Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Perlahan Naik Kasta
Tubuh lemas Sukma menghantam lantai tanah. Debu mengepul tipis di sekitarnya.
Jeritan histeris Marni membelah isi ruangan, disusul rintihan panik Pak Purnomo yang buru-buru memeluk kepala putrinya.
Di balik kelopak matanya yang terpejam, Sukma malah sibuk menghitung mundur.
Satu... dua... tiga.
Berdebat dengan urat leher, sampai wajah merah padam itu cara amatiran.
Level tertinggi mencari ribut adalah menyindir halus, menyerang mental, sampai lawan bicaramu mati kutu tak bisa membalas.
Biar mereka kena serangan jantung sekalian.
Kalimatnya tadi memang terdengar menyedihkan, tapi 100% fakta murni.
"Bawa naik! Bawa naik ke dipan, Pak Purnomo!" Suara Kades Darman terdengar bergetar hebat.
Rasa bersalah menampar wajah tuanya telak. Sapi gila miliknya yang menabrak perempuan ini. Sapi itu baik-baik saja, sementara istri tentara di depannya nyaris tinggal nama.
Marni dan Purnomo memapah tubuh Sukma kembali ke atas kasur kapuk tipis. Sukma membiarkan tubuhnya diatur layaknya boneka rusak. Ia sengaja melemaskan otot lehernya agar kepalanya terkulai ngenes.
Kepala Desa Darman dan Carik Tejo tak berani menatap langsung. Wajah keduanya merah padam menahan malu.
Mereka tahu tabiat Lasmi, tapi tak menyangka sampai sekeji ini.
Dulu, waktu Sukma digotong warga dalam keadaan bersimbah darah, perempuan itu meracau tak karuan menuduh Jamilah sengaja ingin membunuhnya.
Jamilah yang baru nikah setengah tahun di desa ini selalu pasang wajah ramah, rajin senyum, dan ringan tangan.
Sementara Sukma terkenal pemalas dan hobi menggebuk anak. Jelas warga lebih condong membela Jamilah.
Tapi hari ini, melihat bukti fisik di depan mata, Sukma tergeletak sekarat tanpa perawatan, anak-anaknya kurus kering mengais makan di kebon, siapa yang berani membenarkan keluarga Priyanto?
Darman berdeham memecah ketegangan. Pandangannya menusuk tajam ke arah Lasmi yang sedari tadi pucat pasi menempel di kusen pintu.
"Bu Lasmi. Tolong jelaskan. Waktu saya sama Pak Carik ngecek kemarin, keluarga sini bilang Sukma cuma lecet. Makanya kami pulang. Lah sekarang kok keadaannya Sukma seperti ini, iki piye?!"
"Ah... nganu, Pak Kades..." Lasmi gelagapan. Keringat dingin merembes dari dahi keriputnya.
Sukma perlahan membuka matanya. Tatapannya sayu, suaranya dipelankan sampai terdengar seperti embusan angin.
"Loh... keluarga ini bilang saya nggak apa-apa? Pantes... saya bingung kok luka robek di kepala saya cuma ditempel abu gosok sama sarang laba-laba. Oh... mungkin Jamilah atau Ibu pernah sekolah perawat ya? Sampai tahu cara ngobatin luka begini. Salah saya, Pak Kades... ngerepotin Mantri Haris buang-buang obat mahal buat bersihin infeksi di dahi saya."
Darman menelan ludah kasar. Sindiran itu telak.
Wajah Jamilah dan Lasmi seketika sepucat mayat. Mengobati luka pakai sarang laba-laba memang obat kampung, tapi kalau sampai infeksi dan nyaris mati, urusannya bisa panjang!
"Sudahlah..." Sukma sengaja batuk dua kali, tangannya mencengkeram lengan baju Marni erat-erat.
"Untung Bapak Ibu saya masih nututi, masih sempat lihat wajah saya sebelum saya dikubur. Di depan Pak Kades dan Pak Carik... saya cuma mau lurusin satu hal."
Ruangan mendadak hening. Semua telinga menajam.
"Rumah bata depan itu... Mas Trisno yang bangun. Khusus buat anak-anak biar nggak tidur umpel-umpelan. Waktu Joko sama Jamilah mau nikah, Ibu minta saya ngalah. Katanya biar keluarga Jamilah lihat keluarga Priyanto ini berharta, nggak malu-maluin. Jadi saya ikhlas pindah ke kamar jelek ini."
Napas Sukma tersengal, ia sengaja menjeda kalimatnya. Matanya melirik Jamilah yang mulai gemetar.
