"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Selamat Pagi, Papa, Mama!
[POV: Vaya]
10 Tahun Kemudian...
"M-ma, mm—"
Vaya merasakan tangan kecil yang lembut menepuk-nepuk pipinya. Matanya yang terasa sangat berat perlahan terbuka. Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar sangat terang, berbeda dengan lampu redup di kamarnya semalam.
"Ugh... pusing..." Vaya memegang kepalanya.
"Papa, Papa--dadada!" suara mungil itu kembali terdengar.
Pandangan Vaya yang buram perlahan fokus. Dia terbelalak. Di atas perutnya, seorang bayi perempuan cantik berusia sekitar dua tahun sedang duduk sambil tertawa, tangannya kini beralih menepuk-nepuk pria yang tidur di sebelah Vaya.
"Nenen!" si kecil itu menepuk dada pria itu dengan kuat.
Pria itu bergerak, mengerang pelan sebelum membuka matanya. Vaya menahan napas. Pria itu adalah Narev. Tapi dia tampak lebih dewasa, bahunya lebih lebar, dan rahangnya jauh lebih tegas.
"Sakit..." Narev mengucek matanya, satu tangannya masih melingkar protektif di pinggang Vaya. Dia melihat bayi itu, lalu melihat Vaya yang sedang melongo kaget. "Hah? Dari mana datangnya si kecil ini?"
Mereka berdua saling menatap, ekspresi mereka sama-sama bingung dan ketakutan. Sementara itu, bayi di samping mereka mulai menangis keras karena merasa diabaikan.
"Narev... kenapa kamu jadi tua?!" teriakku histeris. Suaraku melengking tinggi, memantul di dinding kamar yang luas dan mewah ini.
Narev, yang biasanya selalu punya jawaban ketus, hanya bisa melongo. Dia menatap tangannya sendiri, lalu meraba rahangnya yang kini ditumbuhi bayangan jenggot tipis yang rapi. "Tua? Apa maksudmu, Cebol? Aku baru saja—"
Kalimatnya terhenti saat dia menatap bayangannya di cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Dia terkesiap, melompat turun dari tempat tidur hingga hampir terjungkal. "Sial! Ini... ini bukan wajahku! Kenapa aku terlihat seperti pria berumur dua puluh delapan tahun?!"
"Papa! Huaaa! Papa!"
Bayi perempuan di atas tempat tidur itu mulai menangis kencang. Wajahnya memerah, air mata mulai mengalir di pipi tembamnya yang beraroma susu. Dia merangkak ke arahku, menarik-narik piyamaku yang berbahan sutra mahal—tunggu, sutra? Sejak kapan aku punya piyama begini?
"Narev, bayinya nangis! Lakukan sesuatu!" seruku panik, menjauhkan diri seolah bayi itu adalah bom yang siap meledak.
"Kenapa aku?! Aku tidak kenal dia!" Narev membalas, suaranya kini jauh lebih berat dan dalam, terdengar sangat maskulin hingga membuatku merinding meski dalam keadaan kacau.
"Dia panggil kamu 'Papa'! Kamu pasti sudah melakukan sesuatu di masa depan ini!" aku menudingnya dengan telunjuk gemetar.
"Jangan konyol! Semalam aku baru saja mengangkatmu dari sofa karena kau mabuk seperti babi! Bagaimana mungkin aku punya anak sebesar ini dalam semalam?!"
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dua kali. Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi masuk sambil tersenyum lebar.
"Selamat pagi, Tuan Narev, Nyonya Vaya. Oh, tampaknya Non Miciella sudah bangun duluan ya?" wanita itu menghampiri tempat tidur dan dengan luwes menggendong bayi itu. "Cup, cup, sayang... Mama dan Papa baru bangun ya? Mari, Bi Inah siapkan sarapannya di bawah."
Aku dan Narev membeku. Kami saling pandang dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya.
"Nyo-nyona?" aku terbata, menunjuk diriku sendiri. "Bi... Bi Inah? Saya... saya Nyonya di sini?"
Bi Inah tertawa kecil, menganggap pertanyaanku sebagai lelucon pagi hari. "Nyonya Vaya ini ada-ada saja. Sudah tiga tahun menikah kok masih nanya. Oh iya, Tuan Narev, tadi sekretaris Tuan menelepon, katanya ada rapat penting jam sembilan di kantor pusat."
Setelah Bi Inah keluar membawa bayi—yang katanya bernama Miciella—suasana kamar menjadi sunyi senyap. Hanya ada deru napas kami yang memburu.
Aku segera berlari ke arah cermin yang tadi dilihat Narev. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Di depan sana, berdiri seorang wanita dewasa yang cantik. Rambutku yang biasanya dikuncir kuda asal-asalan, kini tergerai indah dengan gelombang yang teratur. Wajahku terlihat lebih matang, lebih anggun, dan di jari manisku... ada sebuah cincin berlian yang berkilau mewah.
"Narev..." suaraku bergetar, hampir menangis. "Ini benar-benar sepuluh tahun ke depan. Kita... kita menikah?"
Narev berjalan mendekat. Dia berdiri di belakangku, dan perbedaan tinggi kami masih tetap sama—dia masih seperti raksasa bagiku. Namun, tatapannya saat melihatku di cermin berubah. Ada binar aneh yang tidak pernah kulihat di masa SMA.
"Cincin itu..." Narev meraih tanganku, jemarinya yang besar dan hangat melingkari tanganku dengan pas. "Itu marga Elvaro. Kau benar-benar istriku di sini."
"Tapi bagaimana bisa?! Kita kan musuh! Aku benci kamu, Narev! Kamu selalu ngatur aku, panggil aku cebol, dan—"
"Dan aku menjagamu dari semua cowok di sekolah," potong Narev. Dia memutar tubuhku agar menghadapnya. Tangannya kini berada di bahuku, terasa sangat posesif. "Vaya, dengerin aku. Kalau ini benar masa depan, berarti semua yang aku inginkan... sudah jadi nyata."
Aku mengernyit, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa maksudmu 'semua yang kamu inginkan'?"
Narev terdiam, rahangnya mengeras seolah dia baru saja membocorkan rahasia besar. Dia melepaskan bahuku dan berjalan ke arah jendela, melihat pemandangan kota dari lantai atas apartemen mewah ini.
"Lupakan," gumamnya. "Yang penting sekarang, kita harus tahu bagaimana cara bertindak sebagai 'suami-istri' di depan orang-orang sebelum kita menemukan jalan pulang. Atau... kau memang ingin pulang ke masa di mana kau harus belajar untuk ujian masuk universitas lagi?"
Aku tertegun. Benar juga. Di sini aku kaya, punya suami tampan (meski menyebalkan), dan seorang bayi yang menggemaskan. Tapi, pria di depanku ini adalah Narev yang kasar dari masa SMA, bukan Narev dewasa yang mencintaiku.
"Kita harus cari cara buat balik, Narev! Aku belum siap jadi Ibu!"
Narev berbalik, sebuah senyum tipis—hampir seperti seringai—muncul di wajah dewasanya yang sangat tampan. "Kita lihat saja nanti, Vaya. Tapi sebelum itu... kurasa kau harus ganti baju. Karena Bi Inah bilang, mertuamu—maksudku ibuku—akan datang berkunjung siang ini."
"APA?!"
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa