Karina, seorang wanita cantik yang sangat mandiri. Karena di usianya yang baru 23 tahun sudah memiliki toko bakery sendiri hasil kerja kerasnya.
Namun, tiba-tiba saja hidupnya berubah drastis saat ada seorang laki-laki yang datang ke tokonya mencari roti untuk sang ibu, hingga membuat hidupnya terus di hantui oleh laki-laki itu yang ternyata seorang duda.
Andrian Jayatama Persadha, seorang duda berusia 41 tahun, yang sudah menduda selama 7 tahun tiba-tiba saja di paksa menikah lagi oleh ibunya, hingga dia bertemu seorang wanita cantik yang menurutnya tipe idaman ibunya sekali.
Akankah perjuangan Andrian membuahkan hasil untuk mendapatkan hati Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Adrian mengutus seseorang untuk mencari tau tentang Karina. Karena sejak pertemuan pertama mereka waktu itu, bayangannya terus saja berputar di ingatannya. Bahkan dia merasa seperti kembali jatuh cinta dan apakah ini yang di namakan puber kedua? Jika memang iya, maka Adrian membenarkan hal itu.
"Karina Devanca?" gumam Adrian membaca keterangan tentang wanita yang sudah seminggu penuh ini menghantui isi pikirannya.
"Kamu bahkan lebih pantas di jadikan seroang putri dari pada istri, Karina." ucapnya tiba-tiba yang membuat dirinya langsung sadar dengan apa yang dia ucapkan tadi.
"Astaga, Adrian. Apa yang kamu katakan? Istri, istri apa? Tidak mungkin dia mau menikah dengan laki-laki tua seperti kamu, Adrian dan tolong sadar!" ingatkannya pada dirinya sendiri.
Mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya membuat Adrian langsung meletakkan map coklat yang berisikan informasi tentang Karina.
"Ada apa Chyntia?" tanya Adrian pada sekertaris pribadinya.
"Meeting 5 menit lagi di mulai Pak," ucapnya pada Adrian.
"Oke, saya tahu." jawabnya pada Chyntia dan mereka pergi ke ruangan meeting dan Adrian meninggalkan berkas yang berisikan informasi tentang Karina tadi.
Setelah Adrian pergi ke ruangan meeting, ada tamu tak di undang masuk ke ruangan kerjanya yang itu ibu Salma. Ibunya sendiri.
"Kemana dia? Pasti meeting lagi." gumam Bu Citra karena dia tau betul apa yang di lakukan putranya.
"Berantakan sekali meja kerja kamu, nak." Bu Citra berinisiatif untuk membereskan meja kerja putranya, sampai dia menemukan sebuah berkas bahkan ada foto seorang wanita disana.
"Siapa ini, cantik sekali." kata Bu Citra ketika melihat ada foto seorang wanita cantik di meja kerja putranya.
"Karina?" dia membaca secara detail informasi yang berada di lembaran kertas tersebut.
Entah mengapa tiba-tiba saja dia seperti mendapatkan harapan besar disini untuk putranya. Sebagai seorang ibu, dia merasa bahagia kalau tidak tahu kebenarannya apa yang terjadi di luar sana. Setidaknya saat ini Adrian menunjukkan ketertarikannya pada seorang wanita.
"Siapa Karina ini? di mana tempat tinggalnya?" ibunya mencari informasi tersebut tapi tidak mendapatkan, karena ternyata lembaran kertas yang satu lagi terjatuh di bawah meja kerja Adrian.
"Aduh Adrian, kenapa mencari informasinya setengah-setengah sih, nak?" Ibu Citra terlihat kesal karena dia tidak bisa menemukan informasi apapun tentang Karina itu.
Sedangkan Karina sendiri, dia benar-benar tengah menikmati kehidupannya sebagai seorang independen women menurutnya.
Tapi, tiba-tiba saja ponselnya berdirinya itu panggilan masuk dari ibunya. Dia sudah menduga pasti ada sesuatu yang diinginkan wanita itu. Jika tidak mana mungkin dia menghubunginya.
"Ya, Ma?" Karina langsung menjawab panggilan telepon dari mamanya.
"Kirimin mama duit dong. Mama mau beli tas baru." kata mamanya to the poin pada Karina.
"Hah? bukannya kemarin Mama udah beli tas ya? kayaknya baru minggu lalu deh Karina kirim uang untuk mama katanya mau beli tas. Ini kok udah mau beli tas lagi?"
"Oh, jadi gitu kamu sama mama? kamu mau itung-itungan ya sama mama?" jawaban dari mamanya seperti biasa. Wanita itu akan selalu mengungkit apa yang pernah dia lakukan untuknya dan selalu mengatakan bahwa dia tidak bisa balas budi sebagai seorang anak.
"Ma, emang pernah ya Karina itung-itungan sama mama? anak Mama juga bukan Karina doang mah. Ada kak Candra juga kan? Kak Candra juga kerja mah, coba deh sekali-sekali mama minta sama Kak Chandra. Bukan Karina mau kurang ajar, tapi nggak setiap hari mah Karina dapat duit banyak. Modal untuk bekerja aja udah banyak banget, sekarang bahan-bahan lagi mahal. Kalau kalau terus-terusan mama minta duit begini, aku bakalan tutup mah."
"Oh, udah mulai pinter kamu sekarang. Mama cuma minta 10 juta doang, kenapa sih pelit banget? Kamu tahu nggak kalau kakak kamu itu banyak keperluan. Cuma kamu satu-satunya yang bisa mama andalin. Lagian Mama lihat toko Kamu setiap hari rame tuh, jadi nggak mungkin dong kamu nggak dapat untung sama sekali. Atau jangan-jangan Kamu memang nggak mau ngasih Mama duit ya?"
"Ma, bukan gitu maksud Karina mah. Tapi-"
"Halah, pokoknya mama nggak mau tahu kamu transfer sekarang 10 juta. Kalau kamu nggak transfer sekarang, mama bakalan jual rumah peninggalan papa kamu." potong mamanya langsung yang membuat Karina mau tidak mau harus menuruti keinginan wanita itu.
Demi mempertahankan rumah sejuta kenangan yang sudah ditinggalkan mamanya. Hanya rumah itu saja yang bisa membuatnya tenang. Selebihnya tidak ada lagi karena hanya itu tempat tinggal Karina saat ini.
"Oke, nanti Karina kirim ke mama." jawab Karina yang menyerah pada mamanya.
***
belajar memangil mas jan om