"Perjanjiannya... sewa setahun. Sebulan lima belas ribu perak. Sampai detik ini, wujud uangnya nggak pernah mampir ke tanganku. Nggak apa-apa... cuma, ini kan sisa hariku. Aku pengen mati di rumah yang dibangun suamiku sendiri. Tolong, Joko... Jamilah... kembalikan rumah anak-anakku."
Joko menganga. Jamilah nyaris pingsan. Lasmi melotot horor.
Omong kosong! Alasan demi kerukunan keluarga apanya?! Dulu Sukma mau pindah murni karena Lasmi menyogoknya dengan janji uang dua ribu perak itu! Sekarang perempuan ini berlagak jadi malaikat korban kezaliman!
Tapi Darman dan Tejo justru makin muak melihat keluarga Priyanto.
Rumah bata itu paling bagus se-desa. Wajar kalau menantu mau menempatinya.
Berani-beraninya mertua dan ipar merampas rumah istri prajurit yang sedang bertaruh nyawa di perbatasan!
Dulu warga mengira Sukma rela pindah demi menjaga nama baik keluarga tentara.
Ternyata dia ditipu mentah-mentah. Nggak dapat uang, kehilangan rumah pula.
Joko maju selangkah, mukanya merah padam. "Mbakyu! Ojo ngarang! Ibu kan selalu kasih uang sewanya tiap bulan ke sampeyan!"
Sukma memutar bola matanya lemah, air mata kembali menetes mulus. "Joko... kondisi Mbakyu wes begini. Buat apa uang? Buat beli kain kafan? Kemarin saja saya tahu, uang wesel Mas Trisno dipakai Ibu buat bayarin keperluan kalian, tapi saya ndak boleh rame, katanya nanti jatuhnya Prapto sama Ningsih iri, nuduh Ibu pilih kasih."
Di sudut ruangan, telinga Ningsih langsung berdiri. Matanya memicing tajam ke arah Lasmi. Jadi selama ini ibu mertuanya diam-diam membiayai Joko pakai uang wesel?!
Sukma melanjutkan ratapannya. "Biarlah... uang sewanya hangus juga ndak apa-apa. Biar kami nempatin rumah kami lagi... biar aku mati tenang di kamarku..."
Lasmi sudah tak tahan. Imajinasi liar warga di luar sana pasti sedang menggila. Kalau sampai gosip 'Mertua Bunuh Menantu demi Rumah' sampai ke telinga Sutrisno, mampus sudah mereka sekeluarga!
"Sukma, Nduk!" Lasmi mendadak menerjang maju, memasang wajah paling memelas se-Nusantara.
"Bicara apa to kowe iki? Mau balik ke rumah depan? Yo wis! Malam ini juga! Uang sewanya lima belas ribu langsung Ibu bayar lunas! Ojo ngomong mati to, Nduk!"
Hati Lasmi berdarah-darah mengucap nominal itu. Lima belas ribu! Tabungannya bisa amblas!
Sukma menyembunyikan senyum kemenangannya. "Alhamdulillah... matur nuwun, Bu. Jamilah... Joko... ndang beres-beres ya."
Jamilah membalikkan badan, membanting langkah keluar kamar diikuti Joko. Darah tingginya kumat.
Darman dan Tejo menghela napas lega. Akhirnya kelar juga urusan rumah ini.
"Syukurlah kalau begitu," Kades Darman menepuk lututnya bersiap berdiri.
"Saya sama Carik janji bakal bawain sepuluh ribu sama beras tiga puluh kilo dari balai desa buat ganti rugi insiden sapi itu. Sukma, fokus sembuh ya."
"Tunggu, Pak Kades."
Langkah Darman terhenti.
Sukma menatap lurus ke arah gerombolan iparnya. "Urusan rumah selesai... tapi urusan perut anak-anakku belum. Berasku... beras bagian kami lima beranak yang gabung di lumbung keluarga... tolong pisahkan sekarang. Biar dipanggul Sigit ke rumah depan."
Prapto, anak kedua keluarga Priyanto, langsung naik darah. Sejak tadi dia diam karena urusan rumah Joko tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Tapi lumbung beras?!
"Enak aja!" Prapto menunjuk wajah pucat Sukma. "Itu gabah hasil keringetku di sawah! Kowe sama anak-anakmu kerja apa hah?! Cuma numpang mangap! Nggak ada pisah-pisah beras!"
