Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Bunyi Patah Tulang di Bawah Sorak Sorai
Matahari musim semi bersinar terik, memandikan Alun-Alun Pualam Putih dengan cahaya keemasan yang menyilaukan. Alun-alun raksasa yang terletak di pusat Sekte Luar ini biasanya hanya digunakan untuk upacara tahunan. Namun hari ini, tempat ini telah disulap menjadi medan perang.
Tujuh arena batu berbentuk segi delapan berdiri kokoh di tengah alun-alun, dikelilingi oleh ribuan murid sekte yang bersorak sorai. Panji-panji berlambang pedang dan awan berkibar tertiup angin, membawa serta aroma keringat, debu, dan ambisi yang mendidih.
Di tribun kehormatan yang terbuat dari kayu ulin, para Diakon dan Instruktur duduk berderet. Di tengah mereka, seorang Tetua Sekte Luar berjubah abu-abu dengan janggut putih panjang duduk dengan mata setengah terpejam, memancarkan aura yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Di sudut lain alun-alun, terpisahkan oleh pagar pembatas kayu, berdirilah kerumunan pelayan berbaju rami. Mereka berdesakan, menjinjitkan kaki untuk melihat ke arah arena dengan tatapan penuh kerinduan dan keputusasaan.
Shen Yuan berdiri di antara mereka, setenang air di dasar sumur. Ia masih mengenakan seragam pelayannya yang pudar. Topi bambu lebarnya telah ia tinggalkan di gubuk, memperlihatkan wajahnya yang biasa-biasa saja, namun memiliki garis rahang yang tegas dan sepasang mata sehitam obsidian.
"Kau tidak gugup, Yuan?" suara Li Mu bergetar di sebelahnya. Pemuda berwajah kuda itu baru saja selesai mengikuti Ujian Dasar dan bersyukur karena nilainya cukup untuk membuatnya bertahan sebagai pembawa air. "Aku dengar lawan pertamamu adalah Zhao Meng dari Paviliun Timur. Dia... dia terkenal sangat kejam pada pelayan."
"Angin yang bertiup kencang biasanya hanya membawa banyak debu, Mu," jawab Shen Yuan pelan, tatapannya menyapu arena satu per satu. "Semakin keras anjing menggonggong, semakin rapuh giginya."
Teng... Teng... Teng...
Suara gong perunggu bergema, meredam ribuan suara di alun-alun seketika.
Seorang wasit berjubah hitam melompat ke atas Arena Tiga. Suaranya yang dilapisi Qi menggelegar ke seluruh penjuru.
"Babak Penyisihan Arena Tiga! Murid Luar Zhao Meng, melawan... Pelayan Shen Yuan! Naik ke atas ring!"
Gumaman merendahkan segera menjalar bagai wabah di antara kerumunan murid berseragam putih. Sesekali terdengar tawa mengejek yang sengaja dikeraskan.
"Seorang pelayan? Apakah sekte kehabisan murid untuk bertarung?"
"Aku dengar dia mendobrak Lapisan Keempat secara kebetulan seminggu yang lalu. Bocah miskin itu pasti berpikir dia adalah naga yang sedang tidur."
"Zhao Meng beruntung sekali. Dia mendapat undian bye (bebas) di ronde pertama!"
Di salah satu paviliun penonton khusus, Lin Hai duduk mencengkeram tepi kursi kayunya. Matanya menatap tajam ke arah Arena Tiga. Di sebelahnya, Lin Feng sedang menyesap teh melati dengan mata setengah tertutup, sama sekali tidak tertarik melihat pertarungan kelas teri.
"Buat dia cacat, Zhao Meng," desis Lin Hai pelan. Zhao Meng adalah salah satu orang yang sering menerima bayaran dari keluarga Lin. Meskipun Lin Hai tidak menyuruhnya secara langsung hari ini, ia tahu Zhao Meng pasti akan mencoba mencari muka dengan menyiksa pelayan itu.
Dari sisi barat arena, Zhao Meng melompat ke atas ring dengan gerakan salto yang ringan. Ia mendarat dengan mulus, mengundang sorakan kekaguman dari beberapa murid perempuan. Zhao Meng berusia dua puluh tahun, memiliki tubuh tegap dan memegang sebilah pedang kayu latihan di tangan kanannya.
Di sisi timur, Shen Yuan tidak melompat. Ia berjalan menaiki undakan batu satu per satu. Langkahnya lambat, berat, dan terlihat sangat kaku di mata para kultivator yang terbiasa dengan keanggunan. Ia melangkah melewati tali pembatas dan berdiri di seberang Zhao Meng. Tangannya kosong.
