NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putra Kedua

"Ibuk sakit apa?" tanya Nara. Ia mendapatkan kabar dari Yuda kalau sang ibu sedang sakit.

Sehingga pulang kerja ia menyempatkan mampir. Sekaligus melepas rindu, karena sejak menikah jarang bertemu.

"Kecapekan, Nara. Ibu kemarin menerima pesanan seratus kotak snacks," sahut Risna.

"Maklum, udah tua."

Nara menaruh tas, lantas duduk di sisi tempat tidur. Memijat-mijat betis Risna. Menyarankan jangan menerima orderan yang lebih dari lima puluh kotak

"Iya, Nara. Sepertinya ibuk harus menyesuaikan dengan kondisi. Nggak boleh kemaruk, yang penting tetap berusaha," kata risna, yang pelipis kiri kanannya ditempel koyo.

"Apa yang ibu rasakan?" Nara menggeser tubuhnya, berpindah memijat telapak kaki.

"Pusing dan pegal-pegal. Si Yuda pasti yang melebih-lebihkan." Risna memandangi tubuh Nara. Bibirnya menyunggingkan senyum samar karena anaknya tidak terlihat kurus. Lumayan berisi. Berarti diperlakukan dengan baik oleh Rama.

Nara sempat mengalami penurunan badan setelah menikah. Wajar saja, karena pasti sakit hati. Namun sekarang lebih segar. Lebih cantik.

"Maaf ya, Bu. Nara belum bisa membahagiakan ibuk." Nara mengesah.

"Maksudmu apa?"

"Ya, ngasih uang banyak, beliin tiket liburan, umroh, atau perhiasan," jawab Nara.

"Nggak perlu itu. Kasih ibu cucu aja," kata Risna. "Cucu ganteng dan cantik. Ganteng kayak Rama."

Nara refleks berhenti memijat telapak kaki ibunya.

"Kalau Tuhan belum ngasih gimana, Buk? Lagi pula belum lama menikah. Kok ibuk ikut-ikutan bapak?"

"Bukan ikut-ikutan. Tapi keputusan punya anak tetap kamu yang berhak memutuskan. Udah, jangan dipikirkan. Oiya, Rama baik banget ya? Tubuhmu nggak kurusan lagi. Pertanda dapat suami yang care ..." Risna mengoles minyak kayu putih di leher belakang dan bawah dada.

"Iya, Buk," jawab Nara.

"Aku jarang cuci baju. Jarang masak, karena Mas Rama yang sering masak. Beli cemilan setiap pulang ngojek. Pulang kerja, rebahan saja. Uang belanja yang dikasih jarang dibuat belanja. Karena Mas Rama yang beli beras dan kebutuhan pokok lainnya."

"Berarti pilihan bapakmu nggak salah. Walaupun Rama bukan pegawai negeri, dia sangat memperhatikan kebutuhanmu," ujar Risna. "Ibuk tambah tenang."

Nara mengangguk. Terdengar dering ponsel, dia segera berdiri. Meraih tas di meja.

"Halo, Mas?"

"Sayang, aku nggak bisa jemput. Maaf, motorku mendadak mogok. Maaf ya?"

"Nggak apa-apa, Mas. Aku bisa diantar bapak atau naik angkot. Sekarang di bengkel?"

"Iya, aku di bengkel.

Panggilan telepon berakhir, Nara menurunkan ponsel. Tadi Rama memanggil Sayang? Telinganya tidak salah dengar. Mendadak hati Nara menghangat.

"Ada apa, Nara?"

"Motornya Mas Rama mogok, Buk. Nggak bisa jemput," terang Nara.

Terdengar pintu terbuka, lalu suara langkah kaki. Yuda muncul di ambang pintu kamar, memakai seragam Pramuka.

"Mbak Nara, isiin dana, dong. Enam puluh ribu aja," pinta Yuda.

"Buat apa?" tanya Nara..

"Buat tontonan berlangganan."

"Drama apa yang kamu tonton, hah?" selidik Nara.

"Film Indonesia yang dulu pernah di bioskop."

"Jangan nonton yang aneh-aneh ya?" Nara masuk ke aplikasi m-banking. Malah terkejut melihat saldonya bertambah lima juta. Dari riwayat yang terlihat, Rama yang mentransfer.

"Mbak buruan." Yuda tidak sabaran.

Setelah mengisi e-wallet, Nara berpamitan pulang.

 "Maaf, Buk. Nggak bisa lama-lama."

"Nggak nunggu bapakmu?"

"Enggak. Aku harus segera sampai rumah. Yud, jaga ibuk!" teriak Nara.

"Siap, Bos!" sahut Yuda dari dalam kamarnya.

Nara bergegas keluar rumah. Tidak mempedulikan Gita yang berdiri di teras rumah sebelah. Pagar yang dibangun Mansyur tidak tinggi sehingga masih bisa melihat aktifitas orang sebelah.

Nara tahu, Gita sudah dilamar resmi olah Dewa. Rasa sakitnya ternyata telah hilang. Patah hati hebat sudah sembuh. Karena kabar itu tidak membuatnya sedih. Biasa saja.

