Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELEPASKAN
Derap langkah Arya di sepanjang koridor terdengar hampa, seolah setiap pijakannya menginjak kepingan harga diri yang baru saja hancur berkeping-keping. Pikirannya kalut. Benar, Yasmin adalah korban. Benar, wanita itu di bawah ancaman. Namun, di sudut hatinya yang paling gelap, Arya merasa dikhianati oleh sebuah kebungkaman.
Kenapa baru sekarang?
Pertanyaan itu terus berputar, menyiksa logikanya. Jika saja Yasmin bicara di awal, jika saja wanita itu mempercayainya sedikit saja sebelum semuanya terlambat, mungkin noda itu tak akan pernah ada.
Arya masuk ke kamar mereka dengan napas tersengal. Matanya kembali tertuju pada seprai yang tersingkap di lantai. Di sana, setitik noda merah—darah Yasmin—terpampang nyata. Jantung Arya mencelos, rasa mual dan perih menghantam dadanya secara bersamaan. Darah itu adalah bukti kesucian yang dirampas paksa, namun bagi Arya, itu juga menjadi prasasti kekalahannya sebagai seorang suami.
"Aku salah..." bisik Arya parau, suaranya pecah di tengah kesunyian kamar.
Tiba-tiba, bayangan Maura dan Freya melintas di benaknya. Selama ini ia mati-matian membela Yasmin dari kebencian mereka. Namun sekarang, sebuah pikiran pahit merayapi warasannya, mungkin mereka benar. Meski cara mereka salah, namun insting mereka tentang ketidakberdayaan Yasmin yang membawa petaka ini terbukti nyata. Arya merasa bodoh telah mempertaruhkan segalanya demi wanita yang bahkan tidak berani jujur padanya.
Pintu kamar terbuka pelan. Yasmin berdiri di sana dengan tubuh yang masih basah, wajahnya pucat pasi dan matanya sembab. Ia menatap Arya dengan keraguan yang amat sangat. Lidahnya kelu, ia bingung harus memulai dari mana. Bagaimana cara menjelaskan rahasia yang sudah terlanjur menjadi borok? Bagaimana cara mengembalikan kepercayaan yang sudah menguap bersama aroma parfum Tama di ruangan ini?
"Mas... Mas Arya..." Yasmin merangkak mendekat, jemarinya yang dingin mencoba meraih ujung celana Arya. "Aku mohon... dengarkan aku sekali lagi."
Arya tak bergeming. Ia bahkan tak sudi menatap wajah istrinya. Dengan gerakan kasar, ia beranjak menuju lemari besar di sudut kamar. Ia menarik sebuah tas koper besar dengan sentakan yang kuat hingga menimbulkan suara berdebam.
"Mas, apa yang kamu lakukan?!" jerit Yasmin histeris saat melihat Arya mulai meraup pakaian-pakaian miliknya dari gantungan dan melemparkannya masuk ke dalam tas dengan membabi buta.
"Pergi, Yasmin," desis Arya tanpa menoleh. Tangannya terus bergerak cepat, memasukkan gaun-gaun, peralatan butik, hingga barang pribadi Yasmin lainnya tanpa aturan. "Aku tidak bisa melihatmu tanpa membayangkan apa yang terjadi di tempat tidur ini."
"Mas, aku korban! Dia memaksaku!" Yasmin memeluk kaki Arya, menangis sejadi-jadinya hingga suaranya serak. "Jangan buang aku, Mas!"
Arya berhenti sejenak, namun punggungnya yang tegang menunjukkan bahwa hatinya telah membeku. "Kejujuranmu itu menyakitkan, Yasmin. Kamu jujur setelah semuanya hancur. Bagiku, itu bukan lagi kejujuran, tapi pengakuan dosa yang tak bisa aku tanggung."
Ia menutup ritsleting tas koper itu dengan sekali tarik yang kasar, suaranya membelah keheningan kamar seperti sebuah vonis akhir. "Ambil barang-barangmu. Keluar dari kamar ini sebelum aku benar-benar kehilangan kendali atas diriku sendiri."
