Dianggap sebagai sampah karena meridiannya yang hancur, Ling Tian hidup dalam penghinaan dan keputusasaan. Namun, takdirnya yang kelam berubah selamanya saat ia secara tak sengaja membangkitkan Mutiara Naga Kosmik, sebuah artefak ilahi yang menyimpan jiwa Naga Purba dan rahasia ruang-waktu.
Dengan warisan yang menentang langit ini, perjalanan Ling Tian dimulai. Dari seorang pemuda yang dicemooh, ia bangkit untuk membalas dendam, mengguncang sekte, dan menaklukkan kerajaan. Perjalanannya membawanya melintasi dunia fana menuju alam abadi, di mana setiap langkah adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang sampah bisa naik menjadi penguasa kosmos, mengungkap konspirasi universal, dan memegang takdir jutaan dunia di tangannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Sebuah Perjanjian, Sebuah Sumpah
Permintaan Ling Xue menggantung di udara malam yang dingin, sarat dengan keputusasaan yang tidak biasa ia tunjukkan. Gua itu menjadi sunyi, hanya suara angin malam yang mendesir di luar yang terdengar.
Ling Tian menatapnya lekat-lekat. Matanya yang dalam tampak menganalisis, menimbang, dan menghitung. Ia bukan lagi pemuda naif yang akan membantu siapa pun tanpa pamrih. Setiap tindakan sekarang harus memiliki tujuan.
Di dalam benaknya, ia berkomunikasi dengan Kaisar Naga.
"Dia ingin aku melindunginya saat menerobos. Apakah ini mungkin?"
"Hmph, mungkin saja," jawab Kaisar Naga dengan nada sedikit tertarik. "Serangan balik dari Fisik Spiritual Yin Ekstrem memang menyerang jiwa. Dengan 'Guncangan Jiwa Naga', kau bisa mengganggu dan membuyarkan energi Yin yang menyerang lautan kesadarannya. Namun, itu sangat berbahaya. Jika kau gagal, jiwamu sendiri bisa terluka oleh energi Yin yang dingin itu."
Ling Tian merenung. Risiko itu nyata.
"Tapi," sang Naga melanjutkan, "ada keuntungan besar. Pertama, ini adalah kesempatan sempurna untuk mengamati kekuatan Fisik Spiritual Yin Ekstrem dari dekat. Kedua, jika kau berhasil, kau akan mendapatkan kesetiaan mutlak dari seorang jenius yang potensinya hampir setara denganmu. Di masa depan, dia bisa menjadi pedangmu yang paling tajam."
Sang Naga berhenti sejenak sebelum menambahkan. "Lagipula, energi Yang murni dari Qi Naga Kosmik-mu adalah penawar alami untuk masalahnya. Kalian berdua, jika bekerja sama, bisa mencapai ketinggian yang tak terbayangkan. Ini adalah takdir."
Pikiran Ling Tian menjadi jernih. Kaisar Naga benar. Membangun kekuatan bukan hanya tentang kultivasi pribadi, tetapi juga tentang mengumpulkan sekutu yang kuat. Dan tidak ada sekutu yang lebih dapat diandalkan daripada seseorang yang berhutang nyawa padamu.
"Aku bisa membantumu," kata Ling Tian akhirnya, memecah keheningan.
Secercah kelegaan melintas di mata Ling Xue, tetapi itu cepat hilang saat Ling Tian melanjutkan.
"Tapi bantuanku tidak gratis."
Ling Xue mengangguk, dia sudah menduganya. "Apa yang kau inginkan? Pil? Teknik? Aku akan memberikan apa pun yang aku miliki."
Ling Tian menggelengkan kepalanya. "Aku tidak butuh itu semua."
Ia menatap lurus ke mata Ling Xue, tatapannya tajam dan tanpa kompromi. "Aku ingin kesetiaanmu. Aku ingin kau bersumpah dengan jiwamu, bahwa mulai hari ini dan seterusnya, kau akan menjadi pedangku dan perisaiku. Perintahku adalah perintahmu. Musuhku adalah musuhmu. Kau akan mengikutiku, bahkan jika jalan yang kutempuh membawaku ke neraka."