"Hei, Anjing Pelayan," Zhao Meng tersenyum miring, memutar-mutar pedang kayunya dengan gaya meremehkan. "Di mana senjatamu? Jangan bilang kau akan melawanku dengan sapu lidimu? Ataukah kau berharap aku mengampunimu jika kau berlutut sekarang?"
Shen Yuan tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dada, lalu menangkupkan satu kepalan tangan ke telapak tangannya yang lain—sebuah salam standar bela diri.
"Pelayan nomor tujuh, Shen Yuan," ucapnya datar. "Mohon bimbingannya."
Sikap dingin dan tidak responsif ini justru membuat Zhao Meng merasa direndahkan. Wajahnya memerah karena marah. Seorang pelayan rendahan berani bersikap angkuh di depannya?!
"Mati kau, Sampah!"
Wasit menurunkan tangannya, memberi tanda pertarungan dimulai.
Zhao Meng langsung melesat maju. Qi Lapisan Keempat meledak dari tubuhnya, mengalir ke meridian kakinya dan pedang kayunya. Ia menggunakan Langkah Angin Puyuh, sebuah teknik gerakan dasar namun cukup cepat untuk mengelabui mata orang awam. Dalam dua tarikan napas, ia sudah berada tepat di depan Shen Yuan.
"Seni Pedang Daun Jatuh!" teriak Zhao Meng, mengayunkan pedang kayunya lurus ke arah pundak kanan Shen Yuan. Ia tidak mengincar kepala—membunuh di arena babak penyisihan bisa membawa masalah—tapi menghancurkan tulang selangka seorang pelayan akan membuatnya cacat seumur hidup.
Di kursi penonton, Li Mu menutup matanya, tidak sanggup melihat. Lin Hai menyeringai lebar.
Namun, di mata Shen Yuan, dunia seolah bergerak di dalam air yang kental.
Dengan persepsi Puncak Lapisan Keenam dan pengalaman hidup-mati di Hutan Pinus Hitam, gerakan Zhao Meng tidak lebih dari ayunan ranting seorang balita. Tiga celah mematikan langsung terbuka di benak Shen Yuan: ketiak yang terlalu lebar, kuda-kuda kaki kiri yang goyah, dan aliran Qi yang terputus di pergelangan tangan.
Jika aku menggunakan Langkah Penghancur Bayangan, aku akan terlalu cepat. Jika aku menggunakan Tinju Runtuh Gunung, organ dalamnya akan meledak dan aku akan dituduh menggunakan ilmu iblis, kalkulasi Shen Yuan berputar dalam sepersekian detik. Aku harus menang dengan cara pelayan. Dengan otot dan keringat.
Tepat ketika pedang kayu itu berjarak satu inci dari pundaknya, Shen Yuan bergerak.
Ia tidak mundur. Ia justru mengambil satu langkah kecil ke depan, masuk ke dalam jarak aman tebasan pedang. Ia memiringkan bahunya sedikit, membiarkan pedang kayu Zhao Meng meleset dan hanya menyapu udara kosong di atas pundaknya.
Mata Zhao Meng membelalak. Dia... menghindar ke arah dalam?! Kehilangan keseimbangan karena tebasannya meleset, dada Zhao Meng terbuka lebar tanpa pertahanan. Shen Yuan menarik tangan kanannya yang masih terkepal. Ia tidak memadatkan Qi di tulangnya seperti Tinju Runtuh Gunung. Ia murni hanya menyalurkan tenaga fisik yang telah ditempa oleh lumpur hitam, racun, dan esensi binatang buas.
Sebuah pukulan lurus, tanpa nama, tanpa keindahan. Pukulan kotor dari jalanan yang hanya mengandalkan momentum dan kepadatan tulang.
Buaaagh!
Kepalan tangan Shen Yuan menghantam ulu hati Zhao Meng dengan suara dentuman daging yang berat dan memuakkan.
Waktu seolah berhenti di Arena Tiga.
Zhao Meng membeku. Udara di paru-parunya terhempas keluar dengan paksa, membentuk kabut putih di mulutnya. Matanya melotot hingga urat-urat merahnya terlihat, menatap wajah datar Shen Yuan yang kini hanya berjarak sekilan darinya.
Tidak ada ledakan Qi yang spektakuler. Tidak ada kilatan cahaya.
Namun, sedetik kemudian, tubuh Zhao Meng terangkat dari lantai arena. Ia terlempar ke belakang layaknya layang-layang putus, melayang sejauh dua tombak di udara sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai batu dengan suara braaak yang keras.