****************

Rama mengamati motornya. Berencana membeli kendaraan baru. Motor bekas itu dibelinya dari seorang kakek-kakek yang membutuhkan uang. Saat Rama tiba untuk pertama kalinya di kota yang masih asing.

Tabungan yang tersisa masih ada seratus jutaan, yang rencananya separuh ingin buat modal. Penghasilan dari ngojek dan penyanyi kafe cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi Rama memikirkan jangka panjang.

Rama segera pulang ke rumah kontrakan karena Nara mengabari sudah di rumah. Ketika memasuki area halaman, Rama mengerem mendadak. Karena Rena yang tiba-tiba muncul.

"Mas Rama, aku ada oleh-oleh dari Bandung." Rena menyodorkan kantong plastik.

"Bolen Mayasari. Rasa cokelat keju kesukaan Mas Rama."

"Maaf, Mbak. Lain kali jangan begitu. Berbahaya. Kalau mau ngasih oleh-oleh, bisa kasih ke istri. Ada di rumah kok," kata Rama.

"Nggak dibukain pintu, udah aku ketok-ketok," sahut Rena yang sore itu memakai setelan baju tidur warna pink. Celananya pendek hampir mepet area seLangkangan.

"Datang aja ke rumah." Rama mengarahkan stang motor ke arah kanan, segera melaju pelan ke arah kontrakannya.

"Mas Rama gimana sih?" Rena menghentakkan kaki kanannya. Dia masih saja mengharapkan Rama yang sudah beristri.

Rama memarkirkan kendaraan di teras kecil bersamaan dengan pintu yang terbuka lebar.

"Kenapa Mbak Rena nyegat lagi?" tanya Nara.

Rama turun dari motor. Melepas masker dan kacamata hitam.

"Mau ngasih oleh-oleh. Aku suruh datang ke rumah, katanya tadi udah ke sini, kamunya nggak ada."

"Alasan. Waktu aku lewat, dia ada di depan kontrakan. Lihat aku malah melengos," sahut Nara memakai sandal jepit

"Mau ke mana, Nara?"

"Ngasih paham aja. Mas Rama udah punya istri kok masih ngebet. Mau ngasih salep, biar nggak gatal," sahut Nara.

Rama hendak menyusul.

"Mas Rama di situ ajal" cegah Nara.

"Ya, Tuhan, semoga nggak ada tragedi jambak-jambakan." gumam Rama sambil memperhatikan istrinya yang berlari menghampiri Rena.

Nara memanggil Rena dan dengan gesit mencegatnya.

"Minggir, Nara." Rena mendorong bahu Nara.

"Mbak tahu, kan, Mas Rama suamiku?"

"Iya, tahulah," sahut Rena galak.

"Nah itu udah tahu. Kenapa menggatal?"

"Dih, siapa yang suka suamimu. Aku cuma mau ngasih oleh-oleh," elak Rena wajahnya merah padam karena malu dan marah. Ada tetangga yang memperhatikan.

"Awas ya kalau masih ngeyel." Nara menyentil pipi Rena.

"Halah, punya suami tukang ojek aja bangga," ejek Rena mundur selangkah karena khawatir melihat amarah Nara.

"Harus bangga dong. Ganteng banget, kan?" Nara mengibaskan rambutnya. Kemudian berjalan cepat kembali ke rumahnya. Melihat Rama masih berdiri di teras.

"Masuk, Mas."

Rama mengikuti Nara masuk rumah. Menutup pintu supaya tidak ada gangguan. Karena jaket ojolnya bau asap, langsung dimasukkan ke mesin cuci.

"Tadi kamu bilang aku ganteng?" goda Rama.

"Ya kan cowok. Masak aku bilang cantik," sahut Nara seraya membuka kulkas. Mengambil sebotol sirup rasa melon. Lantas menghangatkan sayur lodeh terong tahu.

Rama memperhatikan Nara yang sibuk membuat es sirup, lanjut memasak telor dadar.

"Mandi, Mas. Kok malah bengong di situ." Nara melirik suaminya.

"Mau ikut ke kafe?" tanya Rama, karena sejak menikah mereka tidak pernah keluar bersama.

Nara menoleh, kebetulan besok libur jadi dia setuju diajak Rama.

Sebelum ke kafe, Nara diajak ke toko kosmetik. Menyuruh istrinya membeli make up, skincare, dan parfum.

"Ini wanginya cocok kayaknya." Rama mengambil botol parfum yang tadi diambil Nara.

Nara menggeleng, berbisik pelan sekali di dekat bahu Rama.

"Mahal, Mas. Enam ratus ribu. Ini aja, nggak sampai dua ratus ribu."

"Nggak apa-apa, Nara." Rama memasukkan parfum ke keranjang kecil yang dibawa Nara.

"Aku belum pernah membelikan baju ataupun yang lainnya. Bahkan mahar uang tiga ratus ribu yang ada di dompet," kata Rama.

"Aku ingin memberikan yang terbaik. Terbaik versi kita."

Nara tersenyum mendengarnya. Di tengah keramaian, dia menatap suaminya.

