Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 2
"Rendy... kamu nggak serius dengan kata-katamu itu, kan?"
Zenna memandang Rendy dengan raut muka tak percaya. Rendy dengan tenang mengenakan celananya kembali, berjalan meninggalkan tempat tidur dan menuang segelas minuman keras untuk dirinya sendiri.
"Ya, aku serius," jawab Rendy.
Tanpa sadar, Zenna menggeleng, berusaha keras menguatkan diri.
"Nggak... kamu nggak mungkin serius... bagaimana mungkin kamu serius mau membunuh anakmu sendiri...?"
"Janin itu baru delapan minggu, kan? Belum bernyawa," Rendy menatap Zenna dingin. "Aku tidak membunuh apapun. Aku justru menyelamatkannya..."
"Omong kosong! Bagaimana kamu bisa bicara begitu?" pekik Zenna, emosinya membuncah. Ia berdiri dan menghadapi Rendy dengan sekujur tubuh gemetar. "Ini anakmu, Ren! Anak kita!"
"Dia hanya akan lahir sebagai anak dari hasil hubungan gelap, anak haram!" bentak Rendy tak mau kalah. "Kamu lupa siapa aku? Aku pewaris Wangsa Group! Ayahku staff khusus penasihat Presiden di bidang pembangunan! Aku punya istri sah yang sudah melahirkan dua anak untukku! Kalau anak itu lahir ke dunia, bayangkan petaka apa yang akan menimpa seluruh keluargaku?! Apa dia juga akan rela hidup sebagai anak yang tak akan pernah diakui keluargaku?!"
"Tapi kamu sudah membenihkan anak ini dalam rahimku!" teriak Zenna. "Hubungan kita memang salah sejak awal, tapi kamu tetap mau melakukannya! Ingat, kamulah yang meyakinkanku untuk menjadi wanita khusus bagimu--hanya untukmu! Kamu bilang kamu mencintaiku--"
"Cinta... jangan melawak!" Rendy tertawa sinis. "Kamu sendiri, apa pernah mencintaiku? Kamu hanya mau di sisiku selama kamu mendapat banyak uang dariku, kan? Kalau bukan begitu, mana mau kamu jadi wanita simpanan, ditiduri tanpa ikatan pernikahan?"
"Keterlaluan kamu, Ren!"
Zenna kehilangan kendali diri dan menampar Rendy. Seketika wajah Rendy merah padam. Ia melempar gelas anggurnya ke dinding pualam hingga pecah berkeping-keping, dan dengan kasar mencengkeram tangan Zenna.
"Gugurkan!" Rendy mengultimatum tajam. "Kalau tidak, ibumu yang akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia!"
Nyeri menusuk pergelangan tangan Zenna yang dicekal Rendy, seiring kengerian menjalari ulu hatinya.
"A-apa...?" Zenna terguncang.
"Lakukan! Atau aku tak akan memberimu uang sepeser pun lagi! Oh, dan jangan lupa, rumah sakit tempat ibumu dirawat adalah milik keluargaku. Mudah saja bagiku menghentikan pengobatan ibumu dan mengeluarkannya dari sana sekarang, kan?" ancam Rendy.
"Tidak... jangan!" Zenna menangis kencang. "Jangan lakukan itu! Tolong jangan...!"
"Kalau begitu, lakukan! Gugurkan kandunganmu itu!" kata Rendy tanpa perasaan.
Zenna merasa dunianya runtuh. Ia tergugu tanpa kata. Rendy melepas cengkeramannya, dan seketika Zenna terhuyung lemas hingga jatuh ke lantai berkarpet terbal.
"Gugurkan kandunganmu. Jika dalam 24 jam kamu tidak melakukannya, aku akan memblokir semua kartu dan rekeningmu, menarik kembali semua harta yang sudah kuberikan padamu, dan mengeluarkan ibumu dari rumah sakit!" tukas Rendy. "Ibumu bahkan tak akan bisa bertahan lima menit tanpa alat bantu napas. Kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika ibumu kuusir dari rumah sakit, kan?"
