Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Apartemen Luciano di kawasan Central Park South adalah perwujudan dari kemewahan yang sunyi. Dinding kaca setinggi langit-langit menyuguhkan panorama hutan beton Manhattan yang mulai berkerlip ditelan senja. Namun, keindahan di luar sana tidak mampu mencairkan kecanggungan yang menggantung di udara ruang tamu yang luas itu.
Paris duduk di sofa beledu kelabu, merasa sangat kecil di tengah furnitur minimalis yang harganya mungkin setara dengan rumah keluarganya. Di sampingnya, Luciano duduk dengan jarak yang cukup dekat, namun terasa ada jurang yang lebar di antara mereka. Sebuah televisi layar lebar menyala, menampilkan saluran berita bisnis yang suaranya dikecilkan, hanya menjadi latar belakang yang hambar.
"Bagaimana belajarmu hari ini?" suara Luciano memecah keheningan. Nadanya datar, namun ada getaran halus yang jarang ia tunjukkan.
"Baik, Lucian. Aku baru saja menyelesaikan esai sejarah," jawab Paris pelan. Ia masih mengenakan sweater rajut kebesarannya, seolah itu adalah baju zirah yang melindunginya dari dunia luar.
Luciano menoleh. Matanya menatap sweater itu, lalu beralih ke wajah Paris yang merona. Sejujurnya, jantung Luciano berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Ia bukan lagi jenius matematika yang menguasai angka; ia hanyalah seorang remaja laki-laki yang sedang berperang dengan insting dan instruksi gelap dari Max.
"Apa kau tidak merasa panas, Paris?" tanya Luciano tiba-tiba. Tangannya terangkat, menyentuh ujung lengan sweter Paris. "Buka saja. Di sini pemanas ruangannya bekerja dengan sangat baik."
Paris ragu sejenak, namun ia melihat tatapan Luciano yang tampak... gelisah. Ia pun melepas sweaternya, menyisakan kaus katun tipis yang membungkus tubuhnya. Luciano menelan ludah. Instingnya sebagai laki-laki mulai mengambil alih, mendesak logika yang selama ini ia agungkan.
"Paris... mau ke kamarku?"
Pertanyaan itu membuat Paris tersentak. "Tidak, Lucian. Di sini saja sudah nyaman."
Luciano berdiri, tidak menerima penolakan. "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan di kamar. Sekarang, ya?"
Tanpa menunggu jawaban, Luciano meraih tangan Paris. Genggamannya kali ini lebih erat, sedikit menuntut. Paris merasa dadanya bergemuruh saat ia ditarik perlahan menuju pintu kayu mahoni yang tertutup rapat di ujung lorong.
Begitu mereka melangkah masuk, suara klik terdengar nyaring. Luciano mengunci pintu kamarnya. Paris terpaku di tengah ruangan yang beraroma sandalwood dan maskulin itu. Kamar ini jauh lebih intim, dengan pencahayaan temaram yang dramatis.
"Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu di sini, Paris," ucap Luciano dengan suara yang sedikit serak. Ada keraguan dalam matanya, seolah ia sedang membaca naskah yang tidak ia hafal.
Paris mencoba mengatur napasnya. Ketakutan sempat melintas di benaknya—ketakutan bahwa Luciano akan memintanya melakukan hal-hal yang melampaui batas yang ia miliki.
Namun, melihat betapa kaku posisi berdiri Luciano, Paris justru merasa iba. Ia tersenyum lembut dan mengangguk, mencoba memberikan ketenangan yang selama ini menjadi alasan Luciano mencarinya.
Mereka duduk di tepi ranjang besar yang empuk. Luciano tidak langsung menyerang. Ia justru terdiam, menunduk, dan menarik tangan Paris ke atas pangkuannya. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, Luciano mulai memainkan jari-jarinya di atas punggung tangan Paris, menelusuri setiap garis kulitnya seolah sedang memecahkan kode rahasia.
Pikirannya sedang kacau. Max bilang ini harus dimulai dengan ciuman. Lalu perlahan-lahan ke tahap selanjutnya. Tapi bagaimana caraku memulainya tanpa terlihat seperti predator?
"Apa kau sudah makan?" tanya Paris, mencoba memecah ketegangan yang menyesakkan itu.
