"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikuti permainanmu
Sebelum Santana pergi bersama Anita, Dia meninggalkan beberapa tugas pada Tio asisten pribadinya.
"Ingat Tio, kalau untuk masalah kerjaan di kantor kamu tidak perlu menjadikannya beban. Aku hanya ingin setelah pulang nanti kamu akan memberikan kabar baik tentang anak dan istriku."
"Ya Tuan!"
Santana sedikit tenang meninggalkan pekerjaannya. Karena ada orang kepercayaan sebagai penggantinya di kantor.
Begitu Tuannya sudah meninggalkan kota kecil, sesuai dengan perintah dari Santana, Tio segera bergegas ke tempat di mana Dia menurunkan Oci.
(Aku tidak tahu apakah Oci ada hubungannya dengan Tuan Santana atau tidak, yang pasti perasaanku mengatakan hari ini aku harus ke sana)
Tanpa berfikir panjang lagi Tio tancap gas menuju rumah Oci. Tapi sebelum Dia sampai di sana, Tio sempat mampir ke supermarket yang tidak jauh pula dari tempat itu. Dia membeli beberapa makanan dan kebutuhan hidup sehari-hari yang rencana akan diberikan pada Oci sebagai permintaan maaf atas kejadian kemarin.
(Sepertinya ini sudah cukup, anggap saja sebagai permintaan maafku padanya atas kejadian kemarin)
Begitu Dia hendak melangkahkan kakinya ke meja kasir, Tio dikagetkan dengan sosok Rosa yang hendak masuk ke dalam minimarket. Sontak langkahnya terhenti dan berbalik arah. Sambil mengendap Dia berusaha memantau apa yang dilakukan Rosa di dalam minimarket itu.
Berbeda dengan Tio, Rosa hanya membeli beberapa makanan kecil dan minuman saja. Dia juga terlihat terburu-buru untuk kembali lagi ke mobil.
Karena takut kehilangan jejak, Tio memutuskan untuk meninggalkan barang belanjaannya di dekat kasir. Dengan langkah yang sedikit lebih cepat, Dia mengikuti Rosa dari belakang. Dengan menjaga jarak aman Tio mengikuti mobil Rosa. Sekilas dari belakang Dia melihat ada anak kecil yang duduk di bangku paling belakang.
(Kalau tidak salah pasti anak itu Antoni, mau ke mana mereka?)
Yang terbesit di kepala Tio hanyalah kemungkinan besar Rosa akan berbuat jahat pada Antoni. Untuk kali ini Dia benar-benar fokus dalam mengemudikan mobilnya agar Dia tidak lagi kehilangan jejak Rosa.
Dan sepertinya keberadaan mobil mewah yang dikendarai Tio memancing kecurigaan Rosa. Dari spion samping Rosa terus mengamati dan sengaja memancing gerakan mobil dibelakangnya.
(Oh... ternyata benar mobil itu sengaja mengikuti ku)
Dengan skill nya mengemudi Rosa mulai beraksi dengan menambah kecepatan laju mobilnya dan menyusuri jalan yang sesekali dengan zig-zag. Antoni yang duduk di bangku belakang menjadi takut dan panik.
"Astaga... apa yang terjadi, kenapa Tante mengemudikan mobilnya jadi ugal-ugalan seperti ini!"
"Tidak usah khawatir Ant, pegangan yang erat."
Antoni mulai melihat kebelakang mobilnya. Dia menjadi paham mengapa Rosa melakukan itu setelah Dia melihat mobil di belakangnya selalu mengikuti gerakan mobil yang ditumpanginya.
Tio tidak mau kalah, skill mengemudi yang disembunyikan selama ini jadi Dia lakukan lagi.
(Jangan harap kamu bisa lolos dariku)
Setelah adu skill kemudi yang mereka lakukan beberapa menit disepanjang jalan batas kota yang tampak lengang itu, membuat Rosa untuk mengambil sikap. Melihat wajah Antoni yang semakin ketakutan Dia menambah kecepatan dan memutar balikkan mobilnya dengan gesit. Hingga Dia menemukan sebuah minimarket dipinggir jalan. Begitu selesai memarkirkan mobilnya Dia membawa Antoni untuk segera turun.
"Ant, ikuti apa yang Tante bilang!"
Untuk sementara Rosa meminta Antoni untuk duduk di taman kecil sebelah minimarket. Sedangkan Dia bersembunyi disamping tembok pembatas taman untuk memastikan apakah masih ada yang membuntutinya.
