NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: PENOBATAN DI BAWAH BADAI

Langit di atas Ibukota Arrinra pagi itu tidak menunjukkan tanda-tanda ketenangan. Awan hitam pekat bergulung-gulung, seolah-olah seluruh energi dari Kekaisaran Ser yang luasnya mencapai 2.001.103 Km^2 sedang berkumpul di satu titik: Lapangan Agung istana. Bau tanah basah dan desis listrik statis memenuhi udara, membuat bulu kuduk ribuan rakyat yang berkumpul di sana berdiri tegak.

Di balik tirai merah besar di balkon utama, Serena Arrinra berdiri tegak. Ia tidak lagi mengenakan pakaian ninja hitam yang ia gunakan semalam untuk menumbangkan para jenderal pengkhianat. Kini, tubuhnya dibalut jubah kebesaran berwarna perak dengan sulaman benang emas berbentuk kilat yang melingkar di bahunya. Mahkota tipis dari platinum melingkar di dahinya, namun sorot matanya yang berusia 27 tahun itu jauh lebih berkilau daripada perhiasan apa pun.

"Anda siap, Putri?" suara berat Paman Bram memecah keheningan di belakangnya. Mantan panglima itu kini mengenakan seragam kebesaran yang bersih, wajahnya yang penuh luka parut tampak bersinar karena haru.

Serena menarik napas dalam-dalam. "Siap atau tidak, Arrinra butuh kepastian, Paman. Rakyat tidak bisa menunggu lebih lama lagi di tengah ketidakpastian ini."

"Ingat, Serena," Bram mendekat, suaranya merendah. "Para menteri yang tersisa sedang mengamati. Mereka mungkin berlutut hari ini, tapi hati mereka adalah belati yang tersembunyi. Mereka tidak suka dipimpin oleh seorang wanita, apalagi yang memiliki kekuatan 'liar' seperti Anda."

Serena tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip dengan tantangan. "Biarkan mereka mengamati. Jika mereka mencari kelemahan, mereka hanya akan menemukan petir."

Langkah Sang Kaisar Wanita

Saat Serena melangkah keluar ke balkon, suara sorak-sorai rakyat meledak bagaikan guntur. Ribuan orang, dari petani yang kulitnya legam terbakar matahari hingga buruh-buruh pelabuhan yang berpakaian compang-camping, meneriakkan namanya.

"HIDUP SERENA ARRINRA! DARAH ASLI KEKAISARAN SER!"

Serena mengangkat tangannya, dan perlahan-lahan, kebisingan itu mereda hingga hanya menyisakan suara angin yang menderu. Ia memandang ke bawah, ke arah kerumunan manusia yang memenuhi lapangan hingga ke gerbang kota. Di sana, ia melihat wajah-wajah yang penuh harapan, sekaligus wajah-wajah yang lelah karena sepuluh tahun penindasan.

"Rakyatku! Penduduk Kekaisaran Ser!" suara Serena bergema, diperkuat oleh ilmu batinnya sehingga menjangkau setiap sudut lapangan. "Sepuluh tahun yang lalu, istana ini menjadi saksi pengkhianatan yang paling pengecut. Darah keluargaku tumpah di ubin marmer ini. Selama sepuluh tahun itu, aku tidak hanya belajar cara memegang pedang, tapi aku belajar merasakan setiap lapar yang kalian rasakan, setiap cambukan yang kalian terima dari para penguasa korup!"

Ia berhenti sejenak, matanya menyapu barisan para menteri dan bangsawan yang berdiri di belakangnya. Mereka tampak gelisah, saling berbisik di balik telapak tangan mereka.

"Hari ini," lanjut Serena dengan nada yang lebih berat, "kekaisaran ini tidak akan lagi dipimpin oleh rasa takut. Hari ini, aku berdiri di sini bukan hanya sebagai ahli pedang atau ninja yang datang dari bayangan. Aku berdiri di sini sebagai pelayan kalian!"

Tiba-tiba, seorang pria tua berpakaian mewah—Menteri Keuangan era Karsa, yang bernama Menteri Tejo—maju selangkah. Ia berdeham keras, mencoba memotong pidato Serena.

"Ampun, Putri... maksud saya, Yang Mulia," ujar Tejo dengan nada meremehkan yang terselubung. "Kami semua menghormati keberanian Anda menumbangkan Jenderal Karsa. Namun, kekaisaran seluas dua juta kilometer persegi ini membutuhkan stabilitas ekonomi, bukan sekadar pidato di bawah hujan. Bagaimana Anda, seorang wanita yang menghabiskan sepuluh tahun di gunung, bisa mengerti kerumitan birokrasi dan perbendaharaan negara yang sedang kosong?"

Beberapa bangsawan lain mengangguk setuju, mulai berani menunjukkan taring mereka.

