Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Beban Tak Terlihat, Bayangan Tak Terucap
Jalan setapak menuju utara semakin sempit dan jauh kala mereka meninggalkan Kota Yunan. Pepohonan di kiri kanan merapat, dahan-dahan saling menyilang, membentuk terowongan alami yang meredupkan cahaya matahari.
Adapun tidak lelah-lelahnya Xiao Feng berjalan paling depan, sesekali memetik daun yang dia lewati lalu membuangnya lagi. “Aku dengar di selatan ada hutan bambu yang katanya penuh ular berbisa. Tapi kalau kita ambil jalur timur, kita bisa lewat pasar kecil yang menjual kue jahe. Atau kalau mau lebih cepat—”
“Kau bicara terlalu banyak,” potong Yue Xin dari belakang. Suaranya tidak keras, namun cukup dingin untuk membuat Xiao Feng bungkam. Setidaknya untuk sepuluh langkah ke depan.
Di tengah keriuhan itu, Huang Shen berjalan dengan langkah yang sama seperti biasanya. Tetap, teratur, tidak tergesa. Tapi di dalam dadanya, Gerbang itu menyala dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan karena haus darah melainkan karena ada beban lain yang mulai mengendap di sana, seperti batu kecil di dalam sepatu. Tidak melukai, tapi setiap langkah terasa tidak nyaman.
Wajah bocah itu muncul di antara celah pepohonan. Karena ingatan itu pula, Huang Shen jadi mengingat tujuannya. Sekte Iblis Hitam, beserta dalangnya yang sudah dia cari sejak dua belas tahun lalu, sejak Desa Hutan Jamur terbakar dan orang tuanya mati di depan matanya. Itu sebabnya dia ada di sini. Itu sebabnya dia menerima kontrak, membunuh, menyerap darah dan terus bergerak ke utara.
Tapi setelah kontrak pertama dari Sekte Iblis Hitam itu, ada yang berubah. Saat darah kepala desa mengalir ke Gerbang, dia melihat wajah bocah itu, dan itu bukan sekadar ingatan. Wajah itu muncul di antara darah, di sela-sela hitam dan merah, tersenyum seperti dulu.
Dan untuk pertama kalinya, dia ragu.
“Jujur, akhir-akhir ini kau tidak seperti biasanya.” Yue Xin berjalan di sampingnya. Matanya lurus ke depan, tidak menatap Huang Shen, tapi kata-katanya jelas ditujukan padanya.
Huang Shen tidak menjawab karena mereka juga seharusnya tidak terus mengikutinya.
Yue Xin pun tidak memaksa. Dia hanya berjalan di sampingnya, dengan jarak yang sama seperti biasa, tidak lebih dekat, tidak lebih jauh.
Adapun Xiao Feng yang tiba-tiba berhenti di depan. “Ada desa di sini?”
Desa itu sunyi. Terlalu sunyi untuk waktu yang masih siang. Tidak ada orang di jalan saat beberapa pintu terbuka. Bau yang menyengat bukan dari masakan atau kotoran ternak. Bau itu lebih tajam, lebih pahit. Bau obat yang sudah terlalu lama mendidih, bercampur sesuatu yang anyir seperti daging yang mulai membusuk.
Seorang lelaki tua duduk di depan salah satu rumah, punggungnya membungkuk, sedangkan tatapannya kosong. Karena penasaran Xiao Feng pun mendekat, bertanya dengan suara pelan. Lelaki itu berbicara dengan suara yang keluar seperti angin dari celah batu. Tidak jelas. Tapi cukup untuk membuat Xiao Feng berbalik dengan wajah pucat.
“Wabah,” katanya. “Bukan wabah biasa karena orang-orang jatuh sakit sebelum tubuhnya mengering dari dalam.”
Yue Xin mengerutkan dahi, sementara Huang Shen tetap bergeming. Namun, Gerbang di dadanya bergetar hebat. Jelas, ada sesuatu yang salah.
Di bawah pohon besar di tengah desa, seorang wanita sedang meracik obat. Pakaiannya sederhana, lengan digulung sampai siku, rambut diikat longgar tapi tetap terlepas di beberapa sisi. Di sekelilingnya berjejer wadah tanah liat berisi ramuan yang masih mengepul. Bau pahit yang menyengat itu berasal dari sini.
Dia bekerja dengan gerakan yang sudah terbiasa, tidak tergesa meski tangannya penuh. Wajahnya memang lelah jika dilihat dari lingkaran hitam di bawah mata yang sudah lama tidak tidur nyenyak. Tapi matanya masih tajam. Mata yang sudah melihat terlalu banyak penderitaan tapi belum menyerah.
Mu Ling. Itulah namanya. Xiao Feng mendapat informasi dari lelaki tua tadi. Dia satu-satunya tabib yang mau tinggal. Tidak punya keluarga. Tidak punya tempat tinggal tetap. Datang ke desa ini karena ada wabah, dan bertahan di sini karena tidak ada yang bisa dia tinggalkan.
Saat Huang Shen mendekat. Mu Ling tidak menoleh, tapi tangannya berhenti bekerja. “Kau bukan orang sini?”
“Bukan.”