Ningsih buru-buru mencubit pinggang suaminya, berbisik panik. "Mas, cangkemmu! Sukma meh mati iku! Kalo arwahnya penasaran nyekik kita pas tidur gimana?!"
Prapto menepis tangan istrinya kasar. "Peduli setan! Nggak ada beras yang bakal keluar!"
Carik Tejo melangkah maju. Wajahnya keras, urat di lehernya menonjol. Sebagai aparat desa, harga dirinya ikut terinjak melihat tingkah keluarga ini. Apalagi sebentar lagi adiknya mau daftar tentara, butuh koneksi dari Sutrisno.
"Prapto. Koen ojo kebangetan." Nada suara Tejo mengancam. "Bojone kakangmu sekarat. Anak-anaknya kelaparan nyari burung di kebon. Mau ku bawa urusan ini ke Koramil?! Biar komandan Sutrisno tahu kelakuan kalian nyiksa keluarganya?!"
Ancaman Koramil selalu ampuh. Nyali Prapto ciut seketika.
"Kasih! Timbang gabahnya saiki!" Lasmi menjerit frustrasi. Kepalanya pusing tujuh keliling. Hartanya dikuras habis hari ini.
"Pak Kades, tolong sekalian jadi saksi penimbangan lumbungnya! Purnomo! Bawa cucumu sana urus berasnya!"
Rombongan itu bubar jalan keluar kamar, menyisakan hawa panas dan bau keringat.
Di atas dipan, Sukma membuang napas panjang. Sandiwara babak pertama sukses besar.
Marni segera mengunci pintu kamar dari dalam. Perempuan paruh baya itu duduk di tepi ranjang, tangannya gemetar membuka bungkusan kain kotor peninggalan Sukma yang asli di dalam lemari.
"Nduk... anak-anakmu pasti lapar. Ibu nemu sisa roti sobek sama gula merah di lemarimu."
Sukma mengangguk pelan.
Tentu saja ada di sana. Tadi saat keributan pecah, ia sengaja menyelipkan sebungkus roti sobek mini dan kepingan gula merah dari ruang spasialnya ke tumpukan baju kotor.
Marni melarutkan gula merah ke dalam cangkir kaleng besar berisi air hangat dari termos kusam di pojok ruangan.
Wangi manis khas gula kelapa langsung menguar, membuat perut keempat bocah yang meringkuk di sudut ruangan berbunyi keroncongan sahut-menyahut.
"Sini, Le... Nduk. Makan dulu." Marni memanggil mereka lembut.
Syaiful si bungsu langsung merangkak maju, matanya terpaku pada roti empuk di tangan neneknya.
Sinta membuntuti ragu-ragu. Gito dan masih berdiri kaku di dekat pintu.
"Makanlah," Sukma berucap serak.
"Ibu nggak bakal pukul kalian lagi. Kalau Ibu mukul... biar Mbah Uti yang hukum Ibu."
Gito melangkah maju duluan. Tangan dekilnya menyambar sepotong roti sobek. Ia menggigitnya pelan. Tekstur manis dan super empuk dari minimarket masa depan itu meledak di lidahnya. Belum pernah ia makan roti seenak ini seumur hidup.
Tapi alih-alih menghabiskannya, anak tujuh tahun itu menyembunyikan sisa roti ke balik bajunya yang gombrong, lalu tersenyum tipis.
Sukma melihat pergerakan itu.
Gito... licik juga anak ini. Nyimpen jatah buat kakaknya, atau buat cadangan kalau nanti aku kumat?
Marni menyuapkan air gula merah ke mulut Syaiful. Bocah itu menegaknya rakus sampai tersedak.
Sementara Sinta makan dengan air mata menggenang.
Di luar kamar, suara warga yang bergerombol masih terdengar lamat-lamat. Semuanya mengutuk kekejaman Lasmi. Reputasi Sukma perlahan naik kasta dari menantu pemalas menjadi mantu yang tersiksa.
Lima belas ribu perak, telur, beras, dan rumah bata. Modal awal yang cukup untuk bertahan hidup di desa tahun 1990 ini.
Tiba-tiba, pintu kamar didorong kasar dari luar.
Sigit berdiri di ambang pintu, napasnya memburu. Tangan kanannya mencengkeram erat sebuah kertas buram berwarna biru yang tampak lecek. Ujung bibirnya bergetar hebat menahan emosi yang siap meledak.
"Ini..." Suara anak sembilan tahun itu serak, melemparkan kertas itu ke pangkuan Sukma.
"Wesel Bapak bulan ini. Nenek nyembunyiin ini di bawah lipatan baju Bulik Jamilah."