"Sudah, sayang," jawab Luciano pendek. Panggilan 'sayang' itu terdengar canggung namun manis di telinganya sendiri.
"Ada apa, Lucian? Aku melihatmu sangat gelisah," Paris memberanikan diri menyentuh rahang tegas Luciano, memaksa laki-laki itu menatapnya.
Luciano memejamkan mata sejenak, lalu membukanya dengan tatapan yang penuh rasa lapar sekaligus ketakutan. "Aku ingin tidur denganmu, Paris. Apa boleh?"
Kalimat itu jatuh seperti bom di ruangan sunyi itu. Deg. Jantung Paris serasa melompat ke tenggorokan. Ia melihat mata Luciano—mata yang biasanya dingin dan penuh perhitungan, kini tampak haus akan sesuatu yang tidak ia pahami.
"Kenapa?" bisik Paris, suaranya bergetar.
"Aku penasaran rasanya," jawab Luciano jujur, sebuah kejujuran yang brutal dan naif. "Max selalu bilang itu luar biasa. Aku ingin tahu apakah itu benar. Boleh, ya? Aku mencintaimu, Paris."
Mendengar kata cinta itu, Paris merasakan gelombang emosi yang rumit. Ia mencintai Luciano, sangat mencintainya. Namun, ia juga melihat kejujuran yang berbahaya di mata itu—keinginan untuk mencoba, bukan keinginan untuk menyatu secara jiwa.
Paris menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis, jenis senyum yang menunjukkan kedewasaan yang melampaui usia tujuh belas tahunnya. Ia menggenggam tangan Luciano dengan kuat, menghentikan gerakan jari-jari laki-laki itu yang gelisah.
"Jangan sekarang, Lucian," ucap Paris lembut namun tegas.
Luciano tampak terkejut, seolah jawaban tidak tidak ada dalam kamus eksperimennya. "Kenapa?"
"Kita masih sekolah. Kita baru tujuh belas tahun," Paris mengusap pipi Luciano dengan ibu jarinya. "Fokuslah pada ujianmu, pada olimpiade matematikamu. Jangan biarkan pikiran-pikiran ini mengacaukan konsentrasimu. Aku ingin kita melakukan ini karena kita siap, bukan karena kamu penasaran atau karena kata-kata Max."
Luciano terdiam seribu bahasa. Penolakan Paris tidak terasa seperti tamparan, melainkan seperti sebuah jaring pengaman yang tiba-tiba muncul saat ia hampir jatuh ke jurang. Logika dinginnya yang sempat hilang mendadak kembali berputar.
Benar, batin Luciano. Aku hampir melakukan kesalahan fatal demi sebuah rasa penasaran yang dipicu oleh orang gila seperti Max.
"Kau benar," bisik Luciano akhirnya. Ia menempelkan dahinya ke dahi Paris, menghirup aroma vanila yang menenangkan dari rambut gadis itu. "Maafkan aku. Aku hanya... aku hanya kehilangan arah sejenak."
Luciano merasa sebuah beban berat terangkat dari bahunya. Ia menyadari bahwa ia lebih menghargai keberadaan Paris yang tenang ini daripada kepuasan fisik sesaat yang disarankan oleh Max. Ia memutuskan untuk bersabar. Ia akan menunggu hingga mereka berusia delapan belas tahun, hingga mereka bukan lagi anak sekolah yang bersembunyi di balik sweater kebesaran.
"Terima kasih sudah mengingatkanku, Paris," ujar Luciano, kali ini suaranya terdengar lebih tulus, tanpa ada naskah dari siapapun.
Malam itu, mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya berbaring bersisian di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang mewah sambil membicarakan mimpi-mimpi mereka setelah lulus dari St. Jude’s. Paris merasa menang, bukan karena ia berhasil menolak Luciano, tapi karena ia merasa telah menyelamatkan Luciano dari sisi gelapnya sendiri.
Namun, di balik ketenangan itu, Luciano tahu satu hal: Max tidak akan senang mendengar kegagalan "tahap selanjutnya" ini. Dan Kay? Kay mungkin akan benar-benar menghajarnya jika tahu Luciano hampir melampaui batas.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