Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Pagi itu, semangat Amara untuk memulai langkah barunya di Synergy terusik oleh dering ponsel yang memekakkan telinga. Alisnya terangkat saat melihat nama yang berkedip di layar. Fiona. Si penyihir kecil dari keluarga Larsen.
"Mau apa lagi dia?" gumam Amara sinis. Ia membiarkan ponsel itu bergetar di atas meja sementara ia menghabiskan sarapan cepatnya, sesuai catatan manis yang ditinggalkan Melanie. Namun, getaran itu tak kunjung berhenti, seolah si penelepon sedang dirundung kegilaan.
Dengan helaan napas gusar, Amara menyambar ponselnya saat berjalan menuju mobil.
"Kalau tujuanmu menelepon bukan untuk memberitahuku bahwa kau sudah sadar dari kegilaanmu, sebaiknya tutup saja, Fiona. Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong," cetus Amara tajam begitu menekan tombol hijau.
"Tunggu!" teriak Fiona di seberang sana, suaranya melengking nyaris putus asa.
Amara menjauhkan ponsel dari telinganya sesaat, lalu masuk ke kursi kemudi. "Apa? Kau menelepon untuk minta maaf? Ingin bertobat?"
"Minta maaf? Harusnya kau yang bersujud minta maaf!" suara Fiona kembali angkuh, penuh dengan bisa yang mematikan. "Kaulah alasan Celestine mencoba mengakhiri hidupnya! Dia di rumah sakit sekarang, dan itu semua karena kau!"
Gerakan tangan Amara yang hendak menyalakan mesin terhenti. Celestine mencoba bunuh diri? "Kurasa kau salah orang, Fiona. Seberapa pun aku membencinya, aku tidak akan merendahkan diriku untuk mendorong seseorang melakukan hal sekonyol itu."
"Jangan berlagak polos!" maki Fiona, suaranya gemetar karena amarah yang meluap. "Aku tahu busukmu, Amara. Kau itu ular licik yang akan menghalalkan segala cara demi harta! Kau pasti tidak sabar ingin menguras kekayaan pria-pria tua yang kau goda itu. Jalang sepertimu—"
"Fiona," suara Amara merendah, dingin dan setajam silet. "Berhenti melontarkan tuduhan liar sebelum kau terdengar semakin memprihatinkan seperti orang bodoh tak berpendidikan."
Hening sejenak di ujung telepon sebelum Fiona meledak kembali. "Kau jalang—!"
"Maki saja sesukamu," potong Amara santai sambil menyalakan mesin mobil. "Aku yakin rekaman panggilan ini akan membuat pengacaraku sangat sibuk untuk menuntutmu atas pencemaran nama baik."
Fiona mendengus menghina. "Pengacara? Kau pikir aku takut pada pengacara murahan hasil melayani pria tua? Kau lupa siapa saudaraku?"
Amara memutar bola mata. Bagaimana mungkin ia lupa pada sosok pria angkuh yang wajahnya ada di setiap papan iklan dan koran bisnis itu? Pria yang pernah membuangnya seperti sampah.
"Ingat satu hal, Fiona. Orang serakah sepertimu tidak akan pernah menang melawanku," desis Amara, tangannya mencengkeram setir dengan kuat. Namun sebelum ia sempat membalas makian Fiona lebih jauh, sebuah suara bariton yang sangat ia kenal menyambar dari ujung telepon.
"Fiona! Apa yang sedang kau lakukan?!" Itu suara Tobias, terdengar sangat murka.
"Kakak... ini Amara, dia—"
"Diam!" Suara gemeresik kasar terdengar, seolah ponsel itu direbut paksa. "Amara tidak ada hubungannya dengan masalah ini! Bukankah sudah kuperingatkan agar kebodohan ini tidak terulang lagi?"
Klik. Sambungan terputus.
Amara menatap layar ponselnya dengan ekspresi bingung. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Tobias membungkam adiknya sendiri demi membelanya? Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, Tobias selalu menutup telinga dari penjelasan Amara dan lebih memilih mempercayai setiap dusta Fiona.
Apakah dunia akan kiamat? pikir Amara sinis. Ia segera menggelengkan kepala, mengusir pikiran konyol itu. Tobias terlalu sombong untuk mengakui kesalahan masa lalu.
Masa bodoh. Amara memacu mobilnya menuju gedung Synergy. Prioritas utamanya adalah memenangkan kontrak Gemini Sinclair dan membungkam para eksekutif sialan dalam waktu empat hari.
Begitu ia melangkah masuk ke lobi kantor, suasana terasa aneh. Sekelompok karyawan berkumpul, berbisik-bisik sambil mendengarkan seseorang yang sedang membual dengan suara lantang.
"Tunggu saja. Madam Sinclair pasti akan membatalkan kerja sama gara-gara perempuan genit itu! Kalian harus berterima kasih padaku saat aku berhasil menyelamatkan kontrak ini dan menendang jalang itu keluar!"
Amara mengenal suara itu. Jasper Reynolds.
Kerumunan itu langsung membelah diri dengan wajah pucat begitu Amara mendekat. Jasper, yang tadinya berapi-api, mendadak kaku seolah tersengat listrik saat melihat sosok Amara yang berdiri anggun dengan tatapan mengintimidasi.
"Sepertinya banyak sekali yang ingin kau bicarakan tentangku sepagi ini, Jasper Reynolds," ucap Amara, suaranya tenang namun mematikan. Ia melangkah maju, memaksa Jasper mundur selangkah demi selangkah. "Ayo, lanjutkan bicaramu. Aku di sini. Aku ingin mendengar langsung setiap hinaan yang ingin kau tumpahkan tentangku."