Zenna menggeleng, batinnya perih luar biasa. "Tidak... jangan...!"
"Kalau begitu, lakukan! Tidak sulit, kan?"
Rendy meninggalkan Zenna tanpa kata apalagi menoleh ke belakang. Zenna menangis lama dan sendirian di kamar hotel yang bernuansa elegan dan berudara dingin itu. Sekujur tubuhnya menggigil, perutnya melilit.
"T-tidak..."
Zenna terkejut saat mendapati ada darah mengalir keluar dari bagian intim tubuhnya. Dengan napas tersengal dan kepala yang rasanya berputar, ia terseok meraih telepon di sisi tempat tidur dan menghubungi resepsionis hotel.
"Aku butuh dokter... aku mengalami perdarahan... tolong..."
Pusaran dalam tempurung kepalanya menyeret Zenna ke dalam kegelapan. Napasnya kian terputus, dan Zenna tak ingat apa-apa lagi.
Entah bagaimana, Zenna kemudian mendapati dirinya berdiri di depan sebuah pusara. Nama ibunya, Amalia Hartati, tertoreh di atas batu nisan itu. Zenna hanya bisa berlutut dan menangis tanpa kata. Rasa duka dan sakitnya sungguh tak terkira.
Langkah sepatu dengan irama yang dikenalnya perlahan mendekat. Rendy berdiri tak jauh dari Zenna, ekspresinya dingin dan datar.
"Inilah akibatnya kalau kamu tak mau mendengarkanku, Zenna," kata Rendy perlahan. "Aku sudah memperingatkanmu. Ibumu mati, gara-gara keegoisanmu. Dan sekarang, lihat akibat lain dari perbuatanmu itu!"
Rendy menunjuk ke satu titik. Zenna menoleh. Ia melihat seorang bocah laki-laki dengan mata indah dan kulit pucat seperti ayahnya tengah dikelilingi orang-orang yang entah bagaimana begitu tanpa hati hingga mencacinya dan melemparinya dengan sampah.
"Anak haram...! Anak sampah...!"
"Kamu tidak pantas berada di antara kami...!"
"Pergi! Tak ada tempat untukmu di sini!"
"Aku bukan anak haram... aku bukan anak sampah...," bocah itu menangis dan memohon. "Mama... tolong aku...!"
Zenna meneteskan air mata. Ibunya tiada, anaknya hidup dengan sangat menderita.
Andai aku bisa memutar kembali waktu...
Ketika Zenna kembali membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan bernuansa serba putih. Butuh beberapa waktu baginya untuk menyadari bahwa ia sedang terbaring di atas brankar di rumah sakit. Tak ada siapa pun di sisinya, selain perawat yang sibuk mengatur kecepatan infus dan memantau monitor detak jantung.
"Suster...," gumam Zenna lemah.
"Ah, Ibu Zenna sudah sadar?" Suster itu menatapnya lega. "Syukurlah. Akan saya panggilkan dokter. Mohon tunggu sebentar."
Seorang dokter perempuan muncul dan memeriksa kondisi Zenna dengan cermat.
"Kondisi Anda cukup stabil, Bu Zenna. Anda ditemukan pingsan di kamar hotel dan mengalami perdarahan. Untungnya, kandungan Anda baik-baik saja, meski lemah. Karena itu, mohon jangan banyak pikiran dan sebaiknya Anda bed rest dulu selama--"
"Dokter," sela Zenna. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya kembali gemetar. "Dokter... bisa tolong saya...?"
Dokter itu menatap Zenna lekat. "Ya?"
Zenna mengepalkan kedua tangannya. Matanya terpejam. Jiwa dan raganya terasa sungguh remuk redam.
"Tolong bantu saya... menggugurkan kandungan ini."
***