah yang sukses, tapi mungkin kopinya selalu dingin," canda Adelia, mencoba mencairkan
suasana.
Arlan tersenyum, lalu mengecup kening Adelia singkat. "Setelah ini selesai... kita umumkan pada dunia siapa kita sebenarnya. Tanpa sembunyi-sembunyi lagi."
Adelia mengangguk mantap. Namun, di balik keberhasilan mereka mengusir Reihan, Adelia melihat sosok pria berjas mahal berdiri di balkon studio, menatap mereka dengan tatapan dingin. Itu adalah Papa Arlan. Dan dia belum mengeluarkan kartu as terakhirnya.