Yasmin menggeleng kuat-kuat, jemarinya mencengkeram karpet dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Enggak, Mas... Jangan buang aku... Aku mohon, Mas Arya!" isaknya pecah, suaranya parau hingga tenggorokannya terasa berdarah.
Namun, hati Arya sudah mengerak menjadi batu. Kecewa yang teramat dalam telah membunuh rasa kasih yang biasanya meluap untuk istrinya. Tanpa sepatah kata pun, Arya merunduk dan meraih lengan Yasmin dengan kasar, memaksanya berdiri meski kaki wanita itu lemas tak bertulang.
"Mas, bajuku... aku masih basah, Mas!" rintih Yasmin, menyadari pakaian tipisnya masih melekat lembap di tubuhnya, namun Arya tidak peduli. Logikanya sudah tertutup oleh bayangan noda di seprai dan aroma Tama yang seolah masih mengejeknya di setiap sudut kamar.
Arya menyeret Yasmin keluar kamar, langkah kakinya berdentum keras di lantai kayu koridor. Ia menggiring istrinya menuruni anak tangga dengan paksa, mengabaikan rintihan kesakitan yang keluar dari bibir pucat wanita itu.
"Aku akan segera mengurus surat perceraian kita," desis Arya dingin, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu yang menyayat jantung Yasmin. "Jangan pernah muncul lagi di hadapanku."
Di lantai bawah, pintu utama terbuka. Maura dan Freya yang baru saja pulang dan melangkah masuk seketika mematung. Langkah mereka terhenti, mata mereka membelalak menyaksikan pemandangan horor di depan mata. Arya, sosok dokter yang selalu tenang dan elegan, yang selalu mendambakan wanitanya kini tengah mengguyur istrinya turun dengan emosi yang meledak-ledak.
"Arya?! Ada apa ini?" Maura memekik, menutup mulutnya dengan tangan saat melihat keadaan Yasmin yang kacau balau—basah kuyup, rambut berantakan, dan wajah yang hancur oleh air mata.
Freya berdiri kaku, ada kilatan kepuasan yang tertahan di matanya, namun ia tetap terkejut melihat kakaknya sekasar itu. "Waw... kenapa Yasmin sampai seperti itu?"
Arya tidak menjawab. Ia terus menyeret Yasmin hingga ke teras rumah, lalu melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kuat hingga Yasmin jatuh tersungkur di atas aspal dingin yang masih menyisakan sisa hujan.
"Ambil tasmu dan pergi!" teriak Arya, suaranya menggelegar ke seluruh halaman, membuat Maura dan Freya bergidik ngeri.
Tanpa menoleh lagi, Arya berbalik masuk ke dalam rumah dan membanting pintu utama dengan kekuatan penuh.
BRAKKK!
Yasmin meringkuk di atas aspal, ia memejamkan matanya erat-erat dan perlahan air mata keputusasaan itu akhirnya luruh. Ia merasa telah kehilangan segalanya—Arya, kehormatannya, dan dirinya sendiri. "Mas, buka Mas. Tolong dengerin aku, Mas! Ini gak sesuai yang kamu bayangkan, Mas!"
Suara gedoran tangan Yasmin pada daun pintu kayu yang kokoh itu terdengar pilu, bersahutan dengan isak tangisnya yang kian pecah. Tubuhnya yang basah kuyup bergetar hebat terkena terpaan angin malam, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan hantaman kenyataan bahwa pintu itu kini menjadi pembatas antara dirinya dan satu-satunya pria yang ia cintai.
Mas, buka Mas! Tolong dengerin aku, Mas! Ini gak sesuai yang kamu bayangkan, Mas!" teriak Yasmin, suaranya parau, nyaris habis tertelan kesunyian halaman rumah yang luas.
Ia bersimpuh di depan pintu, keningnya bersandar pada kayu dingin itu. Di dalam sana, ia tak tahu apakah Arya sedang berdiri di balik pintu yang sama, ataukah telah pergi kembali—menjauh dari suaranya yang penuh permohonan. Yang jelas, jarak hati mereka kini terasa ribuan kilometer jauhnya. Senyap. Hilang.
****