Pedang kayunya terlepas, berguling ke tepi ring. Zhao Meng berguling memegangi perutnya, wajahnya berubah ungu. Ia bahkan tidak bisa berteriak karena pita suaranya kejang akibat kejutan di saraf ulu hatinya. Seteguk empedu dan darah merembes dari sudut bibirnya, sebelum akhirnya matanya berputar ke atas dan ia jatuh pingsan.
Keheningan mutlak menyapu sebagian alun-alun yang menyaksikan Arena Tiga.
Bahkan wasit berjubah hitam itu mematung selama beberapa detik, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Seorang murid luar yang berlatih seni pedang, dikalahkan dalam satu detik, dengan satu pukulan fisik yang paling biasa, oleh seorang pelayan berbaju rami.
Shen Yuan menarik kembali kepalan tangannya dengan santai, seolah baru saja membersihkan debu dari pakaiannya. Napasnya masih teratur, tidak ada setetes keringat pun di dahinya.
"Pertarungan... Pertarungan selesai!" Wasit akhirnya tersadar dan mengangkat bendera merahnya. "Pemenang, Pelayan Shen Yuan!"
Sorakan tidak langsung pecah. Butuh beberapa detik bagi kerumunan pelayan di sudut alun-alun untuk memproses apa yang terjadi, sebelum akhirnya ledakan sorai-sorai kegembiraan yang luar biasa mengguncang udara. Li Mu melompat kegirangan hingga hampir menendang pot bunga di dekatnya. Pelayan-pelayan yang tadinya meremehkannya kini meneriakkan namanya seolah ia adalah pahlawan mereka.
Di tribun, Instruktur Han yang duduk mengawasi mengelus janggutnya. Matanya menyipit tajam. "Pukulan fisik murni. Tidak ada fluktuasi Qi tingkat tinggi. Tubuh pelayan itu... dia pasti mengasah kekuatan fisiknya secara ekstrem karena tidak bisa mempelajari seni bela diri. Menarik."
Analisis Instruktur Han tepat seperti yang diinginkan Shen Yuan. Dunia kini akan menganggapnya sebagai "orang aneh yang kuat fisiknya karena kerja keras", bukan "monster yang menyembunyikan kultivasi tinggi".
Namun, di paviliun penonton khusus, Lin Hai baru saja meremukkan lengan kursi kayunya hingga menjadi serpihan.
Wajah Lin Hai pucat pasi, matanya memancarkan campuran antara rasa malu, amarah, dan sedikit teror yang ia coba tutupi. Kematian Gou San kini memiliki penjelasan yang logis di kepalanya. Pelayan ini bukan sampah; pelayan ini adalah batu keras yang bersembunyi di balik lumpur.
Suara keributan itu akhirnya membuat Lin Feng membuka matanya. Sang jenius itu melirik sekilas ke arah Arena Tiga, menatap siluet punggung Shen Yuan yang sedang berjalan menuruni undakan batu dengan tenang.
"Itukah anjing pelayan yang kau bicarakan, Hai?" tanya Lin Feng, suaranya masih terdengar merdu, namun ada setitik embun es di dalamnya.
Lin Hai menelan ludah, mengangguk patah-patah. "B-Benar, Sepupu. Dia curang... dia pasti menyerang saat Zhao Meng lengah."
Lin Feng kembali menyesap tehnya dengan anggun. "Tubuh fisik yang kuat, namun tidak memiliki teknik. Hanya mengandalkan tenaga buruh kasar. Di dunia kultivasi sesungguhnya, otot tanpa Dao adalah daging mati. Berdoalah agar dia tidak bertemu denganku di babak utama. Jika itu terjadi... aku akan mengajarinya perbedaan antara serangga yang kuat dengan naga yang terbang."
Di bawah sana, Shen Yuan tidak menoleh ke arah paviliun Lin Feng, namun telinganya yang tajam telah menangkap setiap kata dari sang jenius.
Shen Yuan membenarkan letak lengan bajunya yang sedikit kusut. Naga yang terbang? batinnya dingin. Aku telah menelan serigala, memakan energi pembunuh, dan meremukkan batu besi hitam. Kita lihat saja nanti, apakah sisik nagamu cukup keras untuk menahan tinjuku yang sesungguhnya.
Langkah pertama menuju pembalasan telah diayunkan. Dan riak di permukaan danau itu, kini mulai berputar menjadi pusaran air yang mematikan.