Permintaan itu mengejutkan. Ini bukan sekadar permintaan bantuan, ini adalah permintaan penyerahan diri secara total.
Wajah Ling Xue menjadi pucat. Ia adalah seorang jenius yang sombong, terbiasa mandiri dan tidak bergantung pada siapa pun. Menyerahkan kehendaknya kepada orang lain adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
"Kenapa?" bisiknya.
"Karena dunia ini lebih besar dari Kota Awan Bambu, dan musuh yang akan kuhadapi di masa depan jauh lebih menakutkan daripada Ling Feng," jawab Ling Tian dengan tenang. "Aku tidak bisa berjalan sendirian. Aku butuh sekutu yang bisa kupercayai dengan punggungku. Dan tidak ada kepercayaan yang lebih kuat daripada yang diikat oleh jiwa."
Ling Xue terdiam. Ia menatap Ling Tian, pemuda yang baru beberapa minggu lalu masih menjadi bahan cemoohan, tetapi kini berdiri sebagai seorang penguasa yang menghitung setiap langkahnya. Ia melihat ambisi yang tak terbatas di matanya, ambisi yang bahkan melampaui Klan Ling itu sendiri.
Ia memikirkan hidupnya, yang terus-menerus terancam oleh fisiknya sendiri. Ia memikirkan kematian dini yang menantinya jika ia tidak melakukan apa-apa. Lalu ia memikirkan kekuatan misterius dan tak terduga yang dimiliki Ling Tian.
Mengikutinya... mungkin bukan pilihan yang buruk. Bahkan mungkin satu-satunya pilihan.
Setelah keheningan yang terasa seperti selamanya, Ling Xue akhirnya mengangguk perlahan, matanya menunjukkan tekad yang baru ditemukan.
"Aku setuju."
"Sumpah verbal tidak cukup," kata Ling Tian. "Kita akan membuat Perjanjian Jiwa Darah. Sebuah kontrak kuno yang mengikat jiwa kita. Jika kau mengkhianatiku, jiwamu akan hancur."
Ini adalah metode yang diajarkan oleh Kaisar Naga, sebuah cara mutlak untuk memastikan kesetiaan.
Tanpa ragu-ragu, Ling Xue menggigit ujung jarinya dan membiarkan setetes darah esensi yang berkilauan melayang di udara. Ling Tian melakukan hal yang sama.
Mengikuti instruksi mental dari Kaisar Naga, Ling Tian menggumamkan beberapa suku kata kuno. Kedua tetes darah itu menyatu di udara, bersinar dengan cahaya merah keemasan, sebelum akhirnya terbelah menjadi dua dan melesat masuk ke dahi masing-masing, menghilang tanpa jejak.
Pada saat itu, baik Ling Tian maupun Ling Xue merasakan koneksi samar terbentuk di antara jiwa mereka. Sebuah ikatan yang melampaui kata-kata.
"Sudah selesai," kata Ling Tian. "Sekarang, kau adalah orangku."
Napas Ling Xue sedikit terengah-engah, tetapi matanya kini dipenuhi dengan resolusi. Rasa dingin yang biasanya mengelilinginya tampak sedikit berkurang.
"Persiapkan dirimu," perintah Ling Tian. "Kembalilah besok malam. Bawa semua sumber daya yang kau butuhkan untuk menerobos. Kita akan melakukannya di sini, di mana tidak ada yang akan mengganggu kita."
Ling Xue mengangguk tanpa kata. Ia membungkuk sedikit—sebuah gerakan hormat yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya—lalu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Ling Tian menatap ke arah perginya Ling Xue, lalu ke langit malam yang berbintang. Malam ini, ia tidak hanya mendapatkan kekuatan baru, tetapi juga sekutu pertamanya.