Hanya selang waktu lima menit Tio sudah sampai dan keluar dari mobilnya. Sambil melihat keadaan sekeliling Dia mencari keberadaan Rosa dan Antoni.
(Benar-benar wanita ini tidak bisa diremehkan, aku harus lebih hati-hati lagi agar Dia tidak tau apa rencanaku)
Karena hanya melihat mobilnya saja yang terparkir, Tio memutuskan untuk masuk ke minimarket dengan perlahan. Begitu kaki kanannya mau menginjakkan lantai minimarket pandangan nya terarah ke taman yang ada disebelahnya. Dia menarik lagi langkah kakinya dan berjalan mundur untuk memastikan apakah yang Dia lihat itu benar.
(Bukannya itu Antoni, apa Dia sengaja ditinggal di taman oleh wanita itu untuk menghilangkan jejaknya?)
Rasa penasaran Tio membuat langkah kakinya berubah tujuan, Dia berjalan ke taman untuk menghampiri Antoni. Merasa aman dan tidak ada orang lain, Tio terus mendekat. Langkah nya terhenti dan raut wajahnya seketika berubah menjadi tegang saat dari belakang ada tangan dengan jari lentik berlabuh di bahunya. Sambil melirik ke arah tangan itu, Tio sudah siap berbalik dan memasang kuda-kudanya.
"Seett... !... Plak...!"
Rosa pun berhasil menangkis pukulan tiba-tiba dari Tio. Dan terjadilah saling adu skill bela diri ringan. Hingga akhirnya Rosa mampu membuat Tio terjatuh.
"BRUK...!" Aauuwww....!"
Rosa mendekati dan mengepalkan tangannya tepat di wajah Tio.
"Katakan apa alasanmu mengikuti ku dan siapa yang menyuruhmu?"
Karena sudah tertangkap basah Tio diam dan memikirkan cara untuk mengelabuhi Rosa.
(Payah, aku harus mencari cara dan alasan yang masuk akal agar Dia percaya) "Hem... ternyata aku tidak salah memilihmu dan mungkin ini sudah menjadi akhir dalam penantianku."
Mendengar ucapan Tio dan melihat senyum genitnya, Rosa menarik kepalan tangannya dan membantu Tio berdiri.
"Apa maksud mu?"
"Terima kasih cantik!"
Tio berdiri dan lebih mendekat pada Rosa.
Semakin baper pula dengan kelakuan Tio, Rosa memilih mundur dan lebih menjauhinya.
Karena sudah terlanjur masuk dalam kondisi yang tidak pernah ada dalam rencana nya, Tio memutuskan untuk mengambil cara lain dalam misinya. Dia berdiri disamping Rosa dan membisikkan kata yang membuat wajah Rosa memerah seperti kepiting rebus.
"Aku sangat suka dengan janda muda seperti kamu, sayang....?!"
Bercampur antara rasa malu dan marah, Rosa mendorong Tio dengan pelan.
(enak saja Dia bilang aku janda, kurang ajar) "Aku tidak kenal kamu dan ingat aku bukan janda, jangan sok tahu kamu!"
Tidak mau berhenti sampai di situ, Tio masih dengan gombalannya untuk bisa menaklukkan Rosa. Meskipun jauh dari karakter Tio yang sebenarnya. Tio sendiri juga bingung dengan dirinya, yang biasanya Dia terlihat serius dan dingin, kali ini Dia harus berpura-pura untuk menjadi pria romantis dan bucin.
Pertemuan kedua nya ternyata meninggalkan kesan yang spesial. Takut terlalu mendalami situasi yang begitu membuat hati semakin tergetar, Rosa dengan cepat kilat meninggalkan Tio dan membawa Antoni pulang.
(Gila... benar-benar gila pria ini, aku tidak boleh terjebak rayuannya)
Tio masih saja mengikuti arah mobil Rosa ke mana pun Dia pergi. Bahkan tanpa rasa malu Dia juga berteriak minta nomor Rosa. Antoni yang awalnya takut melihat kelakuan Tio jadi tertawa geli. Dia juga ikut menggoda Rosa.
"Tante tidak usah jual mahal sama Om itu, sepertinya Dia orang baik."
"Kamu mana tahu Dia orang baik apa bukan, anak kecil tahu apa?"
Ketika mobil Rosa masuk ke sebuah jalan sempit, Tio menghentikan mobilnya. Dia teringat kalau hari itu rencananya adalah berkunjung ke rumah Oci.
(Astaga kenapa aku sampai lupa ,aku harus segera kembali ke tempat itu)
Dengan cepat Tio berbalik arah dan kembali menyusuri jalan menuju rumah Oci.