"Ayo ke kasir." Rama menarik telapak tangan Nara.

Total belanja skincare dan parfum satu juta tiga ratus. Nara merasa agak sayang. Karena setara dengan separuh gajinya.

Dari toko kosmetik, motor mengarah ke kafe. Nara hanya memegang jaket Rama, tidak berani lebih.

Motor berhenti di depan bangunan yang mempunyai bentuk jendela melengkung. Nara digandeng Rama memasuki kafe yang lumayan ramai di malam Kamis.

"Kamu duduk di sini. Mau pesan apa? Ada makanan dan minuman." Rama menarik kursi.

"Minum yang anget-anget aja, Mas," ucap Nara duduk di kursi kayu dengan bantalan empuk berwarna hijau tua.

"Kopi? Cokelat?"

"Moccacino kalau ada."

"Oke."

Rama menuju meja bar, memesan pada Tia. Meminta diantar ke meja istrinya. Kembali lagi, mengatakan akan segera manggung.

Nara mengangguk. Memandangi Rama yang berjalan ke arah panggung. Sang suami duduk memangku gitar, di depan standing mic.

Sepuluh menit kemudian, lagu milik Letto berjudul Ruang Rindu mulai mengalun. Nara terpukau dengan suara suaminya.

"Harusnya ikut Indonesia Idol," gumam Nara.

"Kopinya, Mbak." Tia meletakkan cangkir hitam di meja. Gadis itu mengelap telapak tangannya di celemek.

"Kenalkan, aku Tia. Teman kerja satu kafe Mas Rama. Kamu istrinya ya?"

"Aku Nara." Dijabatnya tangan kanan Tia.

"Mau pizza?"

"Tidak, terima kasih."

Tia meninggalkan meja, berjalan kembali ke meja bar.

Selama empat puluh menit, Nara menikmati suara Rama. Dari lagu pop Indonesia dan berbahasa Inggris. Nara menandaskan kopi di cangkir sampai tidak bersisa.

Dari arah dalam, seorang lelaki menghampiri Rama. Tampak berbincang sebentar dan memandang ke arah meja yang ditempati Nara. Nara berdiri saat Rama dan lelaki itu mendekat.

"Nara, tetap duduk saja...." ujar lelaki itu.

"Ini bos kafe. Pak Zidan namanya," kata Rama.

"Saya istrinya Mas Rama, Pak." Nara tersenyum ramah.

"Terima kasih tas dan kaosnya."

"Tas? Kaos? Apa maksudmu?" Zidan tidak mengerti.

"Kemarin........"

"Bukan dari Pak Zidan, Nara. Maaf, Pak. Ada kesalahan pahaman," kata Rama.

"Nggak apa-apa. Nanti ke kantor. Bayaranmu aku naikkan," ucap Zidan, berjalan meninggalkan meja.

"Mas, kamu bohong?" Nara memandang kesal.

"Jelas-jelas kamu bilang dari bosmu."

"Dari mamaku. Maaf. Duduklah, aku ingin mengatakan yang sebenarnya," tukas Rama.

"Mamamu tahu aku istrimu?" tanya Nara sambil duduk.

"Iya. Aku tidak memberitahu mereka...."

"Kok bisa tahu?" tanya Nara menyela ucapan Rama.

"Karena ada orang yang disuruh mencari keberadaan ku, Nara. Aku putra kedua dari pemilik Atmaja Group. Pemilik usaha PO Bus dan usaha kontruksi."

"Apa??" Nara mengedip-ngedipkan matanya.

"Kita suami istri. Aku ingin memulai lembaran baru tanpa ...." Rama menghela napas.

"Tanpa kebohongan," lanjutnya.

1
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
sepanjang jalan kenangan kak😂
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜: Nah itu masalah nya😭😭😭😭🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
꧁ռǟռǟ꧂
panggilan pak rete Kayak nama korea "suho eh suha" 😄😄😄
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Pingsan dong Bu😂😂😂

Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Hmmmmm kecelakaan Radit di sengaja,

Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨

Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Iri bilang bos 😂

Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,

Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
Tri Wahyuni: si gita minta di tampol 😭🤭
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulai kebongkar nih siapa Bianca...
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Yg banyak atuh kak,
nanggung kelanjutan nya 😬😬
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Bu Risna Shok ternyata memiliki menantu orang kaya😂😂
Tri Wahyuni: shik shak shock 🤭🤣
total 1 replies
꧁ռǟռǟ꧂
suka sama ceritanya tentang kehidupan sehari hari,, baca sambil bayangin, Kalo gk masuk di bayangan brati ceritanya kurang masuk di Hati......
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
syirik bgt sih nih orang.. 😂😂
Tri Wahyuni: minta di tampol kayanya 😭🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
Nara maklumi saja suami mu ya dia kan polos...😂😂
Tri Wahyuni: pura² polos 🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor..
Tri Wahyuni: baik. di tunggu updatenya kak 😍
total 1 replies
Poni Jem
sampai saat ini belum ada typo. masih baik untuk dibaca. semangat trs 👌
Tri Wahyuni
bagus 🥰
Tri Ayu
semangat berkarya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!