Serena berbalik pelan, menatap Menteri Tejo dengan mata peraknya yang mulai memercikkan listrik kecil. "Kosong, Menteri Tejo? Perbendaharaan negara kosong karena kalian memindahkan emas rakyat ke peti pribadi kalian di wilayah luar. Aku sudah membaca catatan rahasia di ruang kerja Karsa semalam."

Menteri Tejo pucat pasi. "Itu... itu tuduhan yang tidak berdasar!"

"Paman Bram!" panggil Serena tanpa melepas pandangannya dari Tejo.

"Siap, Yang Mulia!"

"Amankan seluruh menteri yang namanya tercantum dalam manifes pengiriman emas ilegal ke luar perbatasan. Sita aset mereka hari ini juga untuk memberi makan rakyat di distrik kumuh!"

"Beraninya Anda!" teriak Tejo. "Anda belum resmi dinobatkan! Ini adalah pelanggaran hukum!"

Tepat saat itu, langit seolah menjawab. Sebuah kilatan petir raksasa menyambar menara tertinggi istana dengan suara CRAAAKKK yang memekakkan telinga. Tanah bergetar. Hujan mulai turun dengan deras, namun Serena tetap berdiri tegak, tidak basah sedikit pun karena energi panas yang keluar dari tubuhnya menguapkan air sebelum menyentuh jubahnya.

"Hukum?" Serena mendekati Tejo. "Akulah hukum di sini sekarang. Dan alam pun setuju."

Rakyat di bawah melihat kejadian itu sebagai mukjizat. Mereka berlutut di tengah hujan, bersujud kepada pemimpin baru mereka.

"Penobatan akan dilanjutkan!" seru Paman Bram.

Sumpah di Bawah Langit yang Mengamuk

Upacara penobatan biasanya memakan waktu berjam-jam dengan ritual yang rumit, namun Serena memangkas semuanya. Ia meminta Pendeta Agung untuk segera membawakan Pedang Kerajaan dan Kitab Sumpah.

"Putri Serena," suara Pendeta Agung bergetar, "apakah Anda bersumpah di hadapan Dewa Langit dan Bumi, serta di hadapan seluruh rakyat Ser, untuk melindungi setiap jengkal tanah dari perbatasan Barat hingga Timur, dan untuk mendahulukan perut rakyat daripada perut Anda sendiri?"

Serena meletakkan tangannya di atas Kitab Sumpah. Ia merasakan getaran dari bumi Arrinra, seolah tanah ini sedang berbicara kepadanya.

"Aku bersumpah," ucapnya mantap.

"Apakah Anda bersumpah untuk menggunakan Ilmu Petir Langit dan keahlian pedang Anda hanya untuk membela keadilan, dan bukan untuk menjadi tiran baru?"

"Aku bersumpah. Jika aku melanggar, biarlah petir yang aku kuasai hari ini berbalik menghanguskan tubuhku sendiri."

Pendeta Agung mengangkat mahkota platinum itu. "Maka, dengan restu alam dan suara rakyat, aku nyatakan kau sebagai Kaisar Wanita Pertama Kekaisaran Ser. Serena Arrinra!"

Petir kembali menyambar, kali ini tiga kali berturut-turut di langit Arrinra, membentuk pola trisula yang indah. Rakyat bersorak histeris. Mereka tidak peduli lagi dengan hujan badai; mereka merayakan kebebasan.

Dialog di Balik Takhta

Setelah upacara yang menegangkan itu, Serena masuk ke dalam ruang takhta yang megah. Ia melepas jubah peraknya yang berat dan duduk di kursi kayu jati besar yang dulu milik ayahnya. Paman Bram masuk, membawakan secangkir teh hangat.

"Langkah yang berani, Yang Mulia. Menangkap menteri keuangan di hari pertama penobatan... Anda baru saja memulai perang dengan seluruh kelas bangsawan," ujar Bram sambil menyerahkan cangkir itu.

Serena menyesap tehnya, matanya menatap kosong ke arah pintu aula yang besar. "Mereka sudah menyatakan perang sejak mereka membiarkan rakyat mati kelaparan, Paman. Aku hanya mempercepat prosesnya."

"Namun, kita butuh orang-orang yang mengerti cara menjalankan roda pemerintahan. Jika Anda memenjarakan semua orang korup, siapa yang tersisa untuk bekerja?"

Serena menaruh cangkirnya. "Kita akan mencari orang-orang baru dari kalangan rakyat. Mereka yang punya hati tapi tidak punya kesempatan. Paman, aku ingin kau mengirim kurir ke seluruh provinsi. Umumkan bahwa jabatan birokrasi sekarang terbuka bagi siapa saja yang lulus ujian, bukan karena garis keturunan."

"Itu revolusioner, Serena. Tapi itu akan membuat Anda memiliki banyak musuh di dalam tembok ini."

"Aku lebih takut pada musuh yang kelaparan di luar tembok daripada musuh yang kekenyangan di dalam istana," jawab Serena tegas.

