NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29.Markas Rahasia & Latihan

Mobil van hitam yang membawa mereka membelah kemacetan Jakarta Selatan yang menyesakkan. Gedung-gedung pencakar langit yang berkilau perlahan berganti menjadi deretan bangunan tua kolonial yang tertutup akar gantung di kawasan Jenggala. Arata mengemudi dengan tenang, matanya sesekali melirik spion tengah, memastikan tidak ada ekor yang mengikuti sejak mereka meninggalkan stasiun.

"Kita hampir sampai," ucap Arata memecah keheningan kabin yang sejak tadi diisi oleh kecemasan Hana dan ketikan cepat jari Yuki di laptopnya.

Mobil itu berbelok ke sebuah gang sempit yang diapit tembok tinggi penuh lumut, lalu berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat yang tampak seperti gudang tua. Saat Arata turun dan membuka gembok raksasa itu, Ren melangkah keluar, menghirup udara yang terasa lebih berat, namun entah kenapa... terasa akrab.

Hana turun sambil memeluk tas ranselnya erat-erat. "Ren, apa kamu yakin ini tempatnya? Rasanya seperti gudang film horor."

Ren tidak menjawab. Ia melangkah masuk saat pintu besi itu berderit terbuka. Begitu lampu-lampu neon tua di dalam dinyalakan satu per satu, debu-debu beterbangan di udara, memperlihatkan sebuah ruangan luas yang sangat kontras dengan tampilan luarnya.

Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah dapur profesional yang lengkap. Meja-meja kerjanya terbuat dari marmer hitam yang sangat tebal, dan kompor-kompornya masih menggunakan model klasik namun dalam kondisi yang sangat terawat.

"Ini..." Yuki melangkah maju, jemarinya menyentuh permukaan marmer yang dingin. "Ini bukan dapur biasa. Susunan alat-alatnya... ini dirancang untuk alur kerja satu orang koki utama dengan dua asisten pendamping secara melingkar. Ini persis seperti denah dapur yang pernah kulihat di buku harian Tante Reina."

Arata mengangguk, ia berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat. "Ini adalah laboratorium asli ibumu, Ren. Sebelum Asuka Jaya membakar restorannya di Karasu, Reina sudah menyiapkan tempat ini di ibu kota sebagai cadangan. Di sini, tidak ada kamera pengawas, tidak ada sensor Asuka, dan tidak ada yang bisa mencuri resepmu."

Ren berjalan menuju meja utama. Ia meletakkan tas Seruni Hitam di atas marmer. Ada kemistri yang aneh antara dirinya dan ruangan ini. Ia merasa seolah-olah bayangan ibunya masih berdiri di sana, mengawasi setiap gerakannya.

"Ren, lihat ini," panggil Hana dari sudut ruangan. Ia menemukan sebuah papan tulis kapur tua yang masih menyisakan tulisan tangan yang mulai memudar.

> "Rasa adalah ingatan yang bisa dimakan. Jika hatimu kosong, piringmu pun akan terasa hampa."

>

Ren terdiam membaca kalimat itu. Ia menyadari bahwa di Jakarta yang dingin dan penuh teknologi ini, ibunya ingin ia tetap berpijak pada kemanusiaan. Namun, tekanan dari pertemuan dengan Soichiro tadi masih terasa nyata di pundaknya.

"Kita tidak punya banyak waktu," ucap Ren, suaranya kembali tegas namun ada sedikit getaran emosi di dalamnya. "Yuki, buka data tentang Kenjiro. Kita harus tahu apa yang dia masak di kualifikasi wilayah utara. Hana, periksa semua pasokan bahan di pendingin. Kita akan mulai latihan pertama kita di ibu kota malam ini juga."

Hana menghela napas panjang, ia mendekati Ren dan berdiri tepat di hadapannya. Ia meraih kedua tangan Ren, memaksa pemuda itu untuk berhenti sejenak dari kegelisahannya. "Ren, lihat aku."

Ren menunduk, menatap mata Hana yang jernih namun penuh kekhawatiran.

"Jangan biarkan orang tua tadi menang bahkan sebelum kita mulai," bisik Hana. "Kamu terlalu tegang. Kalau kamu memasak dengan tangan sedingin ini, 'Seruni Hitam' tidak akan mau mendengarkanmu. Ingat apa yang kita lakukan di hutan Karasu? Kita memasak karena kita ingin melindungi rumah kita."

Sentuhan Hana terasa seperti penangkal petir bagi emosi Ren yang meluap. Kemistri di antara mereka di tengah dapur tua yang berdebu itu terasa sangat intim. Ren merasakan kehangatan dari jemari Hana meresap ke dalam kulitnya, perlahan melunakkan kekakuan di otot-otot lengannya.

"Terima kasih, Hana," gumam Ren. Ia menoleh ke arah Yuki yang juga sedang menatap mereka dengan senyum tipis yang mendukung. "Baiklah. Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh 'Koki Tanpa Cacat' itu melawan sisa-sisa sejarah di dapur ini."

Yuki segera menyalakan proyektor portabelnya, menyorotkan video rekaman Kenjiro ke tembok putih yang kusam. Di sana, seorang pemuda dengan wajah tanpa ekspresi bergerak sangat cepat, memotong ikan dengan presisi yang hampir mustahil dilakukan manusia. Setiap gerakan Kenjiro dihitung dengan bantuan kacamata pintar yang ia kenakan, memandu sudut pisau hingga fraksi derajat.

"Dia tidak melihat ikan itu sebagai makhluk hidup, Ren," jelas Yuki sambil menunjuk ke layar. "Dia melihatnya sebagai kumpulan serat protein yang harus dipisahkan secara efisien. Masakannya memiliki skor kesempurnaan 99,8% menurut sistem penilaian juri nasional."

Ren memperhatikan setiap detail gerakan Kenjiro. Logika narasinya mulai bekerja—mencari celah di balik kesempurnaan mekanis tersebut. Ia mengambil pisau latihannya, mulai mencoba meniru ritme potong Kenjiro namun dengan gaya khas Karasu yang lebih mengalir.

Suasana dapur mulai memanas. Suara denting pisau beradu dengan talenan dan desis kompor yang dinyalakan mulai memenuhi ruangan. Mereka berlatih selama berjam-jam, mencoba berbagai kombinasi bumbu yang bisa melawan 'kesempurnaan' algoritma.

Hana berkali-kali mencoba menyeimbangkan saus dasarnya, sementara Yuki terus mengoreksi suhu air sesuai dengan data yang ia miliki. Di tengah latihan yang sangat berat itu, Ren sesekali membantu Hana membetulkan posisi pegangan wajannya, membuat wajah gadis itu memerah di tengah uap panas dapur.

"Ren, aku rasa jahe ini terlalu kuat," ucap Hana sambil menyodorkan sendok pencicip ke arah Ren.

Ren mencicipinya, bibirnya hampir bersentuhan dengan ujung jari Hana. "Kurangi sedikit, dan tambahkan perasan jeruk nipis hutan yang kita bawa. Kita butuh 'kejutan' di lidah juri, sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh komputer Kenjiro."

Malam semakin larut di Jenggala. Di luar, Jakarta terus berisik dengan ambisinya, namun di dalam dapur rahasia ini, tiga remaja dari kota kecil sedang membangun benteng pertahanan terakhir mereka. Mereka tahu, Kenjiro adalah monster yang diciptakan oleh Asuka Group, tapi mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki monster itu: kenangan yang berdenyut di setiap suapan.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!