“Kalau begitu pergilah. Wabah ini memang tidak menular ke orang luar, tapi lebih baik kau tidak menghabiskan waktu di sini.” Dia mulai mengaduk ramuan lagi. Gerakannya cepat, seperti orang yang sudah menghitung berapa banyak yang harus dilakukan sebelum malam tiba.
“Ini bukan sekadar wabah biasa,” sela Huang Shen dengan nada yang selalu dingin.
Tangan Mu Ling pun terhenti. Ia kini menatap Huang Shen dengan tatapan penasaran. “Kau bisa merasakannya?”
“Aku bisa melihatnya dengan lebih jelas jika kau turun ke sumur itu,” Huang Shen menunjuk ke arah sumur di belakang rumah kepala desa.
Mu Ling pun segera menoleh ke arah sumur itu. Sumur yang airnya selama ini dipakai seluruh desa. “Aku sudah curiga. Tapi aku tidak punya cukup kekuatan untuk masuk ke dalam dan melihat apa yang ada di sana.”
“Aku bisa melenyapkannya,” kata Huang Shen. “Tapi kau harus membantuku suatu saat nanti. Anggap saja ini hutang budi.”
Mu Ling terdiam sejenak, lalu tawa kecil yang getir lepas dari bibirnya. “Menawarkan bantuan dengan syarat utang? Baiklah. Lakukanlah. Lagipula desa ini memang sudah mulai kehabisan harapan.”
Sumur itu dalam. Bau dari dalam seperti sesuatu yang mati dan membusuk di tempat yang tidak terkena sinar matahari. Huang Shen turun dengan seutas tali yang diikatkan di pinggangnya, sementara Yue Xin dan Xiao Feng menjaga di atas meski Huang Shen tidak memintanya.
Di dasar sumur, airnya tidak jernih. Tapi Huang Shen tidak perlu melihat dengan mata. Gerbang di dadanya menyala, dan dia merasakannya. Ada sesuatu yang bergerak di dalam air. Bukan ikan karena Qi-nya terasa lebih… lapar.
Iblis itu keluar dari lumpur saat Huang Shen mendekat. Bentuknya seperti belut, tapi tubuhnya dua kali lebih besar, dengan mata merah yang menyala di kegelapan. Level Inti Emas. Racun yang keluar dari tubuhnya menyerap Qi dari sekitarnya, membuat air menjadi keruh, membuat siapa pun yang meminumnya mengering dari dalam.
Huang Shen tidak memberi waktu. Cakar Iblis muncul di tangan kanannya, merah pekat, dan dalam satu gerakan, tubuh belut itu terbelah dua. Darahnya menyembur, dan Gerbang di dadanya terbuka lebar. Darah iblis itu terserap, terasa lebih berat dari darah manusia, lebih pekat, seperti minyak yang mengalir perlahan ke dalam api.
Sedangkan dari atas sana, Mu Ling melihat dari tepi sumur dengan mata terbelalak, setelah melihat bagaimana darah iblis itu mengalir masuk ke dalam tubuh Huang Shen sebelum menghilang ke dalam dadanya.
“K-kau bisa… memurnikan darah iblis ke dalam tubuhmu?”
Huang Shen memanjat naik, lalu menyeka tangannya dengan kain yang dilemparkan Xiao Feng. “Itu bukan urusanmu.”
Mu Ling tidak mundur ketakutan. Justru rasa ingin tahu yang besar terpancar dari matanya.
Huang Shen melemparkan sebuah kantong kecil berisi pil pemulihan. “Berikan ini pada penduduk.”
Mu Ling menangkapnya, menghirup aroma pil itu, dan terkesiap. “Ini pil kelas tinggi. Dari mana kau—”
“Sudah kubilang, bukan urusanmu.”
Saat rombongan itu hendak beranjak, Mu Ling berdiri menghadang jalan Huang Shen. “Aku tidak punya rumah, tapi bukan itu alasanku ingin ikut.”
Huang Shen menatapnya dengan pandangan kosong.
“Aku bisa melihat aliran Qi dalam tubuh manusia sejelas aliran sungai,” lanjut Mu Ling, matanya tertuju tepat pada dada Huang Shen. “Dan aku melihat sesuatu yang ganjil di dalam dirimu. Bukan hanya Gerbang itu. Ada sisa ruh yang menempel erat. Ruh itu sedang menggerogoti ketegasanmu, membuatmu ragu di saat yang salah.”
Xiao Feng terperangah, sementara Yue Xin menajamkan tatapannya saat Huang Shen terdiam membatu.
“Aku ingin memahami kekuatanmu,” tegas Mu Ling. “Bukan untuk menentangmu, tapi untuk mengerti. Dan mungkin, suatu hari nanti, aku bisa membantumu melepaskan beban yang seharusnya tidak kau pikul sendirian.”
Angin berhembus dengan cara yang menyejukkan, membawa pergi sisa bau pahit obat, Sementara di dasar sumur, air mulai kembali jernih.
Setelah penjelasan panjang itu, Huang Shen berbalik dan melanjutkan langkahnya tanpa sepatah kata pun. Tidak ada penolakan ataupun persetujuan. Namun, Mu Ling segera mengambil langkah di sampingnya.
Merasa senasib sepertinya, Xiao Feng hanya mengangkat bahu sementara Yue Xin menghela napas panjang, dan mereka pun mengikuti sang pembantai menuju utara.