Tiba-tiba, seorang pelayan muda masuk dengan tergesa-gesa. "Yang Mulia, ada keributan di gerbang belakang. Para buruh kuli yang membantu membersihkan reruntuhan semalam menolak untuk dibayar dengan koin era Karsa. Mereka menuntut keadilan bagi rekan mereka yang terluka saat demonstrasi tadi pagi."

Serena berdiri. "Aku akan ke sana."

"Yang Mulia, biarkan saya yang menangani itu," cegah Bram. "Anda baru saja dinobatkan, Anda harus beristirahat."

"Tidak, Paman. Seorang kaisar yang tidak tahu bau keringat rakyatnya adalah kaisar yang sedang menunggu waktu untuk digulingkan."

Pertemuan Bayangan

Serena berjalan menuju gerbang belakang istana, masih dengan pakaian kebesarannya namun tanpa mahkota. Di sana, ia melihat sekelompok pemuda dengan pakaian dekil sedang beradu argumen dengan penjaga istana.

"Kami tidak butuh koin emas bergambar pengkhianat itu!" teriak salah seorang pemuda yang tubuhnya kekar, tangannya dipenuhi debu semen dan kapur. "Kami ingin kepastian bahwa besok kami masih punya pekerjaan!"

"Tenanglah, saudara-saudara!" seorang pemuda lain mencoba menenangkan mereka. Pemuda ini terlihat lebih tenang, wajahnya ramah namun memiliki ketegasan di matanya. Ia mengenakan caping yang sudah robek di pinggirnya.

Serena mendekati mereka. Penjaga istana segera bersiaga, namun Serena memberi isyarat agar mereka mundur.

"Siapa yang memimpin kalian?" tanya Serena lembut.

Para buruh itu terdiam. Mereka terpaku melihat kecantikan dan kewibawaan Serena yang berdiri tepat di depan mereka. Pemuda yang mencoba menenangkan tadi maju selangkah, ia melepas capingnya.

"Maafkan kami, Yang Mulia," ujar pemuda itu, suaranya sopan namun tidak menunjukkan rasa takut yang berlebihan. "Nama saya Anton. Kami tidak bermaksud membuat keributan. Kami hanya ingin tahu, apakah setelah hari ini, hidup kami benar-benar akan berubah, atau hanya berganti wajah penguasa saja?"

Serena menatap pemuda bernama Anton itu. Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Di saat orang lain menatapnya dengan ketakutan atau pemujaan, Anton menatapnya sebagai manusia biasa yang sedang menuntut haknya.

"Siapa namamu tadi? Anton?" tanya Serena.

"Anton Firmansyah, Yang Mulia. Saya hanya seorang kuli bangunan di proyek jembatan Arrinra."

Serena mengangguk. "Anton, dengarkan aku. Koin-koin lama itu akan ditarik dan diganti dengan koin baru. Tapi pekerjaan kalian tidak akan hilang. Justru, aku butuh ribuan orang seperti kalian untuk membangun kembali Arrinra yang hancur. Katakan pada teman-temanmu, besok kembali ke sini. Bukan untuk mengemis, tapi untuk mendaftar sebagai pekerja negara dengan upah yang layak."

Anton tersenyum kecil, sebuah senyum jujur yang membuat jantung Serena berdegup sedikit lebih kencang—suatu perasaan yang asing baginya yang telah sepuluh tahun hidup sebagai petapa dan ninja.

"Terima kasih, Yang Mulia. Anda adalah kilat pertama yang membawa hujan berkah, bukan hujan bencana," ujar Anton.

Setelah para buruh itu bubar dengan rasa puas, Serena tetap berdiri di sana, memandang punggung Anton yang menjauh.

"Paman Bram," panggil Serena tanpa menoleh.

"Ya, Yang Mulia?"

"Siapa pemuda itu tadi? Anton? Dia punya insting yang menarik."

Bram tertawa kecil. "Hanya seorang rakyat jelata, Yang Mulia. Tapi saya dengar, dialah yang mengatur logistik makanan secara sukarela untuk para demonstran tadi malam. Dia punya pengaruh besar di kalangan kuli."

Serena tersenyum tipis. "Menarik. Pastikan dia tidak menemui kesulitan di proyeknya."

Malam itu, di bawah sisa-sisa badai yang mulai mereda, Serena Arrinra tidur untuk pertama kalinya sebagai Kaisar di ranjang ayahnya. Namun, mimpinya bukan lagi tentang peperangan, melainkan tentang wajah seorang kuli bangunan yang berani menatap matanya di tengah hujan.

Kekaisaran Ser seluas dua juta kilometer persegi itu kini telah memiliki kepala. Tapi Serena mulai menyadari, bahwa memiliki kepala saja tidak cukup. Sebuah kekaisaran butuh hati. Dan pencariannya akan 'hati' itu baru saja dimulai di bawah langit Arrinra yang baru saja dibersihkan oleh petir.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!